[Liputan] Wibu Night Show 2018, Pesta Malam Minggu Bagi Penggemar Jejepangan

Wibu Night Show memberikan nafas baru event Jejepangan di Yogyakarta dengan konsep pesta yang meriah.

Penampilan Momiji Velvet di acara Wibu Night Show (foto: Farid Ikhwan)

Hai hai Riscomrades!! Kali ini Tim Risa Media berkesempatan untuk mengunjungi event yang terbilang unik di Yogyakarta yaitu Wibu Night Show yang diadakan pada tanggal 8 Desember 2018 bertempat di Borobudur Plaza lantai 2, Jl. Magelang no.80, Tegalrejo, Kota Yogyakarta.

Wibu Night Show mengajak para penggemar jejepangan untuk berpesta layaknya orang biasa pada Malam Minggu namun tetap dengan nuansa jejepangan. Acara ini ingin mematahkan stereotip bahwa penggemar pop kultur jejepangan pada malam Minggu hanya berdiam diri di rumah saja tanpa bersenang-senang.

Penampilan U-Zone, Grup Idol Cover dari serial Love Live!! (foto: Sebastian Ganibrata)

Acara yang dimulai sejak pukul 15:00 WIB ini dibuka oleh penampilan Idol Grup Camelia Noir dan Idol Grup Saywon dan dilanjutkan Cosplay Walk yang diadakan untuk memperkuat nuansa pop kultur jejepangan.

Malam semakin larut, pengunjung diajak bernostalgia bersama Grup Idol Cover μ’Zone dari Serial Love Live!! yang membawakan lagu hits μ’s salah satunya berjudul Snow Halation. Setelahnya, Band Morning Star mengajak bernostalgia dengan membawakan beberapa lagu-lagu jejepangan era 2000-2010an.

Penampilan Band Morning Star yang mengajak pengunjung bernostalgia (foto: Sebastian Ganibrata)

Setelah bernostalgia, Band Shitagi Uma mengajak pengunjung kembali ke masa kini dengan membawakan beberapa lagu Anime yang sedang hits. Merasa pengunjung sudah kembali bergairah, Idol Cover Devilust memeriahkan suasana dan mengumumkan bahwa Devilust berganti nama menjadi Hybrid Dvlust, mereka mengatakan bahwa pergantian nama ini bertujuan untuk melepaskan citra grup yang terkenal seksi dan ingin merambah genre lain selain Idol Jejepangan saja.

Kehebohan Pengunjung Wibu Night Show saat Band Shitagi Uma tampil (foto: Sebastian Ganibrata)

Band 2n2 Project kemudian membawa pengunjung terbawa suasana mellow dengan beberapa lagu sedih seperti lagu Orange yang dipopulerkan oleh band 7!! dari serial Shigatsu wa Kimi to Uso dan dilanjutkan oleh Idol terkenal dari Yogyakarta, Momiji Velvet dengan membawakan 3 lagu original, salah satunya bernuansa Dangdut Koplo dan lagu cover untuk mengajak pengunjung kembali bersemangat.

Penampilan Momiji Velvet diatas Panggung Wibu Night Show (foto: Farid Ikhwan)

Malam Minggu yang sudah sangat larut itu kemudian ditutup oleh penampilan DJ Saddam yang langsung menghentakkan pengunjung dengan lagu-lagu jejepangan bergenre EDM.

Kami menilai Wibu Night Show berhasil menarik perhatian para penggemar jejepangan yang ingin berpesta dengan caranya sendiri. Acara musik seperti ini menunjukkan Yogyakarta layak dijuluki Kota Budaya dimana segala kultur budaya berkembang dan memberikan warna baru bagi Dunia Jejepangan terutama di Yogyakarta dan sekitarnya.

 

Liputan dan Penulisan oleh Aditya Putera Tanriawan, Foto oleh Farid Ikhwan dan Sebastian Ganibrata.

Ikuti Si Juki Jalan-Jalan ke Berbagai Destinasi Wisata Melalui Komik “Si Juki : Seri Jalan-Jalan Nusantara”!

Kemenko Bidang Kemaritiman bekerjasama dengan Elex Media dan PIONICON untuk merilis komik Si Juki Seri Jalan-Jalan Nusantara.

 

Indonesia adalah negara kepulauan dengan lebih dari 17 ribu pulau yang dihubungkan oleh wilayah perairan yang luasnya menutupi sekitar dua pertiga dari luas keseluruhan Indonesia. Sebagai negara kepulauan, Indonesia tentu memiliki potensi kemaritiman yang sangat besar. Berangkat dari isu tersebut, pihak Kemenko Bidang Kemaritiman bekerjasama dengan Elex Media dan PIONICON untuk mengenalkan wisata maritim melalui komik Si Juki Seri Jalan-Jalan Nusantara.

Komik pertama dalam seri ini diluncurkan dengan mengangkat tema keindahan alam berbagai objek wisata yang ada di Labuan Bajo-Flores. Dalam komik berjudul Si Juki Seri Jalan-Jalan Nusantara: Petualangan Labuan Bajo-Flores ini, Si Juki ditemani oleh temannya yang tidak kalah kocak yaitu Mang Awung. Peluncuran seri komik baru dari Si Juki ini diadakan pada tanggal 5 Desember 2018 bertempat di gedung Kompas Gramedia, Palmerah, Jakarta Pusat.

“Pihak Kemenko Bidang Kemaritiman memiliki kepentingan untuk mengenalkan objek wisata baru sekaligus membuat literasi kemaritiman. Maka dari itu, kami dari Elex mengajak Si Juki untuk mengenalkan objek wisata maritime di Indonesia sekaligus memberikan literasi kemaritiman kepada generasi muda.” Ujar Ari, perwakilan dari Elex Media Komputindo dalam sambutannya yang membuka acara peluncuran komik tersebut.

 

Pada komik kali ini Si Juki tidak melakukan perjalanan sendirian, ia ditemani oleh temannya bernama Mang Awung. Si Juki pergi ke Labuan Bajo bersama Mang Awung untuk menyelesaikan sebuah misi rahasia. Dalam menjalankan misi rahasia tersebut, mereka pergi ke berbagai destinasi wisata yang ada di Labuan Bajo mulai dari Bukit Cinta, Gua Batu Cermin, hingga pergi ke Taman Nasional Pulau Komodo untuk mencari harta karun.

“Dalam proses riset komik ini saya menemukan bahwa kalimat ‘Indonesia itu Indah’ benar adanya. Selain indah, saya juga menemukan keberagaman budaya yang menurut saya begitu luar biasa. Keberagaman inilah yang membentuk Indonesia, inilah harta karun Indonesia. Karena itulah, dalam cerita kali ini saya membuat konsep berburu harta karun dengan berbagai misi yang harus dilalui oleh Si Juki yang kali ini ditemani oleh Mang Awung.” Ucap Faza Meonk selaku kreator Si Juki sekaligus founder dari PIONICON IP Management.

Seri komik Si Juki Jalan-Jalan pada awalnya memang diluncurkan oleh penerbit Elex Media dan PIONICON sebagai komik dengan tema wisata. Destinasi wisata pertama yang dituju oleh Si Juki dalam seri komik ini adalah Korea Selatan dengan meluncurkan komik Si Juki Seri Jalan-Jalan: Petualangan di Korea pada tahun 2017. Sebenarnya pihak Elex sangat ingin agar seri komik ini juga bisa mengangkat tujuan destinasi wisata lokal yang ada di Indonesia. Kesempatan pun datang ketika pihak Kemenko Bidang Kemaritiman menawarkan potensi kerjasama untuk meluncurkan buku literasi kemaritiman.

Untuk membuat komik ini, tim kreatif melakukan riset mencari ide cerita dan hal-hal menarik lainnya dengan mengunjungi langsung Labuan Bajo-Flores selama 5 hari. Hasil temuan selama 5 hari tersebut kemudian dikemas menjadi material cerita komik Si Juki. Setelah riset mencari ide cerita, komik ini kemudian memasuki tahap produksi selama 3 bulan hingga akhirnya dirilis pada hari Rabu, 5 Desember 2018.

 

Dalam acara peluncuran komik ini, Faza Meonk mengaku sangat senang bisa mengerjakan komik Si Juki ini. Ia mengaku bahwa sebenarnya sudah sejak lama ia memiliki keinginan agar Si Juki bisa bekerja sama dengan pemerintah. Baginya, dengan adanya komik ini membuktikan bahwa kini anak muda juga bisa ikut berpartisipasi dalam membangun negeri bersama pemerintah.

Bekerjasama Dengan Kemenko Bidang Kemaritiman, Si Juki Siap Rilis 10 Buku Baru

Ada 10 destinasi wisata maritim ”Bali Baru” yang akan diperkenalkan Si Juki di komik Seri Jalan-Jalan Nusantara.

 

Jika membicarakan tentang destinasi wisata yang ada di Indonesia, Bali menjadi salah satu tujuan yang wisata yang paling dikenal di Indonesia. Padahal faktanya, sebagai negara kepulauan yang memiliki lebih dari 17 ribu pulau, ada berbagai destinasi wisata lain yang tidak kalah menarik dari Bali. Saat ini pihak Kemenko Bidang Kemaritiman tengah merencanakan untuk memperkenalkan destinasi wisata 10 Bali Baru melalui komik Si Juki.

Kedekatan karakter Juki dengan para penikmat kisahnya ini dinilai bisa menjadi salah satu jalan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat tentang potensi maritim yang Indonesia miliki, sehingga terbentuklah suatu gerakan literasi kemaritiman. Elex Media dan Kemenko Bidang Kemaritiman membuat gerakan literasi kemaritiman dalam bentuk komik seri Si Juki Jalan-Jalan Nusantara ke 10 destinasi pariwisata prioritas sesuai dengan arahan Presiden.

Destinasi pertama yang didatangi oleh Si Juki dalam petualangannya keliling Nusantara adalah Labuan Bajo. Daerah Labuan Bajo ini memang sudah sangat dikenal dengan keindahan alamnya yang menarik perhatian para wisatawan. Ada beragam objek wisata menarik yang bisa ditemukan di Labuan Bajo mulai dari wisata pantai, bukit, hingga gua bawah tanah.

Selain Labuan Bajo-Flores, masih ada 9 destinasi wisata lainnya yang akan diangkat menjadi komik Si Juki. Kabar tersebut disampaikan pada acara peluncuran komik Si Juki Seri Jalan-Jalan Nusantara: Labuan Bajo-Flores yang berlangsung pada hari Rabu, 5 Desember 2018. Dalam acara tersebut, pihak Kemenko Bidang Kemaritiman menyatakan telah menjalin kerjasama dengan Elex dan PIONICON untuk membuat 10 komik yang mengangkat 10 destinasi wisata maritim Bali Baru.

“Labuan Bajo-Flores ini baru 1, kita berencana untuk mengembangkan 10 destinasi wisata Bali Baru, dan itu masih baru 10, masih ada potensi besar lainnya di Indonesia. Kita baru bekerja di satu aspek saja yaitu pariwisata, masih banyak aspek kemaritiman lain yang bisa kita angkat. Saya yakin kalau terus kerjasama dengan Faza, tidak hanya 3 bulan sekali komik ini terbit tetapi bisa jadi 1 bulan sekali atau bahkan seminggu sekali.” Ungkap Deputi Bidang Koordinasi Sumber Daya Alam dan Jasa Kemenko Bidang Kemaritiman, Agung Kuswandono.

Sebagai kreator Si Juki, Faza juga baru mengetahui tentang adanya destinasi wisata 10 Bali Baru tersebut. Dalam acara peluncuran komik yang berlangsung di gedung Kompas-Gramedia pada hari Rabu, 5 Desember 2018 Faza mengaku bahwa ia sangat tertarik untuk mengangkat 10 destinasi wisata tersebut menjadi komik. Baginya yang terpenting dalam membuat komik tersebut adalah ide dasar dan fakta menarik yang bisa dikemas menjadi komik.

Dalam komik pertama di Seri Jalan-Jalan Nusantara, Si Juki mengunjungi Labuan Bajo-Flores bersama Mang Awung untuk menjalankan sebuah misi rahasia. Di akhir komik tersebut terungkap bahwa destinasi wisata berikutnya yang akan dikunjungi Juki adalah Belitung. Rencananya komik Si Juki Seri Jalan-Jalan Nusantara edisi Belitung ini akan dirilis pada bulan Maret 2019.

 

Sambut Kemeriahan Japanese Film Festival 2018!

JFF 2018 akan hadir di empat kota: Jakarta, Bandung, Yogyakarta, dan Makassar.

Film adalah media yang memungkinkan kita untuk memahami perbedaan budaya. Melalui kekuatan bercerita dan teknik visual, film memiliki kemampuan untuk menggambarkan kehidupan nyata dari orang-orang yang tinggal di belahan dunia yang berbeda. Secara efektif, film dapat menjangkau penonton dalam jumlah besar, dan memiliki kekuatan yang menggerakkan orang-orang dari beragam latar belakang untuk saling memahami.

Berdasarkan pandangan tersebut, Japan Foundation meluncurkan “The JFF: Asia – Pacific Gateway Initiative” (JFF APAC) pada tahun 2016. Japan Foundation ingin memperkenalkan budaya Jepang secara utuh kepada masyarakat Indonesia melalui film-film Jepang yang masih tergolong sulit dinikmati secara resmi di Indonesia dan menjadikan JFF sebagai wadah bagi penikmat film untuk memperoleh dan berbagi informasi mengenai film-film Jepang.  Hingga tahun 2017, JFF APAC melangsungkan festival film di 13 negara (10 negara Asia Tenggara, Australia, India, dan Tiongkok) dan dihadiri oleh 140,000 penonton. Mulai tahun ini, Rusia turut bergabung dalam JFF APAC.

Selain film festival, Japan Foundation juga membuat majalah daring JFF Web Magazine yang berfungsi sebagai wadah informasi film dan budaya Jepang bagi para penggemarnya. Dengan adanya kedua hal tersebut, diharapkan dapat memajukan rasa saling pengertian antara Jepang dan negara lain.

Menyambut Japanese Film Festival 2018 di Indonesia

Tahun 2018, Japanese Film Festival (JFF) di Indonesia menginjak tahun yang ke-3. JFF kali ini membawa 14 film terbaru dari beragam genre untuk diperkenalkan kepada masyarakat di Indonesia khususnya di empat kota yaitu Makassar, Yogyakarta, Jakarta, dan Bandung. JFF 2018 akan diselenggarakan di Bandung untuk pertama kalinya dan sekaligus menjadi penutup rangkaian JFF di Indonesia.

Dalam JFF 2018, seri film terbaru dari “Chihayafuru” (Nori Koizumi) akan hadir membawakan bagian ketiganya. Dua bagian sebelumnya sudah dihadirkan pada JFF 2016. Mewakili genre drama romantika, akan hadir film-film seperti “Color Me True” (Hideki Takeuchi), “The 8 Year Engagement” (Takahisa Zeze), “Perfect World” (Kenji Shibayama), dan “Mixed Doubles” (Junichi Ishikawa) yang akan menjadi daya tarik bagi para remaja yang gandrung akan artis idola Jepang. Disusul film animasi dari para sutradara animasi kenamaan Jepang berjudul “Lu over the Wall” (Masaaki Yuasa) dan “Mary and the Witch’s Flower” (Hiromasa Yonebayashi). “The Crimes That Bind” (Katsuo Fukuzawa) mewakili film bergenre thriller dari JFF pada tahun ini. Film “Laughing under the Clouds” (Katsuyuki Motohiro) dan film “Yakiniku Dragon” (Wui Sin Chong) membawa cerita mitologi dan sejarah yang menggambarkan Jepang di zaman yang berbeda.

JFF juga membawa film peraih banyak penghargaan internasional yaitu “Shoplifters” karya Hirokazu Kore-eda yang mendapatkan penghargaan Palme d’Or di Cannes Film Festival 2018, serta film “One Cut of the Dead” (Shinichirou Ueda) yang merupakan film horror komedi  yang menduduki box office di Jepang selama 4 pekan dan wara-wiri di berbagai festival film internasional. “The Man from the Sea”, film terbaru dari sutradara peraih Un Certain Regard Jury Prize di Cannes Film Festival 2017, Koji Fukada, akan menjadi salah satu penanda terbaik di tahun 2018 yang bertepatan dengan Peringatan 60 Tahun Hubungan Indonesia-Jepang. Film ini merupakan kerja sama Indonesia, Jepang, dan Perancis yang menampilkan Adipati Dolken dan Sekar Sari serta mengambil lokasi syuting di Aceh.

The Japan Foundation bekerja sama dengan Tokyo International Film Festival memproduksi seri kedua film omnibus “Asian Three Fold Mirror” dengan tema Journey pada tahun ini. Film ini menyatukan tiga karya dari tiga sutradara yang berasal dari Jepang (Daishi Matsunaga), Tiongkok (Degena Yun), dan Indonesia (Edwin). Tiga aktor Indonesia (Nicholas Saputra, Agni Pratistha, dan Oka Antara) ikut mempertunjukkan aktingnya dalam film ini.

Berikut jadwal Japanese Film Festival di Indonesia:

MAKASSAR: 23-25 November 2018

CGV Daya Grand Square lantai 4
Harga tiket: Rp 10,000 per penayangan film
Film pembuka: One Cut of the Dead (13+)

YOGYAKARTA: 27 November sampai 4 Desember 2018

Bekerja sama dengan Jogja-NETPAC Asian Film Festival
Jogja National Museum, Empire XXI, Cinemaxx
Harga tiket: Gratis dan Rp 20,000
Film pembuka: The Man from the Sea (13+)
Info: https://jaff-filmfest.org

JAKARTA: 7-16 Desember 2018

Bekerja sama dengan Pekan Sinema Jepang
CGV Grand Indonesia
Harga tiket: Rp 20,000 (Senin-Jumat), Rp 25,000 (Sabtu-Minggu)
Film pembuka: One Cut of the Dead (13+)
Info: http://jcinema2018.id

BANDUNG: 21-23 Desember 2018

CGV 23 Paskal Shopping Center Lantai 3
Harga tiket: Rp 15,000
Film pembuka: Chihayafuru Part 3 (13+)

Info pembelian tiket (Makassar, Jakarta, Bandung):
– Offline: Loket CGV di lokasi kegiatan
– Online: Website CGV (cgv.id), Traveloka, Bookmyshow
– Mobile Apps: CGV ID, Goers, Go-Tix by Go-Jek

*Jadwal penjualan tiket akan diumumkan segera.
** Pembelian secara online & mobile apps akan dikenakan biaya admin

Seluruh informasi terkini mengenai Japanese Film Festival 2018 dapat diakses di:
Facebook Fan page : Japanese Film Festival – Indonesia
Website : http://id.japanesefilmfest.org/
E-mail : [email protected]

Artikel ini merupakan rilis pers dari pihak penyelenggara

Lagi, Remaja 21 Tahun Merayakan Ulang Tahun di Restoran Cepat Saji

Tren merayakan ulang tahun di restoran cepat saji masih berlanjut. Adalah Risaldi Hartono (21), seorang penggemar jejepangan yang merayakan ulang tahun bersama teman-temannya di McDonald’s Sudirman, Yogyakarta Selasa, 20 November 2018. Ia menuturkan ide perayaan ulang tahunnya diilhami oleh postingan viral yang sempat menggegerkan dunia maya beberapa waktu lalu.

Bermodalkan iseng, Risaldi kemudian mengadakan tantangan ke teman-teman komunitasnya untuk menebak tanggal ulang tahunnya tanpa bertanya ke siapapun dan tidak boleh melihat KTP/kartu identitas lainnya. Jika berhasil, Risaldi berjanji untuk merayakan ulang tahunnya di Restoran Cepat Saji menggunakan paket ulang tahun anak. Grup Idol cover No Name yang cukup terkenal di Yogyakarta juga diundang untuk memeriahkan acara.

Banyak orang dewasa yang merindukan masa kecilnya sehingga mereka nekat mengadakan acara tersebut, suatu hal yang biasa dilakukan anak berusia di bawah 10 tahun.

Tertarik untuk mencoba?

Kearifan Lokal Tetap Terjaga
Penampilan Idol “No Name” bersama Risaldi

Penulisan oleh Aditya Putera Tanriawan.

[Liputan] Meriahnya Para Penggemar Jejepangan dari Jawa Tengah di ORENJI 2018!

Original Event of Japan In Indonesia atau disingkat ORENJI kembali untuk memberi hiburan bagi para enggemar budaya pop Jepang di Jawa Tengah dan sekitarnya.

Hai Hai Riscomrades! Risa Media divisi Jawa Tengah dan Yogyakarta untuk pertama kalinya berkunjung ke Semarang, loh! Pada kesempatan ini, kami mengunjungi event ORENJI 2018 yang diadakan pada tanggal 4 November 2018 dan bertempat di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro, Jl. Prof. Soedarto No.1d, Tembalang, Kota Semarang, Jawa Tengah.

ORENJI 2018 adalah event tahunan yang diadakan oleh Mahasiswa D3 Bahasa Jepang dan S1 Bahasa dan Kebudayaan Jepang Universitas Diponegoro Semarang. ORENJI tahun ini mengangkat Tema “Yuujou no Tabi” atau Perjalanan Persahabatan. Event ini terkenal sebagai event yang paling ditunggu dan berhasil menarik perhatian para pencinta Jejepangan di wilayah Jawa Tengah dan sekitarnya. Hal ini dibuktikan dengan fakta bahwa ORENJI 2018 berhasil menarik lebih dari 7000 pengunjung dalam waktu sehari saja!

ORENJI juga mengadakan lomba akademik tingkat nasional pada tanggal 20 Oktober 2018. Lomba akademik ini dinamai ORENJI EDUKASI dan diikuti oleh puluhan siswa SMA/SMK/MA/sederajat se-Indonesia. ORENJI EDUKASI mengujikan berbagai lomba seperti Lomba Cerdas Cermat (LCC), Kanji dan Kana Challenge, Kamishibai, dan Speech Contest.

Untuk acara utamanya, ORENJI 2018 menawarkan berbagai lomba hiburan seperti Song Cover Solo dan Grup, Dance Cover, Cosplay, Cabaret, Band, Photography, dan Illustration. Selain itu, terdapat pula penampilan dari Benjiro Band, Cabaret Kouhai Kazahana ft. Haruko & Haruki (Maskot Orenji 2018), Harukaze Odori, dan NEaR.

Serangkaian acara bertema budaya Jepang juga terdapat seperti Kelas Memasak Masakan Jepang dan Kelas Minum Teh ala Jepang bersama Orang Jepang. Mengikuti seperti Festival di Jepang, ORENJI juga menghadirkan Obake Yashiki atau Rumah Berhantu yang menampilkan tema “Haru no Akumu” (Mimpi Buruk di Musim Semi).

Dalam rangka membuka pasar bagi industri kreatif di Jawa Tengah, ORENJI berkomitmen mengadakan Orenji Comic Market atau disingkat JICOMA. ORENJI mengklaim JICOMA adalah comic market pertama yang diadakan di Jawa Tengah. Berbagai lingkar karya (circle) dari Jawa Tengah turut hadir meramaikan JICOMA, bahkan ada juga beberapa lingkar karya dari luar Jawa Tengah mengisi stand di JICOMA.

Cosplayer Frea Mai dan Cylla dihadirkan sebagai Guest Star sekaligus Juri Lomba Cosplay pada ORENJI kali ini. Selain itu, event ini dimeriahkan juga oleh penampilan dari Band LUNA Gravity, Re”fier”, dan pertunjukan musik diakhiri oleh Band MEA. Acara ditutup dengan Pertunjukan Hanabi/Kembang Api.

Keseruan Event (foto: Rizaldy Firstky)
Antusiasme Pengunjung (foto: Rizaldy Firstky)
Sudut Sudut JICOMA (foto: Rizaldy Firstky)
Suasana JICOMA (foto: Rizaldy Firstky)
Penampilan LUNA Gravity (foto: Rizaldy Firstky)

Sekian liputan Tim Risa Media dari Semarang dan sampai bertemu kembali dengan kami di liputan selanjutnya!!

Liputan oleh Rizaldy Firstky. Penulisan oleh Aditya Putera Tanriawan.

[Liputan] Mangafest 2018, Unjuk Gigi Industri Kreatif Lokal Yogyakarta dan Sekitarnya

Mangafest, event kondang yang paling ditunggu di Yogyakarta dan Jawa Tengah Kembali digelar dengan semangat baru.

Hai Hai, Riscomrades!! Kali ini Risa Media mendapatkan sebuah kehormatan menjadi Media Partner bagi event yang paling ditunggu di Yogyakarta dan sekitarnya, yaitu Mangafest 2018 yang kali ini diadakan pada tanggal 27 dan 28 Oktober 2018 bertempat di Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardjasoemantri (PKKH) yang terletak di Area Kampus Universitas Gadjah Mada (UGM), Jl. Pancasila, Bulaksumur, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Mangafest 2018 yang digelar oleh Himpunan Mahasiswa Sastra Jepang (HIMAJE) Universitas Gadjah Mada sejak 2010 kali ini mengajak kita untuk peduli pada lingkungan sekitar kita melalui tema “EARTHVENTURE”.

Acara ini Menghadirkan Band cover Anime Luna Gravity dari Semarang dan Cosplayer kondang Punipun dari Jakarta sebagai Guest Star, dan menampilkan berbagai Performer seperti Aya Anjani, Momiji Velvet, Shitagi Uma, JAV, E-qourz!, dan lain lain.

Mangafest tidak melupakan tujuan dibentuknya event ini dengan mengadakan berbagai kompetisi seperti Kompetisi Manga, Silent Comic dan Fanart. 20 karya terbaik yang terpilih dipamerkan dalam ruangan khusus lengkap dengan deskripsi cerita beserta opini dari panitia penilai. Mangafest juga mengikuti zaman dengan menggunakan sistem voting untuk menilai karya terbaik menurut pengunjung melalui situs resmi Mangafest 2018 selain menggunakan sistem voting langsung.

Mangafest juga terkenal menjadi tempat dimana para pegiat industri kreatif kecil di Yogyakarta dan Jawa Tengah dapat memamerkan dan menjual karyanya melalui Comiket yang diadakan di dalamnya. Tercatat lebih dari 80 stand lingkar karya (circle) yang berasal dari Yogyakarta dan Jawa Tengah, bahkan banyak terdapat penggiat karya yang berasal dari kota besar seperti Jakarta, Bandung, dan Surabaya yang ikut meramaikan Comiket tahun ini.

Tak lupa, Mangafest juga meningkatkan kualitas para penggiat karya dengan mengadakan talkshow dan workshop bersama beberapa komikus terkenal seperti Kharisma Jati, Sweta Kartika, Kelompok Roket Kertas, Shinshinhye, dan lain lain.

Platelet setelah rajin berolahraga (kanan)

Sekian liputan Risa Media divisi Jawa Tengah dan Yogyakarta kali ini, sampai ketemu di liputan selanjutnya!

Liputan oleh Aditya Putera Tanriawan, Intan Kusumadewi, Kevin Akbar, dan Rizaldy Firstky.

[Liputan] Mimpi Musim Gugur bersama Ichi-Ichi Matsuri 2018

Setelah tahun lalu berhasil mengadakan acara pertamanya, kini Bokura Japan Club SMA Negeri 11 Yogyakarta kembali mengadakan Acara Ichi-Ichi untuk kali keduanya.

 

Hai Hai, Riscomrades! Kali ini Risa Media kembali ke Kota Yogyakarta untuk mengunjungi Ichi-Ichi Matsuri 2018 yang diadakan Bokura Japan Club bertempat di Sekolah bersejarah yang pernah digunakan untuk Kongres Budi Utomoyaitu Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 11 Yogyakarta.

Acara kali ini mengambil tema “Aki no Yume” atau Mimpi di Musim Gugur. meski dimulai dari jam 08:00 WIB, pengunjung sudah memadati halaman SMA Negeri 11 Yogyakarta yang dihias seperti Musim Gugur seperti Labu, daun Maple, dll.

Antusiasme performa E-quorz di atas panggung.

Pertunjukan dimulai dengan berbagai kompetisi menarik seperti lomba manga, lomba karaoke, lomba makan ramen, dan lomba dance cover. Acara berlanjut dengan lantunan musik band visual kei yang dibawakan Victoria Symphony dan idol No Nametidak lupa lomba cosplay dan lomba coswalk juga dipertandingkan.

Menjelang sore, animo pengunjung semakin meriah dengan tampilnya Cosplay Cabaret dari Werewolf Cosproject. Idol Cover dari anime Love Live! Sunshine!!E-qourz! semakin memeriahkan acara. dilanjutkan dengan dance dari UnmanlyMomiji Velvet memeriahkan suasana pengunjung yang sebelumnya lelah. acara selanjutnya ditutup oleh band beraliran Elektronik Metal, Crossover.

Sekian yang dapat Tim Risa Media laporkan, sampai jumpa lagi di acara selanjutnya!

 

Liputan oleh Aditya Putera Tanriawan, Kevin Akbar, dan Rizaldy Firstky.

[Liputan] ‘Sekaten’ ala Jepang di Gambarimasu!

Gambarimasu menawarkan cara baru bagi kita untuk menikmati acara jejepangan.

Hai-hai Riscomrades! Sebuah kabar gembira di hari ini, Risa Media telah secara resmi melebarkan sayapnya di Jawa Tengah dan Yogyakarta. Kami hadir untuk menyajikan hal-hal unik seputar kegiatan jejepangan dan industri kreatif di Jawa Tengah dan Yogyakarta.

Liputan kali ini akan memberitakan serunya acara perdana Gamabunta Hikari Matsuri di Yogyakarta, yang dilaksanakan pada tanggal 28-30 September 2018.

Acara-acara untuk subkultur jejepangan tak eksklusif milik kota-kota besar seperti Jakarta, tetapi juga dimiliki komunitas-komunitas lokal-regional yang lebih sederhana, salah satunya di Yogyakarta. Meskipun skala dan kapasitas acara tak sebesar ibukota, namun kegiatan di tingkat lokal ini memiliki coraknya sendiri.

Adalah komunitas Gamabunta di Kota Yogyakarta, yang kali ini untuk pertama kalinya menyelenggarakan acara serupa dengan judul Gamabunta Hikari Matsuri, atau Gambarimasu! Dengan basis komunitas yang kuat, Ganbarimasu hadir bagi para pegiat kebudayaan Jepang untuk berkumpul bersama dalam minatnya masing-masing.

Acara ini diselenggarakan di area terbuka Jogja Expo Center dengan konsep matsuri, atau festival khas Jepang. Kebudayaan lokal sendiri mempunyai acara dengan semangat serupa, yaitu pada pasar malam Sekaten, dan dengan budaya lokal yang masih kuat, Gambarimasu memperlihatkan diri seperti Sekaten a lá Jepang.

Area acara dipenuhi dengan lebih dari 80 stan makanan dan minuman, banyak di antaranya telah menjadi langganan untuk acara serupa, seperti takoyaki dan okonomiyaki. Tata ruang acara yang luas menjadikan posisi stan-stan ini menjadi esensial bagi kenyamanan pengunjung, apalagi acara diadakan di luar ruangan.

Belasan komunitas meramaikan acara dengan spesialisasinya masing-masing, seperti Gundam Universe Jogja, AMV Indonesia, Love Live x Bang Dream Jogja, NKC48 x ALIC, Yogyakarta Itasha Community, serta komunitas-komunitas lainnya yang meramaikan acara.

Panggung utama yang menjadi pusat perhatian menghadirkan para bintang tamu yang kental dengan kebudayaan Jepang, seperti tari yosakoi oleh Tsukiyomi serta tari bon odori dari komunitas U-Maku Eisa Shinka Indo. Selain itu, hadir juga bintang tamu yang sarat dengan subkultur jejepangan, seperti Momiji Velvet, Rosemetal, Crossover, E-quorz, dan lainnya. Seperti sebelumnya, pertunjukan ini juga direspon dengan semangat oleh para pengunjung yang sangat antusias.

Tersedia juga elemen-elemen khas dari matsuri seperti permainan-permainan tangkap ikan dan lempar ring ke botol. Tak hanya itu, dekat dengan panggung utama terdapat pertunjukan kabuki yang khas dengan tarian dan topengnya. Selain itu, terdapat juga gacha berbentuk undian yang lazim ditemukan di pusat perbelanjaan Jepang, namun dengan unsur budaya lokal: salah satu hadiah berupa kuliner instan sederhana dari berbagai daerah Indonesia.

Undian, tapi karena dari Jepang, namanya jadi Gacha.

Gambarimasu menawarkan corak baru pada acara-acara subkultur jejepangan: yang tak hanya berfokus pada subkultur otaku, tetapi  juga jangkauannya lebih luas mencakup kebudayaan lokal dari Jepang sendiri. Acara ini menunjukkan bahwa kegiatan semacam ini memiliki keseruan dan keunikannya sendiri, kental dengan nuansa kebudayaan Jepang tetapi tetap mencirikan latar belakang Indonesia.

Gambarimasu dapat memberi pengaruh yang baik bagi perkembangan acara jejepangan yang cenderung otaku-sentris.

Liputan oleh Tim Risa Media Jawa Tengah – Yogyakarta