Perhatian: artikel ini memuat spoiler mengenai seri Persona dan Megami Tensei.

Seri gim Persona telah menjadi seri yang amat terkenal karena sentuhan uniknya dalam menggabungkan aspek-aspek dalam visual novel ke dalam JRPG (Japanese Role Playing Game).

Namun, dari analisis singkat penulis, hanya Persona 3 sampai 5 yang sering dibahas oleh komunitas penggemar seri Persona. Mereka menunjukan seperti tiadanya keberadaan gim Persona sebelum itu, yaitu Persona 1 dan 2 duologi (untuk yang belum tau, Persona 2 terbagi menjadi 2; Innocent Sin dan Eternal Punishment).

Penulis berpikir, “mengapa hal tersebut bisa terjadi?” dan setelah menggali lebih lanjut dengan memainkan Persona 1 dan 2 duologi, inilah yang penulis dapatkan:

Daya Pikat Sang Persona

Megami Tensei dan spin off-nya, Persona

Seri Persona merupakan spin off dari seri Megami Tensei yang merupakan seri JRPG yang bertema tentang peperangan antar ideologi. Persona menjadi beda dari Megami Tensei karena ceritanya tidak memfokuskan kepada peperangan ideologi, melainkan menceritakan tentang konflik-konflik internal yang manusia sering alami.

Konflik-konflik ini digambarkan melalui karakter-karakter Persona yang mengalaminya dan mencoba menyelesaikan konflik tersebut, biasanya dibantu oleh protagonis.

Hubungan-hubungan ini disebut juga sebagai social link (dalam Persona 5, social link berubah nama jadi confidant), dan contoh dari social link tersebut adalah, dalam Persona 3, Makoto Yuki (protagonis) membantu Chihiro Fushimi, sang Bendahara OSIS SMA Gekkoukan, untuk mengatasi ketakutannya terhadap laki-laki.

Persona juga berasal dari era dimana gim misteri-pembunuhan seperti Clock Tower dan Grim Fandango sangat populer, alhasil Persona merupakan gim yang mengajak pemainnya untuk menyelesaikan sebuah misteri juga menyelesaikan konflik-konflik internal manusiawi yang dialami karakter-karakter di dalam dunia itu.

Jelas, dalam Persona 4, Yu Narukami (protagonis) dan teman-temannya secara tiba-tiba harus menyelesaikan kasus pembunuhan di Inaba lalu di samping itu harus menyeimbangkan kehidupan anak SMA mereka.

Social link Chihiro Fushimi dalam Persona 3. Kredit: https://www.youtube.com/user/JohneAwesome

Generasi Lama Vs. Baru

Persona 1 dan 2 duologi (selanjutnya penulis akan sebut sebagai Persona lama) berbeda dengan Persona 3 sampai 5 (selanjutnya penulis akan sebut sebagai Neo-Persona). Persona lama tidak memiliki fokus kepada kehidupan sekolah para karakter melainkan langsung memasukkan karakter ini ke dalam misteri yang mereka harus selesaikan. Persona lama tidak memiliki social link.

Sebagai gantinya, karakter-karakter ini berkembang secara alami seiring perkembangan cerita. Sebagai contoh, pada satu titik cerita Persona 2 Eternal Punishment, latar belakang Baofu menjadi seorang Tap Buster terungkap dan ia pun seiring waktu dapat memaafkan dirinya sendiri karena merasa gagal menyelamatkan asisten kerjanya saat itu, Miki Asai.

Baofu menghadapi penyesalannya bersama grup Persona 2 Eternal Punishment. Kredit: https://www.youtube.com/user/BuffMaister

Selain itu, karena tidak ada social link, perkembangan seluruh karakter terjadi secara bersamaan. Dengan sistem social link, perkembangan karakter menjadi terasa kaku karena adanya deadline yang harus dikejar agar karakter tersebut berkembang dan membantu menguatkan Persona-Persona yang digunakan.

Namun, dengan tidak adanya sistem tersebut, pemain tidak perlu khawatir untuk mengejar deadline tersebut dan dapat mengalami cerita Persona lama secara utuh serta perkembangan karakter-karakternya. Persona lama juga tidak membuat sang protagonis menjadi orang yang sangat spesial; dalam Neo Persona, protagonis diberi kekuatan Wild Card dan hanya dialah yang memiliki kekuatan untuk mengubah Persona-nya.

Persona lama tidak mengenal istilah tersebut dan sebagai gantinya semua karakter dapat mengubah Persona-nya sesuai dengan kecocokan Persona tersebut dengan sifat mereka.

Sebagai contoh, Persona pertama Kei/Nate Nanjo dalam Persona 1 termasuk dalam arcana Hierophant, namun ia bisa menggunakan Persona dari arcana Strength, Moon, dan World juga.

Di dalam gim-gim Persona lama, semua karakter dapat menggunakan Velvet Room untuk membuat dan mengganti Persona mereka.

Bertarung Membasmi Shadow/Demon

Pertarungan dalam Persona lama pun berbeda dengan Neo Persona. Persona lama masih sangat erat kaitannya dengan asal-usulnya, Megami Tensei, sehingga memerlukan pemain untuk bernegosiasi dengan demon untuk mendapatkan Persona baru atau barang tertentu.

Dalam Persona 1, semua karakter dapat menggunakan senjata api sebagai senjata samping mereka, dan dalam Persona 2, karakter-karakter dapat melakukan fusion skill di mana jika dua atau lebih karakter menggunakan skill tertentu, mereka akan melakukan skill yang kekuatannya lebih besar secara bersama-sama, seperti skill Grand Cross yang dapat dilakukan jika Tatsuya, Eikichi, Lisa, Jun, dan Maya menggunakan skill khusus mereka.

Dibandingkan dengan sistem pertarungan dalam Neo Persona, Persona lama mempunyai sistem yang lebih detail dan dalam walaupun terasa lebih kuno. Untungnya, dalam Persona 5, aspek-aspek dalam Persona lama dikembalikan, seperti senjata api sebagai senjata sampingan, elemen nuklir, dan negosiasi dengan shadow, sehingga pertarungan menjadi lebih detail tanpa menjadi terlalu rumit.

Bernegosiasi dengan Demon/Shadow untuk mendapatkan Persona baru.

Akhir Kata

Persona lama mempunyai daya ikatnya sendiri bagi para pemain; cerita yang disajikan bernuansa lebih berat dan misterius dibanding Neo Persona, perkembangan karakter yang terjadi secara alami dan tidak perlu mengejar deadline untuk mencari tahu bagaimana kelanjutannya, dan sistem pertarungan yang lebih detail walaupun terasa kuno.

Persona lama merupakan gim-gim JRPG yang sangat bagus, namun para penggemar Persona mayoritas jatuh cinta bukan karena aspek JRPG-nya tetapi lebih kepada gabungan aspek Visual Novel dan JRPG-nya. Hal tersebut hanya ditemukan dalam gim-gim Neo Persona sehingga itu yang menjadi alasan mengapa Persona 1 & 2 duologi jarang sekali dibahas oleh komunitasnya.