Kesepakatan Baru, Spider-Man Tetap di MCU?

Foto terbaru antara Tom Holland dan Robert Downey Jr. di Instagram sepertinya pertanda baik keberlangsungan Spider-Man di MCU.

Ada sebuah hal menarik ditemukan di akun Instagram Tom Holland, pemeran Spider-Man versi MCU. Ia berfoto bersama Robert Downey Jr. dengan keterangan “We did it, Mr. Stark!”, yang merupakan potongan kalimat Spider-Man di Avengers: Endgame lalu.

Dari rumor terbaru yang beredar, Disney telah menawarkan kesepakatan baru dengan Sony, pasca kesepakatan sebelumnya yang menemui jalan buntu. Kepastian akan deal ini baru akan diumumkan di D23 Expo akhir pekan ini.

 

View this post on Instagram

 

We did it Mr Stark!

A post shared by Tom Holland (@tomholland2013) on

Kesepakatan Spider-Man Terbaru

  • Kontrak dengan Tom Holland untuk 6 film layar lebar, dengan opsi untuk yang ketujuh.
  • Film Spider-Man ketiga Tom Holland akan tetap berlanjut sebagai bagian dari trilogi pertama.
  • Trilogi Spider-Man kedua akan digarap setelah trilogi pertama selesai, berfokus pada kehidupan kuliah Peter Parker dan pertemuannya dengan Firestar dan Ice Man dari serial X-Men (dari serial kartun Spider-Man and his Amazing Friends).
  • Tiga film sisanya adalah bagian dari The Avengers, di mana Spider-Man akan mendapat peran lebih besar.
  • Bagi hasil antara Marvel Studios dan Sony Pictures menjadi 30-70. Kesepakatan sebelumnya yang ditawarkan Disney. adalah 50-50, di mana Sony menolak.
  • Spider-Man akan tetap berada dalam MCU (Marvel Cinematic Universe).
  • Venom juga akan menjadi bagian dari MCU.
  • Film Spider-Man akan tetap didistribusikan oleh Columbia Pictures, namun Disney tetap memegang kendali distribusi di Disney+ dan serial televisi.
  • Marvel akan menggarap film live-action Spider-Verse, dengan kesepakatan yang sama.
  • Kesepakatan harus diselesaikan sebelum D23 Expo Sabtu mendatang.

Bagaimana pendapat Anda tentang kesepakatan baru ini? Apakah Disney dan Sony sudah mendapat bagian yang sewajarnya? Berikan komentar Anda.

Sumber: Cosmic Book News

VIVA! – Zine Musik City Pop Persembahan Rimawarna

Setelah absen di CF12, Rimawarna kembali hadir dengan zine terbarunya di CF13, berjudul VIVA!

Setelah absen dalam satu perhelatan di Februari kemarin, lingkar kreatif Rimawarna kembali hadir di Comic Frontier 13 dengan produk terbaru mereka, VIVA: Sebuah Zine Tentang City Pop. Sesuai subjudulnya, VIVA mengangkat tema musik city pop, sebuah cabang musik yang berkembang di Jepang pada tahun 70-80an.

Zine musik begini bisa hit beberapa niche sekaligus. Musik kena, penggemar budaya Jepang juga dapat. Mereka yang dari kedua latar hobi tadi biasanya mengenal city pop. Minimal pernah dengar Plastic Love-nya Mariya Takeuchi, lah atau dapat rekomendasi dari algoritma YouTube,” sebut Winsen dari Rimawarna soal latar belakang pengerjaan zine ini.

VIVA menyajikan delapan artikel berilustrasi yang mengulas berbagai musisi city pop. Mereka mewakili momen spesifik dalam perkembangan music tersebut; dimulai dari pergerakan awal yang diprakarsai serangkaian artis seperti Tatsuro Yamashita dan Eiichi Ohtaki hingga era puncak city pop sebagai komoditi komersial. Artis kenamaan seperti Toshiki Kadomatsu, Miki Matsubara dan Junko Ohashi tampil di muka.

City pop adalah genre musik yang sangat menarik karena ia mencampurkan berbagai macam genre musik seperti jazz, funk, soul, disco, soft rock, AOR bahkan sampai latin. City pop bukan hanya menjadi genre semata tetapi ia juga bertindak sebagai simbolisasi warga Jepang dalam mengonsumsi budaya pop dan modern dari dunia barat dengan segala kegemerlapan dan kehedonisannya,” ujar Luthfi Suryanda Atmojo, jurnalis musik serta researcher untuk VIVA.

“Dalam buku VIVA pembaca bisa merasakan sendiri bagaimana city pop menjadi sebuah budaya yang terus dilestarikan sampai ke generasi sekarang lewat profil artis city pop serta ilustrasi yang melambangkan kemewahan Jepang di era 80’an,” lanjutnya.

Bukan Hanya Mariya Takeuchi

Para ilustrator di zine VIVA memiliki minat yang besar terhadap perkembangan musik city pop. Minat tersebut mampu direfleksikan dalam setiap artwork dalam zine ini, yang menampilkan sebuah estetika khas dengan efek nostalgia yang kuat. Tak hanya ilustrator tuan rumah Rimawarna saja yang terlibat seperti Blueriest, asteRiesling dan Fibertrash; ilustrator tamu lain turut ambil bagian seperti Marquee Adam (MARCH OF VENUS) dan komikus Winternesia, Dewanto Faris.

“Orang-orang kebanyakan tau city pop dari Mariya, tapi kalo saya malah si Miki Matsubara. Sejak pertama dengar lagu dia yang berjudul Stay With Me jadi pengen nelusurin musiknya dan jadi banyak nemu musisi-musisi yang ajib di genre ini seperti Taeko Ohnuki dan Junko Ohashi,” ujar ilustrator Blueriest. “Bagi saya sih, genre ini emang cocok didengar disemua kalangan, bahkan saya yang tergolong masih muda. Sebagai orang yang suka city pop, udah senang banget bisa berkesempatan untuk ikut partisipasi dan jadi illustrator utamanya.”

I really glad to participate in this awesome project, gue senang ada yang ngebahas city pop secara mendalam, dan bisa dijadiin zine gini, semoga semakin banyak yang denger city pop, terimakasih Rimawarna buat kesempatannya,” sambung ilustrator Marquee Adam.

VIVA bisa didapatkan di circle space 6b-nya Rimawarna x Wibuverse di Comic Frontier 13 pada 7-8 September 2019 nanti di Balai Kartini Jakarta. Untuk yang berminat dengan zine yang dihargai 50 ribu ini, kalian bisa melakukan preorder terlebih dahulu lewat link berikut ini.

Artikel ini merupakan rilis pers resmi dari Rimawarna.

Hiroaki Kato dan Arina Mocca Resmi Menikah!

Setelah menjalin hubungan selama 11 tahun, Hiroaki Kato dan Arina Mocca akhirnya resmi menikah.

Kabar baik datang dari Hiroaki Kato, musisi asal Jepang yang cinta Indonesia. Setelah menjalin hubungan selama 11 tahun, Hiroaki Kato resmi menikah dengan Arina Mocca. Kabar gembira ini disampaikan oleh Hiroaki Kato di akun Facebooknya. Dalam pos tersebut, ia bersama sang istri mengenakan kimono bermotif batik.

Nama Hiroaki Kato tentunya tak asing bagi Anda penggemar jejepangan. Ia adalah orang Jepang yang cinta Indonesia, dari makanannya, orang-orangnya, hingga budayanya. Kecintaan ini ia sampaikan dengan keahliannya dalam bidang musik. Hiroaki Kato telah menerjemahkan beberapa lagu Indonesia dalam bahasa Jepang, di antaranya Moshimo Mata Itsuka (Mungkin Bila Nanti), Kokoro wa Sugu Soba Ni (Dekat di Hati), dan Kutsu (Sepatu).

Sang istri, Arina Mocca, juga bukan orang sembarangan. Bernama lengkap Arina Ephiphania Simangunsong, ia adalah adik dari Dewi Lestari, novelis Supernova. Karirnya di dunia musik juga tidak bisa dianggap remeh. Ia sempat bergabung dalam band indie Mocca, membuatnya terkenal dengan sebutan Arina Mocca. Arina dan Hiroaki Kato resmi berpacaran pada tahun 2016 lalu, meskipun sudah lama saling mengenal. Akhirnya, kisah cinta mereka berakhir bahagia, Hiroaki Kato menikah dengan Arina Mocca.

Selamat untuk Hiroaki Kato dan Arina Mocca!

Sumber: Facebook Hiroaki Kato

Marvel-Sony Pecah Kongsi, Spider-Man Keluar Dari MCU?

Hak atas film Spider-Man akan kembali dipegang sepenuhnya oleh Sony, sama seperti film-film Spider-Man sebelum adanya MCU.

Kabar mengejutkan datang dari layar lebar Hollywood. Pasalnya, Marvel Studios dan Sony Pictures tengah mengalami kebuntuan negosiasi terkait masa depan film Spider-Man. Negosiasi memang masih berlanjut, dengan kemungkinan terburuk Spider-Man keluar dari MCU (Marvel Cinematic Universe).

Spider-Man Bersama Sony (dan Disney)

Cekcok perihal hak rilis Spider-Man dimulai pada tahun 90-an, saat Marvel tengah dilanda kesulitan finansial dan terpaksa “menjual” IPnya. Spider-Man, salah satu IP unggulan Marvel, dihibahkan ke Sony Pictures. Dengan kebijakan ini, semua film Spider-Man ke depannya akan didistribusikan oleh Columbia Pictures. Marvel sendiri mendapat 5% dari pendapatan kotor film dan masih memegang hak penuh untuk merchandise. Lima film layar lebar telah dirilis di bawah kesepakatan ini, di antaranya trilogi Spider-Man (Tobey Maguire) dan dwilogi The Amazing Spider-Man (Andrew Garfield).

Seiring berjalannya waktu, kondisi finansial Marvel yang membaik pasca MCU membuat mereka kembali ke meja perundingan bersama Sony. Dalam kesepakatan baru ini, Marvel (yang kini di bawah naungan Disney) dan Sony akan membagi pendapatan film sebanyak 50-50, di mana Columbia Pictures tetap menjadi distributor film Spider-Man. Kesepakatan ini turut memboyong Spider-Man dalam ranah MCU, dengan penampilan perdananya di Captain America: Civil War. Dalam MCU, Spider-Man mendapat dua filmnya sendiri, yakni Spider-Man: Homecoming dan Spider-Man: Far From Home. Kevin Feige turut andil dalam produksi film ini, dengan aktor muda Tom Holland sebagai pemerannya.

Cekcok Marvel dan Sony

Film Spider-Man: Far From Home sukses besar. Dengan pendapatan kotor sebesar $1,1 miliar, film ini menjadi film Columbia Pictures terlaris, mengalahkan Skyfall. Kesuksesan inilah yang juga turut memicu Marvel dan Sony kembali ke meja perundingan.

Keretakan koalisi ini mulai tampak, di mana Sony ingin kembali ke kesepakatan lama (5% untuk Marvel), sedangkan Marvel tetap ingin mempertahankan kesepakatan 50-50 saat ini. Dilansir oleh Variety, negosiasi memang masih terus berlanjut. Jika negosiasi buntu total, kemungkinan besar Spider-Man akan keluar dari MCU dan produksi film Spider-Man dikembalikan kepada Sony (sesuai kesepakatan lama). Entah apa yang akan terjadi nantinya, semoga konflik ini tidak sampai mengecewakan penggemar yang setia menanti.

Sumber: Variety, CBR

Adhisty Zara Lulus dari JKT48

Kelulusan Zara dari JKT48 bukanlah hal yang mengejutkan, mengingat karirnya di layar lebar semakin bersinar dibanding karir musiknya.

Kabar terbaru datang dari acara pertunjukan Te Wo Tsunaginagara malam ini. Adhisty Zara, atau lebih dikenal sebagai Zara JKT48, mengumumkan kelulusannya dari grup idol ini.

Dalam JKT48, Zara bergabung dalam Tim T. Kakaknya, Kyla, juga merupakan anggota JKT48 generasi kelima. Selain dalam dunia idol, Zara juga mendalami karirnya dalam perfilman. Beberapa film besar telah dilakoninya, di antaranya peran Euis di Keluarga Cemara, juga Disa di Dilan 1990 dan Dilan 1991. Film terbaru yang dibintanginya adalah Dua Garis Biru, film yang kontroversial namun meningkatkan pamor Zara. Dalam film ini, ia berperan sebagai Dara, seorang gadis yang harus menjalani kehidupan setelah hamil di luar nikah.

Keluarnya Zara dari JKT48 bukanlah hal yang mengherankan. Para penggemar sudah meyakini hal ini terjadi cepat atau lambat, mengingat karir Zara di layar lebar jauh lebih sukses dibanding di JKT48. Meskipun demikian, para penggemar tetap memberikan dukungan dan semangat bagi sang idola, agar ia dapat sukses di karir yang ditekuninya.

Selamat atas kelulusannya! Semoga karirnya semakin bersinar ke depannya.

Sumber: FAM48INA

[Wawancara] Hira Dazzle, Bersinar Bagai Batu Mulia

Baru saja bertambah anggota, Hira Dazzle membuktikan dirinya akan menjadi semakin bersinar ke depannya.

Saat tren idol Jepang dan Korea mulai memasuki tanah air, grup idol lokal pun bermunculan. Sebagian hanya bisa meniru dan tumbang, tapi sebagian lainnya mampu menciptakan lagunya sendiri, menjadi unik, dan semakin berkembang. Salah satu dari grup idol lokal yang berkembang tersebut adalah Hira Dazzle.

Debut di tahun 2015, grup idol lokal yang sudah tampil di berbagai acara ini baru saja mengadakan acara launching tanggal 28 Juli lalu di Kaskus Playground. Ada sejumlah pengumuman penting dari acara ini. Zhuge Kamiya, salah satu orang di balik suksesnya gelaran Ennichisai, didaulat menjadi manajer barunya. Acara ini juga menjadi ajang peluncuran single kedua, berjudul Terima Kasih. Tidak kalah seru, Hira Dazzle juga memperkenalkan enam anggota terbarunya: Lula, Prelawry, Meira, Kyarin, Uyuy, dan Cilla.

Wawancara Bersama Hira Dazzle

Bisa dijelaskan secara singkat tentang Hira Dazzle?
Hira Dazzle adalah grup idol yang membawakan cover lagu, tetapi juga membuat lagu single sendiri, “Look at Me” dan “Terima Kasih”.

Pernah tampil di mana saja?
Banyak tempat. Mulai dari festival anime Mangga Dua, Jak Japan Matsuri, sampai Ennichisai. Baru tahun ini bisa tampil di pop stage dan Chika Stage Ennichisai sekaligus. Pernah juga tampil di Bandung dan Tasikmalaya.

Setiap anggota mempunyai warnanya sendiri. Apa arti dari warna-warna ini?
Hira Dazzle sendiri memiliki arti “berlian yang bersinar”. Kami ingin menjadi seperti berlian yang kuat, teguh, berkualitas, tetapi tetap indah dipandang. Setiap anggota memiliki warna dan batu mulianya masing-masing, agar keindahan dari idol ini semakin tampak.

Menjadi seorang idol tentu memiliki kesibukannya tersendiri. Seperti apa kesehariannya?
Kami menjalani latihan tiga kali setiap minggunya, agar dapat tampil dengan baik. Latihan-latihan ini mencakup latihan fisik, koreografi, dan vokal. Meskipun sibuk, kami juga tidak melupakan waktu untuk have fun. Jalan-jalan bersama, rutin dilakukan untuk melepas lelah dan menjaga solidaritas antar anggota.

Sesi potong tumpeng.

Idol tentu tidak lengkap tanpa fans. Kalian menyebut fans sebagai apa? Seperti apa kedekatan kalian dengan pada fans?
Hira Dazzle mempunyai basis penggemar, disebut Hira Power. Mereka yang menjadi penggemar setia kita, baik di panggung maupun di ranah maya. Tahun lalu, kami mengadakan acara buka puasa bersama dengan para Hira Power.

Adakah kesan-kesan menyenangkan selama menjadi idol?
Ayumi: Menjadi idol adalah pengalaman baru bagi saya. Meskipun demikian, ada kesan tersendiri saat bertemu menyapa para penggemar.
Richan: Menjadi seorang idol tidak semudah yang orang bayangkan. Selain harus latihan dengan sungguh-sungguh dari nol, chemistry antara para anggota dengan gerakan dan lagunya harus berjalan dengan baik. Jika semua dilaksanakan dengan baik, para fans akan terhibur dan memberikan apresiasi.
Kimmy: Bergabung dalam Hira Dazzle adalah pengalaman yang menyenangkan, karena mendapatkan teman baru. Tidak hanya sesama anggota, para penggemar juga kami anggap sebagai teman.

Apa pesan-pesan Anda untuk para calon idol yang ingin mengejar mimpinya?
Kimmy: Tetap dukung Hira Dazzle dan grup idol lainnya di Indonesia! Dengan kekuatan penggemar, kami semua dapat berkembang.
Annya: Untuk adik-adik yang mau jadi idol, tetap semangat! Usaha takkan mengkhianati hasil.

Ingin Tahu Lebih Banyak?

Penasaran dengan grup idol yang tengah bersinar ini? Tidak perlu bingung, karena Hira Dazzle kini sudah memiliki situs web sendiri. Dalam situs web ini, Anda dapat melihat segala informasi mengenai grup idol ini. Biodata anggota idol, hingga kegiatan-kegiatan yang sudah mereka lalui, semua tercatat rapi dalam situs web ini.

Akhir kata, tetap dukung Hira Dazzle dan grup idol lokal lainnya. Jangan patah semangat dalam menggapai mimpi!

Liputan oleh Excel Coananda

KOI S2, Lomba Maskot Berujung Drama Berkepanjangan

Dari lomba maskot, menjalar hingga ke penipuan, pencurian identitas, hingga plagiarisme, kasus KOI S2 sering dinobatkan menjadi drama wibu teraneh sepanjang masa.

Dunia perinternetan kembali digemparkan oleh drama, kali ini dari lomba sebuah produk biskuit. Mereka mengadakan lomba foto superhero berhadiah, namun hasil pemenangnya mengecewakan. Foto yang dibuat dengan penuh niat, kalah dengan anak kecil berkostum piyama. Warganet geram dengan hasil lomba, dan mulai menemukan bukti adanya keterlibatan orang dalam. Sebagian lagi mengaitkan drama ini ke KOI S2, sebuah drama yang menjadi buah bibir dalam seluruh jagat perwibuan tiga tahun lalu.

Bagi Anda yang masih wibu “bau bawang” yang tidak tahu, KOI S2 adalah sebuah drama daring grup yang berawal dari lomba maskot. Dengan skenario yang sama, lomba ini dimenangi oleh orang dalam. Belakangan, bukti demi bukti terungkap, membuat drama ini menjadi semakin menarik untuk disimak perkembangannya. Tidak heran, kasus ini dikenang sebagai salah satu drama wibu teraneh sepanjang masa.

Berawal dari Lomba Maskot yang Janggal

KOI S2, singkatan dari Komunitas Otaku Indonesia (Season 2), adalah sebuah grup anime yang berisi 200.000-300.000 orang. Ketuanya adalah Meisya (bukan nama sebenarnya), dibantu oleh admin bawahan lainnya. Semenjak grup itu berdiri, Meisya seringkali menggunakan cara-cara yang “sensasional” agar grupnya terus ramai dikunjungi orang. Parasnya yang menarik (setidaknya pada foto profil) membuat para wibu terpikat untuk terus mendambakannya.

Pada bulan Februari 2016, KOI S2 mengadakan lomba maskot dengan hadiah yang menarik, yakni ponsel Xiaomi model terbaru. Syarat yang diberikan pun tidak sulit. Gambar maskot untuk komunitas berlambang burung biru ini.Dengan aksen dominan biru yang menjadiwarna yang khas dari grup KOI S2; Gambar harus dibuat di atas kertas, tidak boleh digital, untuk mencegahnya pencurian karya. Kirim hasilnya ke grup, tunggu pengumuman pemenang. Lomba ini dijalankan dan tibalah pada saat pengumuman pemenang.

Gambar mungkin berisi: 1 orang
Hasil pengumuman pemenang lomba maskot KOI S2.

Saat hasil pemenang diumumkan, anggota grup kecewa. Kekecewaan berganti menjadi amarah. Bagaimana mungkin karya peserta yang niat dan lengkap desainnya, kalah dengan gambar yang ala kadar dan terindikasi plagiat? Reaksi anggota grup bermacam-macam. Ada yang mengkritik secara halus. Ada yang protes. Ada pula yang mengolok-olok maskot baru mirip karakter Hatsune Miku. Apapun yang Anda katakan, komentar bernada tidak setuju membuat Anda dikeluarkan dan diblokir dari grup. Diktator memang, tetapi bagi mereka, keputusan sudah bulat.

Perang Habis-Habisan antara 2 Kubu : Kerajaan Otaku vs. Aliansi Wibu

Sadar drama ini tidak bisa dilawan di dalam grup, sejumlah warganet yang kontra dengan keputusan KOI S2 membuat basisnya di luar grup. Mereka adalah Badan Pengawas Aktivitas Wibu Indonesia (BPAWI), Anggur Merah, Wuih Ada Om Otaku (WAOO), dan beberapa halaman wibu lainnya. Oleh Beranda Otaku, salah satu sekutu KOI S2, basis ini diberi julukan Aliansi Wibu, biasa disebut Aliansi. Julukan ini diberikan karena sebagian dari mereka adalah mantan admin KOI S2 yang berkhianat dan ingin membalas dendam dengan membentuk aliansi.

Di lain pihak, KOI S2 tidak sendiri. Ia tergabung dalam sebuah “kerajaan”, yang menaungi KOI S2 dan beberapa grup Facebook lainnya. Para admin yang tergabung dalam kerajaan ini memegang sumpah setia untuk memerangi warganet yang kontra, pasukan Aliansi, dan mantan admin yang berkhianat. Meisya mencitrakan dirinya sebagai “ibu yang melindungi” bawahannya dari segala bahaya.

Keterangan foto tidak tersedia.
Gambar plagiat yang menjadi juara (kanan), bersanding dengan gambar aslinya (kiri).

Baik pihak Kerajaan maupun Aliansi memiliki caranya sendiri dalam melancarkan serangan. Pihak Kerajaan menggunakan pemblokiran dan pelaporan akun yang kontra dengannya, sebuah cara yang secara mengejutkan masih umum digunakan sampai saat ini. Jika musuh yang dihadapi adalah pasukan Aliansi atau/dan mantan admin, mereka berusaha mengambil alih akun mereka menggunakan teknik phising. Akun yang sudah diambil alih tersebut akan mereka gunakan untuk mencemarkan nama baik lawan.

Lain dengan pihak Kerajaan, pihak Aliansi tidak ingin menggunakan teknik yang sama dengan lawannya. Aliansi percaya dirinya berada di pihak yang benar, sehingga “power of netizen” mereka andalkan untuk memerangi pasukan Kerajaan. Beberapa mantan admin yang tergabung dalam Aliansi menggunakan akun cadangan untuk menyusup ke dalam grup Kerajaan dan mencari informasi yang berada di dalamnya. Informasi dari dalam grup kemudian dijadikan barang bukti dan disebarluaskan ke halaman wibu yang ramai. Hasilnya berbuah manis. Warganet semakin tidak percaya akan keabsahan lomba yang diadakan KOI S2 tersebut, dan terus menunggu kelanjutan dari drama ini. Di sisi lain, kegiatan corporate espionage ini kian mempengaruhi moril pihak Kerajaan. Mereka semakin khawatir salah satu dari mereka bersimpati, atau bahkan membelot, ke Aliansi.

Tirani dalam “Kerajaan Otaku”

Meskipun Meisya dan bawahannya masih terus siaga, para intel tetap dapat mengumpulkan informasi penting dari grup tersebut. Selain rencana-rencana penyerangan terhadap Aliansi, mereka juga menemukan kenyataan pahit tentang cara Meisya memperlakukan bawahannya sendiri.

BPAPWI report
Laporan oleh Badan Pengawas Aktifitas Wibu Indonesia tentang Tirani yang terjadi di Kerajaan Otaku

Setelah menjadi admin dalam grup Kerajaan, sang ketua harus dapat menjamin agar bawahannya tetap setia dan gentar jika sampai mencoba untuk melawan. Seluruh anggota harus berkumpul untuk rapat online setiap malam. Apapun kesibukannya, mereka harus hadir tanpa kecuali. Jika melanggar, hukuman berat menanti mereka. Jika pelanggarannya parah, mereka akan dikeluarkan dari grup dan diperlakukan sama seperti pasukan Aliansi.

Pengkhianatan Masal dan Terungkapnya Kebenaran

Pihak Kerajaan semakin terdesak oleh serangan demi serangan Aliansi. Mereka memutuskan untuk mengunggah resi pengiriman hadiah kepada pemenang, mengingat warganet telah menanyakan hal tersebut sejak lama. Sayangnya, “bukti” ini ditanggapi negatif oleh warganet dan pihak Aliansi. Mereka mencurigai resi pengiriman hadiah tersebut palsu, dan ponsel Xiaomi yang dijanjikan tidak pernah ada. Tidak hanya itu, pihak Aliansi kembali menyoroti lomba karaoke yang sempat diadakan KOI S2 sebelum lomba maskot ini. Lomba tersebut berhadiah ponsel Samsung, yang juga tidak jelas bagaimana kabarnya.

Menjelang akhir Mei 2016, pengakuan mengejutkan datang dari Pitoh (bukan nama sebenarnya), juara ketiga dari lomba maskot tersebut. Pitoh mengakui bahwa dialah yang menggambar semua entri untuk juara pertama hingga ketiga, membuktikan hipotesa “kekuatan orang dalam” benar adanya. Ia juga mengakui tindakan ketua Meisya yang memperlakukannya dan teman-teman adminnya bagaikan budak.

Gambar mungkin berisi: 1 orang
Kebenaran terungkap, juara 1 sampai 3 ternyata digambar oleh orang yang sama!

“Semua kejadian dari lomba ini sudah direkayasa sejak awal”, aku Pitoh. Ketiga gambar di atas juga ia gambar atas suruhan Meisya. Resi pengiriman palsu juga menjadi bagian dari rencana ini, untuk meyakinkan warganet lomba ini nyata adanya. Ponsel Xiaomi yang dijanjikan juga hanya rekayasa agar lomba menjadi lebih meriah. Padahal, ponsel tersebut tidak pernah ada.

Setelah membuat pernyataan ini, Pitoh keluar dari KOI S2. Keluarnya Pitoh diikuti dengan admin-admin lainnya, beberapa bergabung dengan Aliansi untuk berbalik melawan Meisya. Drama KOI S2 pun dinyatakan berakhir setelah tiga bulan berlangsung, ditandai dengan terbongkarnya identitas asli Meisya. Tuduhan Meisya sebagai hode pun terbukti. Akun Facebook Meisya yang ia gunakan rupanya masih tersambung dengan akun Instagram pribadinya. Saat drama ini berakhir, Meisya sudah menghilang tanpa jejak.

Meisya Sang Ratu Palsu

Dua bulan berlalu semenjak Meisya memulai drama. Citranya di mata umum sudah tergerus. Admin-admin bawahannya sudah mulai pasif, tidak lagi sesemangat dulu membelanya. Saat drama mulai memasuki masa tenang, sebuah kejadian tidak terduga hadir dari Indonesia bagian timur.

Seorang gadis asal Manado menyadari ada sesuatu yang janggal dengan dirinya. OR (inisial) membuat klarifikasi bahwa dirinya bukan wibu dan tidak tahu menahu perihal drama KOI S2 ini. Meisya telah menyalahgunakan foto-foto OR untuk kepentingan pribadinya, dan OR merasa dirugikan. Bayangkan, wajah Anda dijadikan bahan olok-olok atas kesalahan yang sama sekali Anda tak perbuat. Kejadian ini semakin meyakinkan warganet bahwa Meisya adalah hode, istilah yang umum digunakan untuk menyebut pria dengan identitas online wanita.

Face Reveal Meisya
Akun penyusup Kerajaan Otaku yang Mengungkap wajah dibalik Meisya

Mengetahui adanya klarifikasi ini, Meisya berkelit seribu alasan. Awalnya, ia menyatakan bahwa OR adalah akun aslinya. Sebuah hal yang jauh dari kata mungkin, mengingat OR berada di Manado dan Meisya berdomisili di Bandung. Kemudian, ia berkata kepada warganet untuk menunggu, sembari dirinya “login” ke akun tersebut. Ini adalah kali terakhir Meisya muncul di hadapan publik. Akun OR masih selamat, sama sekali tidak diusik oleh Meisya.

OR sendiri kini dikabarkan telah meninggal dunia karena penyakit kanker tulang tahun 2017 silam.

Obituary OR
Post dari salah satu page Alliansi Wibu yang memberitakan kematian OR

Hasil Akhir Perang dan Andilnya Terhadap Perwibuan

Perang antara Alliansi Wibu dan Kerajaan Otaku memang hanya berlangsung selama tiga bulan, tetapi beberapa dampak yang dihasilkan masih terasa hingga saat ini. Meningkatnya awareness terhadap pencurian karya dan pencurian identitas adalah beberapa dampak baiknya. Setelah drama ini berakhir, penggunaan maskot dalam komunitas anime, media wibu, dan lingkarya kreatif semakin merebak. Mereka tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama seperti KOI S2, dan mendesain maskot yang lebih terlihat orisinal.

Salah satu dampak besar dari drama ini adalah pergeseran makna otaku dan wibu. Sebelum drama ini terjadi, penggemar anime di Indonesia lebih sering mengidentifikasi dirinya sebagai otaku, dan sebutan wibu adalah sebuah hinaan. Akibat drama ini, dan juga karena propaganda terus menerus yang dilakukan oleh pihak Aliansi, sebutan wibu meningkat popularitasnya dibanding otaku. Mereka yang menyebut dirinya sebagai wibu dipandang lebih tinggi dalam pergaulan antar penggemar jejepangan. Malang nasib bagi otaku, direndahkan oleh Aliansi dan dianggap “simpatisan Meisya”. Otaku yang tidak tahan dengan perundungan ini perlahan mulai menerima sebutan wibu dalam kehidupannya.

Kini KOI S2 tetap lah hadir di salah satu media sosial terkenal namun karena blunder yang dilakukan oleh admin terdahulu, terjadi coup de etat sehingga kekuasaan tidak lagi di tangan “Ratu” Meisya. Para simpatisan sang ratu pun juga mengundurkan diri dan kini tak terdeteksi lagi keberadaannya.

War…. war never changes. Drama, sama halnya dengan perang, memang selalu berakhir buruk bagi yang terlibat. Meskipun demikian, kita dapat belajar dari masa lalu, agar hal serupa tidak terulang lagi di kemudian hari.

Tulisan ini adalah opini pribadi dari penulis, tidak mencerminkan pandangan umum Risa Media. Penulisan oleh Excel Coananda.

Kami Berkunjung ke InsertLive J-Pop Membahas Media Wibu

Risa Media mendapat kesempatan untuk hadir di InsertLive J-Pop, membahas cara kerja dan kegiatan media jejepangan di tanah air. Seperti apa keseruannya di sana?

Senin (29/7) lalu, Risa Media mendapat undangan dari InsertLive J-Pop, bagian dari acara infotainment Insert yang khusus membahas tentang pop kultur Jepang. Tiga anggota Risa Media (Excel, Ivan, Rinaldi) menjadi perwakilan dari media jejepangan yang sudah aktif sejak 2017 ini. Ditemani Bou sebagai pembawa acara, kami membahas segala hal tentang media jejepangan yang senantiasa mengabarkan warta terkait berita dan acara pop kultur Jepang.

Penasaran dengan keseruan di studio? Anda dapat menonton videonya di sini, hari Rabu (31/7) jam 13.00 WIB. Ketinggalan? Jangan risau, Anda dapat menonton rekamannya di akhir pekan.

Jembatan Wibu Elit dan Akar Rumput

Risa Media didirikan pada tahun 2017, oleh tiga mahasiswa Jakarta yang menyukai pop kultur Jepang. Ketiganya menyadari adanya pemisahan kasta antara wibu elit dan wibu akar rumput. Oleh karena itu, Risa Media didirikan untuk menaungi dan menjembatani kedua kelas tersebut.

Wibu elit adalah penggemar anime yang biasa dikategorikan sebagai “kelas atas”. Wibu elit terkenal dengan selera animenya yang “tinggi”, dan umumnya tidak sudi menonton anime yang ramai ditonton orang. Acara kelas atas seperti Anime Festival Asia, Creators Super Fest, atau POPCON. Membeli barang-barang anime orisinil nan mahal langsung dari Jepang sudah menjadi hal biasa bagi mereka.

Lain halnya dengan wibu akar rumput, yang kerap kali dipandang sebelah mata oleh wibu elit. Biasa mampir ke acara sekolah, kampus, Ennichisai, atau Mangga Dua, wibu akar rumput terkenal dengan stereotipnya, seperti membawa spanduk komunitasnya, aksesoris anime yang murah (dan terkadang bootleg), hingga bau badan yang menyengat. Meskipun demikian, wibu akar rumput tidak malu tampil apa adanya dan memiliki solidaritas yang tinggi terhadap kawan-kawan dan idolanya. Jika dididik dengan benar, wibu akar rumput dapat menjadi penggemar yang sangat setia.

Risa Media, Menjalar Hingga Daerah

Festival jejepangan bukan hanya milik Jakarta seorang. Sebut saja Bandung yang menjadi rumah bagi insan kreatif pop kultur Jejepangan, dengan acara Genfest, Comicsphere, dan Pakoban. Jawa Timur juga tidak mau kalah, terbukti dengan adanya acara Utsuru dan Daisuki, keduanya diadakan oleh Japan Culture Daisuki. Area Jawa Tengah juga mentereng dengan Orenji (Semarang), Gambarimasu (Yogyakarta), dan Mangafest (Yogyakarta).

Meskipun berpisah jarak, Risa Media mampu menghadirkan liputan acara yang aktual dan berkualitas, langsung dari tempat acara. Di sinilah biro daerah mengambil peran. Ada empat daerah yang menjadi fokus Risa Media, semuanya berada di pulau Jawa. Divisi Sentral melayani liputan untuk wilayah Jabodetabek dan Karawang. Divisi Jawa Barat melayani Bandung dan sekitarnya. Divisi Jawa Tengah menangani liputan di Semarang, Surakarta, dan Yogyakarta. Divisi Jawa Timur membawakan liputan di daerah Surabaya, Malang, dan sekitarnya.

Risa Media Bagi-Bagi Hadiah di GJUI

Risa bagi-bagi hadiah di GJUI?! Bukan hoax, bukan isapan jempol, Risa Media akan bagi-bagi hadiah secara gratis untuk Anda yang datang di Gelar Jepang Universitas Indonesia hari ketiga (4/8).

Caranya? Mudah. Anda cukup datang ke booth Risa Media di GJUI di hari ketiga, dan mengikuti beberapa langkah mudah. Setelah itu, Anda memutar fortune wheel untuk mendapatkan hadiah menarik dari Risa Media. Hadiah utamanya? Satu nesoberi spesial Risa ver. media siap menjadi milik Anda!

Akhir kata, sampai jumpa di GJUI hari Minggu, dan selamat menikmati sesi bincang Risa Media dengan InsertLive J-Pop. Terima kasih untuk tim InsertLive J-Pop yang telah mengundang Risa Media kemari. Semoga Risa Media menjadi wadah terdepan dalam mengabarkan segala hal tentang jejepangan dan industri kreatif di Indonesia.

Liputan oleh Excel Coananda, Ivan Mahendrawan, dan Rinaldi Ridhogusti

Hirohiko Araki Akan Mendesain Poster Paralimpiade 2020

Hirohiko Araki, mangaka JoJo's Bizzare Adventure, mendesain poster Paralimpiade 2020! Seperti apa ya hasil akhirnya nanti?

Olimpiade Tokyo 2020 semakin dekat. Sejumlah acara disiapkan untuk menyambut perhelatan olahraga empat tahunan ini. Salah satu dari agenda tersebut adalah membuat poster resmi untuk Olimpiade dan Paralimpiade (ajang olahraga untuk penyandang disabilitas) 2020 mendatang.

Sejumlah nama diumumkan untuk orang-orang yang akan mengerjakan poster resmi ini. Ada dua nama yang menjadi sorotan, Naoki Urasawa dan Hirohiko Araki. Naoki Urasawa adalah mangaka legendaris di balik suksesnya Monster dan 20th Century Boys. Selain itu, ada juga Hirohiko Araki, nama yang sudah tidak asing lagi bagi sebagian Riscomrades. Ya, siapa lagi kalau bukan pembuat manga JoJo’s Bizzare Adventure, manga yang terkenal dengan gayanya yang khas dan populer di kalangan wibu seluruh dunia.

Naoki Urasawa akan menangani poster untuk Olimpiade 2020, sedangkan Hirohiko Araki mengambil peran untuk poster Paralimpiade 2020. Seperti apakah hasil akhirnya nanti? Kita tunggu saja.

Sumber: Natalie.mu