Gambar Karakter Lingkarya Moesia, Dapatkan Hadiahnya!

Memperingati satu tahun Lingkarya Moesia, akan diadakan lomba fanart berhadiah.

Pada tanggal 16 Desember mendatang, Lingkarya Moesia telah genap berusia satu tahun. Saat ini, sudah ada 10 IP (karya intelektual) yang menjadi bagian dari lingkarya. Di Lingkarya Moesia, komikus dapat membuat, mengembangkan, dan memasarkan IP mereka, agar dapat bernilai lebih di pasar.

Memperingati hari jadi lingkarya, Moesia turut memperkenalkan maskot barunya. Bernama Mutia Sirkula, kelahiran maskot ini menjadi semangat baru para anggota yang tergabung di dalamnya untuk menjadi lebih besar dan lebih baik. Sebagai bentuk apresiasi untuk mitra dan pembaca, diadakanlah lomba fanart karakter-karakter yang tergabung dalam Lingkarya Moesia.

Mau Ikut! Bagaimana Caranya?

Mutia Sirkula, maskot Lingkarya Moesia

Untuk mengikuti lomba ini, peserta harus mengirimkan karya berupa fanart sang maskot Mutia Sirkula, bersama dengan karakter-karakter Moesia. Peserta boleh mengirim lebih dari satu karya. Tidak ada batasan jumlah karakter yang harus diikuti, yang penting harus memuat sang maskot dan karakter Moesia. Karakter-karakter yang bukan bagian dari Moesia tidak boleh diikutsertakan.

Referensi karakter-karakter Lingkarya Moesia dapat dilihat di sini.

  1. Risa Comics
  2. Aegires Blight
  3. Panneko
  4. FreaRashaa
  5. Kagamin
  6. Coretan Harian
  7. Gula Comic
  8. Alig Neighborhood (ORION69)
  9. Pesut Balap
  10. Clarra Charlone

Selain batasan mengenai karakter yang boleh diikutsertakan, gambar yang bernuansa SARA dan provokasi juga dilarang dalam lomba ini. Media gambar boleh tradisional atau digital, selama tidak tracing, redraw, maupun art theft. Jika gambar melanggar ketentuan, maka akan langsung didiskualifikasi.

Apa Hadiahnya?

Mau ikut lomba? Mudah caranya.

Juara I: Boneka nesoberi Mutia Sirkula senilai Rp 400.000

Juara II: Buku Nala Meets Hannah (Aegires Blight) + Risalah Risa (Risa Comics) + All4You: Memasak Bersama (Kagamin) senilai Rp 120.000

Juara III: Buku Risalah Risa (Risa Comics) + All4You: Memasak Bersama (Kagamin) senilai Rp 80.000

Lomba fanart ini dibuka sampai 18 Desember 2018. Segera kirimkan karya Anda sebelum waktu habis!

Tentang Lingkarya Moesia

Lingkarya Moesia adalah sebuah lingkarya yang beranggotakan ilustrator, penulis, dan komikus lokal dari berbagai kalangan. Didirikan 16 Desember 2017, kami hadir untuk membantu mereka mengembangkan dan memasarkan IP (karya intelektual) agar dapat bernilai lebih di pasar.

Kontak Kami
Facebook: www.facebook.com/lkmoesia
Twitter: www.twitter.com/lkmoesia
Email: [email protected]

Artikel ini merupakan rilis pers resmi dari Lingkarya Moesia. Ilustrasi oleh Bekti Pras.

PEKAN SINEMA JEPANG 2018, Perayaan 60 Tahun Hubungan Diplomatik Jepang – Indonesia

Jakarta, 27 November 2018 –  Visual Industry Promotion Organization (VIPO) bersama Agency of Cultural Affairs dan Japan Foundation akan menyelenggarakan pekan pemutaran film-film Jepang di Indonesia Japan Cinema Week (Pekan Sinema Jepang 2018) bertempat di CGV Grand Indonesia, Jakarta 7-16 Desember 2018.

Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, Pekan Sinema Jepang 2018 merupakan rangkaian perayaan 60 tahun hubungan diplomatic Indonesia-Jepang. Seiring dengan hal tersebut, penyelenggaraan Pekan Sinema Jepang 2018 diharapkan bisa meningkatkan pemahaman masyarakat Indonesia terhadap kebudayaan Jepang, memperbesar peluang diputarnya film-film Jepang di Indonesia, dan berkontribusi terhadap perkembangan cultural tourism di Jepang.

Total ada 36 film yang siap ditampilkan di Pekan Sinema Jepang 2018 film-film tersebut terbedagi menjadi enam kategori: New J-Director, New J-Film, “Samurai Historical”, “Kira-Kira” Teen, “Tokusatsu” Special Effect & Documentary. Beberapa judul yang akan ditayangkan antara lain: One Cut of the Dead, Pieta in the Toilte, Miss Hokusai, Let Me Eat Your Pancreas, GAMERA: The Guardian of the Universe, dan GODZILLA (1954). Seluruh film tersebut merupakan hasil kurasi yang dilakukan oleh tim dari Agency of Cultural Affairs, VIPO, dan Japan International Foundation.

Tidak hanya menayangkan banyak film, pihak penyelenggara juga menyiapkan berbagai kegiatan menarik lainnya untuk public dan filmmakers selama Pekan Sinema Jepang 2018 berlangsung. Kegiatan-kegiatan tersebut antara lain adalah workshop mengenai special effect (Tokusatsu), diskusi dengan produser dan actor dari Jepang, serta symposium oleh filmmakers dari kedua Negara. Kegiataj-kegiatan tersebut diharapkan dapat meningkatkan kualitas industry film di Indonesia dan Jepang.

Informasi mengenai penyelenggaraan #PSJ2018 dapat diakses di Official Website Pekan Sinema Jepang 2018 https://www.jcinema2018.id/

Meriahkan Akhir tahun 2018, Mari Sambut J-Cafest: Explore Japan!

Mengakhiri tahun 2018, UKM budaya jepang J-Cafe dari Universitas Multimedia Nusantara kembali melaksanakan event bernama J-Cafest. Tahun ini J-CAFÉST mengangkat tema “Explore Japan”. Sesuai dengan temanya, J-Cafest akan menampilkan acara dengan berbagai macam kebudayaan tradisional dan pop Jepang.

J-Cafest akan dilaksanakan pada 30 November – 1 Desember 2018 mendatang di Universitas Multimedia Nusantara yang berlokasi di jalan Scientia Boulevard, Gading Serpong, Tangerang.

Acara ini akan dipenuhi oleh berbagai macam kegiatan-kegiatan menarik yang akan menghibur para pengunjung yang hadir. Beberapa acara yang akan dihadirkan oleh J-Cafest seperti lomba cosplay, Komik Strip dan Lomba Karaoke. Ada pula workshop Karuta dan Aikido. Acara juga turut dimeriahkan juga oleh para Guest Star sebagai berikut :

J-Cafest: Explore Japan merupakan event J-Cafest yang ketiga, setelah sebelumnya telah dilaksanakan event serupa pada tahun-tahun sebelumnya. Event ini merupakan kegiatan tahunan dari UKM kebudayaan Jepang J-Cafe yang berada di Universitas Multimedia Nusantara. Pada event ini, seluruh divisi UKM J-Cafe yang terdiri  dari 8 divisi yaitu Cosplay, Culture, Idol, Musik, Ilustrasi, Trading Card Game, Weapon dan Visual Novel bekerjasama untuk merencanakan dan melaksanakan event J-Cafest.

Tulisan ini merupakan rilis pers resmi dari pihak penyelenggara.

Kreator Spongebob Stephen Hillenburg Meninggal Dunia

Kreator serial animasi Spongebob Squarepants ini meninggal dunia di usia ke-57.

Belum habis berduka akan kepergian Stan Lee, insan kreatif dunia sekali lagi melepas kepergian kreator terbaiknya. Stephen Hillenburg, pencipta serial animasi tersohor Spongebob Squarepants, menghembuskan napas terakhirnya di usia ke-57.

Hillenburg adalah seorang ahli kelautan. Beliau sempat mengajar di Orange County Marine Institute, sebelum akhirnya keluar dan mengejar mimpi lamanya, menjadi seorang animator. Ia sempat terlibat di proyek animasi pendek The Green Beret dan Wormholes, juga animasi Nickelodeon Rocko’s Modern Life. Proyek animasi ini hanya berlangsung tiga tahun (1993-1996), di mana Hillenburg memboyong sejumlah anggota tim untuk proyek barunya, termasuk pengisi suara Spongebob (masa depan) Tom Kenny.

Menciptakan Spongebob Squarepants

Ketika masih mendalami bidang kelautan, Hillenburg tampaknya sudah mempersiapkan konsep serupa Spongebob. Ia melihat bagaimana anak-anak menggemari hewan laut, terlebih jika disajikan dengan cara yang lebih menghibur.

Stephen Hillenburg dan karyanya, Spongebob.

Spongebob Squarepants tayang perdana pada tanggal 17 Juli 1999. Tak butuh waktu lama untuk mencapai tangga atas serial animasi terlaris di dunia. Baru tiga tahun, jumlah penontonnya mencapai 61 juta penonton, di mana 1/3-nya adalah orang dewasa. Spongebob menjadi anak emas Nickelodeon, dan ia ada di mana-mana. Buku, tas, kotak pensil, botol minum, dll. Serialnya masih berlanjut hingga saat ini, bahkan sudah dilayarlebarkan sebanyak dua kali. Meme dan kata-kata mutiaranya masih terus hidup dan dilestarikan hingga kini. Tua dan muda, semua menyukainya.

Selamat jalan, sang legenda.

[Review Corner] Kyou kara, Ore wa!!, Adaptasi Drama Live-Action Yang Penuh Dengan Cameo

Mulai hari ini, aku adalah begundal!

Buat kalian pecinta film ataupun drama “lelaki” yang penuh dengan adegan perkelahian, tawuran antar sekolah, anak SMA melawan Yakuza seperti dalam film Crows Zero, drama ini cocok untuk kalian. Tidak hanya serius dan penuh pukulan, drama ini juga penuh dengan komedi yang variatif dan mudah untuk dapat punchline-nya. Mengapa live-action ini menarik? Berikut ulasannya.

Adaptasi live-action dari manga yang dikarang oleh Nishimori Hiroyuki ini telah tayang sejak 14 Oktober silam di kanal televisi Jepang Nihon Terebi. Tetapi. Adaptasi animenya telah tayang dalam bentuk OVA sebanyak 10 episode April 1993 silam. Dalam adaptasi live-Action ini, Kyou Kara, Ore wa!! dibuat dengan latar 80-an, saat Jepang sedang mengalami bubble economy dan para anak mudanya banyak yang bergaya nyentrik dan begundal.

Sinopsis dan Jajaran Pemeran

Takashi dan kawan-kawan berandalnya.

Mitsuhashi Takashi adalah seorang pelajar SMA yang baru saja pindah sekolah, memutuskan untuk mengecat rambutnya dengan warna pirang. Ia memutuskan untuk menjadi begundal di sekolah barunya. Ia bertemu dengan Itou Shinji yang juga baru saja pindah sekolah, dan tanpa disengaja mereka berdua menjadi begundal dan jagoan di sekolah barunya. Semenjak itu, hari-hari mereka penuh dengan konflik baru.

Apa saja yang menarik dari live-action ini?

Cameo, Cameo, dan Cameo

Cameo tukang pangkas rambut.

Ada banyak aktor dan aktris tamu yang muncul dalam live-action ini. Arai Hirofumi, Iketani Nobue, Oguri Shun, Shimazaki Haruka (ex-AKB48), Takahashi Katsumi, Tsutsumi Shinichi, Hashimoto Jun,  Hamabe Minami, Yagira Yuuya, Yamazaki Kento, Takayuki Yamada, dan Yokoyama Ayumu.

Dapat dibilang, live-action ini memang menarik karena cameonya. Tetapi, cameo yang ada justru menambah nilai komedi yang ada, misalnya seperti Oguri Shun dalam live-action ini sebagai tukang pangkas rambut dengan nama Takiya Genji.

Lelucon yang Variatif dan Konflik Yang Menarik

Tidak hanya cameo saja yang membuat live-action ini menarik, lelucon yang disajikan dalam adaptasi drama ini juga lebih menarik. Ya, seperti halnya drama komedi Jepang seperti Yuusha Yoshihiko dan lainnya, akan menjadi sesuatu yang penuh dengan slapstick yang mampu mengocok perut kalian. Contohnya bisa kalian lihat sendiri dalam gambar di bawah.

Bagi Anda yang tertarik menonton, live-action ini tayang setiap hari Minggu di kanal televisi Jepang Nihon Terebi.

Tulisan ini adalah opini pribadi dari penulis, tidak mencerminkan pandangan umum Risa Media. Penulisan oleh Ibnu Syarif al Husein.

Kenapa K-Pop Lebih Populer dari J-Pop?

J-Pop vs K-Pop. Sekali lagi, ujung-ujungnya masalah branding.

Akhir-akhir ini, Anda akan sering melihat sekumpulan wibu yang mulai mendengar musik K-Pop. Mengapa? Karena perlahan musik K-Pop (dari grup BLACKPINK, TWICE, ataupun idol gim LOL K/DA POP/STARS misalnya), kini mulai diterima penggemar jejepangan.

Mungkin Anda bertanya-tanya, bukannya selama wibu anti banget dengan hal-hal berbau Korea? Bukankah selama ini wibu menghina K-Pop dengan sebutan “plastik”? Bagaimana cerita K-Pop sukses menaklukkan selera kelompok yang niche ini? Atau secara garis besarnya, kenapa K-Pop mulai terlihat jauh lebih ramai peminatnya dibanding tetangganya, J-Pop?

J-Pop vs K-Pop,  Branding yang Membangun Kultur

Sebelum Anda membuat sebuah karya, tentu Anda harus menentukan terlebih dahulu bagaimana khalayak ramai mempersepsikan karya Anda, dan apa yang membedakan karya Anda dengan karya sejenis. Naruto adalah ninja. One Piece bercerita tentang bajak laut. Bang Dream adalah band rasa idol. Persepsi ini dapat dibentuk dari alur cerita, desain karakter, logo, musik, dan hal lainnya. Inilah yang kita sebut sebagai brand.

Konsep branding ini berlaku di segala lini bisnis, tak terkecuali industri musik. Baik J-Pop maupun K-Pop telah membangun brandnya masing-masing. Keduanya sama-sama mempunyai basis penggemar yang loyal, baik lokal maupun mancanegara. Perbedaan di antara keduanya baru terasa saat membandingkan konsep dan cara penyampaian pesan dari kedua jenis lagu ini.

Singkat cerita, J-Pop sulit digemari karena cara pembawaannya yang (umumnya) ekslusif. Anda harus mengerti konteks ceritanya terlebih dahulu sebelum Anda menggemari dan menyelami lagu-lagu J-Pop lainnya. Lain halnya dengan K-Pop, Anda bisa saja kepincut hanya dengan mendengarkan lagunya, tanpa perlu menyelami konteks lainnya.

Ditinjau dari sisi girlband, K-Pop membawakan lagunya dengan lebih dewasa dan cool, di mana J-Pop umumnya berkutat dengan elemen cute. Hal inilah yang juga membuat K-Pop lebih mudah diterima dalam pergaulan remaja, karena dapat membuat Anda lebih “dewasa” dan gaul di hadapan orang lain. Pergaulan memang kejam, tapi begitulah efek branding.

K-Pop, Engage, dan Inovasi

Situs belanja daring Shopee pun turut memboyong BLACKPINK ke Indonesia.

Mendengar kata engage, mungkin Anda langsung terpikirkan akan sebuah platform komik lokal. Meskipun terdengar seperti guyon, praktik engage ini amat diperlukan dalam membangun brand dan basis penggemar yang kuat, tidak terkecuali industri musik K-Pop.

Sedari awal, industri pop kultur Korea memang ditujukan untuk besar dan berpengaruh. Mereka memperhatikan minat pasar dan beradaptasi dengan zaman. K-Pop memang tidak pernah lepas dari inovasi, gaya musik baru, formasi anggota baru, koreografi baru, dan bahkan elemen visual baru. Agensi K-Pop tidak ragu untuk mengadakan konser, bekerjasama dengan brand lokal maupun mancanegara, sampai mempublikasikan MV lengkapnya secara gratis, apapun dilakukan agar penggemar baru terus menerus berdatangan.

Kerja keras rakyat Korea tidak sia-sia. Kultur pop Jepang yang dulu populer di Barat, kini mulai tergerus dengan kehadiran K-Pop. Hal ini dibuktikan melalui grafik pencarian Google di bawah.

Grafik pencarian Google, K-Pop vs J-Pop

Jepang Saja Cukup

Jika K-Pop semakin hari semakin “internasional”, J-Pop justru sebaliknya. Produk industri kreatif Jepang sedari dulu hanya ditujukan untuk pasar dalam negeri. Jika ada penggemar dari luar negeri, mereka hanya menganggap itu sebagai bonus. Hal serupa turut menjangkiti industri J-Pop.

Musik J-Pop, sama halnya dengan manga dan anime, memang punya potensi. Penggemar J-Pop juga datang dari luar negeri, dan seharusnya hal ini tidak bisa dipandang sebelah mata. Sayangnya, sejumlah agensi malah tutup mata akan potensi ini. Mereka menganggap pasar domestik sudah cukup menghidupi industri.

Di Jepang, CD masih menjadi media utama distribusi lagu.

Satu hal yang dikeluhkan penggemar J-Pop dari luar negeri adalah sulitnya mendapatkan lagu dan merchandise J-Pop secara legal. Album J-Pop hanya tersedia dalam bentuk CD, di saat masyarakat dunia sudah beralih ke layanan musik daring YouTube dan Spotify. MV lagu J-Pop di YouTube terkadang tidak utuh. Tidak jarang album CD hanya tersedia di Jepang saja. Keberadaan lagu Jepang di Spotify masih kalah jumlah dibanding tetangga sebelah. Tidak sampai di situ, Jepang juga sangat protektif dengan karyanya. Tidak jarang lagu J-Pop gubahan (cover) penggemar ditarik dari peredaran daring, membuat distribusi menjadi semakin terbatas dan penggemar J-Pop terpaksa mengunduh lagu secara ilegal.

Selain masalah distribusi, penggemar J-Pop merasa jenuh akan lagu yang “gitu-gitu aja”. Kejenuhan ini juga merupakan efek dari J-Pop yang hanya peduli akan pasar Jepang saja, dan cenderung mengabaikan penggemar potensial di luar sana.

J-Pop Mulai Mengejar, K-Pop Mencari Celah

Meskipun K-Pop telah menguasai lini musik Asia, bukan berarti Jepang sama sekali tidak bertaji. Sejumlah produsen telah menyadari kendala distribusi yang menghambat penyebaran musik J-Pop, sehingga mereka turut menyediakan lagu-lagunya di situs streaming Spotify.

Anggota JKT48 generasi pertama. Pada awal kemunculannya, JKT48 membawa angin segar di dunia musik Indonesia.

Bagi artis J-Pop yang mempunyai basis penggemar besar, mengadakan konser di luar negeri adalah salah satu cara untuk engage dengan penggemar. Beberapa bertindak lebih jauh dengan “membuka cabang” idol mereka di negara lain. Contoh paling jelasnya adalah AKB48, grup idol Jepang yang berekspansi ke luar negeri melalui sister group-nya. Salah satunya adalah JKT48, yang meraih kesuksesan di awal kemunculannya. JKT48 menjadi alternatif di tengah-tengah belantara musik Indonesia yang didominasi pop Melayu dan girlband-boyband ala Korea. Lagi-lagi minimnya inovasi yang dilakukan JKT48 dan kurang tanggap akan minat pasar, membuat ketenaran mereka yang hanya sementara, perlahan tergerus pasar.

Celah pasar inilah yang  dimanfaatkan girlband Korea seperti TWICE dan BLACKPINK untuk menarik golongan wibu dan wota. Kesegaran cewek-cewek cantik, lagu yang catchy, dan koreografi aduhai, beberapa sensasi yang ditawarkan girlband K-Pop ini kurang lebih sama dengan idola J-Pop favorit mereka. K/DA POP/STARS menumpang gim “League of Legends” yang juga dimainkan oleh kalangan wibu, lengkap sudah. Golongan wibu yang dahulu membenci K-Pop, perlahan mulai menyukai.

Tren musik mudah berubah, dan baik J-Pop, K-Pop, maupun aliran musik lainnya harus bisa menyesuaikan diri sembari mempertahankan identitasnya. Apakah J-Pop sanggup melebarkan pengaruhnya? Atau malah K-Pop yang makin tersebar? Biarlah pasar yang menjawab.

Tulisan ini adalah opini pribadi dari penulis, tidak mencerminkan pandangan umum Risa Media. Penulisan oleh Excel Coananda.

[Liputan] Sensasi Harajuku di Jiyuu Matsuri 2018

Hai hai, Riscomrades! Kali ini Tim Risa Media berkesempatan untuk meliput acara jejepangan tahunan di Universitas Negeri Jakarta, yaitu Jiyuu Matsuri. Acara utama dari Jiyuu Matsuri ini berlangsung pada 3-4 November 2018 di Kampus A Universitas Negeri Jakarta. Sebelum acara utama diselenggarakan, ada juga pre event Jiyuu Matsuri yang dihelatkan pada tanggal 6 Oktober 2018. Pre event Jiyuu Matsuri ini berisikan seleksi beberapa lomba untuk final pada acara utama Jiyuu Matsuri.

Pada tahun ini, Jiyuu Matsuri mengangkat tema The Art of Harajuku. Harajuku merupakan sebuah kawasan yang biasa dijadikan tempat berkumpul anak muda Jepang dengan gaya yang unik dan menarik. Event Jiyuu Matsuri ini juga mengajak para pengunjung untuk hadir pada acara utama dengan gaya berpakaian ala harajuku.

Setiap tahunnya, Jiyuu Matsuri menghadirkan konten yang menarik, dan salah satu kegiatan wajibnya adalah workshop. Workshop pertama adalah “Ekspresi Kreatif Melalui Web Komik” yang diisi oleh pembicara Ditta Amelia, Dike Akbar, dan Fahmi Hamka. Di hari kedua, Jiyuu Matsuri mengadakan dua workshop sekaligus, yaitu workshop Fuwa Fuwa Tiramisu Pancake dengan pembicara Noverina Rahma, dan workshop Natural Make Up Trend: Inspirasi Jakarta The Colours of Asia yang diisi langsung oleh tim MUA Sariayu.

Ramai dari Pagi sampai Malam

Pada hari pertama (3/11), acara diisi oleh penampilan menarik dari Jakarta Keion Club, Swaramangun yang membawakan musik keroncong, dan beberapa penampilan menarik lainnya. Dilanjut hari kedua (4/11), acara diawali dengan penampilan tarian tradisional, finalis lomba band, kemudian disambung dengan pengumuman lomba dari berbagai bidang. Selepas dzuhur, jumlah pengunjung acara ini semakin ramai dan memadati area kampus. Panggung utama diramaikan dengan penampilan drama mikosi yang menceritakan kisah bagaimana Kang Matsuri bertemu dengan Jiyuu-chan. Jiyuu-chan dan Kang Matsuri, bersama dengan teman-teman mereka, menjaga remote dari para penjahat. Setelah drama mikosi, panggung utama diisi oleh Shadow Cosplay yang menampilkan penampilan drama dengan judul ‘Naruto the Last’, kemudian disambung dengan penampilan tarian yosakoi dari Hyakka Ryouran, dan beberapa penampilan musik dari Vover, Wibi & Friends, Nanairo Symphony.

Semakin sore, acara ini semakin meriah. Selepas break maghrib, halaman panggung utama dibuat ramai oleh pengunjung yang menonton Hydra yang juga berkolaborasi dengan DDM X Monolite, dilanjut oleh penampilan dari band Astro Paper, dan Ministry of Idol. Penampilan REDSHiFT menjadi penampilan musik paling terakhir dan membuat malam menjadi terasa sangat pecah! Ledakan kembang api yang indah tentu juga menghias malam penutupan acara Jiyuu Matsuri 2018.

Sekian liputan dari Tim Risa Media untuk acara Jiyuu Matsuri 2018. Sampai jumpa di liputan acara selanjutnya!

Menjadi Snob, Menjadi Elitis

Merasa paling tahu, merasa paling istimewa, membuat mereka yang ingin tahu menjadi mundur. Hal ini juga umum dalam jagat jejepangan.

Salah satu isu yang menjadi dinamika perwibuan Indonesia adalah sekelompok kecil orang yang terus-menerus merendahkan acara—dan juga penggemarnya—yang dianggapnya rendah mutu. Sikap kelompok kecil yang menggebu-gebu dalam menunjukkan ketidaksenangannya terhadap beberapa anime atau idol ini bukanlah hal baru, dan sudah lama ada.

Penulis masih ingat saat-saat dimana serial Fate pertama kali dilayarlebarkan dan bagaimana tanggapan negatif dari penggemar lama bermunculan dimana-mana. Sikap kaum fanatik seri ini disebut elitisme, dan mereka yang memiliki sifat ini disebut elitis.

Mengenal Elitisme dan Snobbisme

Istilah elitisme lahir beberapa abad silam, di mana masyakarat masih terbagi kelasnya, antara aristokrat-ningrat dengan rakyat biasa. Elitis adalah kaum yang terlahir dengan status sosial sebagai bangsawan, merasa memiliki derajat yang lebih tinggi dibandingkan dengan rakyat biasa. Tidak hanya itu, istilah yang sering digunakan sekarang, plebeian, sebenarnya merupakan panggilan untuk rakyat jelata pada zaman Imperium Romawi.

Dari kesenjangan sosial di atas, lahirlah snobbisme, sebuah sikap di mana seseorang mengidentifikasikan dirinya sebagai “kelas atas”, meskipun mereka bukan bagian dari kelas tersebut. Sikap ini disebabkan oleh dua hal:

  1. Keinginan untuk bergabung dengan kelompok sosial dengan status yang lebih “wah”, atau ikut dalam kelompok yang sama dengan idolanya.
  2. Keinginan mengeksklusifkan diri—di mana orang-orang yang tak secerdas dia, yang gaya hidupnya tak seelegan dia, tak boleh bercampur dengan dirinya.

Snobbisme ini juga biasanya diidentifikasikan dengan orang-orang dengan gaya hidup yang mewah atau sok elegan, yang sering mencibir dan merendahkan mereka yang tak sebagus dirinya. Istilah kekiniannya, panjat sosial.

Elitisme dalam Perwibuan

Dua hal inilah yang juga mendasari kelakuan snob di abad ke-21 ini, seperti snob kopi yang rajin protes jika kopinya kurang kental, atau snob musik yang terus-menerus mengeluh musik indie kesukaannya didengarkan banyak orang. Dalam dunia pop kultur Jepang, kita mengenal beberapa contoh seperti komunitas Fate, atau orang-orang tua yang menonton anime mecha lama.

Cara mudah mengenali elitis anime.

Sikap keinginan identifikasi dan eksklusivitas ini dapat kita gunakan untuk memahami sikap para “wibu elitis” yang bertebaran di media sosial. Ada elitis Fate yang kesal dan mengeluhkan betapa bodohnya orang-orang yang menonton Fate/UBW terlebih dahulu sebelum Fate/Zero. Ada pula keluhan tentang kultur moe yang menghancurkan kultur anime yang mereka pandang sebagai maskulin, keren dan sarat makna, seperti serial-serial anime 80 dan 90-an.

Tindak Tanduk Elitis Anime

Bagaimana kita dapat memahami penyebab kekesalan dan perbuatan mereka?

Sekali lagi: keinginan untuk mengidentifikasi diri terhadap suatu komunitas, dan keinginan komunitas tersebut untuk menjadi eksklusif. Dalam kasus TYPEMOON, kita dapat melihat banyak orang yang mengidentifikasikan dirinya dengan keunikan selera mereka, yang didapat dari menggemari visual novel jaman lawas yang jarang diketahui orang. Para elitis ini mendapatkan prestise dari status mereka sebagai penggemar dari franchise yang berkualitas tetapi sedikit peminat, menandakan diri mereka mempunyai “selera bagus”. Keinginan untuk eksklusivitas itu ditandai dengan keengganan mereka untuk setara dengan “fans murahan” yang dianggap “asal menyukai” dan tidak memiliki pengetahuan mendalam seperti mereka. Singkatnya, para elitis yang “cerdas” ini tak sudi disamakan dengan fans murahan yang “pemalas”.

Dalam contoh kasus yang lebih umum, seperti keluhan suatu kelompok terhadap kultur moe dan “drama”, terdapat nostalgia dan kebanggaan tersendiri. Mereka merasa tontonan mereka lebih berkualitas, dengan alur yang lebih padat dan jarang diwarnai oleh klise. Mereka menganggap serial moe, “drama”, dan  fan service sebagai penyebab tingkah laku rendah mutu dan reaksi murahan “fans baru”. Dari sinilah kita akan mendapati mereka yang menonton anime aksi atau mecha lawas yang dianggap berkualitas dan berkelas tinggi. Para elitis ini mencibir mereka yang menyukai fanservice “murahan” dari “anime zaman sekarang”, sebagaimana aristokrat Romawi mencibir tingkah rakyat jelata.

Elitisme dan Snobbisme Tanpa Sadar

Dalam ajaran eksistensialis, manusia yang mencari makna dalam diri dimaknai sebagai keinginan untuk “berada” dan menempatkan posisi dirinya relatif dengan dunia sekelilingnya. Maka Anda tak perlu heran lagi atas keinginan banyak orang untuk mengidentifikasikan diri, meskipun dalam hal kecil seperti elitisme wibu ini. Mengingat semua orang mempunyai kebutuhan pemaknaan diri, maka kita semua sejatinya mempunyai elitisme dengan skala yang berbeda-beda. Banyak dari kita yang mencibir penggemar sinetron yang dianggap lebih tidak bermutu daripada penggemar anime, atau K-Popers yang dianggap selera musiknya lebih jelek dari mereka yang mendengarkan J-Pop. Padahal selera tidak dapat dibandingkan, kan?

Tulisan ini adalah opini pribadi dari penulis, tidak mencerminkan pandangan umum Risa Media. Penulisan oleh Muhammad Naufal Hanif.

Kesepian di Comifuro? Sekarang Bisa Rental Pacar!

Sejauh ini, hanya kaum hawa yang dapat menikmati layanan ini.

Sebagai acara yang mengedepankan karya indie, banyak hal menarik yang dapat Anda temui di acara Comic Frontier ini. Mulai dari tempat berkumpulnya berbagai komunitas, terdapat juga kegiatan unik seperti Naruto Run, jasa mengerjakan tugas sekolah dan konsultasi soal SBMPTN, bagi poster untuk pemakai sepatu KW, hingga kegiatan unik lainnya.

Pada 23 dan 24 Februari 2019 mendatang akan diadakan acara Comic Frontier 12 yang masih bertempat di Kartika Expo Center, Balai Kartini, Jakarta Pusat. Menjelang Comifuro 12 ini ada pula hal menarik lainnya yang sudah memikat perhatian warganet, yaitu Rental Boyfriend & Girlfriend.

Jasa sewa pacar di Comifuro 12

Jasa sewa pacar ini diadakan oleh circle Brownies Coklat dan diumumkan melalui halaman penggemarnya Kamis, 15 November 2018 pukul 12.10 WIB. Circle yang biasanya menjual merchandise ini juga menawarkan pelayanan ekstra, yakni sewa pacar untuk para warganet yang ingin mengunjungi acara Comifuro 12.

Tidak sembarangan, untuk pelayanan ini pun memiliki beberapa ketentuan seperti hanya berlaku untuk pelanggan perempuan, tidak boleh menanyakan hal-hal privasi seperti nomor kontak, alamat, dan hal pribadi lainnya. Tentu kententuan-ketentuan tersebut diberlakukan untuk menghindari kejadian yang tidak diinginkan dan tidak merugikan pelanggan atau pun para talent. Karena pelayanan ini masih rencana dari terobosan baru, kita semua masih belum bisa tahu seberapa efektifnya pelayanan ini.

Tapi mungkin untuk kalian yang sedang patah hati, jomblo, dan membutuhkan teman gandengan untu ke acara Comifuro 12 nanti bisa mencoba pelayanan ini. Jangan lupa, kalian semua harus tetap jaga etika dan sopan santun, ya!