Hai hai Riscomrades! Selamat datang kembali di rubrik Review Corner. Di edisi sebelumnya, kami telah mengulas salah satu anime bergenre olahraga, yaitu Harukana Receive. Bahasan kali ini masih seputar anime bergenre olahraga menggunakan jaring, tetapi kali ini menggunakan kok. Sudah tahu? Yap, kali ini kami akan memembahas anime Hanebado. Sebelum memulai impresi akhir dari penulis tentang Hanebado secara keseluruhan, ada baiknya membaca informasi singkat berikut ini.

Hanebado, dikenal juga dengan The Badminton Play of Ayano Hanesaki! atau Hanebad!, merupakan anime yang diadaptasi dari seri manga olahraga karya Kōsuke Hamada. Hanebado pertama kali diterbitkan di situs seinen manga yaitu Kodansha dan majalah good! Afternoon. Animenya ditayangkan pada tanggal 2 Juli 2018 hingga 1 Oktober 2018 dengan Shinpei Ezaki sebagai sutradara dan Taku Kishimoto sebagai penulis. Anime tersebut diproduksi oleh studio Liden Films.

Hanebado merupakan anime bergenre olahraga yang bercerita tentang Ayano Hanesaki yang memiliki kemampuan fisik dan talenta yang sangat hebat. Namun, entah mengapa ia tidak tertarik untuk mendalami olahraga badminton. Ayano kemudian bertemu dengan Aragaki Nagisa, senior kelas 3 yang berjuang keras untuk menjadi atlet bulu tangkis nomor satu.

Karakter

Nagisa Aragaki (CV: Miyuri Shimabukuro) merupakan siswi kelas tiga SMA Kitakomachi dan ketua ekskul bulutangkis. Saat mengikuti kejuaraan tingkat junior, ia mengalami kekalahan sangat telak atas Ayano Hanesaki. Ketika ia menjadi ketua klub bulu tangkis, ia melampiaskan rasa frustrasinya ke anggota baru yang memiliki potensi dalam bermain bulu tangkis. Meskipun begitu, ia adalah ketua yang pantang menyerah, meski cedera lutut mendera dirinya saat melawan Ayano Hanesaki di partai final.

Ayano Hanesaki (CV: Hitomi Owada) merupakan siswi kelas satu SMA Kitakomachi yang memiliki dua kepribadian. Di satu sisi, ia merupakan orang yang pemalu, sulit bergaul, dan kemampuan yang payah saat pertama kali bergabung di klub bulutangkis. Di sisi lain, sifatnya sangat dingin, mudah mengintimidasi lawan, dan mempunyai bakat terpendam yang luar biasa. Ayano pernah mempunyai masa lalu yang kelam, di mana ia ditinggal oleh ibunya ke Denmark bersama Connie dan tidak dianggap sebagai anaknya sendiri. Ia mengikuti kompetisi antarsekolah, meski pada akhirnya kalah dengan Nagisa dan memutuskan untuk tetap tinggal di Jepang, karena di negara itulah awal perjuangannya.

Elena Fujisawa (CV: Konomi Ohara) merupakan teman masa kecilnya Ayano Hanesaki dan manajer dari klub bulutangkis. Sejak kecil, ia melihat Ayano bermain bulutangkis bersama ibunya di pinggir lapangan. Namun, semenjak ibunya meninggalkan Ayano, ia selalu berada di sisi Ayano dan bahkan menyarankanya untuk bergabung di klub bulutangkis. Belakangan, saran itu menjadi keputusan yang salah, karena sifat Ayano berubah secara drastis saat mengikuti kompetisi.

Riko Izumi (CV: Yuuna Mimura) merupakan sahabat baik Nagisa dan wakil kapten tim bulu tangkis Kitakomachi. Riko dianggap seperti ibu dari timnya, di mana ia selalu mengkhawatirkan anggotanya termasuk rasa frustrasi pada Nagisa.

Kaoruko Serigaya (CV: Asami Shimoda) merupakan siswi dari SMA Konan, rival Ayano sejak SMP. Ia sangat percaya diri dan sombong. Dia awalnya membandingkan dirinya dan menyatakan bahwa orang lain hanya mengikutinya. Meskipun demikian, dia adalah orang yang tahu tentang Ayano, membantu untuk memahami kepribadiannya dan membuatnya menyadari bahwa dirinya ingin menjadi orang yang baik. Akhir kata, ia memberikan ikat rambut kepada Ayano untuk mengelap air matanya saat ia mengalami kekalahan.

Connie Christensen (CV: Mariya Ise) merupakan pemain bulutangkis asal Denmark yang dilatih oleh Uchika Hanesaki dan anggota dari klub bulu tangkis wanita Frederica. Connie bertemu Ayano di sungai dan ia memberitahu padanya bahwa Connie merupakan anak angkat dari Uchika Hanesaki. Ia bahkan ia memanas-manasi Ayano bahwa ibu angkatnya lebih menyayangi dirinya daripada Ayano.

Uchika Hanesaki (CV: Sayaka Ohara) merupakan mantan pemain bulutangkis profesional, serta ibu dari Ayano Hanesaki dan Connie Christensen. Awalnya, ia tidak berniat menjadikan putrinya sebagai pemain bulu tangkis. Namun, ia menyadarinya kalau suatu saat nanti Ayano menjadi pebulutangkis yang hebat sehingga ia melatihnya. Setelah melihat Ayano kalah dari Kaoruko, ia memilih meninggalkan Ayano demi mengurangi ketergantungannya dan saat kembali, ia malah menghindari Ayano karena malu dan rasa bersalah. Meski begitu, ia masih ada rasa perhatian pada Ayano sejak meninggalkannya.

Kentarou Tachibana (CV: Nobuhiko Okamoto) merupakan pelatih klub bulutangkis SMA Kitakomachi dan mantan pemain pebulutangkis yang hampir saja meraih medali emas di Olimpiade. Ia sangat jeli dalam hal kondisi pemainnya di lapangan dan merekrut pemain yang dianggap bersinar serta berprestasi.

Alur Cerita

Hanebado memilih genre olahraga sebagai pakem utama dalam membawakan ceritanya. Anime tersebut menekankan cerita yang penuh drama yang menguras emosi dan air mata, sekaligus memberikan pengetahuan seputar olahraga bulutangkis.

Cerita ini berfokus pada perjalanan Ayano Hanesaki yang menghadapi kehidupan yang dilematis, antara menyukai olahraga bulu tangkis atau karena demi membalasakan dendamnya kepada ibunya yang telah meninggalkannya. Selain itu cerita ini memiliki konflik yang sangat kuat, baik di dalam lapangan maupun di luar lapangan. Sangat disayangkan, anime ini hanya terhenti di kompetisi antar sekolah dan belum memasuki kompetisi Inter High.

Grafis

Grafis dari Hanebado terlihat lebih realistis. Eksekusi pengambilan gambar pergerakan bola kok sangat luar biasa serta perwarnaan pada karakter sangat baik terutama pada air keringat lebih realistis. Pemandangan yang dimulai dari gedung olahraga di sekolah maupun luar sekolah, toko-toko, dan sungai cukup baik.

Kesimpulan

Anime ini cocok untuk para penonton anime yang memiliki ketertarikan dengan bulu tangkis. Ceritanya yang penuh drama menyuguhkan permainan-permainan yang atraktif dan menarik sekaligus pengetahuan mengenai permainan bulutangkis.

Tulisan ini adalah opini pribadi dari penulis, tidak mencerminkan pandangan umum Risa Media. Penulisan oleh Deni Karisma.