Kenyataan Pahit Dibalik Anime “Sewayaki Kitsune no Senko-san” dan “Shirobako”Dibutuhkan waktu 6 menit untuk membaca artikel ini

Produksi Anime Jepang yang tidak seindah "Shirobako" dan semakin maraknya black company yang mengincar anak muda, Fenomena apa yah yang sedang marak di jepang

Sewayaki Kitsune no Senko-san dilatarbelakangi oleh konflik yang menyertai para pekerja di seluruh dunia: Nakano dipekerjakan terlalu banyak oleh perusahaannya sampai kelelahan dan hampir kolaps, sebab ia bekerja untuk black company dan industri yang eksploitatif. Artikel ini akan memaparkan secara singkat bahwa yang dibutuhkan Nakano adalah serikat pekerja yang memperjuangkan hak-hak universal pekerja atau standar pemenuhan kondisi pekerja bagi para perusahaan.

Selain Senko-san, Nakano pun Butuh Serikat Buruh

Jika anda belum pernah mendengar Black company sebelumnya, ialah para perusahaan di Jepang yang memiliki jam kerja terlalu lama, lembur yang terlalu panjang dengan minim kompensasi, serta menjadi subjek tekanan yang berat jika tidak mampu menyelesaikan pekerjaannya yang terlalu banyak.[1] Segala bentuk ‘ketidakpatuhan’ junior pada senior di Jepang, secara kultural, adalah tabu. Oleh karena itu, black company menyasar anak-anak muda yang baru saja lulus kuliah, lantas putus asa ingin mendapatkan pekerjaan full-time. Dengan merekrut anak muda dalam jumlah yang banyak, para perusahaan memberikan tekanan sebanyak mungkin sebab kekuataannya jauh lebih di banding para pekerja, dan jika sang pekerja baru ini mengundurkan diri, black company tinggal akan mempekerjakan pemuda yang lain lagi.

Nakano selamat dan mampu bertahan sebab ia, karena satu dan lain hal, didukung oleh Senko-san, yang: Abadi, dapat melakukan hal-hal yang ajaib dalam mengurus rumah tangga, dan mampu menjadi pendengar dan penenang yang baik bagi segala kesulitannya. Yang perlu diperhatikan adalah, Senko-san bukan manusia, ia makhluk supranatural. Ia eksklusif milik Nakano seorang, dan tidak bisa didapatkan kolega-koleganya di black company tadi.

 

Anda akan banyak melihatnya hari ini. Secara stereotip, dicirikan bahwa perjuangan pekerja atau buruh diidentifikasikan dengan demo dan permintaan kenaikan Upah Minimum Regional (UMR), dengan segala tuduhan atasnya. Tetapi bukan hanya itu, gerakan pekerja dan serikat pekerja telah memperjuangkan apa yang kita nikmati sekarang: hak cuti, termasuk cuti hamil dan melahirkan, batas jam kerja, hak istirahat, dan kewajiban perusahaan untuk melindungi pekerjanya.

Nakano berhak mendapatkannya. Selain Senko-san, ia, berdasarkan Konstitusi Jepang, berhak untuk bergabung dalam serikat pekerja dan melaksanakan aksi kolektif untuk menuntut hak-haknya. Ia mungkin bisa bergabung dalam Black Company Union, suatu serikat pekerja di Jepang yang secara spesifik menaungi mereka yang berada di dalam black company. Dengan itu, ia bisa melakukan hal-hal lebih dengan Senko-san, dan tak harus melulu soal dukungan materi dan emosional setelah ia harus bekerja lebih tanpa tidur selama beberapa hari.

Tetapi di dunia nyata memang para pekerja di Jepang akhirnya berharap memiliki Senko-san nya sendiri-sendiri. Dan ketika saya mengatakan ‘pekerja’ atau ‘buruh’ bayangan anda mungkin buruh pabrik atau pekerja upahan di perusahan-perusahaan—namun ini keliru. Buruh, seperti kata Marx, adalah semua orang yang memproduksi, yang memakai alat produksi, tetapi tidak secara langsung memilikinya. Ini termasuk orang-orang yang bekerja di ruang kantor ber-AC di bilik kantor, dan termasuk di dalamnya, para animator yang mendesain dan mengerjakan anime yang anda konsumsi.

Anime dan Hak-hak Pekerja yang Tidak Dipenuhi

Industri Kreatif Jepang yang Tidak Seindah Shirobako

Sebagai penikmat Anime Jepang, tentu kita selalu membayangkan jika bekerja di dunia kreatif anime akan seindah anime “Shirobako” dimana semua terlihat seru dan seakan-akan adalah sebuah pekerjaan impian, namun pada kenyataannya banyak eksploitasi yang dilakukan oleh studionya kepada pekerjanya terutama para animator. Eksploitasi animator di Jepang adalah rahasia umum. Di balik kecanggihan kualitas animasi ufotable dan ketinggian tingkat frekuensi pengeluaran karya oleh studio A-1 Pictures, sebenarnya bukan nama-nama itu sendiri yang mengerjakannya secara langsung, melainkan ratusan, mungkin ribuan animator tanpa-nama, tanpa-credit, yang dipekerjakan sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya: lembur tanpa bayaran dan jumlah pekerjaan yang terlalu banyak.[2] Untuk mengilustrasikan, mari melihat kasus-kasus yang pernah ramai sebelumnya.

Yang baru saja terjadi adalah animator untuk studio MADHouse yang kolaps setelah berhari-hari bekerja nonstop tanpa istirahat untuk menyelesaikan tugasnya.[3] Ia lembur sejumlah hampir 400 jam dalam sebulan, empat kali batas yang diperbolehkan pemerintahan Jepang. Setelah ia kolaps dan dilarikan ke rumah sakit, esoknya ia langsung untuk diminta mengulangi pekerjaannya untuk ‘memenuhi standar kualitas’, dan ketika pekerjaan tersebut terselesaikan, para petinggi MADHouse mengira bahwa tidak ada permasalahan apa-apa. Ia terus bekerja, setengah sakit, selama dua bulan sebelum akhirnya sembuh dan mengikuti serikat pekerja Black Company Union. Cerita yang lebih buruk terdengar beberapa tahun lalu dengan salah satu animator A-1 Pictures yang bunuh diri, dan secara langsung Jepang mengutip ‘kondisi bekerja yang buruk untuk para animator’. [4] Ini diamini testimoni yang berserakan di mana-mana selama beberapa tahun silam, seperti milik animator Jojo Bizzare Adventure, dan pegawai Studio Pierrot.[5]

Kisah-kisah ini bukan merupakan kejadian terpisah namun bagian dari budaya yang sama. Studio seringkali dikritik sebab menghasilkan terlalu banyak anime—ada berapa banyak anime setiap musim?— paling terkenal di antaranya adalah A1 Pictures—yang para karyawannya seluruhnya berstatus paruh-waktu namun bekerja penuh. Bayaran kadang-kadang jauh kurang dari apa yang sudah dihasilkan, dan semua anime yang kita dan orang Jepang konsumsi bersender pada pekerjanya yang ‘bekerja sesuai passion’

Head Office Kyoto Animation Studio

Hanya ada segelintir studio yang memberikan fasilitas mumpuni, membayar penuh dan melatih para animator muda, salah satu di antaranya Kyoto Animation.[6] Anda dapat perhatikan bahwa KyoAni tak memiliki anime setiap musim. Satu, atau dua per tahun cukup bagi mereka, sebab hanya jumlah itu lah yang mampu dikerjakan dalam waktu dan kondisi yang manusiawi. Toh, dari segala fasilitas dan dukungan itu tidak lantas pegawai KyoAni menjadi pemalas dan bekerja setengah hati. Kita melihat hasil dari lingkungan kerja animator yang baik: Violet Evergarden, Hibike! Euphonium, Tamako Market, Free!, dan lain sebagainya, adalah anime kelas wahid.
Ketika animator MADHouse kolaps dan animator A-1 Pictures bunuh diri, beban kerja yang ditekankan pada mereka adalah untuk membuat anime yang anda tonton di waktu senggang. Batas minimum yang bisa kita lakukan adalah memahami, apalagi di budaya kita yang sekali dua-kali masih belum memahami susahnya menjadi pekerja di industri kreatif. Setidaknya dapat dikembangkan pemahaman bahwa pada setiap anime yang kita tonton dan idol yang kita dengar dan lihat, terdapat praktik-praktik yang tak selucu Hinamatsuri dan tak seindah senyum personil AKB48.

Perlunya Ada Perubahan

Eksploitasi terhadap para pegawai di Jepang ini merupakan cerminan yang buruk terhadap industri secara keseluruhan dan hal ini perlunya ada perubahan untuk menjamin kesejahterahan para pegawai di Jepang. Perubahan bukanlah hal yang instan, namun perubahan dilakukan secara berkala dan menjadi sebuah proses yang tidak berhenti karena kita ingin selalu ingin menjadi lebih baik. Jepang baru saja berganti era dan bertepatan dengan hari buruh internasional, semoga dengan adanya perubahan di Jepang juga bisa untuk memperbaiki masalah sosial ini, karena harapan kami adalah para pegawai yang kini aktif terdaftar di perusahaan Jepang, dapat mempunyai senyum yang sama dengan senyumnya mama rubah yang berumur 900 tahun ini.

Sebuah senyum yang siap menghangatkan hati anda

 

 

Tulisan ini adalah opini pribadi dari tim penulis kami, tidak mencerminkan pandangan umum

Penulis: Muhammad Naufal
Editor: Kibar Kaloka
Editor 2: Dimas Andaru Kusumo


Dimas Notowidjojo

Social Media Strategist and Editor at RIsamedia. Not A Weeb but Weeb

Tinggalkan Balasan