Bagaimana Deng Xiaoping “Menciptakan” Azur LaneDibutuhkan waktu 5 menit untuk membaca artikel ini

Singkatnya, Deng Xiaoping memungkinkan game-game seperti Azur Lane tercipta, secara tidak langsung.

Sebelum kalian menyalahkan judul di atas, let’s get it clear. CEO Azur Lane jelaslah seorang wanita cantik. Banyak portal berita yang sudah membahas hal ini. Lantas, apa sangkut pautnya antara elit Partai Komunis Tiongkok ini dengan game kapal-kapalan yang disenangi para wibu ini? Ternyata ada, meskipun secara tidak langsung. Peran Deng Xiaoping di masa lampau inilah yang memungkinkan ekosistem video game di Tiongkok, termasuk Azur Lane, Honkai Impact, Mobile Legends, dan sejumlah game lainnya, dapat maju dan berkembang.

Menyelamatkan Ekonomi yang Tertinggal

Saat Deng naik ke tampuk kekuasaan di tahun 1978, Tiongkok yang dulu benar-benar berbeda dibanding saat ini. Banyak rakyatnya yang masih hidup dalam kemiskinan. Semua aset produksi dikuasai oleh negara. Memori akan kejamnya Revolusi Kebudayaan di tahun 1960an masih jelas. Singkatnya, Tiongkok adalah negara yang terasing dan tertinggal, jauh dibanding negara-negara kecil di sekitarnya. Jepang, Korea Selatan, Taiwan, dan Singapura telah melesat meninggalkannya.

Deng Xiaoping, sebagai kamerad setia Mao Zedong yang juga mengikuti Long March, tentunya kaget saat kunjungannya ke Singapura dan Amerika Serikat. Ia berkesimpulan, Tiongkok tertinggal karena tidak mau membuka dirinya ke pasar bebas. Sepulangnya ke Tiongkok, Deng langsung menjalankan rencananya, tentu dengan pertentangan dari elit partainya sendiri.

Shenzhen di tahun 1980an. Dulunya hanya kampung nelayan, kini menjadi pusat perakitan elektronik dunia.

Langkah pertama, ia membuka keran investasi asing untuk masuk ke Tiongkok. Karena sumber daya manusia yang melimpah, pajak yang murah, serta upah buruh yang murah, perusahaan elektronik Barat dan Jepang berbondong-bondong memindahkan pabriknya ke Tiongkok. Dibukanya pabrik baru ini mengundang minat rakyat Tiongkok untuk pergi ke kota dan bekerja di pabrik. Banyak dari mereka yang sukses akhirnya membuka usaha sendiri, menarik semakin banyak orang untuk bekerja bersamanya. Jutaan rakyat Tiongkok terbebas dari kemiskinan, dan “naik kasta” menjadi middle class.

Video Game, Kebutuhan Hiburan Kelas Menengah

Jutaan rakyat Tiongkok telah menjadi middle class. Kini, mereka mempunyai lebih banyak uang untuk dihamburkan. Sebagian dari uang tersebut digunakan untuk pendidikan. Ilmu-ilmu dan tenaga ahli asing yang masuk ke Tiongkok memungkinkan rakyatnya untuk mengejar ketertinggalannya dari negara lain. Salah satu dari ilmu tersebut adalah teknologi informasi dan desain. Hal ini merupakan pondasi dasar dalam membuat video game. Tidak heran, game-game buatan Tiongkok seperti Azur Lane dan Honkai Impact, awalnya dibuat oleh mahasiswa kelas menengah ini.

Suasana warnet di Tiongkok, bukti mereka tak lagi tertinggal.

Sebagaimana halnya manusia, jutaan rakyat kelas menengah ini butuh hiburan, melepaskan penatnya kerja. Uang yang mereka hasilkan ini sebagian digunakan untuk memberi perangkat teknologi canggih, seperti komputer dan smartphone. Perangkat ini bisa dipasang beragam aplikasi, salah satunya adalah video game. Adanya permintaan akan video game ini membuat game yang diciptakan semakin banyak, yang turut membuat permintaan semakin tinggi. Kini, masyarakat di Tiongkok sama seperti kita, kelas menengah yang melek teknologi.

China: Amati, Tiru, Improvisasi

Saat Tiongkok pertama kali membuka dirinya ke pasar bebas, mereka belum punya acuan apa-apa, selain dari produk asing ini. Mau tak mau, mereka mengamati dan membuat tiruan dari produk tersebut. Sayangnya, sebagian dari mereka sudah puas dengan mengamati dan meniru saja, sehingga produk yang dihasilkan plagiat dan berkualitas rendah, demi meraup untung sebanyak-banyaknya. Hal ini juga yang membuat label Made in China sering dipandang rendah oleh masyarakat dunia.

Meskiun demikian, banyak perusahaan Tiongkok yang mencoba untuk melakukan improvisasi dan inovasi. Contoh ini paling terlihat dalam pasar smartphone. Huawei, Xiaomi, Oppo, Vivo, dan beragam merek ponsel Tiongkok lainnya telah bergerak maju. Awalnya hanya dipandang sebagai “plagiat iPhone”, kini mampu berinovasi dengan caranya sendiri. Tak hanya sampai di situ, Vivo bahkan meluncurkan Vivo Nex, konsep yang menunjukkan sejauh mana sebuah smartphone dapat berkembang ke depannya.

Mobile Legends, salah satu cerita “amati-tiru-improvisasi” ala Tiongkok.

Prinsip “amati-tiru-improvisasi” ini juga dipakai dalam industri game di Tiongkok. Azur Lane meniru Kantai Collection. Mobile Legends meniru League of Legends, bahkan hingga karakter di dalamnya juga plagiat. Meskipun mereka meniru, mereka melakukan improvisasi agar mampu bersaing di pasar dunia.

Improvisasi tersebut adalah keterbukaan.

Keterbukaan yang Menyelamatkan

Seperti yang kita tahu, industri game di Jepang memang tertutup. Mereka hanya berfokus pada pasar domestik, dan lambat merespon permintaan pasar global. Celah inilah yang dilihat Tiongkok dalam mengembangkan video game. Mereka membuat game serupa, mengemas visual dan suara karakter ala anime. Bedanya, mereka mengamati kemauan pasar di luar negara mereka, dan merilis fitur-fitur yang membuat mereka betah bermain lama-lama.

Sebagai perbandingan awal, mari kita lihat Kantai Collection dan Azur Lane. Satu game buatan Jepang, satunya lagi buatan Tiongkok. Kantai Collection rilis di tahun 2013, sedangkan Azur Lane di 2017. Kedua produk ini diminati di pasar global. Bedanya, Azur Lane lebih memperhatikan pasar global, sementara Kantai Collection lebih memperhatikan pasar Jepang.

Kebanyakan kapal-kapal di Kantai Collection adalah kapal Jepang, berbeda dengan Azur Lane yang juga menghadirkan kapal-kapal Inggris dan Amerika Serikat. Versi bahasa Inggris dari Azur Lane hadir tak lama setelah versi Tionghua dan Jepang rilis. Kantai Collection membutuhkan waktu 5 tahun untuk ini. Hal ini juga yang membuat pemain lelah menunggu dan beralih ke Azur Lane.

Tidak hanya Azur Lane, game Tiongkok lainnya seperti Mobile Legends dan Honkai Impact tak ragu untuk berekspansi ke pasar global. Mereka menggelontorkan dana yang signifikan untuk promosi, bekerja sama dengan berbagai layanan, hingga mengadakan turnamen di luar negeri. Sesuatu yang jarang kita lihat dari game-game Jepang saat ini.

Belajar dari Masa Lalu, Bekal untuk Masa Depan

Keterbukaan akan pasar global ini juga tak lepas dari pengalaman Tiongkok di masa lampau. Saat ia menutup diri, masyarakat Tiongkok miskin dan sengsara. Saat ia membuka diri, masyarakat menjadi makmur dan berkembang. Jika bisnis mau sukses, keterbukaan adalah kuncinya.

Singkatnya, Deng Xiaoping memiliki peran tidak langsung dalam perkembangan industri video game di Tiongkok, salah satunya Azur Lane. Investasi asing dibuka, lapangan kerja meningkat, jutaan rakyat terbebas dari kemiskinan, membuat mereka memiliki kemampuan untuk memperoleh pendidikan dan belajar membuat game. Di saat yang sama, meningkatnya pendapatan juga membuat pengeluaran meningkat, dan kebutuhan akan hiburan meningkat, salah satunya video game. Mereka belajar dari masa lalu, melakukan improvisasi, dan menghadirkan produk yang digemari dunia.

Tak heran pepatah lama masih relevan hingga saat ini: Tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina.


Excel Coananda

Komikus Risa Comics, Penulis Risa Media
Hobi membuat dan membunuh meme.