Kami Berkesempatan Mengunjungi Japanese Film Festival 2019!

Bagaimana kesan kami setelah menonton salah satu film di Japanese Film Festival 2019? Temukan jawabannya dengan membaca artikel ini.

Japanese Film Festival kini kembali hadir di Indonesia! Pada tahun 2019 ini, JFF hadir di 5 kota, yaitu Jakarta, Bandung, Surabaya, Makassar, dan Yogyakarta. Kali ini penulis berkesempatan menonton salah satu film JFF 2019 di Jakarta.

Pada hari Sabtu, 9 November 2019 pukul 10 pagi, penulis bersama kerabat datang ke bioskop CGV di mall Grand Indonesia, Jakarta. Kami hari ini memilih untuk menonton film Dance With Me yang akan tayang pukul 11.00. Saat kami akan menukar tiket, ternyata tiket semua film JFF yang tayang hari ini sudah sold out!

Kaget? Banget! Karena JFF 2019 yang diselenggarakan di Jakarta ini hadir selama 4 hari, mulai tanggal 7 November hingga 10 November. Pada hari Sabtu (9/11) dan Minggu (10/11) kali ini JFF menayangkan 10 film dengan berbagai genre di setiap harinya. Rasanya untuk membeli tiket JFF ini sudah seperti membeli tiket film Avangers: End Game karena sangat cepat kehabisan tiket.

Jadi kalau kalian mau beli tiket JFF 2019, lebih baik pesan secara online terlebih dahulu, ya! Supaya tidak kehabisan, hehehe.

Pukul 10.55 kami masuk ke studio Audi #4 yang mana di studio itulah film Dance With Me diputar. Tepat pukul 11.01 lampu studio dimatikan dan film dimulai. Tidak ada iklan, lho! Jadi untuk kalian yang juga mau nonton film di JFF jangan sampai telat ya!

Selama film ditayangkan, kami berdua benar-benar menikmati filmnya. Tertawa, tepuk tangan, benar-benar merasa tidak bosan. Bahkan kami pun sampai lupa untuk memakan pop corn yang sudah dibeli karena terlalu sibuk menonton filmnya.

Film sudah selesai, tepuk tangan super meriah diberikan oleh penonton. Tentu film Dance With Me ini sangat berhak mendapatkan tepuk tangan yang meriah dari penonton karena memang film ini bagus banget!

Setelah selesai menonton film Dance With Me rasanya kami berdua benar-benar ketagihan untuk menonton film lainnya di acara JFF tahun ini. Namun, karena semua tiket sudah sold out maka mau tidak mau kami harus menunggu JFF pada tahun selanjutnya.

Tentu kami akan menunggu untuk JFF 2020 nanti! Kenapa? Karena memang filmnya bagus, kok! Semua film yang tayang di acara JFF ini adalah film-film pilihan. Hal yang terpenting, harga tiketnya hanya dua puluh ribu rupiah saja, loh.

Jadi tunggu apa lagi? Jangan sampai kelewatan JFF 2019 ini, ya! Karena film-film yang ditayangkan benar-benar bagus dan seru, deh! Dijamin tidak akan menyesal.

[Wawancara] Sally Amaki, Seorang Idol yang Juga Manusia Biasa

Dengan segala kesibukannya sebagai idol, Sally Amaki juga tetaplah seorang manusia biasa yang butuh hiburan. Simak wawancara kami bersama Sally Amaki di CSF 2019!

Sally Amaki, ia adalah sosok dari voice acting idol group 22/7 yang dibentuk pada tahun 2017. Ia juga merupakan representasi internasional yang mewakili grup tersebut. Bagi sebagian orang (penggemar Jejepangan), nama Sally Amaki mungkin tidak begitu asing di telinga. Sosok idol yang secara umum lebih menjaga image-nya ternyata bisa diputarbalikkan secara baik oleh Sally dengan pos lucu di akun media sosialnya.

Dengan dalih untuk memberikan kebahagiaan bagi siapapun yang melihat kontennya, sosok Sally Amaki berhasil meraih banyak perhatian dan penggemar di Indonesia karena gaya khasnya itu.

Banyak orang berdesak-desakan bahkan menunggu lama hanya untuk menyaksikan Sally tampil dan menghibur mereka. Memang benar, ia sudah berhasil memikat banyak orang karena keunikannya itu. Namun, banyak orang yang belum mengetahui kalau ia juga manusia biasa. Itu pun kami mengetahuinya setelah kami (bersama dengan beberapa media lain) diberikan kesempatan untuk melakukan wawancara Sally Amaki pada 26 Oktober 2019.

Sempat Mengalami Culture Shock

Sally Amaki di CSF 2019.

Sally bercerita bagaimana awal mula ia tertarik dengan hal Jejepangan: “Ketika aku masih SMP, aku mengalami kesulitan dalam mencari teman. Hal itulah yang membuat aku jarang masuk sekolah dan mengurung diri di rumah.”

Pada titik tersebut, ia menemukan seberkas cahaya dengan menonton anime Gintama yang membuatnya bisa bangkit dan lebih percaya diri. “Setelah menonton Gintama, itu menjadi momen life changing dan mulai tertarik akan dunia mengisi suara”, imbuhnya.

Sebelum ia terjun ke dunia idol, keluarganya pernah menyarankan ia untuk menjadi dokter. Namun, semua itu terkendala karena biaya pendidikan yang banyak.

Berhubung ia terbiasa akan kehidupan di Amerika Serikat, ketika pindah ke Jepang ia mengalami halangan. “Aku datang ke Jepang sendirian, dan aku merasa kesulitan untuk bersosialisasi apabila tak ada teman yang juga bisa berbahasa Jepang”, tukasnya saat itu.

Salah satu tips yang ia berikan adalah carilah teman baru di tempat yang baru. “Komunikasi adalah kunci utama untuk mendapatkan teman baru”, jawabnya dengan percaya diri.

Selain di atas, halangan sosial budaya harus ia hadapi. Imbuhnya: “Menurutku, orang Jepang benar-benar tidak memahami apa itu meme, jadi apapun yang aku bagikan tentang meme maka mereka menganggap itu hal yang serius.” Maka dari itu, Sally harus menyesuaikan ucapan maupun tingkah lakunya agar bisa diterima oleh masyarakat di Jepang.

Ketika ditanya mengenai ulahnya di media sosial, ia merasa sangat tersanjung karena banyak orang yang suka akan gaya posnya yang nyeleneh dan jenaka. “Sebenarnya aku berusaha untuk membuat orang lain menjadi lebih senang ketika melihat posku di media sosial”, tambahnya ketika ia menceritakan mengenai aktivitasnya di media sosial.

Sakura Fujima, Sebagian dari Jiwanya

Sakura Fujima, karakter yang disuarakan oleh Sally Amaki.

Ketika awak media menanyakan karakter yang ia isi suaranya, Sakura Fujima, ia menjawab: “Ketika aku melihatnya, aku langsung jatuh cinta pada pandangan pertama.”

Ia menganggap memiliki hubungan secara emosional karena terdapat kesamaan antara Sally dengan Sakura. “Ia sangat baik dan sangat memperhatikan semua membernya. Ia juga bisa berbicara bahasa Inggris dan lahir di Los Angeles seperti aku”, imbuhnya.

Selain itu, ia merasa sangat senang sekali karena 22/7 akan memperoleh animenya. Ia pun menambahkan bahwa proses pembuatannya memakan waktu selama 2 tahun.

Bertemu dengan Pucchi JKT48

Momen pertemuan Sally Amaki dan Pucchi JKT48.

Puti Nadhira, salah satu member JKT48 tim T, merupakan salah satu penggemar dari Sally Amaki. Ternyata hal ini tak luput menjadi pertanyaan dari awak media yang hadir.

Ia menjawab: “Kami bertemu di Akihabara dan saling menukar nomor telepon”. Bahkan ia memiliki niat untuk bertemu pada hari ke-2 CSF berlangsung.

Sebelum sesi wawancara berakhir, Sally Amaki menjawab satu pertanyaan terakhir dengan bercerita:

“Ketika ada fans yang menemui aku, aku mengetahui kalau ia ingin menjadi seperti diriku. Maka aku langsung memberikan motivasi dan semangat agar impiannya bisa terwujud. Ia langsung terharu dan mengucapkan terima kasih.”

Menurutnya, momen itulah yang sangat berkesan dalam menjalani kariernya sebagai idol. Meskipun demikian, Sally Amaki tetaplah manusia biasa, sama seperti kita. Ia bisa tampil sempurna, juga bisa bercanda tawa. Ia juga punya kehidupan pribadi dan perasaan yang harus kita jaga.

Wawancara oleh Kibar Kaloka, penulisan oleh Bonaventura Aditya Perdana, dan penyuntingan oleh Excel Coananda.

Kami Menemui Pemilik Asobi Cafe dan Bertanya Mengenai Sosok Heru

Kegilaan dari sosok Heru inilah yang membuat kami mengunjungi dan mewawancarai pemilik Asobi Cafe.

Beberapa waktu belakangan ini ranah media sosial diramaikan dengan salah satu restoran bernama Asobi Cafe yang isi menu di Go Food-nya nyeleneh semua. Menunya seperti apa, sih? Bisa dilihat pada sebuah pos di bawah ini:

Setelah kami telisik lebih jauh, ternyata semua itu adalah ulah dari sosok yang bernama Heru. Berdasarkan pernyataan di akun media sosial Facebook resminya, bahwa Heru adalah pelaku dari semua kegilaan tersebut.

Tak sampai di situ, bahkan Heru mencoba melakukan kegilaan dengan memenuhi permintaan pelanggannya seperti ini:

Awal mulanya kami tidak terlalu begitu tertarik memperhatikan hal tersebut, mengingat juga ada beberapa merek maupun usaha yang menggunakan metode pemasaran serupa. Namun, tingginya reaksi maupun minat dari orang untuk mengunjungi restoran tersebut memperkuat niat kami untuk berkunjung ke sana.

Sekaligus kami ingin bertanya lebih jauh mengenai sosok Heru ini.

T: Asobi Cafe ini sebenarnya apa, sih?
J: Asobi Cafe ini sebenarnya adalah kafe Jejepangan yang menjual beragam makanan maupun minuman yang dikemas dengan konsep kekinian.

T: Kafe ini berdiri pada waktu kapan?
J: Tepatnya pada 23 Februari 2019.

T: Keunikan yang dimiliki dibandingkan dengan restoran lain itu apa saja?
J: Hm, apa ya? Kami memiliki banyak board game, sih. Kami menyediakan board game bagi siapa saja yang ingin bersantap sembari bermain. Selain itu kami juga menyediakan akses Wi-Fi bagi pengunjung.

T: Di kafe ini kami melihat banyak sekali buku yang berjejer. Apakah itu juga termasuk pajangan atau bisa dibaca oleh seluruh pengunjung?
J: Kami menyediakan buku itu memang untuk dibaca oleh semua pengunjung di kafe kami. Silakan saja.

T: Bisa diceritakan bagaimana kafe ini bermula dan bisa seperti saat ini? Mengapa memilih nama “Asobi”?
J: Sebenarnya waktu itu kami memilih nama “Asobi” (bahasa Jepang dari “bermain”) karena awalnya ingin membuat kafe dengan konsep board game, tetapi setelah kami berdiskusi ternyata modal untuk membuat kafe board game sangat kurang. Maka dari itu kami banting setir dengan menjual makanan khas Jepang.

T: Kenapa yang dijual harus makanan khas Jepang, bukan makanan khas dari wilayah lain?
J: Mudah, karena kami memang suka Jejepangan. Dari itulah kami meng-kiblat-kan diri untuk lebih fokus membuat makanan khas Jejepangan.

T: Ooh, kalau suka Jejepangan berarti tahu Risa Media?
J: Sayangnya tidak. Maaf, ya. 🙁

Hhe he he he…. :'(

T: Oke. Beberapa waktu belakangan kafe ini sempat viral karena menu di Go Food yang asal-asalan. Nah, kenapa bisa seperti itu, ya?
J: Sebenarnya itu memang ulah dari karyawan kami yang iseng. Kami juga berpikir menu kafe kami di Go Food sepi sekali, maka dari itu karyawan kami mengusulkan untuk membuat nyeleneh semua isi menunya agar orang lain jadi tertarik.

T: Kafe ini dikelola oleh berapa orang?
J: Ada lima orang. Kami semua adalah teman dan saling kenal.

T: Kami juga melihat bahwa gaya pos di media sosial kafe ini cenderung nyeleneh pula. Apakah itu untuk mengikuti tren atau ada maksud lain?
J: Sebenarnya itu memang kelakuan dari karyawan kami yang sifatnya memang nyeleneh. Jadi apapun yang ia buat di media sosial merupakan gambaran dari kelakuannya yang nyeleneh pula. Ya, sekaligus juga ikut tren, sih. He he he.

T: Sebentar, kalau kami boleh menebak, karyawan itu apakah bernama Heru?
J: Iya, benar sekali.

T: Wah, kebetulan sekali. Apakah kami boleh bertanya lebih jauh mengenai Heru ini? Atau kalau bisa diajak untuk ngobrol bareng di sini.
J: Heru ini sebenarnya adalah chef kami, tetapi ia juga memegang akun media sosial kafe ini. Ia cenderung lebih suka untuk tidak keluar dari wilayah kerjanya di dapur. Maklum, soalnya Heru pemalu sekali.

T: Duh, sayang sekali. Padahal banyak sekali orang yang mau tahu soal Heru. 🙁
J: Wah, kami juga minta maaf tak bisa memenuhi permintaan kalian. Namun, kami pastikan ia kerja di kafe kami dan membuat kegilaan yang berfaedah untuk kelangsungan usaha kafe ini.

T: Ya, sudahlah. Akun Go Food dari kafe ini sempat kena suspend karena kelakuan Heru. Nah, kenapa bisa demikian?
J: Sebenarnya akun Go Food kami saat ini masih kena suspend, padahal sebelumnya sudah diaktikan kembali dan dibetulkan deskripsi menunya. Kami sama sekali tidak tahu alasan dari suspend tersebut, bahkan kami sudah menghubungi pihak Go Food dan mereka menjawab tak mengetahui alasan secara pasti. Sampai saat ini masih belum ada kabar terbaru dari pihak mereka.

T: Sebenarnya sangat disayangkan sekali, karena itu hal unik yang bisa memancing orang untuk tahu lebih dan datang ke kafe ini. 
J: Ya, begitulah. He he he he.

T: He he he. Apakah sebenarnya yang ingin disampaikan oleh kafe ini terhadap semua kegilaan yang terjadi di ranah media sosial akhir-akhir ini?
J: Apa, ya? Sebenarnya tidak ada, sih. Kami berniat untuk membawakan sesuatu yang lucu, itu saja. Bahkan kami tak menyangka bahwa yang dilakukan Heru itu bisa membuat viral dan kafe ini dikunjungi banyak orang.

T: Wah, jadi kerjaan Heru yang nggilani itu bisa membawa banyak orang untuk datang ke kafe ini, ya?
J: Ya, untungnya seperti itu. Awalnya kafe ini hanya ramai pada waktu makan siang maupun malam hari, tetapi karena kelakuan Heru maka kafe ini ramai terus setiap waktunya.

T: Kami tahu kafe ini dari media sosial resminya yang isinya shitpost melulu. Nah, apa tidak ada kepikiran untuk memberikan aksen shitposting di kafe ini?
J: Sebenarnya kami tidak kepikiran untuk melakukan seperti itu, tetapi karena kelakukan Heru (lagi-lagi) membuat kami untuk mencoba menambahkan aksen shitpost seperti itu.

T: Bisa dijelaskan kepada pembaca Risa Media alasan setiap orang harus berkunjung ke kafe ini?
J: Ya, kami harapkan setiap orang bisa datang ke kafe ini karena makanannya dan bukan karena Heru. Makanannya enak, tempatnya nyaman, dan ada permainan board game-nya. Oh, iya. Kami berusaha untuk menambah board game baru agar pengunjung semakin ramai.

T: Terakhir, apa yang kalian harapkan ke depannya untuk kafe ini?
J: Semoga nama Asobi Cafe ini semakin besar dan dikenal oleh masyarakat secara luas. Selain itu, semoga Heru tetap bisa memberikan kegilaan di ranah dunia maya agar setiap orang menjadi terhibur dan datang ke kafe ini.

T: Bicara soal Heru lagi, bisa nggak untuk sekali lagi mencoba mengenalkan Heru kepada kami dan pembaca Risa Media?
J: Udaaah. Untuk kalian para pembaca Risa Media, kalau memang ingin ketemu Heru, yuk dateng aja ke Asobi Cafe ini. Sekalian menikmati menu makanan dan minuman kami sambil seru-seruan. He he he.

Kami mengucapkan terima kasih kepada pihak Asobi Cafe karena telah memberikan kesempatan kepada kami untuk melakukan wawancara dan mencoba mengulik lebih dalam mengenai Heru (meskipun kami gagal menemui ybs. Hadeh.)

Heru, apabila kamu membaca artikel ini, perlu diingat bahwa seluruh warganet “memburu” kamu. Sekian.

Terima kasih kepada Aisyah dan Sena yang membantu melakukan wawancara kepada pihak Asobi Cafe!

“Weathering With You” Masuk Dalam Submisi Best International Feature Film Oscars Ke-92

Salah satu film karya Makoto Shinkai ini masuk ke dalam submisi Best International Feature Film Oscars ke-92 dari Jepang.

Berdasarkan informasi yang kami himpun dari akun Twitter resminya, film Tenki No Ko (juga dikenal sebagai Weathering With You) masuk dalam daftar submisi Best International Feature Film Oscars ke-92 yang berasal dari Jepang.

Sampai saat ini, film Weathering With You telah mencapai pendapatan kotor sebesar 10,07 miliar Yen atau sekitar US$ 94,59 juta.

Submisi Best International Feature Film untuk Oscars ke-92 diselenggarakan mulai tanggal 1 Oktober 2018 hingga 30 September 2019. Sampai saat ini baru 15 negara yang mengirimkan film pilihannya untuk masuk nominasi Oscars ke-92.

Rencananya Academy Awards ke-92 (sebutan utama untuk Oscars) akan diselenggarakan pada 9 Februari 2020.

Sumber: Hollywood Reporter

[Ulasan] Weathering With You: Cerita Alamak, Visual Aduhai

Makoto Shinkai (lagi-lagi) hadir membawakan film garapannya dengan mengambil tema hujan sebagai balutan utamanya.

Tenki no Ko atau yang dirilis ke pasar internasional dengan judul Weathering With You adalah salah satu film anime yang cukup dinantikan pada tahun ini. Film berdurasi 112 menit yang disutradarai oleh Makoto Shinkai ini telah dirilis di Indonesia untuk penayangan regulernya mulai 21 Agustus 2019.

Film ini mengisahkan tentang Hodaka Morishima (disuarakan oleh Kotarou Daigo) yang melarikan diri dari kota asalnya di Shikoku menuju kota besar impiannya, Tokyo. Namun, sesampainya di sana ia malah menghadapi kesulitan, tak mampu menemukan pekerjaan untuknya hingga tak bermodal dan tidak memiliki tempat tinggal sama sekali untuk bertahan hidup di Tokyo.

Meskipun demikian, nasib baik masih cukup berpihak padanya saat dia mendapatkan pekerjaan sebagai penulis untuk seorang pria yang ditemuinya saat dia baru mendaratkan kaki di Tokyo, Suga Keisuke (disuarakan oleh Shun Oguri). Dengan ditemani oleh seorang gadis bernama Natsumi (disuarakan oleh Tsubasa Honda), Hodaka pun membantu mereka berdua dan dapat menyambung hidup untuk sementara.

Sementara itu, di belahan Tokyo lainnya, Hina Amano (disuarakan oleh Nana Mori) harus bekerja keras untuk menghidupi dirinya dan adik laki-lakinya, Nagi Amano (disuarakan oleh Sakura Kiryuu). Diam-diam, Hina ternyata adalah seorang hareonna yang memiliki kemampuan untuk mengendalikan cuaca dan mengubah langit yang penuh dengan hujan menjadi cerah kembali.

Pertemuan Hodaka dengan Hina pun terjadi, dan ternyata Hodaka tengah mendapatkan tugas untuk melakukan penulisan mengenai hareonna, apa yang melekat pada Hina. Mengetahui hal ini, Hodaka pun saling bekerja sama dengan Hina dan menggunakan kemampuan Hina untuk membantu banyak orang. Seperti apa takdir yang akan menanti mereka selanjutnya?

Cerita Alamak

Klik tombol ini untuk melihat isi teksnya. Peringatan: Paragraf di bawah ini mengandung SPOILER KERAS!

Sepanjang hampir dua jam lamanya, kisah yang disajikan dalam Weathering With You boleh dikatakan nyaris ‘sebelas-dua belas’ dengan apa yang dilakukan Makoto Shinkai dalam Your Name: mulai dari protagonis gadis dan bujang yang berada dalam momen romansa pada masa mudanya, topik supernatural yang berkaitan dengan kepercayaan Jepang, hingga momentum keajaiban yang menyatukan mereka kembali.

Secara garis besar, cerita yang ada tidaklah begitu mengecewakan untuk sekelas film garapan Makoto Shinkai. Akan tetapi, dengan eksekusi dari awal hingga akhir yang tampak seolah-olah Weathering With You dipaksakan habis begitu saja tanpa ada detail mengenai hal penting yang muncul di dalam film seperti makhluk-makhluk penunggu langit, latar belakang tokoh utama, hingga masuk ke tahap alamak saat film ini disudahi dengan akhir yang sangat tragis dengan tenggalamnya kota Tokyo, walau menjadi akhir paling aman bagi semua kalangan penonton: Hodaka berjumpa kembali dengan Hina setelah tiga tahun tak saling bersua.

Sembunyikan isi teks

Visual Aduhai

Terlepas dari ceritanya yang cukup membuat “hah?”, harus diakui bila Weathering With You memasang keunggulan yang sangat tinggi pada aspek visualnya. Mulai dari latar belakang, animasi, hingga detail seperti turunnya hujan, jalanan Tokyo, dan makanan yang muncul di dalam film ini berhasil disajikan dengan baik dari sisi visual. Benar-benar memanjakan mata, begitulah ungkapan yang tepat untuk mengomentari hampir semua scene yang ada.

RADWIMPS Kembali

Dari sisi musik, RADWIMPS kembali mengisi film layar lebar dengan hadir sebagai pengisi lagu-lagu yang muncul dalam Weathering With You. Salah satu lagu utama yang cukup memorable dari film ini adalah “Grand Escape” yang dibawakan RADWIMPS dengan Toko Miura. Nama band ini mulai melambung setelah mengisi film Your Name.

Kesimpulan

Weathering With You sudah berhasil menjadi film berkelas dari segi visual dan Makoto Shinkai berhasil mempertahankan kekhasan film yang digarapnya dalam karya terbarunya yang satu ini. Akan tetapi, jalan cerita yang coba dihadirkan di dalamnya malah terasa harusnya lebih bisa digali lagi untuk dapat dinikmati. Dengan demikian, nilai yang pas bagi film ini adalah 7,5/10.

Tulisan ini adalah opini pribadi dari penulis, tidak mencerminkan pandangan umum Risa Media. Penulisan oleh Rahmat Maulana Koto.

Akun YouTube PewDiePie Telah Mencapai 100 Juta Subscribers!

Wah, ternyata akun YouTube PewDiePie telah mencapai 100 juta subscribers!

Salah satu YouTuber terkenal yaitu PewDiePie, juga dikenal dengan Felix Kjellberg, kini telah memiliki 100.000.000 subscribers. Hal tersebut kami ketahui berdasarkan data dari Socialblade Live Counter.

Jumlah subscriber PewDiePie per pukul 10.33 WIB tanggal 25 Agustus 2019

Sampai saat ini, PewDiePie sendiri masih belum membuat pernyataan resmi melalui akun YouTube, Twitter, maupun Instagram-nya.

Berdasarkan data yang kami himpun dari Socialblade, PewDiePie menempati posisi 11 dari 50 YouTubers dengan subscribers terbanyak. Posisi pertama masih ditempati oleh T Series.

Data diambil pada 25 Agustus 2019 pukul 10.58 WIB

 

Gambar keluku berasal dari akun Instagram pribadinya.