[Review Corner] Dari Kisah Dongeng Sapu Ajaib, Inilah Ulasan Mary and The Witch’s FlowerDibutuhkan waktu 2 menit untuk membaca artikel ini

Bagaimana rasanya menjadi penyihir hebat hanya dengan setangkai bunga?

Pada acara Pekan Sinema Jepang 2018 yang telah menayangkan lebih dari 30 film populer Jepang pada 7-16 Desember 2018), Tim Risa Media berkesempatan untuk menonton salah satu film animasi produksi Studio Ponoc yang telah ditayangkan dua kali di CGV Grand Indonesia. Diadaptasi dari sebuah buku dongeng anak-anak “The Little Broomstick” karya Mary Stewart, Studio Ponoc mempersembahkan karya pertamanya berjudul Mary & The Witch’s Flower. Disutradarai oleh Hiromasa Yonebayashi, film ini memberikan pengalaman serupa dengan film-film Ghibli namun dari studio ‘berbeda’. Kira-kira apa saja yang membuatnya menarik untuk ditonton? Yuk, kita simak ulasannya berikut ini.

Sinopsis

Film ini menceritakan tentang si gadis ceria berambut merah bernama Mary Smith. Seperti anak-anak pada umumnya, dia ingin menghabiskan waktunya dengan kegiatan menyenangkan. Mary yang sedang kebosanan di rumah bibinya juga ingin melakukan banyak hal, tetapi karena sifatnya yang ceroboh membuat dirinya frustrasi lantaran dirinya seperti pembawa sial karena tidak bisa melakukan apapun dengan benar.

Bermula ketika Mary bertemu dengan dua ekor kucing yang menuntunnya ke dalam hutan, ia menemukan sebuah bunga langka dan konon dicari oleh para penyihir sehingga dijuluki sebagai “Bunga Penyihir”. Berlanjut hingga ke penemuan sapu tua yang secara tidak sengaja dengan keajaiban bunga tersebut membawanya ke atas permukaan awan dan terbang menuju Endor College, dari sini petualangan Mary sebagai penyihir pun dimulai.

Film yang 11/12 dengan Studio Ghibli

Dari segi animasi, Mary berhasil membawa kita ke dunia fantasi layaknya sebuah negeri dalam dongeng. Visual yang ditampilkan tentu saja menarik, bertemakan tentang sekolah penyihir ala Hogwarts lalu dikombinasikan dengan beberapa elemen yang terinspirasi dari film produksi Studio Ghibli seperti Ponyo, Howl’s Moving Castle, dan Laputa: Castle In The Sky. Film yang satu ini membuat kita bernostalgia dengan gaya animasi garapan studio tersebut. Tidak hanya itu, pengisi suara pun diisi oleh jajaran pemain film ternama seperti Hana Sugisaki, Ryunosuke Kamiki, Jiro Sato, serta musik pengiring yang menawan membuat film ini dibungkus dengan sangat menakjubkan.

Alur cerita yang sederhana layaknya sebuah dongeng

Mengikuti cerita aslinya, film ini dibawakan dengan alur cerita yang sangat klasik dan mudah ditebak. Di awal cerita, kita disuguhkan dengan flashback yang menjadi kunci utama dari film ini lalu pengenalan karakter hingga menjadi penyihir hebat cukup memberikan ekspetasi tinggi terhadap perjalanan cerita Mary. Dibalut dengan konflik anak-anak ala Petualangan Sherina serta gampang dicerna setiap kalangan juga menjadi poin plus film ini. Namun, dari aspek penokohan film ini masih kurang kuat dalam menarik minat penonton serta pengembangan cerita yang terkesan minimalis untuk skala film layar lebar.

Kesimpulan

Secara keseluruhan, film ini mengingatkan kita kepada petualangan masa kecil yang menyenangkan. Meliputi pencarian jati diri di mana karakter Mary pun direfleksikan sebagai anak kecil berjiwa petualang yang menginginkan sebuah kesempurnaan terhadap dirinya.

Walaupun plot dinilai simple dan perlu dikembangkan lagi, melihat dari sinematografinya kita dapat menaruh harapan kepada Studio Ponoc bahwa film ini adalah sebuah langkah awal yang tepat untuk menjadi penerus Studio Ghibli lewat karya-karya berikutnya.

Ulasan oleh Rinaldi



Rahmat Maulana Koto

Suka bahasa Indonesia dan lagu-lagu YUC’e.

Tinggalkan Balasan