[Liputan] Mimpi Musim Gugur bersama Ichi-Ichi Matsuri 2018

Setelah tahun lalu berhasil mengadakan acara pertamanya, kini Bokura Japan Club SMA Negeri 11 Yogyakarta kembali mengadakan Acara Ichi-Ichi untuk kali keduanya.

 

Hai Hai, Riscomrades! Kali ini Risa Media kembali ke Kota Yogyakarta untuk mengunjungi Ichi-Ichi Matsuri 2018 yang diadakan Bokura Japan Club bertempat di Sekolah bersejarah yang pernah digunakan untuk Kongres Budi Utomoyaitu Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 11 Yogyakarta.

Acara kali ini mengambil tema “Aki no Yume” atau Mimpi di Musim Gugur. meski dimulai dari jam 08:00 WIB, pengunjung sudah memadati halaman SMA Negeri 11 Yogyakarta yang dihias seperti Musim Gugur seperti Labu, daun Maple, dll.

Antusiasme performa E-quorz di atas panggung.

Pertunjukan dimulai dengan berbagai kompetisi menarik seperti lomba manga, lomba karaoke, lomba makan ramen, dan lomba dance cover. Acara berlanjut dengan lantunan musik band visual kei yang dibawakan Victoria Symphony dan idol No Nametidak lupa lomba cosplay dan lomba coswalk juga dipertandingkan.

Menjelang sore, animo pengunjung semakin meriah dengan tampilnya Cosplay Cabaret dari Werewolf Cosproject. Idol Cover dari anime Love Live! Sunshine!!E-qourz! semakin memeriahkan acara. dilanjutkan dengan dance dari UnmanlyMomiji Velvet memeriahkan suasana pengunjung yang sebelumnya lelah. acara selanjutnya ditutup oleh band beraliran Elektronik Metal, Crossover.

Sekian yang dapat Tim Risa Media laporkan, sampai jumpa lagi di acara selanjutnya!

 

Liputan oleh Aditya Putera Tanriawan, Kevin Akbar, dan Rizaldy Firstky.

[Liputan] ‘Sekaten’ ala Jepang di Gambarimasu!

Gambarimasu menawarkan cara baru bagi kita untuk menikmati acara jejepangan.

Hai-hai Riscomrades! Sebuah kabar gembira di hari ini, Risa Media telah secara resmi melebarkan sayapnya di Jawa Tengah dan Yogyakarta. Kami hadir untuk menyajikan hal-hal unik seputar kegiatan jejepangan dan industri kreatif di Jawa Tengah dan Yogyakarta.

Liputan kali ini akan memberitakan serunya acara perdana Gamabunta Hikari Matsuri di Yogyakarta, yang dilaksanakan pada tanggal 28-30 September 2018.

Acara-acara untuk subkultur jejepangan tak eksklusif milik kota-kota besar seperti Jakarta, tetapi juga dimiliki komunitas-komunitas lokal-regional yang lebih sederhana, salah satunya di Yogyakarta. Meskipun skala dan kapasitas acara tak sebesar ibukota, namun kegiatan di tingkat lokal ini memiliki coraknya sendiri.

Adalah komunitas Gamabunta di Kota Yogyakarta, yang kali ini untuk pertama kalinya menyelenggarakan acara serupa dengan judul Gamabunta Hikari Matsuri, atau Gambarimasu! Dengan basis komunitas yang kuat, Ganbarimasu hadir bagi para pegiat kebudayaan Jepang untuk berkumpul bersama dalam minatnya masing-masing.

Acara ini diselenggarakan di area terbuka Jogja Expo Center dengan konsep matsuri, atau festival khas Jepang. Kebudayaan lokal sendiri mempunyai acara dengan semangat serupa, yaitu pada pasar malam Sekaten, dan dengan budaya lokal yang masih kuat, Gambarimasu memperlihatkan diri seperti Sekaten a lá Jepang.

Area acara dipenuhi dengan lebih dari 80 stan makanan dan minuman, banyak di antaranya telah menjadi langganan untuk acara serupa, seperti takoyaki dan okonomiyaki. Tata ruang acara yang luas menjadikan posisi stan-stan ini menjadi esensial bagi kenyamanan pengunjung, apalagi acara diadakan di luar ruangan.

Belasan komunitas meramaikan acara dengan spesialisasinya masing-masing, seperti Gundam Universe Jogja, AMV Indonesia, Love Live x Bang Dream Jogja, NKC48 x ALIC, Yogyakarta Itasha Community, serta komunitas-komunitas lainnya yang meramaikan acara.

Panggung utama yang menjadi pusat perhatian menghadirkan para bintang tamu yang kental dengan kebudayaan Jepang, seperti tari yosakoi oleh Tsukiyomi serta tari bon odori dari komunitas U-Maku Eisa Shinka Indo. Selain itu, hadir juga bintang tamu yang sarat dengan subkultur jejepangan, seperti Momiji Velvet, Rosemetal, Crossover, E-quorz, dan lainnya. Seperti sebelumnya, pertunjukan ini juga direspon dengan semangat oleh para pengunjung yang sangat antusias.

Tersedia juga elemen-elemen khas dari matsuri seperti permainan-permainan tangkap ikan dan lempar ring ke botol. Tak hanya itu, dekat dengan panggung utama terdapat pertunjukan kabuki yang khas dengan tarian dan topengnya. Selain itu, terdapat juga gacha berbentuk undian yang lazim ditemukan di pusat perbelanjaan Jepang, namun dengan unsur budaya lokal: salah satu hadiah berupa kuliner instan sederhana dari berbagai daerah Indonesia.

Undian, tapi karena dari Jepang, namanya jadi Gacha.

Gambarimasu menawarkan corak baru pada acara-acara subkultur jejepangan: yang tak hanya berfokus pada subkultur otaku, tetapi  juga jangkauannya lebih luas mencakup kebudayaan lokal dari Jepang sendiri. Acara ini menunjukkan bahwa kegiatan semacam ini memiliki keseruan dan keunikannya sendiri, kental dengan nuansa kebudayaan Jepang tetapi tetap mencirikan latar belakang Indonesia.

Gambarimasu dapat memberi pengaruh yang baik bagi perkembangan acara jejepangan yang cenderung otaku-sentris.

Liputan oleh Tim Risa Media Jawa Tengah – Yogyakarta

[Wawancara] Yogyakarta Punya Yosakoi

Tsukuyomi, komunitas tari tradisional Jepang di Yogyakarta.

Hai-hai Riscomrades! Sebuah kabar gembira di hari ini, Risa Media telah secara resmi melebarkan sayapnya di Jawa Tengah dan Yogyakarta. Kami hadir untuk menyajikan hal-hal unik seputar kegiatan jejepangan dan industri kreatif di Jawa Tengah dan Yogyakarta.

Di liputan perdana ini, kami akan membahas komunitas tari yosakoi yang berada di Yogyakarta melalui kelompoknya, Tsukiyomi.

Yosakoi, tari jepang dengan ciri khas gerakan tangan dan kaki yang dinamis, tak hanya eksis di tempat kelahirannya, Jepang, melainkan juga di kancah internasional—juga Indonesia. Salah satunya berada di Yogyakarta, melalui komunitas Tsukiyomi.

Tari ini biasa dilakukan saat musim panas Awa Odori, dan festival Yosakoi diselenggarakan secara tahunan di Kochi. Penari dalam satu kelompok mengenakan kostum berupa happi dan yukata. Kostum dan musik dipilih sesuai selera masing-masing kelompok yang berusaha tampil seunik mungkin. Musik pengiring tari dapat merupakan campuran musik daerah dicampur dengan musik samba, rock, disko, atau enka. Bisa juga dengan genre musik lain yang sesuai dengan irama, namun tetap harus memasukkan melodi “Yosakoi Naruko Odori”.

Yosakoi sendiri berarti ‘datanglah kau malam ini’, sedangkan menurut kisah lain, kata yosakoi berasal dari seruan para pekerja bangunan ketika membangun Istana Kochi pada masa pemerintahan Yamauchi Katsutoyo. Mereka menyerukan “Yoisho koi, yoisho koi!” agar bersemangat ketika mengangkat bahan bangunan.

Tari Yosakoi sendiri akhir-akhir ini muncul di Kota Yogyakarta dengan semangat yang sama. Saat acara Gambarimasu! diselenggarakan di Jogja Expo Center pada tanggal 28-30 September 2018 lalu, tari Yosakoi yang dipersembahkan grup Tsukiyomi ikut memeriahkan acara. Pada pelaksanaan tariannya, Tsukiyomi melibatkan duabelas anggotanya, dengan kostum dominan merah dipadu dengan warna hitam, ditambah beberapa aksesoris dengan berbagai macam warna yang unik.

Tidak hanya gerakan tarinya yang eksentrik, kostum-kostum para penarinya juga terlihat menarik, dimana mereka mengenakan yukata yang didesain secara modern. Hal ini tentunya menciptakan perpaduan unsur tradisional dan modern. Tidak hanya itu, karena Tsukiyomi berasal dari Indonesia, boleh jadi kostum dipadu dengan unsur budaya Jawa, maupun budaya daerah lainnya. Bukan hanya kostum saja, melainkan gerakan tari pun boleh dipadu. Tari yosakoi milik Tsukiyomi tampil pada hari ketiga, dan berhasil menarik perhatian para pengunjung Ganbarimasu secara meriah.

Tradisi Jepang di Kota Yogya

Yosakoi Tsukiyomi sendiri adalah satu-satunya grup tari yang aktif dengan konsep  tari tradisional Jepang yosakoi di kota Yogyakarta. Grup tari ini didirikan di Universitas Teknologi Yogyakarta, dengan anggotanya yang aktif di jurusan D3 Bahasa Jepang. Sebagai entertainer tentu tidak semudah itu untuk dapat menguasai tari ini. Berikut wawancara kami dengan Ketua Tsukiyomi, Natasia Meidhiningtyas:

Penampilan Tsukiyomi saat Ganbarimasu! September silam.

Apa motivasi pertama untuk berdirinya Grup Yosakoi Tsukiyomi?

Karena angkatan atas kami (di perkuliahan) memang suka menari. Dari situ, kami tahu bahwa di sini belum ada komunitas tari tradisional Jepang yosakoi. Oleh karena itu, kami mengumpulkan orang untuk mendirikan Tsukiyomi.

Apa yang membuat para anggota tetap berkreasi?

Karena kami menyukainya. Ini wadah untuk menyumbangkan segala bakat yang kami punya, dan oleh karena ini kami menuangkan kreasi dalam bentuk seni tari.

Mengapa kalian mengambil konsep tari tradisional?

Karena pada dasarnya, pengertian yosakoi adalah tari tradisional Jepang. Kami tidak mau mengubah filosofinya.

Di mana kalian melakukan latihan rutin?

Latihan rutin (dilakukan) di kampus 3 Universitas Teknologi Yogyakarta, di Jl. Prof. Dr. Soepomo.

Kapan dan seintens apakah kalian mempelajari tarian yang ada?

Dalam seminggu, kami melakukan tiga kali latihan pada hari Selasa, Rabu, dan Kamis.

Apa kunci kalian untuk menjadi kompak?

Kami adalah entertainer. Kami harus menanamkan mindset bahwa kami harus memberikan penampilan yang terbaik untuk semuanya.

Berhubung Tsukiyomi merupakan grup satu-satunya dalam hal ini di Yogyakarta, adakah rencana untuk membuat komunitas serupa di daerah lain di Jawa?

Kalau ada kesempatan, ya boleh.


Begitulah wawancara kami dengan komunitas Yosakoi, Tsukiyomi, yang baru saja menunjukkan kemampuannya di Gamabunta Hikari Matsuri beberapa waktu yang lalu. Jika Tsukiyomi memperluas jangkauan keanggotaannya, apakah anda berminat untuk ikut?

Wawancara oleh Tim Risa Media Jawa Tengah – Yogyakarta