Saya Mencoba Membuat Waifu di WaifuLabs, lalu Masuk ke CUSTOM ORDER MAID 3D2

Selesai sudah malam-malam penuh kesepian!

Setelah insiden #BlackOut yang menyerang Jakarta dan sekitarnya pada 4 Agustus kemarin usai, secara otomatis news feed facebook pribadi milik saya melakukan refreshPost yang berada di paling atas adalah share dari teman saya yang menunjukkan satu foto cewek anime yang cukup imut.

Tapi yang menarik perhatian saya sesungguhnya bukanlah ceweknya, melainkan caption yang terdapat pada postingan tersebut.

“Generate your waifu with waifulabs.com and post a picture of her in the comments”

APA!? WAIFU GENERATOR!?

Saya sebagai seorang (mantan) wibu, merasa sudah selayaknya untuk mencoba situs baru ini. Lalu, bagaimana pengalaman membuat waifu yang sesuai dengan selera pribadi ini?

Cukup menyenangkan!

Mereka yang Berada di Balik WaifuLabs!

Program menarik ini merupakan hasil kerja keras sekumpulan Mahasiswa dan teman-temannya. Mereka yang menamakan diri sebagai Sizigi Studios ini bermarkas di San Francisco.

Pada awalnya, WaifuLabs merupakan sebuah booth kecil di bagian Artist Alley pada event AnimeExpo, salah satu even anime terbesar di Amerika Serikat. Berbeda dengan WaifuLabs versi online, WaifuLabs versi booth menawarkan sesuatu yang unik: sertifikat adopsi waifu.

Ya, beneran.

Selain itu, untuk bisa mencoba Waifu Vending Machine tersebut, pengunjung event harus mengeluarkan uang sekitar $5 (Rp71.000). Hal ini dikarenakan mereka mengambil konsep artist commission, seperi yang sering kita jumpai di Comifuro *uhuk* dan beberapa event lokal lainnya!

Bedanya, alih-alih ada artist yang secara langsung menggambar, commission kita dikerjakan oleh AI.

Kalian bisa membaca lebih lanjut tentang hal-hal teknis dan pengalaman mereka selama berada di AnimeExpo melalui postingan blog mereka si sini.

Sekarang, waktunya saya mencoba membuat waifu!

Mari Membuat Waifu!

Setelah selesai loading, saya disambut dengan kalimat pengantar dari Sizigi Studios selaku developer dari WaifuLabs. Kita bisa mampir ke postingan blog dari mereka, atau langsung saja lanjut membuat waifu kalian.

Tanpa lama menunggu, saya langsung klik [Meet your dream waifu], yang setelah itu disambut dengan tutorial pendek tentang bagaimana cara menggunakan website ini. Pada dasarnya cukup mudah, langkah pertama adalah memilih template yang paling kita suka.

Disini saya memilih perempuan berambut hitam pendek sebagai dasar dari waifu yang saya inginkan. Setelah itu, saya diminta untuk memilih color palette yang saya inginkan — yang pada dasarnya berguna untuk mengubah warna rambut, mata, kulit, dan lain-lain.

Saya memilih warna rambut yang terang, sekaligus merubah warna matanya menjadi biru. Setelah itu, saya diberi pilihan untuk merubah model rambut, pakaian, dan lain-lain. Saya juga bisa memberikan macam-macam aksesoris di tahap ini.

Sempurna! Waifu saya sudah selesai! Di tahap terakhir ini, saya diminta untuk memilih pose dan penyempurnaan dari desain waifu yang saya inginkan.

Selesai! Setelah sampai di tahap terakhir ini, saya diberi pilihan apakah mau membeli cover bantal maupun poster dari waifu yang telah saya buat ini. Sayangnya, mereka cuma menyediakan pengiriman ke Amerika Serikat, Kanada, dan Jepang _| ̄|○.

Di sini saya juga bisa klaim waifu saya dengan binding mereka ke email pribadi, jadi setiap kali saya pergi ke WaifuLabs.com, saya akan melihat waifu yang telah saya buat sebelumnya.

Da~an, selesai sudah perjalanan kita membuat waifu! Apakah kalian tertarik juga untuk mencoba sendiri? Langsung saja pergi ke WaifuLabs.com!

Tapi… Saya belum puas. Saya ingin melakukan hal “lebih” dengan waifu yang baru saja saya buat. Disinilah saya tiba-tiba mempunyai ide brilian.

Hehe, boi.

Selamat Datang di Empire Club!

CUSTOM ORDER MAID 3D2 (COM3D2), atau yang saya sebut sebagai [email protected] adalah eroge yang rilis pertama kali pada 23 Februari 2018 secara eksklusif di Jepang. Satu tahun setelah itu, akhirnya KISS melalui S-Court merilis gim ini untuk pasar internasional melalui Steam, S-Court, dan satu portal lainnya yang tidak akan saya sebut namanya.

Saya sendiri sebagai orang yang telah berdosa membajak beberapa seri sebelumnya, merasa bertanggung jawab untuk membeli versi original nya sebagai penebus dosa. Akhirnya setelah rilis di Steam pada 31 Juli 2019 kemarin, saya secara langsung membelinya.

Protip: Apabila kalian membeli COM3D2 sebelum tanggal 6 Agustus 2019, kalian akan mendapatkan diskon 10%. Selain itu, karena kita tinggal di Indonesia, sistem Regional Pricing Steam memberikan kita harga spesial! Hanya Rp169.999 Rupiah saja! (sebelum diskon).

Kalian bisa langsung pergi ke halaman Steam nya di [SINI].

Cukup basa-basi, mari kita buat Hikari di dalam COM3D2!

Ah sial, imut.

Serunya COM3D2 adalah, kalian akan mendapatkan rute cerita khusus kepada maid yang kalian buat. Dan semakin sering kalian komunikasi dengan maid tersebut, kalian bisa semakin dekat dengan mereka.

Saya nggak akan banyak berbagi apa saja yang akan ada di dalam COM3D2, tapi rencana saya untuk membuat base karakter di WaifuLabs untuk kemudian diadaptasi di dalam COM3D2 cukup sukses! Mungkin kedepannya akan lebih gampang seperti ini daripada membuat karakter dari nol di dalam COM3D2.

Dengan ini selesai sudah perjalanan kita di WaifuLabs dan COM3D2! Apakah kalian tertarik juga untuk mencoba COM3D2? Kalau iya, langsung saja kalian beli gim ini melalui link [INI], dan ingat, apabila kalian membelinya sebelum 5 Agustus 2019, kalian akan mendapatkan diskon sebesar 10%!

Sampai bertemu di lain kesempatan!

Taro Yamada, Perwakilan Otaku di DPR Jepang

Taro Yamada, sosok yang memperjuangkan perbaikan kondisi industri anime telah memenangkan kursi dalam House of Concillors Jepang.

Taro Yamada, politisi sekaligus pemimpin dari Partai untuk Perlindungan Kebebasan Berekspresi, telah memenangkan kursi parlemen dengan jumlah pemilih yang impresif, yaitu sebesar 530.000 suara. Ia terkenal di berbagai sosial media sebab kampanyenya yang mementingkan isu-isu yang dekat dengan ‘otaku’ seperti kebebasan berekspresi dan privasi. (Catatan: Yamada terpilih sebagai anggota Sangiin, Upper House (seperti DPR) dalam sistem parlementer bikameral Jepang, dengan Shugiin sebagai Lower House (seperti DPD)

Dalam kampanyenya ini, Yamada menekankan pentingnya melawan situs-situs bajakan dan mendukung legalisasi dari karya-karya penggemar seperti doujinshi dan fanfiction. Ia juga menolak menerapkan undang-undang pornografi anak kepada anime dan manga.

Sebelumnya, Yamada adalah kandidat dari Partai Anda (pecahan sentris dari partai terbesar Jepang, LDP, yang bubar pada 2014) dan juga telah terpilih menjadi anggota senat.

Ia juga telah mengkampanyekan pentingnya perbaikan atas kondisi lingkungan bekerja dalam industri animasi Jepang. Baginya, industri animasi mungkin hanya berisi 5000 orang, tapi mereka yang menyukainya, para otaku di Jepang maupun sedunia, berjumlah jauh lebih banyak dan harus mendapatkan kekuatan politiknya sendiri. Selain itu, ia turut memperjuangkan hak-hak kaum disabilitas, dan hak bagi orang-orang Jepang untuk mempertahankan nama marganya setelah pernikahan.

 

Mewakili Industri Anime dan Otaku Jepang

Representasi adalah fungsi kunci dalam negara yang memiliki asas demokrasi. Setiap warga negara harus diwakilkan suara, aspirasi, kesulitan, maupun keinginannya dalam lingkungan politik yang lebih tinggi. Taro Yamada digadang-gadang dapat menjadi penyambung lidah para otaku dan mereka yang berada dalam industri anime dan manga di Jepang.

Mangaka sekaligus aktivis kebebasan berpendapat Ken Akamatsu telah mencuit dukungannya, mengatakan “Dengan ini, kita seharusnya bisa menjaga inisiatif partai pemimpin untuk mengatur anime dan manga”. Meskipun begitu, ia waswas terhadap rasa puas yang sementara, menambahkan, “Yang menakutkan adalah tekanan dari luar. Topik sensitif seperti fair use (dalam hak cipta, red) akan muncul lagi, maka kita harus tetap terlihat dalam diskusi.”

Sumber: ANN

Stop Romantisme Berlebih Terhadap “Yandere”

Dengan adanya Romantisme berlebih terhadap Yandere Yuka Kemarin, Tim Penulis Risamedia memutuskan untuk melihat lebih dalam terhadap fenomena aneh ini

Mungkin anda pernah mendengar cerita ini, orang menusuk pacarnya berkali-kali sampai pacarnya berdarah-darah keluar lift dan harus segera ditolong medis kalau tidak ingin meninggal dunia. Iya, ini adalah cerita dari Yuka Takaoka, seorang wanita yang dijuluki sebagai Yandere dalam dunia nyata yang menusuk pacarnya hingga hampir meninggal. Dalam dunia yang ideal, harusnya diberlakukan sebagaimana kita memberlakukan para pelaku KDRT, pelecehan seksual, perundungan, atau pemerasan. Harusnya. Persamaannya: mereka sama-sama kriminal, yang, apapun masalahnya, jelas merugikan orang lain secara fisik maupun emosional.

Yuka Takaoka Yandere di Dunia Nyata
Yuka Takaoka saat di tangkap kepolisian Jepang

Tetapi yang berbeda memang, pada saat konferensi pers polisi, Yuka memang berparas menarik. Postur dan rupanya menawan. Komentar-komentar langsung berdatangan: “kalau si cantik rupawan itu yang menusuk saya, ya tidak apa-apa”, Atau beberapa orang yang ingin gadis itu menjadi pasangannya. Bahkan ada yang menggalang dana agar perempuan itu bisa menebus hukuman, agar Yuka tak masuk penjara, jika anda salah satu dari orang tersebut coba kita lihat lebih lanjut akan fenomena ini. Fenomena dimana orang seringkali meromantisasi hal yang tidak pada tempatnya

Romantisme yang Tidak Pada Tempatnya

Romantisme yang tidak pada tempatnya ini merupakan hal yang tidak benar dan bukan hal baru. Kasus serupa tidak hanya dijumpai sekarang, namun pada banyak kasus dimana guru wanita, SMP atau SMA, ditangkap karena melakukan hubungan seksual dengan murid laki-lakinya yang notabene bawah umur, selalu saja ada komentar tidak pantas yang ingin diperlakukan serupa oleh pelaku pemerkosaan itu. Kuncinya, kasus harus soal romansa atau seksualitas, dan pelaku harus bertampang rupawan nan menawan.

Manusia memang punya masalah dengan meromantisasi para penjahat. Ini bukan kasus baru, sejak Bonnie & Clyde satu abad lalu yang secara sistematis merampok dan membunuh di Amerika, lantas dipuja-puja dalam popkultur melalui banyak saduran film maupun potret, sampai baru-baru ini saja ketika pembunuh berantai Ted Bundy dilayarlebarkan oleh Netflix melalui Extremely Wicked, Shockingly Evil, and Vile dimana meskipun film itu menakjubkan, respon beberapa penggemar mengkhawatirkan: meromantisasi sang pembunuh.

Romantisasi jadi kata kunci. Dengan alasan-alasan sosio-psikologis yang terlalu panjang untuk dijelaskan di sini, entah kenapa manusia seringkali mendambakan diri untuk melakukan hal-hal yang kejam dan mengerikan. Memang alasan-alasannya tidak mengejutkan, salah satunya karena di dunia nyata yang membosankan tapi tetap tidak beres, orang yang tidak punya kuasa apa-apa seringkali menginginkan balas dendam yang hanya ditahan oleh norma-norma sosial, nilai-nilai moral, dan kode hukum negara. Maka hal-hal yang dilakukan oleh para penjahat memiliki hal-hal yang diinginkan. Kali ini, mungkin yang diinginkan adalah figur perempuan yang posesif, obsesif, dan selalu dekat dengan kita, sampai-sampai memastikannya dengan menodong pisau atau mengancam bunuh diri.

Iya Ini untuk Kamu Para Wibu yang Meromantisasi Wanita Ini!

Artikel ini bukan diuntukkan bagi mereka yang sudah paham, tapi justru mereka yang masih ingin punya pacar macam yandere tadi (para “wibu” payah betul soal ini, sejak Yuno Gasai persoalan ini nggak selesai-selesai).

Pertama,  pahami konsep kekerasan domestik atau abusive relationship. Apa yang dilakukan “yandere” tadi, dan beberapa “yandere” lain di anime, jadi nggak keren karena dia memanipulasi keinginan dari pasangannya, secara fisik maupun verbal. Caranya bisa macam-macam, dan menusuk langsung dengan pisau memang cara yang paling ekstrem, tapi banyak cara lainnya: berbohong, mengancam akan menyakiti diri, mengancam bunuh diri, menghina dan merendahkan, meminimalkan peran pasangan, berusaha mengetahui segala hal yang dilakukan pasangan (seperti riwayat sosial media atau pembelian), mengontrol tindakan pasangan (yang paling sederhana, seperti tidak membolehkan berteman dengan laki-laki/perempuan lain), dan gaslighting (memanipulasi pasangan sampai ia mengira dirinya salah, padahal benar). Karena pada dasarnya hubungan  merupakan sesuatu yang mempunyai timbal balik antara satu sama lain, bukan dengan memaksakan kehendak kepada 1 pihak saja.

Mengapa ini penting? Sebab kekerasan domestik sering sekali terjadi di Indonesia. Di sekeliling anda. Sifat-sifat “yandere” perempuan tadi sering dilakukan di sekitar kita, lebih sering oleh laki-laki terhadap istrinya. Takutnya, kalau “yandere” ini saja masih dicintai, bagaimana kita bisa menjaga para korban atau calon korban kekerasan dalam rumah tangga di sekitar kita?

Kedua, pasangan yang penuh kasih sayang dan selalu ingin bersama tidak selalu ciri khas seorang yandere, bahkan hal ini merupakan hal yang wajar. Menjadi tidak wajar adalah ketika hal tersebut menjadi sebuah obsesi. Hubungan dengan dasar Obsesi bukanlah hal yang baik, Jika hal ini terjadi dengan anda, segeralah konsultasi dengan pihak ke tiga karena hal bukanlah hal yang cute. Pria-pria tampan di manga shoujo yang cenderung posesif, obsesif, dan suka stalking orang yang disukainya juga termasuk orang-orang yang melanggar norma yang berlaku, layaknya baginya untuk dilaporkan segera ke polisi.

Konsekuensinya bisa membahayakan. Para perempuan bisa jadi menginginkan orang-orang abusif dan berkelakuan buruk, atau laki-laki bisa merasa boleh melakukan hal-hal seperti itu dalam berpasangan. Kita juga jadi lebih tidak awas terhadap kekerasan domestik yang terjadi di sekitar kita. Lebih parah lagi, bisa jadi beberapa, seperti dalam kasus ini, bukannya bersimpati dan membahas korban, justru bersimpati dan membahas pelaku.

Ketiga, jika kalian bertanya tanya kenapa ada orang yang memiliki hubungan yang “aneh” seperti hubungan BDSM dan macam lainnya. Kunci pada hubungan ini adalah pada konsen yang diberikan pada kedua belah pihak sebelum masuk ke tahap ini. Pasangan yang melakukan ini biasanya merupakan pasangan yang menginginkan sebuah percikan dalam hubungan mereka. Apapun yang mereka lakukan adalah dengan persetujuan atau konsen kedua belah pihak, jadi tidak ada pihak yang disakiti dalam melakukan hal tersebut.

Kesimpulan dari hal ini semua adalah, tolong bedakan antara hal yang anda biasa konsumsi (bersifat fana) dan dengan hal yang nyata seperti ini. Hubungan itu adalah hal yang bersifat timbal balik, bukanlah dengan paksaan. Jika ada orang dalam hubungan yang tidak kondusif hendaklah untuk membawanya ke psikiater untuk menyelamatkan orangnya dan hubungan mereka (jika masih bisa di selamatkan). Mungkin sajakah orang yang mendukung Yuka adalah orang yang belum pernah dalam hubungan? atau mungkin jika anda memang sudah berhubungan atau sedang dalam hubungan, pernahkan anda membayangkan jika Anda yang terbaring di rumah sakit dengan luka tusuk dan pacar anda yang menusuk anda kini mendapat atensi secara positif dari dunia internasional?

Apakah mungkin kamu harus merasakan begini dulu baru mengerti?

Penulis : Muhammad Naufal
Editor: Dimas Andaru Kusumo

Kenyataan Pahit Dibalik Anime “Sewayaki Kitsune no Senko-san” dan “Shirobako”

Produksi Anime Jepang yang tidak seindah "Shirobako" dan semakin maraknya black company yang mengincar anak muda, Fenomena apa yah yang sedang marak di jepang

Sewayaki Kitsune no Senko-san dilatarbelakangi oleh konflik yang menyertai para pekerja di seluruh dunia: Nakano dipekerjakan terlalu banyak oleh perusahaannya sampai kelelahan dan hampir kolaps, sebab ia bekerja untuk black company dan industri yang eksploitatif. Artikel ini akan memaparkan secara singkat bahwa yang dibutuhkan Nakano adalah serikat pekerja yang memperjuangkan hak-hak universal pekerja atau standar pemenuhan kondisi pekerja bagi para perusahaan.

Selain Senko-san, Nakano pun Butuh Serikat Buruh

Jika anda belum pernah mendengar Black company sebelumnya, ialah para perusahaan di Jepang yang memiliki jam kerja terlalu lama, lembur yang terlalu panjang dengan minim kompensasi, serta menjadi subjek tekanan yang berat jika tidak mampu menyelesaikan pekerjaannya yang terlalu banyak.[1] Segala bentuk ‘ketidakpatuhan’ junior pada senior di Jepang, secara kultural, adalah tabu. Oleh karena itu, black company menyasar anak-anak muda yang baru saja lulus kuliah, lantas putus asa ingin mendapatkan pekerjaan full-time. Dengan merekrut anak muda dalam jumlah yang banyak, para perusahaan memberikan tekanan sebanyak mungkin sebab kekuataannya jauh lebih di banding para pekerja, dan jika sang pekerja baru ini mengundurkan diri, black company tinggal akan mempekerjakan pemuda yang lain lagi.

Nakano selamat dan mampu bertahan sebab ia, karena satu dan lain hal, didukung oleh Senko-san, yang: Abadi, dapat melakukan hal-hal yang ajaib dalam mengurus rumah tangga, dan mampu menjadi pendengar dan penenang yang baik bagi segala kesulitannya. Yang perlu diperhatikan adalah, Senko-san bukan manusia, ia makhluk supranatural. Ia eksklusif milik Nakano seorang, dan tidak bisa didapatkan kolega-koleganya di black company tadi.

 

Anda akan banyak melihatnya hari ini. Secara stereotip, dicirikan bahwa perjuangan pekerja atau buruh diidentifikasikan dengan demo dan permintaan kenaikan Upah Minimum Regional (UMR), dengan segala tuduhan atasnya. Tetapi bukan hanya itu, gerakan pekerja dan serikat pekerja telah memperjuangkan apa yang kita nikmati sekarang: hak cuti, termasuk cuti hamil dan melahirkan, batas jam kerja, hak istirahat, dan kewajiban perusahaan untuk melindungi pekerjanya.

Nakano berhak mendapatkannya. Selain Senko-san, ia, berdasarkan Konstitusi Jepang, berhak untuk bergabung dalam serikat pekerja dan melaksanakan aksi kolektif untuk menuntut hak-haknya. Ia mungkin bisa bergabung dalam Black Company Union, suatu serikat pekerja di Jepang yang secara spesifik menaungi mereka yang berada di dalam black company. Dengan itu, ia bisa melakukan hal-hal lebih dengan Senko-san, dan tak harus melulu soal dukungan materi dan emosional setelah ia harus bekerja lebih tanpa tidur selama beberapa hari.

Tetapi di dunia nyata memang para pekerja di Jepang akhirnya berharap memiliki Senko-san nya sendiri-sendiri. Dan ketika saya mengatakan ‘pekerja’ atau ‘buruh’ bayangan anda mungkin buruh pabrik atau pekerja upahan di perusahan-perusahaan—namun ini keliru. Buruh, seperti kata Marx, adalah semua orang yang memproduksi, yang memakai alat produksi, tetapi tidak secara langsung memilikinya. Ini termasuk orang-orang yang bekerja di ruang kantor ber-AC di bilik kantor, dan termasuk di dalamnya, para animator yang mendesain dan mengerjakan anime yang anda konsumsi.

Anime dan Hak-hak Pekerja yang Tidak Dipenuhi

Industri Kreatif Jepang yang Tidak Seindah Shirobako

Sebagai penikmat Anime Jepang, tentu kita selalu membayangkan jika bekerja di dunia kreatif anime akan seindah anime “Shirobako” dimana semua terlihat seru dan seakan-akan adalah sebuah pekerjaan impian, namun pada kenyataannya banyak eksploitasi yang dilakukan oleh studionya kepada pekerjanya terutama para animator. Eksploitasi animator di Jepang adalah rahasia umum. Di balik kecanggihan kualitas animasi ufotable dan ketinggian tingkat frekuensi pengeluaran karya oleh studio A-1 Pictures, sebenarnya bukan nama-nama itu sendiri yang mengerjakannya secara langsung, melainkan ratusan, mungkin ribuan animator tanpa-nama, tanpa-credit, yang dipekerjakan sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya: lembur tanpa bayaran dan jumlah pekerjaan yang terlalu banyak.[2] Untuk mengilustrasikan, mari melihat kasus-kasus yang pernah ramai sebelumnya.

Yang baru saja terjadi adalah animator untuk studio MADHouse yang kolaps setelah berhari-hari bekerja nonstop tanpa istirahat untuk menyelesaikan tugasnya.[3] Ia lembur sejumlah hampir 400 jam dalam sebulan, empat kali batas yang diperbolehkan pemerintahan Jepang. Setelah ia kolaps dan dilarikan ke rumah sakit, esoknya ia langsung untuk diminta mengulangi pekerjaannya untuk ‘memenuhi standar kualitas’, dan ketika pekerjaan tersebut terselesaikan, para petinggi MADHouse mengira bahwa tidak ada permasalahan apa-apa. Ia terus bekerja, setengah sakit, selama dua bulan sebelum akhirnya sembuh dan mengikuti serikat pekerja Black Company Union. Cerita yang lebih buruk terdengar beberapa tahun lalu dengan salah satu animator A-1 Pictures yang bunuh diri, dan secara langsung Jepang mengutip ‘kondisi bekerja yang buruk untuk para animator’. [4] Ini diamini testimoni yang berserakan di mana-mana selama beberapa tahun silam, seperti milik animator Jojo Bizzare Adventure, dan pegawai Studio Pierrot.[5]

Kisah-kisah ini bukan merupakan kejadian terpisah namun bagian dari budaya yang sama. Studio seringkali dikritik sebab menghasilkan terlalu banyak anime—ada berapa banyak anime setiap musim?— paling terkenal di antaranya adalah A1 Pictures—yang para karyawannya seluruhnya berstatus paruh-waktu namun bekerja penuh. Bayaran kadang-kadang jauh kurang dari apa yang sudah dihasilkan, dan semua anime yang kita dan orang Jepang konsumsi bersender pada pekerjanya yang ‘bekerja sesuai passion’

Head Office Kyoto Animation Studio

Hanya ada segelintir studio yang memberikan fasilitas mumpuni, membayar penuh dan melatih para animator muda, salah satu di antaranya Kyoto Animation.[6] Anda dapat perhatikan bahwa KyoAni tak memiliki anime setiap musim. Satu, atau dua per tahun cukup bagi mereka, sebab hanya jumlah itu lah yang mampu dikerjakan dalam waktu dan kondisi yang manusiawi. Toh, dari segala fasilitas dan dukungan itu tidak lantas pegawai KyoAni menjadi pemalas dan bekerja setengah hati. Kita melihat hasil dari lingkungan kerja animator yang baik: Violet Evergarden, Hibike! Euphonium, Tamako Market, Free!, dan lain sebagainya, adalah anime kelas wahid.
Ketika animator MADHouse kolaps dan animator A-1 Pictures bunuh diri, beban kerja yang ditekankan pada mereka adalah untuk membuat anime yang anda tonton di waktu senggang. Batas minimum yang bisa kita lakukan adalah memahami, apalagi di budaya kita yang sekali dua-kali masih belum memahami susahnya menjadi pekerja di industri kreatif. Setidaknya dapat dikembangkan pemahaman bahwa pada setiap anime yang kita tonton dan idol yang kita dengar dan lihat, terdapat praktik-praktik yang tak selucu Hinamatsuri dan tak seindah senyum personil AKB48.

Perlunya Ada Perubahan

Eksploitasi terhadap para pegawai di Jepang ini merupakan cerminan yang buruk terhadap industri secara keseluruhan dan hal ini perlunya ada perubahan untuk menjamin kesejahterahan para pegawai di Jepang. Perubahan bukanlah hal yang instan, namun perubahan dilakukan secara berkala dan menjadi sebuah proses yang tidak berhenti karena kita ingin selalu ingin menjadi lebih baik. Jepang baru saja berganti era dan bertepatan dengan hari buruh internasional, semoga dengan adanya perubahan di Jepang juga bisa untuk memperbaiki masalah sosial ini, karena harapan kami adalah para pegawai yang kini aktif terdaftar di perusahaan Jepang, dapat mempunyai senyum yang sama dengan senyumnya mama rubah yang berumur 900 tahun ini.

Sebuah senyum yang siap menghangatkan hati anda

 

 

Tulisan ini adalah opini pribadi dari tim penulis kami, tidak mencerminkan pandangan umum

Penulis: Muhammad Naufal
Editor: Kibar Kaloka
Editor 2: Dimas Andaru Kusumo

Mengapa Kita Ber-Waifu dan Mengapa Kita Sering Sekali Menggantinya

Esai ini melingkupi banyak sekali fenomena. Per-waifu-an dan mengapa kita sering kali bosan, mengapa doujin cepat sekali muncul, mengapa segala hal kita moe-fikasi dan akhirnya kita bawa ke ranah R18, dan lain sebagainya. Mohon dibaca sampai selesai—saya yakin ini akan setara dengan waktu yang akan anda habiskan.

“Cinta adalah memberikan sesuatu yang tidak seseorang miliki…kepada mereka yang tidak menginginkannya,” ujar Jacques Lacan atas cinta.

Pelekatan Narsistik

Dalam bentuknya sendiri, menurut Lacan, cinta memiliki struktur yang narsistik. Sebab apa yang seseorang cintai dalam sebuah hubungan sebetulnya bukanlah sang pasangan itu sendiri, melainkan fantasi atas sang pasangan yang muncul di dalam dirinya.

Anda tidak mencintai seseorang, misal, sebab ia merupakan perwujudan nyata dan objektif dari kecantikan murni, melainkan karena anda melekatkan sifat ‘cantik’ pada unsur-unsur yang pasangan anda miliki—semisal gigi gingsulnya atau rambutnya yang terurai sebahu (lihat fetish corner kami untuk informasi lebih lanjut)—di mana proses pelekatan (atau penandaan, lebih tepatnya) ini didasari sepenuhnya atas fantasi dari benak anda. Contoh lain: berbagai macam subgenre fetish yang ada dalam anime, misalnya.

Hal ini terjadi sebagaimana digambarkan dalam kisah Narcissus, di mana Echo yang mencintainya tidak pernah hadir melainkan hanya sebagai bayangan Narcissus di permukaan danau, dan yang dicintai olehnya pun sebenarnya bayangan dirinya sendiri, bukan Echo. Perihal ini (narsisme cinta) dapat dipahami, mudahnya, karena keinginan untuk mencintai hadir bersamaan dengan keinginan untuk dicintai. Namun, pemahaman lain yang kemudian juga bisa kita dapatkan adalah bahwa figur sang pasangan tidak pernah memiliki tempat yang murni di dalam struktur cinta anda. Anda sama sekali tidak memiliki cinta yang murni untuk diberikan, dan ketika anda mencintai seseorang, maka apa yang anda berikan sebetulnya adalah ”kekosongan yang tidak terisi” itu tadi.

Yang perlu anda pahami selanjutnya adalah pelekatan fantasi anda terhadap figur pasangan anda—pacar betulan ataupun 2D—tidak berhenti hanya pada fitur-fitur fisik yang ia miliki melainkan juga mencakup bagaimana ia secara utuh hadir di hadapan anda. Bagaimana ia berekspresi dan mengutarakan perasaannya melalui kata-kata, semua itu anda interpretasikan dengan fantasi anda sebagai moda utama untuk menerjemahkan bagaimana pasangan anda menginginkan diri anda untuk bersikap.

Penyesuaian Fantasi?

Maka yang terjadi selanjutnya adalah proses penyesuaian diri anda untuk bersikap sesuai dengan fantasi anda terhadap permintaan pasangan anda. Pemenuhan permintaan ini kemudian dapat pula disadari sebagai hal yang tidak murni, sebab apa yang kita penuhi adalah fantasi kita, bukan permintaan itu sendiri.

Apa yang kita berikan, karenanya, bukanlah apa yang benar-benar diinginkan pasangan kita.

Tentu, kita dapat melihat bagaimana permintaan itu tercukupi, dan kemudian pasangan kita mungkin terpuaskan, tapi ketercukupan tidak sama dengan keterpenuhan. Ada ruang-ruang ketidaksempurnaan yang mungkin tidak terisi dalam ketercukupan, dan sebagaimana yang kita sering dengar, ketidaksempurnaan ini hadir karena kita hanya manusia.

Namun, walaupun cinta yang kita jalani adalah sebuah kecacatan, hanya dari kecacatan itu pula kerisauan dan spontanitas dari cinta dapat kita rasakan. Cinta yang menggairahkan karenanya seringkali hadir dalam ketidaksempurnaan konstan yang, naasnya, senantiasa diupayakan dan kesempurnaan cinta yang terpenuhi justru seringkali berakhir pada kedataran yang dianggap menjemukan. Sebagaimana Bruce Fink ungkapkan: anda tidak dapat menginginkan kembali apa yang sudah anda miliki–dan karenanya cinta sarat ditandai dengan “lackness“, yang mungkin dapat kita anggap pula sebagai hal yang menjelaskan kenapa orang-orang seringkali bercerita bahwa mereka jatuh cinta justru terhadap yang tidak dapat mereka miliki (baik secara figuratif maupun harafiah).

Marilah kita tidak membatasi diri dalam membahas persoalan cinta ini sebagai hal di antara dua insan manusia tiga dimensi. Dalam dunia yang dipenuhi tanda (sign) dan penandaan (signification), kita dapat menemukan orang-orang yang larut sekaligus secara aktif bertindak dalam fenomena penandaan ini, yaitu otaku.

Tentu, hal yang akan penulis paparkan selanjutnya dapat dilekatkan kepada orang-orang yang secara umum bergerak di bidang animasi, namun penulis memilih untuk menggunakan otaku sebagai contoh semata untuk menyiratkan adanya fetisisme terhadap suatu produk kultural.

Manifestasi Penandaan

Para otaku secara signifikan berkarya dalam proses penandaan melalui penciptaan karya-karya baru, atau replikasi berbentuk parodi (doujin dan parodi AV termasuk di dalamnya) dan homage, atau proses brikolase—penciptaan dari berbagai macam hal—dari hal-hal lumrah yang kita temui dalam kehidupan sehari-hari ke dalam sebuah karya yang digambarkan dalam istilah ‘anime-fikasi’ atau ‘moe-fikasi’.

Misal, dari foto black hole yang sungguh blur itu, ditambah fantasi para kreator, dapat menjadikan hal-hal luar biasa yang anda lihat kemarin. Atau bumi, bowser, sel darah merah, platelet…

Namun, kemampuan mereka (para otaku–red) untuk menciptakan karya yang merupakan manifestasi dari fantasi mereka seringkali menyebabkan mereka berujung larut di dalamnya, sama seperti Narcissus yang pada akhirnya tenggelam ke dasar danau. Narcissus hanya tenggelam sendirian, sementara karya yang terpublikasi juga ikut menenggelamkan para otaku yang tergolong “hanya penikmat” ke dalam fetisisme terhadap manifestasi dari fantasi para pembuat konten. Maka hadirlah: fenomena waifu dan husbando.

Fenomena kemunculan figur istri dan suami imajiner ini uniknya tidak dapat serta merta disamakan dengan percintaan yang hadir di antara dua insan manusia, walaupun secara struktur memiliki hal-hal yang kurang lebih sama: subjek, fantasi, kekosongan, dan objek.

Hal ini dikarenakan dari segi kenampakan, ada budaya gamblang yang mudah diidentifikasi: bahwa ketertarikan seseorang terhadap figur istri atau suami imajiner yang dicintainya (tersirat dari penggunaan istilah “waifu” dan “husbando“) tidak pernah disertai dengan keinginan gamblang untuk berkomitmen, dan karenanya, para otaku seringkali dengan mudah mendeklarasikan banyak karakter sekaligus sebagai “pasangannya”, atau dengan cepat berganti dari satu karakter ke karakter lainnya.

Di mana hal ini, yang terjadi di antara hubungan manusia dengan karakter animasi, masih tergolong tabu apabila terjadi dan diutarakan secara gamblang dalam kaitannya dengan hubungan antar manusia.

Konsekuensi dari Fantasi Anda

Dalam dunia nyata anda tidak bisa ganti pasangan tiap season, menyenangi karakter-karakter Wataten akan melandaskan anda di penjara, dan mempunyai harem akan menyamakan anda dengan orang-orang yang berpoligami untuk tujuan lain-lain.

Selanjutnya, tentu kita akan bertanya, apakah keberanian untuk melintasi batasan tabu dalam struktur sosio-kultural ini menandakan bahwa para otaku terdiri atas orang-orang yang tidak beradab?

Kemungkinan akan hal tersebut tentu tetap ada, namun dengan menggunakan Lacan sebagai pisau analisis, penulis menawarkan kemungkinan lain: bahwa keberanian untuk melintasi batasan tabu ini hadir karena para otaku terlempar ke dalam jurang teritori kultural yang tidak pernah terjamah/tersadari hingga saat ini, karena fantasi, yang mereka canangkan dalam hubungan antara diri mereka dan figur animasi yang mereka “cintai”, untuk menjaga batin mereka tidak mampu mereka pertahankan.

Hal ini dikarenakan ucapan, yang merupakan manifestasi dari keinginan terdalam suatu individu, tidak pernah hadir dalam tokoh animasi: ucapan sang tokoh yang dicintai selalu merupakan ucapan orang lain, entah itu sang penulis maupun para aktor suara. Oleh karenanya, tatkala seorang otaku menyesuaikan dirinya demi memenuhi keinginan tokoh yang dicintainya, ia dihadapkan pada kenyataan pahit: yang ia laksanakan bukanlah keinginan sang tokoh sebagai “the significant other” melainkan keinginan orang lain di baliknya, dan karenanya, kebahagiaan tokoh animasi yang ia cintai tidak pernah ada.

Frustrasi akan ketidakmungkinan sang tokoh yang dicintai untuk bahagia, mendorong para otaku untuk mencari tokoh lain untuk dicintai. Pada akhirnya, cinta (love) berubah menjadi hasrat (desire) yang tak akan pernah terpuaskan. Maka waifu selalu diganti, doujin selalu cepat bermunculan, karakter tahun lalu menjadi membosankan dan perlu di-‘gambarkan-ulang’ kembali.

Sebagaimana kata Lacan, “What does it matter how many lovers you have if none of them gives you the universe?”

Namun demikian, sebagai penutup, Lacan sendiri berargumen bahwa tidaklah mungkin bagi seseorang untuk mengatakan apapun yang berarti dalam kaitannya tentang cinta, karena tepat di saat seseorang membicarakan cinta, seseorang jatuh dalam kedunguan. Yah, mau bagaimana lagi, seperti kata Ali dePraxis dari situs humor mojok.co: “Perihal cinta kita semua pemula. Perihal rindu kita semua pecandu.”

Ditulis oleh R. Achmad Yusuf dengan catatan dari Naufal Hanif.

Lagu Pembuka dan Penutup CAROLE &TUESDAY Umumkan Tanggal Perilisan

Video musik dari lagu pembuka anime CAROLE & TUESDAY telah ditampilkan, serta pengumuman tanggal perilisan dari lagu pembuka dan pentupnya.

Video musikal dari lagu pembuka anime CAROLE & TUESDAY – Kiss Me – telah dirilis. Lagu ini dinyanyikan oleh penyanyi dari CAROLE & TUESDAY yaitu Nai Br.XX dan Celeina Ann, yang telah dipilih dari Global Singers Audition.

Lagu pembuka “Kiss Me” diproduksi oleh Nulbarich, grup yang sedang populer dan melakukan penampilan pertamanya di Japanese Music Program – Music Station. Pada lagu ini menampilkan Celeina Ann, yang memainkan gitar Gibson Hummingbird, dan Nai Br.XX, bernyanyi bersama seperi pada adegan dalam anime CAROLE & TUESDAY.

Video musik dari “Kiss Me” dapat Anda lihat di link berikut: https://youtu.be/k45EpgweT9o

Selain itu, telah diumumkan juga bahwa CD yang berisi lagu Pembuka “Kiss Me” dan Penutup “Hold Me Now” (Diproduksi oleh Dutch Pop Sensation Benny Sings) akan dirilis pada 29 Mei 2019 dalam format digital dan analog.

Kelompok Komposer yang ikut berpartisipasi juga telah diumukan:

Lotus Cat, merupakan tokoh pada musik kontemporer dan ketua dari LA Beat Scene.

Thundercat, merupakan seorang bassis terampil dan senima berbakat yang sedang terkenal, serta meningkatkan popularitas pada Black Music.

G.Rina, seorang perempuan yang merupakan penyanyi dan penulis lagu jepang, beat maker, dan DJ. Dirinya aktif di berbagai bidang, mulai dari menyediakan musik untuk artis seperti, Asako Toki dan Negicco hingga kolaborasi dengan Tofubeats dan Chinza Dopeness.

Maika Loubté, merupakan penyanyi dan penulis lagu yang sedang naik daun, yang juga memproduksi musik untuk iklan fashion termasuk Shu Uemura dan Agnes B.

☆Taku Takahashi(m-flo), seorang pembuat lagu m-flo dan produser musik yang telah membuat lagu untuk artis seperti, Taichi Mukai dan Miliyah Kato. Dia juga bertanggu jawab atas soundtrack untuk anime “Panty and Stocking with Garterbelt” dan telah membuat lagu untuk Shinichiro Watanabe di anime “Space Dandy”.

Bersamaan dengan berita ini, video promosi yang menampilkan jajaran komposer juga telah dirilis yang bisa Anda lihat di https://youtu.be/jJ6QCaqCC5g.

Komposer saat ini sudah menjadi daftar yang luar biasa, namun untuk kedepannya akan lebih banyak diumumkan komposer baru. Jadi, Anda bisa menantikan hal tersebut. Anime CAROLE  & TUESDAY akan merilis episode 1 nya minggu depan, berisaplah untuk suguhan anime yang berbeda ini.

Informasi
Opening theme song “Kiss Me” / Ending theme song “Hold Me Now”
Vocals by Nai Br.XX & Celeina Ann
Release Date: May 29 (Wed)

(C) BONES, Shinichiro Watanabe/Project CAROLE & TUESDAY

Tracks:
1. Kiss Me Lyrics, composition, arrangement: Nulbarich
2. Hold Me Now Lyrics, composition, arrangement: Benny Sings3. Kiss Me TV size ver.
4. Hold Me Now TV size ver.

 

* Available on iTunes Store
* CD: 1,300+tax (VTCL-35302/POS:T4580325 328578)
* Record: 2,000+tax (VTJL-2)

Artikel ini merupakan rilis pers dari pihak penyelenggara

Anime Aksi Musim Semi 2019

Ingin beranjak dari yang santai-santai? Haus akan aksi? Musim semi 2019 kali ini juga menghadirkan banyak anime penuh aksi!

Di musim semi kali ini seperti biasa muncul anime-anime shounen yang penuh dengan aksi, sci-fi, dan misteri. Untuk spring 2019, terdapat beberapa anime lanjutan maupun baru, seperti Shingeki no Kyojin Season 3 Part 2, One Punch Man Season 2, dan Bungou Stray Dogs Season 3, serta serial baru Kimetsu no Yaiba.

Shingeki no Kyojin Season 3 Part 2

Action, Drama, Fantasy

Intrik sosial-politik dan drama dalam Shingeki no Kyojin belum selesai. Melanjutkan kisah selanjutnya, Eren, Misaka, dan Armin bersama dengan Survey Corps berusaha merebut kembali Shiganshina yang hancur oleh serangan Titan sebelumnya. Dijadwalkan untuk memiliki sepuluh episode dan diproduksi oleh Wit Studio (Koutetsujou no Kabaneri, Mahoutsukai no Yome). Episode pertama akan muncul pada 29 April 2019 dan akan ditayangkan di Netflix serta layanan streaming lainnya.

Seperti sebelumnya, Mikasa akan diperankan oleh Yui Ishikawa; Eren oleh Yuuki Kaji; Armin oleh Marina Inoue; dan Levi oleh Hiroshi Kamiya.

PV: https://www.youtube.com/watch?v=fJm2nD3cv_4

One Punch Man Season 2

Action, Sci-fi, Comedy

Saitama dan kawan-kawan kembali pada musim ini mengikuti sukses pertama season pertamanya empat tahun lalu. Setelah season tersebut mendapatkan tanggapan positif secara luas, OPM dengan cepat mendapatkan konfirmasi untuk season keduanya, tetapi produksi tertahan selama dua tahun sebab alasan yang tidak diketahui. Studio produksi untuk season dua ini berganti dari Madhouse, yang menggarap season pertamanya, menjadi JC Staff.

Melanjutkan alur cerita yang belum rampung sebelumnya, season kali ini akan meliputi Human Monster Saga dari manga-nya, meliputi Garou’s Introduction, Blizzard Group Arc, Hero Hunt Arc, Monster Raid Arc, Super Fight Arc, dan Monster Association Arc, meskipun kemungkinan besar tidak akan dimasukkan semua untuk kemungkinan season selanjutnya di masa depan.

Protagonis utama, Saitama, akan dimainkan oleh Makoto Furukawa dengan sidekick-nya Genos oleh Kaito Ishikawa, dengan antagonis baru yang muncul di penghujung season sebelumnya, Garou, oleh Hikaru Midorikawa.

PV: https://www.youtube.com/watch?v=NezvLw2gRAY

Bungou Stray Dogs Season 3

Action, Mystery, Supernatural

Kisah detektif milik Kafka Asagiri dan Sango Harukawa yang berisi karakter-karakter yang terinspirasi langsung dari tokoh-tokoh literatur telah dikonfirmasi memiliki season ketiganya pada musim semi kali ini. Serial populer yang telah memiliki dua season dan satu film sebelumnya ini akan diproduksi oleh studio BONES.

PV: https://www.youtube.com/watch?v=Bro64355Kws

Kimetsu no Yaiba

Action, Adventure, Supernatural

Memiliki latar belakang Jepang era Taisho, Kimetsu no Yaiba bercerita tentang seorang anak muda, Tanjirou, yang hidup dengan keluarganya sebagai penjual batu bara. Suatu hari keluarga dari Tanjirou dibantai oleh para iblis, dan hanya ia dan adiknya yang selamat, Nezuko, itupun sudah berubah menjadi iblis itu sendiri. Keduanya lantas memulai petualangannya—satu, untuk mengembalikan adik perempuannya, dua, untuk balas dendam.

Lima episode pertama telah ditampilkan sebagai Kimetsu no Yaiba: Kyoudai no Kizuna mulai dari 29 Maret kemarin. Serial ini diproduksi oleh ufotable (Fate series), dengan Tanjirou dimainkan oleh Natsuki Hanae dan Nezuko oleh Akari Kito.

PV: https://www.dailymotion.com/video/x74q5bw

 

Artikel ditulis oleh Naufal H.

Anime Santai Musim Semi 2019

Bosan dengan anime-anime yang penuh aksi? Tenang, anime-anime santai musim semi 2019 kali ini cukup banyak yang dapat dijadikan teman minum teh atau mengisi waktu di sore hari.

Dalam genre kehidupan sehari-hari, musim semi 2019 menampilkan Fruit Basket, anime bertema musik Carole and Tuesday, kehidupan sehari-hari dalam Sewayaki Kitsune no Senko-san dan Boku-tachi wa Benkyou ga Dekinai, juga Isekai Quartet.

Fruit Basket 2019

Slice of Life, Comedy

Fruit Basket kembali lagi dengan visual dan aktor suara yang baru, tahun ini diproduksi oleh TMS Entertainment (Detective Conan, Lupin III)

Dikutip dari Crunchyroll, anime ini mengisahkan Tohru Honda, yang setelah musibah keluarga harus berhadapan dengan Klan Soma dan tiba-tiba harus tinggal bersama dengan Yuki, Kyo, dan Shigure Soma—sebelum ia mempelajari rahasia dari keluarga Soma itu sendiri: ketika dipeluk oleh lawan jenis, mereka berubah menjadi hewan-hewan dalam zodiak.

Anime ini telah menyiarkan episode pertamanya pada 5 april silam di TV Tokyo, serta lisensi streaming oleh Funimation. Yoshihide Ibata (FLCL Progressive) akan menjadi direktur; Taku Kishimotor (Silver Spoon, Haikyu!!) bertugas pada komposisi serial, dan desain karakter oleh Masaru Shindo (Macross Delta, Oregairu)

PV: https://www.youtube.com/watch?v=4jgVaA4bxDI

Carole and Tuesday

Music, Sci-fi

Kreator Cowboy Bebop, Shinichiro Watanabe, muncul dengan Carole and Tuesday yang menceritakan dua musisi yang berasal dari latar belakang yang berbeda.

Berdasarkan situs resminya, anime ini berlatar belakang di masa depan setelah umat manusia pindah menuju Mars, pada zaman ketika kebudayaan diproduksi oleh AI dan masyarakat menjadi konsumer yang pasif. Carole dan Tuesday, masing-masing dari latar belakang sosial yang kontras, bertemu bersama disatukan oleh latar belakang hobi yang sama, yaitu musik.

Anime yang bertema musik ini berisi banyak kreator dan talenta seperti Flying Lotus, Thundercat, G.Rina, Maika Loubte, dan Taku Takahashi.

Diproduksi oleh BONES (Noragami, BNHA), Tuesday akan diperankan oleh Kana Ichinose dan Carole oleh Miyuri Shimabukuro.

PV: https://www.youtube.com/watch?v=CBak9m0bcB0

Sewayaki Kitsune no Senko-san

Slice of Life, Comedy

Premis Senko-san sederhana: Nakano, pekerja perusahaan dari perusahaan eksploitatif, tiab-tiba bertemu dengan roh serigala bernama Senko, seorang 800 tahun dalam tubuh gadis. Mereka hidup bersama dengan Senko menjadi pengurus Nakano yang seringkali kelelahan.

Anime ini akan diproduksi oleh Doga Kobo (Himouto Umaru-chan, Gabriel Dropout, Wataten); Senko akan diperankan oleh Azumi Waki; Nakano oleh Junischi Suwabe; dan Shiro oleh Maaya Uchida.

PV: https://www.youtube.com/watch?v=DUF5Ov7hmkM

Boku-tachi wa Benkyou ga Dekinai

Slice of Life, Comedy

Boku-tachi wa Benkyou ga Dekinai, singkatnya BokuBen, mengisahkan Nariyuki yang meskipun memiliki sejarah nilai yang buruk, tetapi berjuang untuk mendapatkan beasiswa yang meliputi seluruh biaya perkuliahan. Bersaing dengan rekan-rekannya di bidang Matematika dengan Rizu dan Fumino, ia yang akhirnya mendapatkan beasiswa itu harus mengajari kedua pesaingnya yang, meskipun bagus di bidang matematika, sangatlah standar di bidang lagi, dan justru buruk di bidang yang ingin mereka lanjutkan.

Dijalankan oleh studio Silver dan Arvo Animation, Nariyuki akan diperankan Ryota Osaka, Rizu oleh Miyu Tomita, dan Fumino oleh Haruka Shiraishi.

PV: https://www.dailymotion.com/video/x74ogsc

Isekai Quartet

Short, Crossover, Comedy

Para karakter-karakter dari anime Isekai yang paling tersohor seperti Overlord, Youjo Senki, KonoSuba, dan Re:Zero akan berkumpul dalam crossover berjudul Isekai Quartet. Sebagaimana crossover pada umumnya, anime ini akan ditayangkan duabelas menit tiap episode untuk duabelas episode oleh studio PuYUKAI, yang juga memproduksi spin-off dari serial-serial tersebut.

PV: https://www.youtube.com/watch?v=vo_ZX1e8Z5g

 

 

 

Artikel ditulis oleh Naufal H.

Konsekuensi Hukum Domestic na Kanojo

Mari kita kesampingkan dulu aspek drama yang brutal dari serial ini. Pernikahan ulang ayah Natsuo, yang menyebabkan perubahan hubungan anaknya dengan (para) wanita yang ia cintai, adalah urusan hukum juga.

Dalam drama percintaan berkedok anime shounen populer silam, Domestic na Kanojo, premisnya mengindikasikan banyak masalah: Natsuo, yang terpecah perhatiannya antara dua wanita, Rui dan Hina, tiba-tiba harus hidup seatap dan dengan status sebagai saudara dengan kedua wanita itu. Mereka pun memanggil satu sama lain dengan sebutan ‘adik’ dan ‘kakak’ meskipun preseden dengan jelas menunjukkan hubungan mereka jauh dari saudara.

Bagaimana premis Domestic na Kanojo jika ditinjau dari segi hukum pernikahan dan keluarga di Jepang?

Pertama-tama, meskipun Natsuo dan ‘saudara’ barunya memanggil satu sama lain dan mencoba memperlakukan satu sama lain sebagai adik dan kakak, faktanya tidak demikian dan tidak perlu demikian. Menurut Pasal 725 Civil Code Jepang, mereka yang dihitung sebagai saudara adalah:

  • Saudara dengan hubungan darah sampai tingkatan keenam (tingk. 1 ayah/anak, tingk. 2 kakek/cucu, dst)
  • Pasangan
  • Saudara dengan hubungan ipar sampai tingkatan ketiga (tingk. 1 pasangan, tingk.2 anak angkat, dst.)

Natsuo dengan Hina dan Rui tak memiliki hubungan darah apapun dan tidak terikat hubungan pernikahan, maka secara legal mereka bukanlah saudara.

Lalu, perhatikan skenario ini: bagaimana, misalnya, jika Natsuo memutuskan untuk menikahi salah satu di antaranya? Bukankah incest terlarang di sebagian besar negara sebab banyak alasan, mulai dari subjek analisis Levi-Strauss bahwa incest adalah tabu yang sifatnya universal, sampai alasan biologis mengenai satuan genetika yang menurun kualitasnya?

Pertama-tama, Pasal 731 mencanangkan bahwa umur minimal untuk laki-laki adalah 18 dan untuk perempuan 16. Jadi semua pihak sudah lolos syarat ini.

Selanjutnya pada pasal 734 yang mengatur pelarangan pernikahan antarsaudara, melarang mereka yang memiliki hubungan darah yang dekat (sampai degree of kinship ketiga) untuk menikah. Tetapi, sekali lagi, Natsuo dengan Hina dan Rui tidak memiliki hubungan darah, maka pasal ini tidak berlaku bagi mereka.

Sedangkan Pasal 735 melarang mereka yang memiliki hubungan ipar dekat untuk memasuki pernikahan—meskipun pernikahan yang menyebabkan hubungan ipar itu sendiri telah selesai (diceraikan). Meskipun secara sekilas hal ini akan menghambat legalnya pernikahan mereka, namun perlu diingat bahwa yang memasuki hubungan ipar adalah orangtua mereka: ayah dari Natsuo dan ibu dari Hina/Rui. Oleh karena itu, pasal ini melarang ayah Natsuo, Akihito, untuk menikah dengan Hina/Rui (sebab hubungan mereka secara otomatis menjadi saudara berdasarkan pasal 735—begitu juga ibu dari Hina/Rui, Tokiko, untuk menikah dengan Natsuo.

Tetapi, konsekuensi legal dari hal ini adalah Natsuo benar-benar harus memilih. Meskipun dengan banyaknya anime harem yang kita lihat, pasal 732 menyatakan bahwa di Jepang poligami dalam segala bentuk dilarang, jadi secara legal tidak ada harem ending. Lalu, jika Natsuo memutuskan untuk menikah dengan Rui, maka ia otomatis menjadi ipar dengan Hina. Hubungan ipar ini menghambat Natsuo untuk menikah dengan Hina bahkan ketika amit-amit ia dan Rui akan bercerai, sebab meskipun hubungan mereka tidak lagi ipar berdasarkan pasal 728, tetapi mereka tetap tidak boleh menikah sebab pasal 735 juga tetap melarang pernikahan antaripar meskipun pernikahan yang menyebabkannya telah berakhir.

Maka, ditinjau dari hukum Jepang mengenai keluarga dan pernikahan, secara legal tidak ada yang menghambat mereka untuk mensahkan hubungannya. Yang menjadi masalah justru bahwasannya penulis serial ini jelas mengikuti aturan menulis Kurt Vonnegut yang keenam: jadilah seorang sadis, siksalah karakter-karaktermu untuk menunjukkan sisi aslinya.

Persoalan Natsuo, Hina, dan Rui, meskipun tidak terhalang hukum Jepang, tapi jelas dalam perkembangan ceritanya menunjukkan persoalan kondisi psikologis mereka yang, saya kira, tidak baik-baik saja.

 

 

 

Artikel ditulis oleh Naufal Hanif, dengan bantuan mahasiswi hukum Lydia Riama.