Hell Joseon: Hidup di Korea itu Berat!

Adanya istilah Hell Joseon ini membuktikan, kehidupan di Korea Selatan tak seindah di drama Korea.

Ketika mendengar kata Korea, khususnya Korea Selatan, banyak hal indah-indah yang terbayang di pikiran kalian. K-Pop, drakor, webtoon, Korean BBQ, Tayo, teknologi tinggi, internet cepat, Samsung, kimchi, dan Korean BBQ. Tidak perlu diragukan lagi, Korea tengah menjadi pusat perhatian dunia dalam bidang pop culture, bahkan mengalahkan Jepang. Tampak indah, bukan? Tunggu sampai kalian mendengar istilah “Hell Joseon”.

Berasal dari nama dinasti yang bertakhta di Korea sebelum penjajahan Jepang, “Hell Joseon” merupakan sebuah kritik akan kehidupan sosial-ekonomi Korea yang bagai neraka, tersembunyi di balik glamornya K-Pop dan drakor. Berkaca pada kematian artis K-Pop Sulli, salah satu dari sekian banyak penyebabnya adalah neraka Korea yang keras ini.

Dari Sengsara Menjadi Macan Asia

Bicara soal Hell Joseon, tentu tak lengkap jika tak membahas soal sejarahnya. Bagaimana sosial-ekonomi Korea Selatan berkembang juga dapat ditelusuri dari kebijakan-kebijakan terdahulu.

Korea Selatan di tahun 1950 hingga 1960-an hanyalah negara miskin. Tanah dan bangunan hancur lebur akibat perang. Ekonominya masih tergantung pada pertanian, serta santunan dari Amerika Serikat. Namun, semuanya berubah saat presiden Park Chung Hee menjabat di tahun 1960-an. Ia mengeluarkan sebuah kebijakan yang membuat ekonomi Korea Selatan meningkat pesat.

Kondisi Korea Selatan pada tahun 1950-an.

Park Chung Hee mengundang para chaebol, sebutan untuk konglomerat bisnis besar di Korea Selatan. Para chaebol ini diberikan pinjaman besar dari pemerintah. Selain pinjaman besar, para chaebol ini juga diberikan hak istimewa untuk merambah ke berbagai jenis industri, dari tekstil, kimia, hingga manufaktur. Hasilnya berbuah manis. Ekonomi meningkat pesat, mengantarkan Korea Selatan menjadi Empat Macan Asia, bersama Hong Kong, Singapura, dan Taiwan. Nama-nama chaebol ini tentu tak asing lagi di telinga. Samsung, LG, Hyundai, Lotte, dan CJ (pemilik jaringan bioskop CGV) adalah beberapa contoh di antaranya.

Meskipun ekonomi meroket, kebijakan ekonomi yang mengutamakan perusahaan besar ini mengundang konsekuensinya sendiri. Hal ini erat kaitannya dengan Hell Joseon.

Sudah Keras Sedari Kecil

Bagi masyarakat Korea, pendidikan adalah segalanya. Pendidikan menjadi solusi untuk meningkatkan status sosial dan ekonomi keluarga. Sedari kecil, anak-anak Korea diajarkan untuk mendapat nilai dan ranking bagus, agar dapat bekerja di perusahaan ternama dan mampu menghidupi diri sendiri dan keluarga.

Secara pembagian kelas, sistem pendidikan di Korea dan Indonesia kurang lebih sama. Enam tahun SD (Chodeung hakgyo), tiga tahun SMP (Jung hakgyo), dan tiga tahun SMA (Godeung hakgyo). Siswa SMA di sana berangkat sekolah pukul 05.00, dan selesai pukul 16.00. Setelah sekolah, siswa masih harus belajar di sekolah atau perpustakaan hingga pukul 22.00. Kebiasaan unik ini dinamakan yaja, yang artinya “belajar sore mandiri”, dan beberapa sekolah malah mengharuskannya. Meskipun demikian, sejumlah sekolah tidak lagi mewajibkan yaja.

Belajar selesai? Belum! Siswa masih harus mengikuti hagwon, yang umum dikenal di Indonesia sebagai bimbel. Mengikuti hagwon tentunya tak murah, namun orang tua tak sungkan menghabiskan uangnya demi nilai bagus sang anak. Alhasil, siswa baru bisa tidur pukul 02.00, yang dalam artian mereka hanya sempat tidur 3 jam sebelum akhirnya bangun lagi untuk sekolah.

Lelah dengan sekolah, sebagian siswa Korea menjadikan game sebagai pelarian.

Kalau akhir pekan dimanfaatkan orang Indonesia untuk bersantai dan jalan-jalan, siswa Korea masih menggunakan waktu itu untuk belajar. Bagaimana tidak, demi masuk universitas elit mereka harus terus belajar sampai lupa caranya bermain. Sebagian lagi yang sudah tak tahan, memilih untuk mengakhiri hidupnya atau bermain game sampai kecanduan.

Kerja keras selama sekolah ditentukan dalam CSAT, yaitu tes masuk perguruan tinggi. Sekitar 60% dari hasil tes ini akan menentukan universitas sang siswa, di mana 40% dihitung dari hasil rapor. Universitas presitisus yang menjadi incaran adalah Seoul National University, Korea University, dan Yonsei University.

Hidup Sesudah Kuliah, Lebih Berat Lagi

Setelah masuk universitas, mahasiswa baru belum bisa bernafas lega. Bagai pepatah “sudah jatuh tertimpa tangga”, saat kuliah sudah berat dan setelah kuliah juga demikian.

Saat mereka menjalani kuliah, mahasiswa lelaki dipanggil oleh negara untuk mengikuti wajib militer selama dua tahun. Ancaman dari tetangganya di sebelah utara menjadi alasan kuat budaya ini ada. Melewatkan wajib militer ini adalah bentuk pengkhianatan terhadap negara.

Setelah lulus kuliah, mahasiswa yang baru lulus ini akan dihadapkan pada pilihan hidup, sama seperti manusia pada umumnya. Bedanya, mahasiswa Korea punya sedikit pilihan. Kerja keras yang dilaluinya selama ini membuatnya merasa pantas untuk bekerja di perusahaan-perusahaan besar. Gaji mereka besar, setidaknya untuk standar Indonesia, tetapi tidak untuk Korea Selatan dengan biaya hidup tinggi. Kembali lagi, perusahaan-perusahaan besar ini adalah chaebol. Sebagian chaebol ini masih perusahaan keluarga. Kalau tidak ada koneksi ke sana, jangan harap bisa naik pangkat. Gajimu akan segitu-segitu saja.

Sebagian dari kalian mungkin berpikir untuk membuka bisnis. Tapi kembali lagi, ada chaebol. Mereka sudah memonopoli berbagai aspek kehidupan, dan mereka punya hak istimewa. Makanan, media, teknologi, hingga militer, hampir semuanya dikuasai oleh chaebol. Kecuali kalau keluargamu memang benar-benar kaya, mungkin lain cerita.

Menjadi Artis K-Pop? Tidak Semudah Itu

Sampai pada titik ini, mungkin kalian berpikir. “Kalau pendidikan sesulit itu, kenapa tidak menjadi artis K-Pop saja?”. Sebagian anak muda Korea juga memikirkan hal yang sama, namun kenyataan yang ada tak sebanding dengan imej mewah dan terkenal di luar sana.

Untuk menjadi artis K-Pop, seseorang harus melewati agensi terlebih dahulu. Agensi inilah yang nantinya akan melatih dan mendanai para artis. Sebelum debut, mereka ditempatkan dalam “boot camp”, di mana mereka akan dilatih menyanyi, menari, dan kegiatan fisik lainnya. Mereka butuh waktu bertahun-tahun, bahkan terkadang hingga 10 tahun, hanya agar bisa debut. Tidak hanya itu, mereka harus membayar untuk boot camp ini.

Kasus bunuh diri Jonghyun tahun 2017 lalu juga menjadi bukti dari kejamnya Hell Choson ini.

Budaya Korea lekat dengan budaya Konfusius yang menjunjung tinggi kesempurnaan. Artis-artis ini harus tampil sempurna di hadapan penggemarnya. Kesempurnaan tidak hanya dari skill menyanyi dan menari, tetapi juga tampang. Salah sedikit saja, penggemar bisa mencaci maki sejadi-jadinya. Oleh karena itu, operasi plastik dan diet ekstrim menjadi hal lumrah, bahkan diwajibkan, agar sang artis tetap digemari.

Tidak hanya fisik yang dikorbankan, mental dan kehidupan pribadi juga harus dikorbankan jika ingin menjadi artis K-Pop. Artis-artis K-Pop ini terjebak dalam kontrak yang tidak adil. Mereka hanya mendapat sebagian kecil dari pendapatan mereka manggung dan membintangi iklan, sisanya diserahkan ke agensi. Kehidupan pribadi mereka benar-benar dipantau, termasuk urusan cinta. Mau mencoba keluar? Siap-siap membayar denda, dan dendanya tentu tidak murah.

Tekanan yang bertubi-tubi inilah yang membuat penyakit mental mewabah di Korea Selatan, terlebih mereka yang menggeluti dunia hiburan. Ditambah dengan budaya Asia Timur yang masih meremehkan penyakit mental, tidak heran tingkat bunuh diri di Korea Selatan terbilang tinggi. Kematian Sulli dan Jonghyun akibat bunuh diri menjadi bukti nyata kejamnya hidup di neraka Korea Selatan.

Keluar dari “Neraka”

Sekolah sampai dini hari, masuk kuliah bersaing keras, tengah kuliah wajib militer, lulus kuliah bersaing keras lagi. Begitulah Hell Joseon, kehidupan di Korea Selatan yang tertutup oleh gemerlapnya Gangnam. Di sana hanya ada kebosanan dan neraka. Hidup akan begini-begini saja.

Tidak ada cara lain untuk keluar dari neraka ini, selain pindah ke luar negeri. Negara-negara Asia Tenggara, salah satunya Indonesia, menjadi salah satu tujuan favorit mereka. Memang masyarakat Indonesia tidak semaju di sana, setidaknya kesempatan di negara ini masih terbuka lebar untuk siapa saja yang berusaha keras.

Rakyat Korea Selatan hanya bisa berkata: “Korea Utara dan Selatan sama saja, yang membedakan hanyalah gaya hidupnya.”

Menjadi yang terhebat dapat mengantarkan kalian menuju kesuksesan. Meskipun demikian, sempatkanlah waktu untuk menikmati hidup, apapun caranya. Kalau sudah lelah, jangan dipaksa. Ada kalanya jiwa ini butuh istirahat.

Hong Kong 97, Ketika Game Menjadi Sarana Protes

Hong Kong 97 menjadi wujud protes Kowloon Kurosawa terhadap industri game pada masa itu. Gamenya yang sengaja dibuat "burik", membuatnya melegenda.

Dunia gaming kembali meradang. Seorang gamer asal Hong Kong mendapati akunnya diblokir, setelah menyuarakan dukungannya terhadap demonstran Hong Kong di Hearthstone, salah satu game dari Blizzard. Dampaknya, Activision Blizzard mendapatkan kecaman dan boikot dari warganet seluruh dunia. Masih soal Hong Kong, hari ini Risa Media akan membahas tentang Hong Kong 97, sebuah game yang melegenda di kalangan gamer retro. Bukan karena bagusnya, justru melainkan karena buruknya game ini.

Cara Bermain Hong Kong 97

Game ini berlatar belakang pada tahun 1997, saat Hong Kong masih berada di tangan Inggris. Pada tahun ini pula, Hong Kong akan diserahkan kembali ke Tiongkok, buah dari perjanjian 99 tahun lalu. Jutaan penduduk Tiongkok daratan, atau juga disebut “ugly reds” dalam game ini, berbondong-bondong menyerbu Hong Kong. Akibatnya, tingkat kejahatan meroket.

Dalam situasi genting ini, pemerintah Hong Kong (diwakili oleh Chris Patten) memanggil Chin, saudara Bruce Lee yang tengah lama hilang. Ia ditugaskan untuk membantai seluruh 1,2 miliar penduduk Tiongkok daratan. Di lain pihak, pemerintah Tiongkok juga menyiapkan senjata pamungkasnya, membangkitkan Tong Shau Ping (parodi dari Deng Xiaoping) dari kuburnya, bersiap menggagalkan misi Chin.

Salah satu bagian dari gameplay Hong Kong 97.

Cara mainnya cukup mudah, kurang lebih mirip Space Invaders. Pemain bermain sebagai Chin, menembaki penduduk Tiongkok daratan yang ada di layar, dan tidak boleh menabrak mereka. Jika gagal, game akan berakhir dan memunculkan tulisan “Chin is dead”, lengkap dengan footage korban tewas tertembak. Terkadang, beberapa mobil muncul dari sudut layar. Jika Chin sampai tertabrak, game juga akan berakhir dan kalian harus memulainya kembali dari awal.

Jika pemain sudah berhasil membantai 30 orang, sang “final boss” Tong Shau Ping akan muncul. Ia berukuran besar dan lebih sulit dikalahkan. Berhati-hatilah, ia sering membuat gerakan-gerakan yang mengejutkan, tentu saja membuat Chin tewas seketika.

Selain gameplay yang menarik, pemain juga disuguhi dengan berbagai gambar-gambar yang sangat menggambarkan Tiongkok. Ada Mao Zedong, poster propaganda partai komunis, sampai logo Coca-Cola pun ada. Lagu yang digunakan dalam game ini adalah I Love Beijing Tiananmen, sebuah lagu era Revolusi Kebudayaan. Lagu itu diulang terus menerus selama permainan, merasuki otak mereka yang memainkannya.

Wujud Protes Terhadap Industri Game

Orang di balik ketenaran game ini adalah Yoshihisa “Kowloon” Kurosawa, seorang jurnalis underground asal Jepang. Sejak kecil, ia sudah diperkenalkan dengan teknologi, sesuatu yang ia gemari hingga besarnya. Ia sering berkelana ke Hong Kong dan Asia Tenggara, mengamati kehidupan sosial di sana, sekaligus melihat-lihat serta berbelanja komputer dan perangkat elektronik lainnya.

Kowloon Kurosawa, orang di balik game Hong Kong 97. (Foto: SCMP)

Dalam salah satu kunjungannya di Hong Kong, ia menemukan sebuah perangkat yang unik. Bertajuk Magicom, alat ini dapat menyalin data game dari cartridge Super Famicom (SNES) ke dalam disket 3,5″. Dengan alat ini pula, kalian bisa bermain game Super Famicom bajakan dari disket. Mengingat game untuk Super Famicom pada saat itu sangat mahal (sekitar $90), Magicom dapat menjadi alternatif yang menggiurkan untuk gamer yang ingin bermain game Super Famicom dengan harga murah. Kurosawa kemudian mengimpor alat ini dan menjualnya di Jepang. Sayangnya, Nintendo mencegatnya dengan memberikan surat peringatan, membuatnya harus menghentikan penjualan Magicom.

Pil pahit inilah yang membuat Kurosawa semakin frustrasi dengan Nintendo, bahkan industri game secara keseluruhan. Industri game dimonopoli oleh nama-nama besar. Semua game yang hendak dipublikasi harus melewati tahap kurasi oleh vendor. Konten-konten tertentu dibatasi, atau bahkan dilarang sama sekali. Bagi industri, ini adalah bentuk quality control. Bagi Kurosawa, ini jelas merupakan pengekangan kebebasan berekspresi.

Kondisi inilah yang membuatnya kembali menatap Hong Kong, yang kebetulan memiliki persamaan nasib. Kebebasannya akan segera direnggut oleh kekuatan yang lebih besar. Hal itu akan terjadi dalam waktu dekat, tahun 1997.

Dibuat, Dilupakan, Akhirnya Melegenda

Atas dasar inilah, Kurosawa mulai membuat game ini di tahun 1995. Ia mengajak salah satu karyawan Enix (kini Square Enix) untuk merancang gamenya, yang selesai dalam waktu dua hari saja. Foto-foto yang ada dalam game diambil dari beragam poster film dan VHS. Musiknya didapat dari kepingan LaserDisc bekas. Semua itu dikemas dalam sebuah disket, untuk kemudian dijual lewat surat.

Magicom, perangkat yang memungkinkan Super Famicom bermain game bajakan.

Masalahnya, menjual game indie di zaman pra-Internet bisa dikatakan sulit. Hampir tidak ada toko yang mau menerima game ilegal, terlebih dengan tema yang ofensif. Lagipula, Kurosawa sendiri tidak berharap banyak dari penjualan game ini. Penjualan game ini hanya bertahan selama beberapa bulan, kemudian berhenti begitu saja.

Setelah sekian tahun, kemunculan Internet dan emulator Super Famicom membuat game ini kembali naik daun. Dipopulerkan oleh Angry Video Game Nerd, warganet terheran-heran sekaligus terkesima dengan kualitas game yang bisa dikatakan “burik” ini. Mengingat game ini hanya dijual dalam waktu singkat, keberadaan fisik dari game ini bisa dikatakan langka. Warganet kemudian menemukan akun Facebook-nya dan membombardirnya dengan beragam pertanyaan. Hal ini sangat mengganggu kehidupannya.

Kondisi inilah yang membuat Kurosawa, yang saat itu sudah menetap di Kamboja, akhirnya buka mulut pada tahun 2018 setelah diwawancara oleh South China Morning Post. Ia menjawab sejumlah latar belakang dan spekulasi yang beredar. Ia memang sengaja membuat game tersebut sejelek-jeleknya, sebagai wujud protes akan industri game di masa itu. Ia juga tak menyangka game buatannya ini digemari, bahkan melegenda.

“Sejujurnya, saya lebih ingin orang melupakan game ini selamanya,” ujar Kurosawa di akhir wawancaranya.

Kekhawatiran Kurosawa, Masihkah Relevan?

Setelah 24 tahun game Hong Kong 97 rilis, masih banyak pertanyaan yang belum terjawab terkait dengan game ini. Apakah kekhawatiran yang dirasakan Kurosawa di 1995 masih relevan di masa sekarang? Apakah industri game yang bebas sudah terwujud? Apakah protes dalam wujud game meruapakan sesuatu yang etis? Bagaimana dengan Hong Kong?

Sampai saat ini, kami pun masih belum masih belum menemukan jawabannya. Satu hal yang pasti, Kurosawa telah selesai dengan tugasnya, membuat sebuah game yang “meledek” industri. Surat peringatan dari Nintendo dijawabnya dengan santai: Hong Kong 97.

Deborah Ann Woll & Austin St. John Siap Ramaikan Shoppe Indonesia Comic Con!

Austin St. John, si Ranger Merah, dipastikan akan meenghadiri perhelatan SHOPEE INDONESIA COMIC CON 2019 tanggal 12-13 Oktober mendatang.

Reed Panorama Exhibitions dan Shopee Indonesia kembali bocorkan bintang tamu yang akan meramaikan SHOPEE INDONESIA COMIC CON 2019, perhelatan akbar pecinta budaya populer tahun ini.

SHOPEE INDONESIA COMIC CON 2019 akan berlangsung  selama dua hari pada tanggal 12 – 13 Oktober 2019 di Hall A & Hall B, Jakarta Convention Center, mulai jam 10.00 s/d 21.00 dan dimeriahkan dengan beragam program menarik.

Andriani Tirtawisata, Project Manager Shopee Indonesia Comic Con,  Reed Panorama Exhibitions mengatakan: “Setelah menghadirkan pemeran Power Ranger Hijau di tahun 2017,  buat generasi 90-an dan pecinta serial power ranger, kami akan ajak kembali bernostalgia bersama pemeran  Power Ranger Merah “Austin St John”. Tidak hanya itu saja, Shopee Indonesia Comic Con juga memastikan kehadiran salah satu cast dari TV Serial Marvel DareDevil dan The Punishers “ Deborahh Ann Woll”. Untuk pecinta komik, James  Raiz Hendry Prasetya dan  Ardian Syaf telah memastikan kehadirannya di acara kami ini”.

“Bagi komunitas cosplay dan para cosplayer, ada 12 cosplayer yang siap menyambut kehadiran kamu untuk berbagi informasi dan menunjukan karya mereka di cosplay zone seperti Larissa Rochefort, Sherly Yukimo, Mayumi Reena, Cxiela, Hika x Sayuri dan masih banyak lagi. Sementara itu untuk pecinta toys akan ada workshop bertema Get Your Toys & Make Them Alive, Crazy toys sales yang di dukung oleh Toys Kingdom dan pecinta anisong akan ada workshop DJ untuk pemula”.

Rezki Yanuar, Country Brand Manager Shopee mengatakan: “Melihat kehadiran banyak bintang dan acara menarik bagi pecinta pop culture Indonesia, kami senang dapat bergabung dalam kemeriahan Shopee Indonesia Comic Con 2019. Kolaborasi ini menjadi momen yang tepat bagi Shopee untuk bertemu para pecinta pop culture Indonesia. Selain sebagai sponsor resmi, Shopee memberikan akses yang mudah dan aman untuk mendapatkan tiket Shopee Indonesia Comic Con 2019 dengan diskon menarik yang tidak boleh dilewatkan.”

Bagaimana Tiketnya?

Shopee masih memberikan kesempatan bagi yang belum mendapatkan tiket Shopee Indonesia Comic Con 2019 dengan diskon khusus sebesar lebih dari 25% hingga 9 Oktober 2019. Terdapat tiga tipe tiket yang dapat dibeli, antara lain tiket harian fans ICC seharga Rp. 100.000 (Normal Rp. 125.000),  2 hari seharga Rp. 200.000,- (Normal Rp. 220.000) dan LIC ( Lost In Cosplay ) seharga Rp. 200,000 (Normal Rp. 250,000).

Selain tiket kunjungan, Shopee Indonesia Comic Con 2019 juga menawarkan tiket kategori Freakishly VIP, yaitu kategori yang ditawarkan khusus untuk para fans Pop Culture Shopee X Indonesia Comic Con 2019  yang ingin lebih dekat dengan idola dengan fasilitas dan pengalaman tak terlupakan. Bagi fans yang ingin mendapatkan foto bareng dan tandatangan sang idola, akan token khusus yang ditawarkan. Untuk informasi detail pastikan untuk terus mengikuti social media Shopee  Indonesia Comic Con 2019.

Untuk membeli tiket, Fans ICC dapat mengunjungi https://shopee.co.id/m/shopee-comic-con-2019. Nantinya, e-ticket dapat ditukarkan di booth khusus penukaran (Redemption booth) pada hari Shopee Comic Con 2019 berlangsung.

Shopee Indonesia Comic Con 2019 kali ini didukung oleh Shopee sebagai Titling Sponsor, dan juga PT. Indofood CBP Sukses Makmur bersama dengan brand Popmie, Chitato, indomilk, Indoeskrim, danClub Water sebagai Sponsorship Partner Shopee Indonesia Comic Con.

Jadi mau tau lebih banyak lagi mengenai perkembangan guest yang akan hadir di Shopee Indonesia Comic Con silakan kunjungi situs kami di http://www.indonesiacomiccon.comatau laman Facebook kami di https:www.facebook.com/IndoComicCon. Sampai jumpa pada perayaan budaya populer yang paling ditunggu-tunggu di Indonesia!

Semua Hal Pop Kultur Ada di Sini!

Selain guest star yang akan meramaikan acara, ICC sudah menyiapkan berbagi konten menarik selama dua hari. Beragam acara dan programing sudah dipersiapkan untuk setiap pengemmar Pop Culture sebagai berikut:

LIFESTYLE

Tersedia tiket khusus bagi cosplayer yang dapat menikmati fasilitas yang sudah di sediakan di mulai dari lounge, Repair Station, Snack. Ada diskon 20% untuk workshop yang disediakan bagi cosplayer dimulai dari selfie expert dan Makeup Class. Kalian dapat bertemu langsung dengan professional Cosplayer seperti Enji Night, Yuegene Fay, Twiin Cosplay,dan juga Echow Eko. Selain itu di, terdapat Exhibitor seperti Angelic Rose dan Mahanata Cosplay yang bergerak di bidang custom costume pagi para cosplayer.

GAME

Bagi para pencinta game tahun ini Shopee Indonesia Comic Con juga mengadakan turnamen game dari Tekken 7 dan Street Fighter yang di dukung oleh IESPA. Selain turnamen, akan hadir pula gaming zone yang menyajikan berbagai macam permainan mulai dari Arcade Games, Trading Card sampai dengan Board Games.

MOVIES

Bagi pencinta film, sederetan guest star international siap menghibur anda. Kalian juga dapat menikmati movie corner yang di dukung oleh Catchplay selama acara berlangsung. Selain itu akan, hadir booth Terminator dari 20th Century Fox dan juga Jumanji dari Sony Pictures Indonesia.

TOYS

Bagi kalian para toys collector jangan bersedih. Shopee Indonesia Comic Con juga menawarkan berbagai jenis brand mainan. Ada Marvel 80th Anniversary, XM Studio, Museum of Toys, FUNKO, Sylvanian Families, Hot Toys dan Gunpla persembahan dari Multi Toys, Tokidoki dan PopMart persembahan dari Action City, Jada, Burango dan Majorette dari Bariel, Toys Holic, Toys kingdom, dan berbagai macam collectible items lainnya di ‘Toys Hunting Ground”. Pastinya banyak mainan yang baru yang akan kalian temui di Shopee Indonesia Comic Con.

KOMIK

Bagi pecinta komik, siap-siap bertemu dengan sederatan komikus nasional dan International. Ada Yi Shan Li, Rian Gonzales, James Raiz, Simone Legno, Hendry Prasetya, Ardian Syaf, Nurfadli Mursiding (Lickpalik), dan juga Jasmine Hanny Sukartty. Pada tahun kelima ini juga Certified Guarantee Company  kembali hadir. Bagi kalian para kolektor komik, jangan sampai kelewatan untuk mensertifikatkan komik kalian. Selain itu Bumi Langit akan hadir membawa universenya dengan launching komik colletibles terbarunya. Adapun juga yang lain seperti Tahilalats, Komik Ga jelas, Ciayo Comics,Elex Media Komputindo, Kinokuniya juga akan meramaikan Shopee Indonesia Comic Con.

Untuk mengenal lebih dekat guest star Shopee Indonesia Comic Con, yuk simak profilenya dibawah ini.

Debora Ann Woll

Siapa yang tidak mengenal Deborah Ann Woll. Debora Ann Woll memainkan peran Jessica Hamby pada film True Blood yand di tayangkan di HBO. Tidak hanya sampai di situ saja, Deborah juga bermain di seri Marvel Daredevil dan Punisher, keduanya tayang di Netflix. Pada film terbarunya, ia juga sukses memainkan perannya pada film Escape Room.

Austin St. John

Austin St. John memulai debut actingnya melalui serial TV  “Power Ranger – Mighty Morphin”, salah satu film kegemaran anak-anak di era 90 an. Berakting sebagai Jason Lee Scoot (Power Ranger Merah), ia menjadi pemimpin ranger selama tiga musim. Austin sempat vakum dari dunia perfilman Hollywood. Pada masa vakumnya, Austin diketahui menjadi tenaga medis di Timur Tengah selama 5 tahun. Dari pernikahannya Austin telah dikaruniai tiga anak.

Setelah 20 tahun vakum, Austin kembali dan membintangi film Survival End, film yang bercerita tentang hari kiamat dan virus prophecy. Saat ini, Austin juga aktif di kegiatan sosial dalam Heartland Image Foundation, sebuah program sosial yang menyiapkan makanan untuk  para tunawisma dan anak – anak kurang mampu.

Simon Legno

Ilustrator berbakat asal  Roma, Italia ini merupakan pemilik brand Tokidoki. Brand ini diperkenalkan pada tahun 2005 sebagai brand fashion dan merchandise yang identik dengan pakaian, seni dan gaya hidup.  Kecintaan Simon terhadap aneka budaya Jepang menjadi sumber inspirasi sang illustrator dalam mengembangkan dunia tokidoki.

Tokidoki, berasal dari bahasa Jepang yang berarti “terkadang”, mendapatkan respon pasar yang luar biasa telah. Simon sukses menjadikan tokidoki sebagai brand yang fenomenal  melalui vinyl toys, art-skateboards, iSkins, perhiasan, jam tangan, pakaian olahraga, aksesoris, sepatu, dan alat tulis.

James Raiz

Illustrator asal Canada ini mengawali kariernya sebagai comic artist di Dreamwave, studio komik yang memegang hak penerbitan komik Transformer dari Hasbro. James Raiz mengubah karirnya sebagai illustrator dan berhasil menarik perhatian para pelaku industri komik seperti DC dan Marvel. Beberapa karya James yang terkenal pada saat itu adalah Birds of Prey dan Wonder Woman (DC Comics), juga Hulk (Marvel).

Kisah inspiratif yang dilakukan oleh James dalam mengubah perjalanan hidupnya adalah pada saat dia meninggalkan pekerjaan mapannya di Lucas Art Film sebagai concept artist. Ia terjun sebagai  seorang vlogger YouTube. Melalui channel TheBoxOfficeArtist, James  kini telah memiliki 1.047.027 subscriber. Salah satu video yang berjudul  “I QUIT MY JOB to draw STAR WARS for 450 HOURS!” telah ditonton sebanyak  1.245.146 kali. Lewat video ini, James mampu mengubah sudut pandang banyak orang. James mengajak orang untuk berpikir bahwa komitmen adalah hal yang utama dalam hidup, sertabagaimana kita  menjalani hal tersebut dengan apa yang kamu sukai dan cintai, yaitu komik.

Ardian Syaf

Dikenal juga sebagai Aan, ilustrator komik asal Tulungagung ini merupakan salah satu dari beberapa komikus Indonesia yang namanya dikenal di dunia. Aan sendiri dikenal sebagai komikus yang pernah bekerja sama dengan produsen – produsen komik kaliber dunia seperti DC dan Marvel. Di awal karirnya, Aan menjalani proses bekerja dengan cara yang sangat unik, era yang semuanya  sudah menggunakan internet dan digital. Karena Aan tinggal di desa persawahan yang belum terjangkau internet, seluruh karyanya dibuat secara manual. Semua proses review, revisi hingga pengiriman hasil karya dilakukan dengan menggunakan jasa kurir kepada perusahaan penerbitan di Amerika.

Hendry Prasetya

Siapa yang tak kenal dengan Hendry Prasetya, komikus asal Yogyakarta. Hendry Prsetya pun dikenal sebagai salah satu illustrator yang berkerja sama dengan publisher buku BOOM! Studio dan DC Comics, peneberit asal Amerika Serikat. Pada tahun 2012, dia menggambar Green Latern Comic Series. Tahun 2016, Hendry Prasetya merupakan illustrator seri komik Power Rangers. Sekarang, Hendry Prasetya berkerja sama dengan Titan Comic’s untuk seri komik Robotech.

Artikel ini merupakan rilis pers resmi dari pihak penyelenggara.

Bagaimana Deng Xiaoping “Menciptakan” Azur Lane

Singkatnya, Deng Xiaoping memungkinkan game-game seperti Azur Lane tercipta, secara tidak langsung.

Sebelum kalian menyalahkan judul di atas, let’s get it clear. CEO Azur Lane jelaslah seorang wanita cantik. Banyak portal berita yang sudah membahas hal ini. Lantas, apa sangkut pautnya antara elit Partai Komunis Tiongkok ini dengan game kapal-kapalan yang disenangi para wibu ini? Ternyata ada, meskipun secara tidak langsung. Peran Deng Xiaoping di masa lampau inilah yang memungkinkan ekosistem video game di Tiongkok, termasuk Azur Lane, Honkai Impact, Mobile Legends, dan sejumlah game lainnya, dapat maju dan berkembang.

Menyelamatkan Ekonomi yang Tertinggal

Saat Deng naik ke tampuk kekuasaan di tahun 1978, Tiongkok yang dulu benar-benar berbeda dibanding saat ini. Banyak rakyatnya yang masih hidup dalam kemiskinan. Semua aset produksi dikuasai oleh negara. Memori akan kejamnya Revolusi Kebudayaan di tahun 1960an masih jelas. Singkatnya, Tiongkok adalah negara yang terasing dan tertinggal, jauh dibanding negara-negara kecil di sekitarnya. Jepang, Korea Selatan, Taiwan, dan Singapura telah melesat meninggalkannya.

Deng Xiaoping, sebagai kamerad setia Mao Zedong yang juga mengikuti Long March, tentunya kaget saat kunjungannya ke Singapura dan Amerika Serikat. Ia berkesimpulan, Tiongkok tertinggal karena tidak mau membuka dirinya ke pasar bebas. Sepulangnya ke Tiongkok, Deng langsung menjalankan rencananya, tentu dengan pertentangan dari elit partainya sendiri.

Shenzhen di tahun 1980an. Dulunya hanya kampung nelayan, kini menjadi pusat perakitan elektronik dunia.

Langkah pertama, ia membuka keran investasi asing untuk masuk ke Tiongkok. Karena sumber daya manusia yang melimpah, pajak yang murah, serta upah buruh yang murah, perusahaan elektronik Barat dan Jepang berbondong-bondong memindahkan pabriknya ke Tiongkok. Dibukanya pabrik baru ini mengundang minat rakyat Tiongkok untuk pergi ke kota dan bekerja di pabrik. Banyak dari mereka yang sukses akhirnya membuka usaha sendiri, menarik semakin banyak orang untuk bekerja bersamanya. Jutaan rakyat Tiongkok terbebas dari kemiskinan, dan “naik kasta” menjadi middle class.

Video Game, Kebutuhan Hiburan Kelas Menengah

Jutaan rakyat Tiongkok telah menjadi middle class. Kini, mereka mempunyai lebih banyak uang untuk dihamburkan. Sebagian dari uang tersebut digunakan untuk pendidikan. Ilmu-ilmu dan tenaga ahli asing yang masuk ke Tiongkok memungkinkan rakyatnya untuk mengejar ketertinggalannya dari negara lain. Salah satu dari ilmu tersebut adalah teknologi informasi dan desain. Hal ini merupakan pondasi dasar dalam membuat video game. Tidak heran, game-game buatan Tiongkok seperti Azur Lane dan Honkai Impact, awalnya dibuat oleh mahasiswa kelas menengah ini.

Suasana warnet di Tiongkok, bukti mereka tak lagi tertinggal.

Sebagaimana halnya manusia, jutaan rakyat kelas menengah ini butuh hiburan, melepaskan penatnya kerja. Uang yang mereka hasilkan ini sebagian digunakan untuk memberi perangkat teknologi canggih, seperti komputer dan smartphone. Perangkat ini bisa dipasang beragam aplikasi, salah satunya adalah video game. Adanya permintaan akan video game ini membuat game yang diciptakan semakin banyak, yang turut membuat permintaan semakin tinggi. Kini, masyarakat di Tiongkok sama seperti kita, kelas menengah yang melek teknologi.

China: Amati, Tiru, Improvisasi

Saat Tiongkok pertama kali membuka dirinya ke pasar bebas, mereka belum punya acuan apa-apa, selain dari produk asing ini. Mau tak mau, mereka mengamati dan membuat tiruan dari produk tersebut. Sayangnya, sebagian dari mereka sudah puas dengan mengamati dan meniru saja, sehingga produk yang dihasilkan plagiat dan berkualitas rendah, demi meraup untung sebanyak-banyaknya. Hal ini juga yang membuat label Made in China sering dipandang rendah oleh masyarakat dunia.

Meskiun demikian, banyak perusahaan Tiongkok yang mencoba untuk melakukan improvisasi dan inovasi. Contoh ini paling terlihat dalam pasar smartphone. Huawei, Xiaomi, Oppo, Vivo, dan beragam merek ponsel Tiongkok lainnya telah bergerak maju. Awalnya hanya dipandang sebagai “plagiat iPhone”, kini mampu berinovasi dengan caranya sendiri. Tak hanya sampai di situ, Vivo bahkan meluncurkan Vivo Nex, konsep yang menunjukkan sejauh mana sebuah smartphone dapat berkembang ke depannya.

Mobile Legends, salah satu cerita “amati-tiru-improvisasi” ala Tiongkok.

Prinsip “amati-tiru-improvisasi” ini juga dipakai dalam industri game di Tiongkok. Azur Lane meniru Kantai Collection. Mobile Legends meniru League of Legends, bahkan hingga karakter di dalamnya juga plagiat. Meskipun mereka meniru, mereka melakukan improvisasi agar mampu bersaing di pasar dunia.

Improvisasi tersebut adalah keterbukaan.

Keterbukaan yang Menyelamatkan

Seperti yang kita tahu, industri game di Jepang memang tertutup. Mereka hanya berfokus pada pasar domestik, dan lambat merespon permintaan pasar global. Celah inilah yang dilihat Tiongkok dalam mengembangkan video game. Mereka membuat game serupa, mengemas visual dan suara karakter ala anime. Bedanya, mereka mengamati kemauan pasar di luar negara mereka, dan merilis fitur-fitur yang membuat mereka betah bermain lama-lama.

Sebagai perbandingan awal, mari kita lihat Kantai Collection dan Azur Lane. Satu game buatan Jepang, satunya lagi buatan Tiongkok. Kantai Collection rilis di tahun 2013, sedangkan Azur Lane di 2017. Kedua produk ini diminati di pasar global. Bedanya, Azur Lane lebih memperhatikan pasar global, sementara Kantai Collection lebih memperhatikan pasar Jepang.

Kebanyakan kapal-kapal di Kantai Collection adalah kapal Jepang, berbeda dengan Azur Lane yang juga menghadirkan kapal-kapal Inggris dan Amerika Serikat. Versi bahasa Inggris dari Azur Lane hadir tak lama setelah versi Tionghua dan Jepang rilis. Kantai Collection membutuhkan waktu 5 tahun untuk ini. Hal ini juga yang membuat pemain lelah menunggu dan beralih ke Azur Lane.

Tidak hanya Azur Lane, game Tiongkok lainnya seperti Mobile Legends dan Honkai Impact tak ragu untuk berekspansi ke pasar global. Mereka menggelontorkan dana yang signifikan untuk promosi, bekerja sama dengan berbagai layanan, hingga mengadakan turnamen di luar negeri. Sesuatu yang jarang kita lihat dari game-game Jepang saat ini.

Belajar dari Masa Lalu, Bekal untuk Masa Depan

Keterbukaan akan pasar global ini juga tak lepas dari pengalaman Tiongkok di masa lampau. Saat ia menutup diri, masyarakat Tiongkok miskin dan sengsara. Saat ia membuka diri, masyarakat menjadi makmur dan berkembang. Jika bisnis mau sukses, keterbukaan adalah kuncinya.

Singkatnya, Deng Xiaoping memiliki peran tidak langsung dalam perkembangan industri video game di Tiongkok, salah satunya Azur Lane. Investasi asing dibuka, lapangan kerja meningkat, jutaan rakyat terbebas dari kemiskinan, membuat mereka memiliki kemampuan untuk memperoleh pendidikan dan belajar membuat game. Di saat yang sama, meningkatnya pendapatan juga membuat pengeluaran meningkat, dan kebutuhan akan hiburan meningkat, salah satunya video game. Mereka belajar dari masa lalu, melakukan improvisasi, dan menghadirkan produk yang digemari dunia.

Tak heran pepatah lama masih relevan hingga saat ini: Tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina.

Love Convention, Dating Sim untuk Kaum Wibu

Mau pacaran sama cosplayer, idol, atau cewek gamer? Semuanya bisa di Love Convention! Btw ada Risa juga loh.

Pernah nggak sih kalian membayangkan punya pacar orang yang terkenal? Gimana ya rasanya pedekate dengan sosok idol dan mengetahui rahasia pribadinya? Para jomblo merapat! Karena dengan Love Convention, semua bisa!

Love Convention, sebuah game buatan studio game dan ilustrasi lokal bergenre visual novel dan dating simulation. Game yang dapat dimainkan di platform android ini mengambil budaya pop Jepang dan eventnya sebagai setting utamanya. 

Momo, karakter cosplayer dalam Love Convention.

Dalam Love Convention, pemain bisa bertemu dan mendekati salah satu dari 5 cewek di dalam game. Dalam perjalanan player untuk menjadi lebih dekat dengan salah satu dari cewek ini nanti, player akan dihadapkan dengan berbagai pilihan yang akan mempengaruhi cerita dan akhir dari permainan ini.  Tidak kurang dari 13 akhir cerita (ending) yang ada dan dapat ditemukan dalam game buatan RAIT game ini. Akankah kisahnya berakhir bahagia atau malah romansa tidak berjalan sesuai rencana tergantung dari bagaimana pemain menentukan pilihannya selama permainan.

Cewek-cewek yang dapat ditemui di game ini antara lain Momo sang cosplayer, Dona si cewek penyuka game, Yuko sang artis ternama, guru sekaligus komikus bernama Tania, dan Enako sang maid. Kalau diperhatikan, masing-masing cewek bakal mewakili satu sub budaya dari budaya populer Jepang. Game yang sudah bisa diunduh di Google Playstore ini memiliki cerita yang dalam mengenai permasalahan-permasalahan yang terjadi seputar dunia budaya popular Jepang di Indonesia.

Dona, karakter gamer dalam Love Convention.

Game ini bermula dari ide random yang keluar dari curhatan salah satu anggota tentang kesulitan mendapatan pacar. Dari pertanyaan “gimana ya rasanya pacaran sama x (nama cosplayer terkenal di Indonesia)?” akhirnya tim RAIT game memutuskan untuk memulai project Love Convention. Project ini sendiri telah memiliki serial webtoon yang telah terbit satu season sebanyak 24 episode.

Tentang RAIT Visual Works

RAIT game adalah divisi pengembangan game dari studio ilustrasi RAIT Visual Works. Bekerja sama dengan Japan Culture Daisuki, media dan event organizer acara bertemakan budaya populer Jepang, mereka ingin memberikan hiburan dan pengalaman tentang dunia budaya populer Jepang. Game ini sudah dirilis di Playstore dan baru tersedia untuk platform Android. 

Karakter-karakter dalam game Love Convention.

Kalian bisa mengunjungi laman game ini di Instagram, Facebook dan halaman Webtoon mereka.

Artikel ini merupakan rilis pers resmi dari RAIT Visual Works 

“Diskriminasi” Style Anime dalam Ranah Akademis, Benarkah?

Beberapa orang merasa mereka yang menggunakan style anime terkena "diskriminasi" dalam perkuliahan. Benarkah hal itu terjadi?

“Dosen gak bolehin saya gambar pake style anime.” Kalimat ini bukan hanya diucapkan oleh satu dua orang. Tak terhitung berapa jumlah wibu yang menerima kata-kata itu. Mereka merasa terkena diskriminasi karena tidak boleh menggunakan style anime dalam tugas akademiknya.

Saat hal itu terjadi, tuduhan pertama yang dilancarkan adalah “generasi tua yang kolot dan tidak mau mengikuti perkembangan zaman.” Memang hal itu bisa jadi alasan, tapi tak selamanya demikian. Lantas, benarkah style anime mengalami “diskriminasi”? Ataukah hal tersebut hanya persepsi para wibu saja?

Untuk membahas hal ini lebih dalam, Risa Media kedatangan Johanes Park, asisten dosen komik dari salah satu universitas swasta terkemuka di Jakarta. Ia juga merupakan komikus dari Gula Comic, yang kebetulan musim keduanya akan tayang Jumat malam ini. Meskipun bergerak di bidang akademik, ia tak sungkan menggunakan style anime dalam karyanya. Apa pendapatnya mengenai problematika yang sudah berlangsung lama ini? Baca dulu artikelnya sampai habis.

Belajar Dasarnya Dulu!

Sebagai permulaan, definisi “style anime” itu sendiri terlalu luas dan rancu. Gaya gambar JoJo ala Araki-sensei tentu tak bisa disamakan dengan Pop Team Epic-nya Bkub. Begitu pula Naruto dan Astro Boy, persamaan yang ada bisa dibilang sedikit.

Namun, karena definisi ini sudah telanjur menyebar di masyarakat, segala penyebutan “style anime” merujuk ke gaya gambar anime yang umum di tahun 2010an. Mata besar (tapi tidak sebesar manga shoujo), hidung setitik, rambut tidak terlalu mengembang (tidak seperti anime 90an) adalah beberapa cirinya.

Perbedaan style anime yang umum di 90an dan 2010an (Sumber: Kotaku)

Style anime lahir dari imajinasi, dan imajinasi ini tak selalu sejalan dengan realita. Ciri-ciri seperti di atas tidak kalian temui di dunia nyata. Hal ini yang membuat sebagian guru dan dosen tidak merekomendasikan style anime sebagai sarana belajar. Gaya gambar realis lebih disarankan jika ingin memulai mendalami ilustrasi.

Dengan gaya gambar realis, patokannya jelas, manusia asli. Kalian juga akan lebih mudah mempelajari anatomi dan proporsi. Jika style realis sudah dikuasai, menggambar style lain, termasuk style anime, tentu akan lebih mudah, karena sudah punya dasarnya. Sama halnya dengan naik sepeda. Naik yang benar dulu, kalau sudah stabil, mau lepas tangan atau jungkir balik pun silahkan.

Stigma Negatif Style Anime

Dari sebuah survei yang pernah kami lakukan di bulan Mei 2018, kami menanyakan kepada sejumlah responden mengenai gaya gambar anime. Mayoritas responden (30,4%) menyatakan bahwa style anime kerap mendapat stereotip negatif di dalam masyarakat. Sejumlah guru dan dosen mengharamkan style anime dalam mata kuliahnya, karena kaku, kekanak-kanakan, dan menghilangkan esensi seni. Lebih jauh lagi, di beberapa kampus, orang yang menggunakan style anime dapat dikucilkan dalam pergaulannya. Hal ini dapat dikategorikan sebagai elitisme, di mana sang senior iri dengan kesuksesan juniornya.

“Kenapa style gambar anime/manga kurang diminati dalam industri kreatif lokal?” (Survei: Mei 2018)

Meskipun demikian, banyak guru dan dosen masa kini sudah berpikiran terbuka. Mereka tetap menyarankan illustrator untuk mulai dari realis, tetapi mereka boleh menggunakan style anime setelahnya. Dalam tugas akhir, style anime diizinkan, asal harus jelas alasan dan target pasarnya.

Ogah Keluar dari Zona Nyaman

Tak bisa dipungkiri, wibu menyumbang persentase yang signifikan dalam jurusan desain komunikasi visual. Mereka terinspirasi dari anime yang mereka tonton dan senang menggambar, berharap suatu saat dapat membuatnya sendiri. Masalahnya, sebagian dari wibu ini hanya terpaku ke style anime saja, dan menganggap hal di luar itu sebagai sesuatu yang tidak menarik. Padahal, mereka harus mempelajari berbagai macam gaya gambar, sebelum akhirnya dapat menciptakan gaya gambar yang berciri khas.

Hal ini juga yang membuat sejumlah dosen mengajak mahasiswanya untuk mempelajari gaya gambar tertentu. Tujuannya, agar mereka yang berada di zona nyaman harus keluar dari sana. Sebagian wibu menganggap ini sebagai bentuk diskriminasi terhadap style anime, padahal sebenarnya tidak.

Gula Comic, salah satu hasil karya dari narasumber hari ini. Season 2 akan tayang Jumat malam ini!

Akhir kata, karyamu adalah karyamu. Tidak ada larangan untuk menggunakan gaya gambar apapun juga, selama digunakan di tempat yang tepat. Belajar dari banyak hal, beragam cara gambar, jangan terus-menerus berada di zona nyaman. Masih banyak hal yang juga perlu diperhatikan dalam karya. Proporsi, anatomi, ekspresi, storytelling, dan marketing, hal-hal ini tak boleh terlupa agar hasil karyamu membekas di hati mereka yang melihatnya.

Tulisan ini adalah opini pribadi dari penulis, tidak mencerminkan pandangan umum Risa Media. Narasumber oleh Johanes Park. Penulisan oleh Excel Coananda.

Bahkan Wibu, K-Popers dan Gamers Ikut Demonstrasi Ini!

Kapan lagi bisa bertemu wibu dan K-Popers berada di sisi yang sama, melakukan demonstrasi melawan musuh bersama?

Ribuan mahasiswa berkumpul di pusat berbagai kota, memprotes rancangan undang-undang yang tidak adil. Meskipun demikian, demonstrasi yang kian memanas bukan berarti tak bisa dibawa santai. Mari kita simak beberapa meme yang dibawakan oleh para demonstran ini!

Wibu Turut Bergerak

Demonstran lain yang juga menyangkut pautkan aksi ini dengan anime Kimi no Na Wa. (Foto: Suwung Review)

Sejumlah RUU yang diprotes ini menyinggung ranah privasi rakyat. Banyak lapisan masyarakat yang berbeda pandangan politik bersatu, bahkan wibu ikut turun ke jalan menyuarakan pandangannya, atau hanya sekadar ikut ke dalam kerumunan sembari bercanda.

Masih ingat dengan Kimi no Na Wa? Film anime karya Makoto Shinkai ini turut disangkut pautkan dengan demonstrasi ini. Dilansir dari akun Facebook Iqbal Wildan, ada seorang demonstran yang membawa tulisan “Yang dihantam meteor DPR saja, jangan Itomori”, menunjukkan keluh kesahnya akan badan legislatif tersebut. Itomori di sini merujuk ke sebuah kota kecil di Jepang, kampung halaman Mitsuha Miyamizu. Hal ini juga menjelaskan maksud demonstran lain yang membawa tulisan “MITSUHA!”.

Wibu K-Popers Satu Hati

Kali ini, wibu dan K-Popers satu suara! (Foto: UIN Suka Shitposting)

Satu suka Jepang, satunya lagi suka Korea. Dua kelompok ini memang sering berseteru, siapa yang lebih baik. Nyatanya, kondisi bangsa Indonesia akhir-akhir ini mampu membuat kedua kelompok ini bersatu. Tidak hanya wibu, K-Popers yang mengenakan baju BLACKPINK ini juga ikut dalam demonstrasi.

Saatnya Gamers Bangkit!

Demonstrasi ini adalah momen tepat bagi gamers untuk bangkit. (Foto: Suwung Review)

Setelah sekian lama tertindas, sejumlah gamers menemukan momennya untuk bangkit. Salah satunya jelas terlihat dalam foto ini, di mana seorang demonstran membawa tulisan “DPR AFK”. AFK sendiri merupakan singkatan dari Away From Keyboard, sebutan untuk pemain yang menghilang saat tengah permainan. Sebutan yang tepat untuk anggota legislatif yang sering absen atau tidur saat sidang.

Area 51, Parangtritis, Sekarang Gedung DPR?

Tidak hanya sampai di sana, seorang warganet bernama Krishna Valdi Arjuna mengadakan acara Gedung DPR Raid. Acara ini terinspirasi dari acara Area 51 Raid di Amerika Serikat dan Parangtritis Raid di Indonesia.

Terinspirasi dari Area 51 dan Parangtritis, peserta harus berlari ala Naruto di depan gedung DPR.

Sama seperti dua acara sebelumnya, peserta yang berjumlah banyak ini akan bersama-sama “menyerang gedung DPR” sambil berlari ala Naruto. Meskipun acara ini hanyalah sebuah lelucon, acara ini sudah “diikuti” oleh 8162 warganet, dan masih terus bertambah.

Untuk Riscomrades yang mengikuti demonstrasi ini, tetap jaga keselamatan dan jangan terprovokasi. Bagi yang tidak ikut, mari kita berharap agar negeri kita ini akan menjadi lebih baik ke depannya.

Simpan kode ini. Siapa tahu akan berguna.

Dikutip dari beragam sumber.

Gula Comic Kembali dengan Wonder Sweet 2!

Kisah kehidupan Gula akan hadir kembali. Wonder Sweet 2 akan tayang mulai 27 September 2019, setiap Jumat jam 19.00 di CIAYO Comics.

Salah satu anggota Lingkarya Moesia akan kembali hadir di CIAYO Comics. Ya! Si Magical Girl manis, Gula akan kembali dengan cerita yang lebih seru di serial Wonder Sweet 2.

Di musim pertamanya, dikisahkan seorang magical girl bernama Gula Gulali dengan kekuatan mengubah benda apapun menjadi makanan manis. Gula tinggal di dunia manusia, tepatnya di kota Manakarta. Gula sebagai Magi (sebutan untuk kaum magical)  memiliki ciri fisik yang berbeda dari manusia, sehingga ia mendapat kesulitan berbaur dengan teman-teman sebayanya. Ditambah lagi ada Sally, teman sekelas Gula yang sangat membenci kaum Magi. Untungnya, ada Yoga, murid pindahan yang juga seorang Magi, mau menjadi teman Gula.

Salah satu potongan dalam komik Wonder Sweet.

Kemunculan tokoh misterius yang mendukung kebencian Sally akan kaum Magi pun muncul. Dengan permen-permen sihir yang diberikan oleh pria misterius ini, Sally membuat kekacauan dan berusaha menjebak Gula dan Yoga. Gula dan Yoga pun menggunakan kekuatan sihirnya untuk menolong orang-orang dan perlahan mengungkap alasan Sally melakukan semua itu.

Musim Kedua, Lebih Banyak Aksi

13 September lalu, Gula Comic menerbitkan teaser untuk musim kedua di CIAYO Comics. Meskipun singkat, teaser ini memberikan sedikit gambaran akan cerita seru Gula dan kawan-kawan ke depannya.

Di akhir musim pertama, guru Bakrie keluar, dan digantikan oleh guru baru. Guru baru tersebut adalah Ino, yang juga keponakan dari Sally. Ino adalah seorang magi, tetapi rambutnya berwarna hitam, sesuatu yang tak lazim bagi seorang magi. Yoga juga lama absen dari kelas tanpa sebab yang pasti.

Dark Puppeter, antagonis baru di Wonder Sweet 2.

Di saat inilah, ada seorang antagonis baru yang bersekutu dengan Sally. Ia adalah Dark Puppeter, seorang magi yang menyegel jiwa kawan-kawannya dalam puppetnya. Gula harus mengalahakan puppet tersebut dalam waktu 30 menit, atau mereka tidak akan selamat. Meskipun ada antagonis baru, peran Sally belum usai. Ia diberikan sebuah alat oleh Dark Puppeter, di mana alat tersebut dapat membuatnya memiliki kekuatan sihir. Sesuatu yang Sally inginkan sejak kecilnya.

“Dark Puppeter adalah masyarakat kita. Masyarakat yang punya pengaruh, tetapi malah memanfaatkan pengaruh tersebut untuk kepentingannya sendiri, alih-alih mencerdaskan orang banyak,” ujar Johanes Park, kreator dari Gula Comic.

Kenapa Harus Baca Wonder Sweet 2?

Dalam Wonder Sweet 2 ini, akan ada lebih banyak adegan aksi yang memikat pembaca. Gula sebagai magical girl juga mendapatkan kekuatan baru. Tidak hanya itu, relasi rumit antara magi dengan manusia akan diceritakan lebih dalam di musim kedua ini.

Wonder Sweet 2 akan tayang 27 September 2019, dan akan update setiap Jumat jam 19.00. Bagi kalian yang baru mengenal Gula Comic, masih ada waktu untuk membaca musim pertamanya. Ceritanya mampu memikat berbagai kalangan, dari anak-anak hingga orang dewasa. Konten-konten yang menceritakan realita kehidupan masyarakat mampu digambarkan dengan gaya yang santai dan menarik. Tidak heran komik ini didaulat menjadi nominasi komik fantasi terbaik CIAYO Comics 2018 lalu.

Wonder Sweet 2, segera hadir di CIAYO Comics.

Selain di platform CIAYO Comics, Gula Comic juga hadir di media sosial Facebook dan Instagram. Konten-konten yang disajikan lebih ringan, berupa komik strip dan fanart. Gula juga rutin berkolaborasi dengan karakter-karakter lain, baik di dalam maupun luar Lingkarya Moesia. Sebut saja Risa Comics, PesutBalap, PandaClip, dan masih banyak lagi.

Nantikan segera musim kedua Wonder Sweet di CIAYO Comics!

Artikel ini merupakan rilis pers dari Gula Comic.

Kami Mencoba Nasi Kecap Wibu Blok M

Nasi kecap dan nasi mayones di event wibu? Seperti apa ya rasanya? Apakah sama rasanya dengan membuat sendiri? Risa Media akan mencobanya!

Saat ini, Risa Media berada di Blok M, lebih tepatnya di acara Blok M Square J-Pop Culture Fest. Meskipun tak sebesar Ennichisai yang juga bertempat di Blok M, acara ini tetap menarik para wibu untuk datang kemari.

Agar acara semakin meriah, diadakan lomba seiyuu dan karaoke. Sejumlah cosplayer dan grup idol, termasuk Hira Dazzle, juga turut meramaikan acara ini. DJ Laruzite dan Henohenomoheji akan menghibur pengunjung di malam minggu. Dari sekian banyak acara yang disajikan, ada satu menu makanan yang tak boleh terlewatkan dalam acara ini. Apalagi kalau bukan nasi kecap seharga Rp 8.000 itu!

Nasi kecap, rasanya tak perlu dijelaskan betapa sederhananya makanan ini. Dua bahan saja, nasi dan kecap. Meskipun hanya nasi dan kecap, makanan ini dikenal sebagai makanan perjuangan. Perjuangan untuk menghemat uang makan demi membeli barang impian. Seperti apa ya nasi kecap yang dijual di acara ini? Apakah sama saja, atau ada sesuatu yang membuatnya berbeda? Tim Risa Media akan mencobanya, beserta makanan lain yang ditawarkan di warung ini.

Tidak Hanya Nasi Kecap

Bertajuk Warung Mamang Apnormal, warung dalam festival ini tak hanya menyediakan nasi kecap saja. Ada sejumlah makanan lain yang ditawarkan, seperti nasi mayones, Pop Mie, roti (stok terbatas), ditemani kopi sachet sebagai minumannya. Semua makanan yang disajikan di sini murah, agar sesuai dengan kantong pengunjung yang tengah berjuang. Tak heran, tidak ada soto dalam menu makanan mereka.

Berbagai rasa nasi yang ditawarkan di Warung Mamang Apnormal.

Mengingat harganya yang terjangkau, kami tak sungkan membeli dan mencoba banyak makanan yang ditawarkan di sini. Harganya Rp 8.000 untuk nasi kecap dan Rp 10.000 untuk nasi mayones. Agar tenggorokan tidak kering, kami juga memesan kopi sachet dengan harga Rp 5.000 saja. Ternyata, selain nasi kecap dan mayones ala wibu, warung ini juga menjual nasi garam, nasi boncabe, dan nasi kaldu sapi, dengan harga yang lebih murah lagi, hanya Rp 5.000 saja.

Bagaimana Rasanya?

Pepatah mengatakan, makanan apapun akan terasa enak jika kau lapar, tak terkecuali nasi kecap ala wibu ini. Ketika diaduk, perpaduan nasi dan kecap yang sama-sama manis mampu membuatmu kenyang dalam sekejap, meskipun porsinya sedikit.

Hal yang sama juga berlaku pada nasi mayones, biasa disebut hijikata. Sajian hijikata ini dipopulerkan oleh serial anime Gintama. Mayones yang asam, gurih, dan sedikit manis membuat porsi nasi yang sedikit dapat mengenyangkan. Tidak semua orang suka mayones, tetapi lagi-lagi ini soal selera. Kopi yang disajikan juga tidak spesial, tetapi tetap dapat memuaskan dahaga saat air sulit ditemukan.

Suasana Warung Mamang Apnormal.

Semua makanan dan minuman ini kami beli dengan harga Rp 23.000 saja. Sebuah pilihan tepat untuk kalian yang malas makan saat event, tapi juga lapar di saat yang sama. Porsinya yang sedikit membuat kalian siap menikmati acara lagi. Satu hal yang tak kalah penting, jangan makan nasi kecap dan nasi mayones ini terlalu sering. Tidak baik untuk kesehatan!

Tulisan ini adalah opini pribadi dari penulis, tidak mencerminkan pandangan umum Risa Media. Penulisan oleh Excel Coananda.