[Wawancara] Larissa Rochefort: Mangafest, Tokyo, dan Optimisme

Kami berbincang-bincang setelah Mangafest silam bersama Larissa soal Mangafest.

Kamar redaksi agaknya bahagia bercampur bingung ketika beberapa minggu sebelum Mangafest, kami diberitahu: izin wawancara Guest Star sudah didapatkan. Guest star kali ini bukan main-main, tak lain dan tak bukan adalah Larissa Rochefort itu sendiri. Seorang cosplayer panutan yang, selain berprestasi, selalu menebarkan aura positif dan mengingatkan para pengikutnya untuk optimis dan semangat menjalankan hari.

Ketika hari kedua Mangafest sudah mulai menjelang malam, setelah sesi meet and greet yang panjang dan berkesan, kami berkesempatan untuk berbincang sebentar dengan Larissa, soal Mangafest, Ikebukuro, dan masih banyak lainnya.

Sesi meet and greet Larissa Rochefort.

Wawancara dengan Larissa Rochefort

Bagaimana Yogyakarta dan Mangafest bagi Larissa?

Asik sekali. Makannya enak, macetnya tidak seperti di Jakarta. (Mangafest) ini acara yang punya potensi di Jogja. Dengan sound system terbaik, suara bukan masalah, bahkan mengalahkan yang ada di Jakarta. Orang-orangnya juga antusias, Yogya banget.

Larissa terhitung sangat sering mengikuti berbagai event baik sebagai Guest Star maupun sebagai pengunjung. Menurut Larissa, apa perbedaan euforia dari masing-masing yang diikuti?

Dari segi bisnis, beda target pasar. Ada event kecil tapi tepat sasaran, (lebih baik) daripada event besar tapi tidak tepat sasaran. Acara-acara kecil enak buat kumpul dengan teman, tergantung tujuannya.

Untuk orang Yogya, Mangafest wajib dihadiri. Ia seperti CF (Comic Frontier, red.) –nya Jogja.

Bagaimana sejauh ini pengalaman menjadi cosplayer di Indonesia–salah satu yang paling sukses di dalam dan luar negeri?

Cosplay di TGS adalah sebuah kehormatan. Tanpa dukungan Tuhan dan orang-orang, hal-hal ini tidak akan bisa terlaksana.

Rasanya senang di Tokyo, bertemu cosplayer dari berbagai negara. Orang-orangnya pun lebih berpikiran terbuka dan mengapresiasi. Saat di Akihabara dan Ikebukuro bisa khilaf sepuasnya. Barang yang selama ini harus titip, sekarang di depan mata.

Sesi wawancara dengan Larissa Rochefort.

Kalau untuk Larissa sendiri, cosplay ini hanya sebatas hobi atau sudah menjadi bagian dari pekerjaan?

Sekarang sudah menjadi pekerjaan, tapi berasa seperti hobi. Hobi yang sehat, terlaksana dari hati.

Larissa juga mengajak para follower untuk berpikiran positif dan optimis. Bagaimana bisa dilakukan di tengah suasana komunitas yang panas?

Kita tidak bisa selamanya positif, tetapi yang keluar dari media sosial saya juga bukan kemunafikan. (Hal tersebut) bagian dari kepercayaan diri. Kalau hanya mengeluh, masalah tidak akan selesai. (Oleh karena itu) lebih baik optimis. Kalau gagal, mungkin bukan jalan kamu.

Hidup harus saling peduli dan saling mendukung, tak ada salahnya inisiatif. Kalau ada yang jahat ke kamu, jangan balik balas jahat.

Adakah pesan untuk para penggemar jejepangan di Indonesia dan penggemar/pelaku cosplay pada khususnya?

Budaya di sini belum seketat di Jepang, tetapi jika ingin cosplay, saran saya mulailah dengan hal-hal positif. Jangan buat hal-hal yang kontroversial. Kadang-kadang, beberapa etika itu common sense, tetapi belum umum dilaksanakan. Untuk penggemar baru, ikuti aturan yang ada atau dari yang lebih berpengalaman.

Jangan malu bertanya. Saya pun masih berbuat salah, yang penting punya kemauan untuk berubah menjadi lebih baik.

Terima kasih atas waktunya, sang panutan! Semoga ekosistem cosplay di Indonesia menjadi semakin terbawa ke arah positif ke depannya.

Wawancara oleh Aditya Putera Tanriawan dan Excel Coananda.

Imbauan: Kurangi Drama, Utamakan Diskusi

Segala macam kasus dan skandal bisa dibahas dengan diskusi yang lebih bermanfaat.

Komunitas Jejepangan di Indonesia bukan merupakan satu organisasi yang tersusun rapi dengan strukturnya, ia terbagi ke dalam ratusan bahkan ribuan kelompok-kelompok spesifik. Dengan pemecahan yang spesifik tersebut, semuanya memiliki kesamaan yang mengkhawatirkan: kesibukan menanggapi drama dan skandal mingguan yang muncul di lini masa. Mulai dari komunitas cosplay yang mempermasalahkan uang atau mengkritik berlebihan cosplay orang lain sampai kasus tracing atau plagiat karya seni.

Namun, perlu diperhatikan bahwa kesibukan-kesibukan ini tak membuat suatu perkumpulan menjadi berkembang. Tendensi untuk menghabiskan waktu dan pikiran kepada suatu skandal hanya akan menghabiskan waktu dan pikiran kita. Jauh lebih merugikan dibanding kesenangan yang kita dapatkan.

Terdapat juga kecenderungan bagi drama untuk menarik lebih banyak–jauh dari yang diperlukan–orang daripada pembahasan-pembahasan lain, topik-topik lain. Akibatnya jelas: yang muncul adalah keributan yang melelahkan yang pada umumnya sama sekali tak menyelesaikan masalah utama.

Pembahasan akan bertele-tele tanpa contoh kasus. Mungkin apa yang akan saya tuliskan ini familiar untuk anda, dan saya akan mencoba meyakinkan anda bahwa hal-hal seperti ini tak perlu disebarluaskan dan diramaikan lagi.

Cosplay, Cosplay, Bagaimana Cosplay yang Benar?

Setiap ada drama baru di lini masa, saya berani taruhan bahwa kemungkinan besar drama tersebut datang dari komunitas cosplay. Namun, sub-bagian ini tak untuk menjelek-jelekkan mereka. Justru sebaliknya, bagaimana sebenarnya apa yang dibicarakan bisa dibahas dengan konstruktif tanpa menjadi snob yang pretensius.

Kemarin baru ramai: sejumlah cosplayer muncul di kanal televisi nasional untuk acara dangdut. Responnya beragam–sebagian di antaranya beracun. Mulai dari respon biasa (“Kenapa harus dangdut?” dengan “Lucu ya, kreatif”), yang keras (“Kamu tahu esensi cosplay nggak?” dengan “Ya biarin aja, yang protes iri ya?”), sampai yang beracun (“Nyari duit gitu amat mas?”)

Drama cosplay, ataupun drama-drama lainnya, selalu diulang tanpa ada penyelesaian pasti.

Apakah ini soal argumentasi? Ya, setengahnya. Namun, sisanya adalah soal menjadi pretensius. Mengapa kita, dalam menanggapi drama-drama di komunitas cosplay, tak mampu membangun diskusi yang menambah pengetahuan semua orang alih alih bikin emosi semua orang?

Ditarik lagi ke belakang, kita melihat bahwa pembahasan yang tidak bermanfaat ini selalu berulang dan tidak menyelesaikan masalah.

Ketika suatu event menghasilkan skandal seks, misalnya, tentu saja pembahasan di sekelilingnya penuh dengan argumentasi kosong, sentimen yang tidak membantu (yang minta link), dan seringkali seksis (“ya memang cosplayer biasanya lonte, bro”). Akhirnya keributan yang berlangsung sama sekali tak membantu isi masalah, dan semua orang dirugikan: pihak pria mungkin masih menyesal sampai sekarang, pihak wanita masih buronan, serta semua orang jelas tak terbantu dengan skandal seks murahan yang tak menghasilkan pembicaraan konstruktif.

Selanjutnya adalah pelecehan seksual. Hal ini akan saya bahas di kemudian hari, tetapi singkatnya tak ada niatan kita untuk secara serius melindungi cosplayer Indonesia dari bahaya, alih-alih hanya menjadikannya obyek atau malah menganggapnya bahan lelucon.

Padahal di belahan dunia lain dan di komunitas hobi lain, pelecehan adalah hal serius. Ia harus dibahas, dan suatu kampanye harus dijalankan untuk mencegahnya–suatu perubahan mendasar harus didiskusikan dan didebatkan. Kita, tentu saja, tak mendapatkan itu. Kita lagi-lagi mendapatkan lelucon yang tidak berguna, merusak, atau sentimen-sentimen misoginis yang paling brutal (‘pakaiannya kayak lonte sih, bro’; ‘ya kayak gitu mengundang orang dong’; ‘emang minta dipegang itu mah, gausah protes deh’; dan masih banyak lainnya).

Pembahasan-pembahasan seperti ini adalah argumentasi pendukung pertama saya bahwa kita harus menghindari drama dan menyuburkan diskusi. Keadaan komunitas lain tak lebih baik.

Dosa-Dosa Illustrator dan Hakimnya yang Paling Kejam

Ada banyak dosa yang dihitung “dosa kardinal” (cardinal sin) bagi para ilustratorTracing, plagiat, tidak mencantumkan sumber, minta commish gratis, dan dosa-dosa di bawahnya yang masih banyak. Proporsi tubuh tak sesuai, overseksualisasi, commish tidak dikerjakan, proyek yang tidak jadi, konten dewasa di pasar komik, dan lain sebagainya.

Sejak grup Facebook tracing mewabah (saya tak akan menyebutkan nama grupnya), hal-hal seperti ini sudah berkali-kali serta berhari-hari diributkan. Mengapa tak ada suatu diskusi komprehensif mengenai konsep intellectual property? Mengenai sifat dari fanart, yang misal, berbeda antara Amerika dan Jepang? Mengapa tidak ada bahasan tentang kasus-kasus populer seperti bagaimana Love Live! pernah menyatakan bahwa fan art tanpa lisensi adalah bentuk plagiat?

Para kaum “beradab”, hakim massa yang sudah pasti benar, cepat untuk datang ke lokasi dengan membawa palu gada mereka masing-masing, memukuli para terdakwa dosa-dosa ilustrator tadi. Kalaupun ada yang mencoba untuk mengedukasi, seringkali dengan nada pretensius dan tak sensitif terhadap konteks sosio-ekonomi orang lain. Mengapa Anda mengharapkan orang akan mengapresiasi industri baru yang perlu dibayar dengan mengata-ngatai mereka miskin dan kampungan karena tak paham konsep seni berbayar?

Drama seputar ilustrator bisa mengarah ke debat dan diskusi yang bisa menjadi sangat panas, tapi hal itu bisa dikendalkan agar jadi lebih bermanfaat. Saya kira hal itu lebih dibutuhkan daripada pembahasan yang tak jelas arahnya, diiringi misinformasi dan tidak ada niatan untuk menyelesaikan masalah.

Para Pembajak Proletariat vs. Para Pembayar Borjuis

Di ranah internet ini ada sub-sub lokal melawan usaha P***** yang berbayar. Sub-sub internasional melawan Netflix, torrent melawan Crunchyroll. Mangarock melawan komik fisik, di toko buku atau di tempat lain.

Di sini argumen tidak berguna makin jelas lagi. Di kolom komentar mereka yang mengkampanyekan konten berbayar, sentimen yang muncul adalah “emangnya semua orang punya uang kayak kamu” atau “kalau ada yang gratis kenapa bayar”. Di kolom komentar mereka yang mengampanyekan sumber gratis, sentimen yang muncul adalah “kalau miskin nggak usah nonton” atau “hargai usaha kreator lah”.

Drama pembajakan. Sudah berlangsung sejak lama, tapi tak kunjung terselesaikan.

Kalimat-kalimat di atas menjadi tidak berguna karena semuanya benar. Banyak hal lain yang harus dibahas seperti: apakah fansub secara etis dapat dibenarkan? Bagaimana dengan fansub yang komersial? Apakah ada alternatif yang bisa diandalkan untuk konten-konten legal berbayar? Mengapa Jepang begitu tidak mau meraih pasar internasional dan digitalisasi, dan oleh karena itu apakah ada bagian kesalahan di mereka juga?

Lagi-lagi, seperti halnya contoh-contoh di atas, hal-hal ini harus dibahas secara luas dan intensif–kalau bisa seramai kasus F***d*****–tanpa pretensi. Fokus harus berada tak pada siapa yang punya uang, tetapi bagaimana kita bisa dan harus membantu para kreator Jepang sekaligus mengukur kemampuan finansial kita sendiri.

Event Jejepangan Seharusnya Bahagia

Tak jarang kenyataannya event Jejepangan akan menghasilkan lebih banyak drama dan omongan dibandingkan kebahagiaan yang dihasilkan. Ini, tentu saja, merupakan sifat dari program kerja itu sendiri, apalagi event mahasiswa. Hal-hal pasti akan diurus sampai tingkat teknis dan akhirnya menimbulkan perpecahan-perpecahan yang didebatkan secara intens.

Namun, sungguh banyak di antara kita harus setidaknya menahan diri atau berpikir ulang sebelum mengeluarkan pernyataan.

Dalam kasus acara di Yogyakarta beberapa tahun silam, banyak sekali pihak yang antusias untuk mengeluarkan unek-uneknya tanpa sekalipun memikirkan latar belakang masalah dan mengapa sumbangan suara mereka mungkin tak berguna (seperti mengajak boikot). Dalam kasus lain, seperti event SMA yang gagal karena oknum yang terlalu percaya diri, mengingatkan kita bahwa urusan event organizing tak hanya membutuhkan passion, tapi juga kompetensi.

Banyak hal yang telah dibahas dan unek-unek yang telah dikeluarkan. Saatnya membangun argumentasi yang lebih konstruktif dan berempati jika hal drama-drama lain seputar event naik kembali.

Kurangi Drama, Utamakan Diskusi

Dengan lini masa yang semakin melelahkan, tulisan ini adalah imbauan bagi semua penggemar subkultur Jepang untuk menahan diri sekaligus mengajak untuk melakukan pembahasan yang santai namun bermanfaat. Baik itu drama cosplayer, illustrator, dan masih banyak lainnya, ada banyak kesempatan agar setiap drama atau skandal tak berakhir begitu saja dan hanya membuang waktu, pikiran, hingga tenaga.

Tak semua drama harus dibahas. Saya juga tak menuntut komunitas Jejepangan di Indonesia tiba-tiba menjadi pusat studi dan forum diskusi yang serius. Setidaknya pada beberapa kasus, apalagi skandal seks, harus dihindari dan tak usah kita bahas dan kasus-kasus lain perlu diramaikan dengan hati-hati.

Sebab suatu basis penggemar dengan suasana yang buruk akan berdampak ke semua orang. Ada hal-hal yang perlu kita pikirkan ulang dan perbaiki, minimal dari diri sendiri, agar ke depannya hal-hal seperti ilustrator dalam mata pencahariaannya dapat lebih dipahami, cosplayer dapat menjalankan hobinya dengan aman, para kepanitiaan melancarkan event dengan bahagia, dan mengundang orang lain untuk turut serta mengekspresikan diri dalam lingkungan penggemar yang kondusif.

Bukankah kita semua pada awalnya pemula yang tak tahu apa-apa dalam hal Jejepangan ini?

Pelecehan Seksual Terhadap Cosplayer di Comiket

Comiket 96

Seorang cosplayer asal Tiongkok diberondong kamera dari fotografer yang tidak memerhatikan batas privasi, dan tetap mengarahkan kamera bahkan ketika diminta mundur.

Comic Market seharusnya menjadi event yang menyenangkan–tempat para kreator dan sirkel untuk menampilkan karya-karya mereka yang berdedikasi, bertemu langsung dengan para penggemar dari seluruh dunia untuk menikmati dan mengapresiasi karya mereka. Acara dengan ratusan ribu pengunjung ini juga penuh dengan cosplayer-cosplayer paling populer seantero Jepang dan sekitarnya, beserta para fotografer yang antusias mengambil foto dari idola mereka.

Namun, tak semua sesi pengambilan foto berlangsung dengan lancar dan sopan. Comiket kali ini mengalami insiden yang tidak mengenakkan: seorang cosplayer secara massal mendapatkan pelecehan dari sekumpulan orang.

Insiden Pelecehan Saat Sesi Foto Cosplayer

Sang cosplayer, All, mendapati para fotografer berada terlalu dekat dengan dirinya. Namun, alih-alih mundur, para fotografer justru semakin mendekat dan memotret sang cosplayer, yang sudah merasa tidak nyaman dan hampir menangis, dari segala sisi. Parahnya, mereka juga mencoba mengambil foto dari sudut pandang bawah rok, suatu tindakan yang sudah termasuk kategori pelecehan.

Bahkan, ketika petugas comiket menyuruh para fotografer untuk mundur, para fotografer tetap mengelilingi All, menyudutkannya sampai terjatuh dan masih tetap saja mengarahkan kameranya pada cosplayer tersebut.

Sang cosplayer sendiri telah memberi pernyataan lewat akun resminya:

“Itu aku dalam video tersebut. Aku berkata, berkali-kali, ‘Kamu terlalu dekat, tolong agak mundur’, tapi tidak ada yang mendengarkan. Aku berterimakasih pada staf (comiket) yang datang membantu. Kalau kejadian seperti ini terulang lagi, aku akan menendang orang-orang yang mengambil foto (Aku mengambil kelas boxing)”

Padahal, dengan menghormati jarak privasi dan mengambil foto dengan sopan, hal-hal seperti ini tidak perlu terjadi. Masih banyak orang-orang yang mampu mengendalikan diri dan mengambil foto yang bagus, seperti pada cuitan ini dengan cosplayer yang sama:

Bagaimanapun juga, cosplayer juga manusia yang harus dihormati dan diperlakukan dengan sopan santun. Dengan tata krama yang sederhana, seluruh peserta event, dimanapun itu, dapat sama-sama senang mengekspresikan dan menikmati hobinya masing-masing. Anda dapat mempelajari tata krama bersama cosplayer di artikel kami

Comiket sendiri telah berakhir pada beberapa hari yang lalu. Acara terbesar pada kelasnya ini mencetak rekor pengunjung, jauh melebihi rekor sebelumnya, dengan mayoritas sirkel mendedikasikan diri untuk serial Fate.

Sumber: Soranews
Foto milik Crunchyroll.

Creator Super Fest Siap Hadir di Jakarta dan Surabaya!

Melihat potensi popkultur jejepangan yang besar di Indonesia, tahun ini CSF diadakan di dua kota: Jakarta dan Surabaya!

Creator Super Fest, acara yang masih berada dalam satu payung dengan AFA, siap membawa konten lokal dan regional asia ke dua kota di Indonesia, yaitu Surabaya dan Jakarta! Melihat potensi basis penggemar yang besar dan tingginya peminat popkultur jejepangan, CSF siap menjadi pusat kreativitas dan wahana melting pot bagi kreator di seluruh tanah air, dengan konten popkultur dari berbagai negara. Acara ini akan dimeriahkan sederet line up para kreator, cosplayer, musisi, dan masih banyak lagi dari seluruh asia! Simak keterangan lengkapnya di bawah ini.

Creator Super Fest Siap Hadir di Dua Kota!

Creator Super Fest siap hadir di Jakarta dan Surabaya dengan deretan kreator regional dengan membawa pilar-pilar yang sama yaitu seni, musik, cosplay, dan games. Acara ini juga akan membawa kreator dari negara-negara asia lain seperti Tiongkok, Vietnam, dan Taiwan dari ranah cosplay, doujin, Anisong, dan masih banyak lagi!

Acara ini akan diselenggarakan selama dua hari di setiap kota. Creator Super Fest 2019 di Surabaya akan diadakan pada Chameleon Hall, Tunjungan Plaza 6, Surabaya, pada akhir pekan tanggal 31 Agustus sampai 01 September sedangkan CSF di Jakarta akan diadakan di SMESCO Exhibition Hall, juga pada akhir pekan tanggal 26-27 Oktober.

CSF Siap Dipenuhi Bintang Tamu dari Seluruh Asia!

Ajang ini setiap tahunnya dipenuhi oleh lebih dari 11.000 pengunjung dan menjadi titik temu antar komunitas subkultur Jepang yang paling ditunggu seperti para wibu, cosplayer, gamers dan popculture lovers.

Berikut deretan performasi resmi dan bintang tamu selama dua hari di CSF 2019 Surabaya:

Featured Guest Cosplayer: Mon (Taiwan)

View post on imgur.com

Featured Guest Cosplayer: Heyleydia (Thailand)

View post on imgur.com

Featured Guest Cosplayer: Nekonoi Katsu (Indonesia)

View post on imgur.com

Juga, kamu bisa memainkan lightstick-mu dan bergoyang bersama setlist elektronik yang menghentak khas Anisong dengan:

Featured Guest Musician: D-Yama (Akihabara Mogra/Jepang)

View post on imgur.com

Featured Guest Musician: Vibetronic (Indonesia)

View post on imgur.com

Featured Guest Musician: Soba (Indonesia)

View post on imgur.com

Featured Guest Illustrator: Loiza

View post on imgur.com

Sensasi Virtual Talent paling populer di Asia juga tak luput hadir di panggung utama CSF19! Pengunjung Main Stage CSF dapat berekspresi dan berinteraksi langsung di sesi talkshow bersama virtual talent favoritnya.

Kabar terbaru dari line up Virtual Talent CSF19 dapat dilihat di situs resmi maupun fanpage FB dari Creator Super Fest

Ajang Kompetisi Seru dalam Creator Super Fest

Tidak lengkap dua hari ajang Creator Super Fest  tanpa adanya kompetisi berbasis komunitas. Pengunjung bisa mendaftarkan diri utnuk ikut berkompetisi dan beraksi di Main Stage CSF Surabaya dan Jakarta dengan mengikuti tiga kompetisi seru yang ditunggu-tunggu setiap tahunnya:

Cosplay Competition

View post on imgur.com

Art Duel Battle Tournament

View post on imgur.com

Games Tournament

Pemenang dari ketiga kompetisi di atas dapat membawa pulang hadiah berupa jutaan uang tunai persembahan dari sponsor resmi CSF, yaitu Tabungan Indie Account CIMB Niaga.

Akses dan Informasi Lanjutan mengenai Creator Super Fest

Akses masuk harian (Daily Pass) CSF19 bisa didapatkan dalam situs Tokopedia resmi dari Creator Super Fest! Tiket ini dibanderol dengan harga Rp55.000 (Early Bird via Online) dan Rp68.000 untuk On The Spot di masing-masing venue.

Anda dapat mendapatkan informasi terbaru mengenai Creator Super Fest 2019 pada situs resmi, laman facebook resmi  dan melalui tagar resmi yaitu #CSF1.

Exhibitor dari Creator Super Fest sendiri membuka pendaftaran untuk para kreator (anime, manga comic, Toys & Hobby) dan para korporat (Product, Game Publishers dan Edcuation) untuk kebutuhan aktivasi dan booth di arena CSF Surabaya dan Jakarta. Kontak [email protected] untuk informasi lebih lanjut.

Tanpa Izin Resmi, 52 Cosplayer Diperiksa dan 11 Ditahan pada Event Cosplay Malaysia

Tanpa Visa Kerja, setidaknya ada 52 cosplayer diperiksa dan 11 lainnya ditahan oleh Jabatan Imigresen Malaysia (Badan Imigrasi Malaysia). 11 orang yang di tahan tersebut adalah guest cosplayer yang terdiri dari 5 warga negara Jepang, 3 warga negara Singapura, 2 warga negara Thailand dan 1 dari Hong Kong, ditahan atas tuduhan PATI ( Pendatang tanpa izin) karena mereka melanggar ketentuan Visa Negara Malaysia dimana mereka datang menggunakan visa kunjungan sementara yang seharusnya menggunakan visa kerja sementara di event cosplay bernama Cosplay Festival 4 menurut MY-Metro (Media Malaysia).

Event Cosplay Festival 4 adalah event khusus cosplay dilangsungkan selama dua hari (23-24 maret) di Grand Ballroom Sunway Putra Hotel Kuala Lumpur yang turut dihadiri mon夢 dan stayxxxx ini juga terpaksa dihentikan paksa karena tidak mengantongi izin dari Agensi Pusat Permohonan Penggambaran Filem dan Persembahan Artis Luar Negara (PUSPAL). Pihak EO sekarang sedang dalam masa refund dan pembayaran kepada guest cosplayers yang hadir, pembelian tiket dan uang booth yang telah di bayarkan oleh community.

Pembubaran paksa acara cosplay di Malaysia ini tentu membuat gempar komunitas cosplay baik di Malaysia dan di Indonesia, mengingat budaya cosplaying saat ini sedang digemari oleh penikmat budaya jejepangan khususnya di negara-negara Asia Tenggara. Peristiwa ini seharusnya memberikan pelajaran juga bagi penggiat acara budaya Jepang agar tidak mengulangi kesalahan yang sama. Ikuti semua prosedur dan regulasi yang berlaku agar acara yang diselenggarakan dapat berjalan lancar dan nyaman.

Ditulis oleh: Giovanni Yano

Sumber:

laman facebook resmi Jabatan Imigresen Malaysia WP Kuala Lumpur

MY-Metro

Laman Facebook resmi Cosplay Festival 4

[Liputan] Mangafest 2018, Unjuk Gigi Industri Kreatif Lokal Yogyakarta dan Sekitarnya

Mangafest, event kondang yang paling ditunggu di Yogyakarta dan Jawa Tengah Kembali digelar dengan semangat baru.

Hai Hai, Riscomrades!! Kali ini Risa Media mendapatkan sebuah kehormatan menjadi Media Partner bagi event yang paling ditunggu di Yogyakarta dan sekitarnya, yaitu Mangafest 2018 yang kali ini diadakan pada tanggal 27 dan 28 Oktober 2018 bertempat di Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardjasoemantri (PKKH) yang terletak di Area Kampus Universitas Gadjah Mada (UGM), Jl. Pancasila, Bulaksumur, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Mangafest 2018 yang digelar oleh Himpunan Mahasiswa Sastra Jepang (HIMAJE) Universitas Gadjah Mada sejak 2010 kali ini mengajak kita untuk peduli pada lingkungan sekitar kita melalui tema “EARTHVENTURE”.

Acara ini Menghadirkan Band cover Anime Luna Gravity dari Semarang dan Cosplayer kondang Punipun dari Jakarta sebagai Guest Star, dan menampilkan berbagai Performer seperti Aya Anjani, Momiji Velvet, Shitagi Uma, JAV, E-qourz!, dan lain lain.

Mangafest tidak melupakan tujuan dibentuknya event ini dengan mengadakan berbagai kompetisi seperti Kompetisi Manga, Silent Comic dan Fanart. 20 karya terbaik yang terpilih dipamerkan dalam ruangan khusus lengkap dengan deskripsi cerita beserta opini dari panitia penilai. Mangafest juga mengikuti zaman dengan menggunakan sistem voting untuk menilai karya terbaik menurut pengunjung melalui situs resmi Mangafest 2018 selain menggunakan sistem voting langsung.

Mangafest juga terkenal menjadi tempat dimana para pegiat industri kreatif kecil di Yogyakarta dan Jawa Tengah dapat memamerkan dan menjual karyanya melalui Comiket yang diadakan di dalamnya. Tercatat lebih dari 80 stand lingkar karya (circle) yang berasal dari Yogyakarta dan Jawa Tengah, bahkan banyak terdapat penggiat karya yang berasal dari kota besar seperti Jakarta, Bandung, dan Surabaya yang ikut meramaikan Comiket tahun ini.

Tak lupa, Mangafest juga meningkatkan kualitas para penggiat karya dengan mengadakan talkshow dan workshop bersama beberapa komikus terkenal seperti Kharisma Jati, Sweta Kartika, Kelompok Roket Kertas, Shinshinhye, dan lain lain.

Platelet setelah rajin berolahraga (kanan)

Sekian liputan Risa Media divisi Jawa Tengah dan Yogyakarta kali ini, sampai ketemu di liputan selanjutnya!

Liputan oleh Aditya Putera Tanriawan, Intan Kusumadewi, Kevin Akbar, dan Rizaldy Firstky.

Cinta Kuya Cosplay Karakter Boku no Hero Academia

Menjadi wibu bukan lagi hal yang memalukan.

Bagi Anda yang mengikuti dunia infotainment Indonesia, tentu tidak asing dengan nama Cinta Kuya. Sebagai anak dari selebriti kondang Uya Kuya, apapun yang ia lakukan tentu mengundang rasa penasaran khalayak ramai.

Pada perhelatan Indonesia Comic Con 2018 yang baru saja berlalu, Cinta Kuya menghadiri acara tersebut sambil bercosplay salah satu karakter Boku no Hero Academia, Uraraka Ochaco (Uravity). Beberapa fotonya diunggah di akun Instagramnya, dan hingga saat ini telah menerima 60 ribu likes.

Foto ini tentunya mendapat reaksi positif dari para penggemar jejepangan. Beberapa juga mengutarakan bahwa Cinta Kuya cocok dengan karakter tersebut.

“VVADOH CINTA KUYA

Akhirnya ada secarik harapan agar bisa bertemu dengannya, ya di event jepang pastinya :v”

– Rizky Adrian

“Mending jadi wibu aja daripada jadi kipoper”

– Almu Lischina

Hobi jejepangan bukanlah barang baru bagi gadis 14 tahun ini. Beberapa waktu lalu, ia juga pernah mengunggah beberapa koleksi animenya, salah satunya adalah Haikyuu. Selain anime, ia juga menyukai boyband Korea BTS.

Sumber: Instagram @cintakuya

Wali Kota dan Gubernur Aichi Ber-Cosplay di World Cosplay Summit 2018!

World Cosplay Summit 2018

Kedua pejabat politik aktif - Wali Kota Nagoya dan Gubernur dari Prefektur Aichi- ikut ber-cosplay ria menyambut para kontestan World Cosplay Summit 2018!

Pada acara World Cosplay Summit 2018, wali kota Nagoya serta gubernur Prefektur Aichi menyambut para kontestan cosplayer yang datang dengan cara yang tak kalah apik: ikut ber-cosplay!

Wali kota Nagoya Ōmura Hideaki, ber-cosplay menjadi Kirito dari serial Sword Art Online. Tidak mau ketinggalan, Gubernur Prefektur Aichi Takashi Kawamura juga ber-cosplay menjadi Trafalgar Law dari serial One Piece.

Semenjak fotonya diunggah di akun Twitter pribadinya, foto cosplay wali kota tersebut mendapat perhatian dari khayalak publik dan telah dibagikan sebanyak 40.000 kali.

Akun Twitter resmi World Cosplay Summit dan akun Twitter dari Kadokawa Tokai Walker juga mengabadikan beberapa foto kedua pejabat aktif pemerintah yang ber-cosplay bersama kontestan cosplayer lainnya.

Kedua politikus tersebut terkenal dengan hobi mereka yang menyukai cosplay. Bahkan, wali kota Nagoya tersebut sudah sering ikut dalam acara World Cosplay Summit pada tahun sebelumnya seperti ber-cosplay sebagai Crowley Eusford dan Luffy dari One Piece. Keduanya juga pernah tampil dengan cosplay duo antagonis Piccolo dari Dragon Ball dan Lord Dressler dari Space Battleship Yamato.

World Cosplay Summit 2018 berlangsung dari tanggal 28 Juni sampai 5 Agustus 2018. World Cosplay Summit adalah acara tahunan internasional yang bertujuan melakukan pertukaran budaya yang baik antara kontestannya melalui kebudayaan pop Jepang. Dalam acara World Cosplay Summit, para cosplayer mewakili negaranya masing-masing untuk bertanding meraih gelar cosplayer terbaik di dunia. Indonesia pernah menjadi juara World Cosplay Summit pada tahun 2016 dengan komposisi tim yang terdiri dari Ryan CYD dan Frea Mai.

Sumber: ANNNijimen

Sumber keluku: Crunchyroll

6 Celebrity Cosplayers Bersiap Hadir di C3AFA Jakarta 2018

Jakarta, 21 Juli 2018 – 6 cosplayers regional – lokal terfavorit & terpopoler dipastikan akan hadir di gelaran pop culture terbesar se Asia C3AFA Jakarta – 31 August sampai dengan 2 September 2018. Aza Miyuko dari Korea Selatan, Baozi & Hana dari Tiongkok, Clarissa Punipun dari Indonesia, Luffy dari Hong Kong, Ola Aphrodite dari Indonesia dan Thames Malerose dari Thailand. Info selengkapnya https://animefestival.asia/jakarta18/.

Jangan sampai ketinggalan – dapatkan tiketnya di https://afaid.loket.com/.

Aza Miyuko – Korea Selatan

Aza Miyuko adalah si cantik perwakilan cosplayer dari Korea Selatan. memiliki 380,000 fans di Facebook, Twitter dan Instagram. Cosplay Aza yang paling khas adalah Cosplay Ahri dari LOL dan D.Va dari Overwatch.

Aza tidak hanya membawakan cosplay karakter game, tapi juga beberapa karakter dari berbagai seri animasi. Demi cosplay-nya, ia juga sangat detil tentang implementasi karya aslinya dan kemampuan aktingnya.

Belakangan ini ia berusaha untuk masuk ke area lain seperti broadcasting dan syuting CG, dan juga menjadi topik perbincangan di Youtube

https://www.instagram.com/aza_miyuko/

Baozi & Hana – Tiongkok

Baozi
Baozi yang tampan dan karismatik adalah bagian dari duo Baozi & Hana. Mereka telah berhasil mengumpulkan fanbase yang sangat besar di Tiongkok dan sekarang mulai menarik perhatian fans di seluruh dunia.

Baozi mulai menjadi terkenal setelah menjadi karakter Makoto (dari anime Free!). Baozi menyukai pembuatan prop cosplay dan kadang membuat sendiri properti yang dipakai dengan kostumnya.

https://www.instagram.com/moemoebaozi/

Hana
Hana yang lucu dan pemalu adalah bagian dari duo Baozi & Hana. Mereka telah berhasil mengumpulkan fanbase yang sangat besar di Tiongkok dan sekarang mulai menarik perhatian fans di seluruh dunia. Ia mulai menjadi terkenal setelah menjadi karakter dari Kuroko no Basket. Hana hobi bereksperimen dengan makeup. Ia bisa menciptakan berbagai tampak dengan sekali usapan kuasnya. Ia dan Baozi memulai brand kosmetik mereka sendiri, Flower Knows

https://www.instagram.com/moemoehana/

Clarissa Punipun – Indonesia

Clarissa Punipun adalah cosplayer, gamer dan Anisong enthusiast dari Jakarta. Ia memulai bercosplay dan membuat prop sejak 2006, membuatnya menjadi salah satu figur paling dikenal di dunia cosplay. Ia juga suka membawa karakternya ke dunia nyata via karakter cosplay nya dan memainkan lagu anisong favoritnya di cover piano/drum/cello.

Melalui cosplay dan musik, ia telah diundang ke berbagai event di Asia seperti Jepang, Thailand, Singapura, Malaysia, Brunei Darussalam dan berbagai tempat di Indonesia

Punipun menjadi Official Cosplayer untuk re:ON comics di tahun 2015 dan menjadi perwakilan Indonesia untuk Kurate Gakuen Moe Ambassador di Fukuoka di tahun 2017. Tidak hanya di dunia cosplay, ia juga dikenal sebagai Brand Ambassador di Asus Republic of Gamer di tahun 2018. Punipun bercita-cita untuk membawa angin segar untuk komunitas melalui bakat (dan pipi bulatnya!)

https://www.instagram.com/punipun7/

Luffy – Hong Kong

Cosplayer dari Hong Kong yang multitalenta , Luffy sangat populer dan mendapatkan atensi fansnya di Honoka Series dan Love Live! School Idol Project.

Selain menyukai memiliki hobi dance dan performer, Luffly adalah bagian dari V-Project Group dan menyukai dance performance dalam karakter cosplay.

C3AFAJKT adalah kali pertamakanya Luffy hadir di Indonesia.

https://www.instagram.com/luffylam/

Ola Aphrodite – Indonesia

Cosplayer muda dan berbakat dari tanah air. Ola Aphrodite telah memulai karirnya sejak umur 5 tahun. Ketertarikannya di bidang tarik suara (ya, cosplayer ini bisa menyanyi!) membuat Ola bergabung dengan Idol Group – Shojo Complex di 2016.

Ola Aphrodite telah lulus sekolah dan fokus sebagai cosplayer sejak tahun 2013, dia telah diundang sebagai Guest Cosplayer serta penari di berbagai negara Asia sejak 2016, seperti: Thailand, Singapura, Ho Chi Minh (Vietnam), Hanoi (Vietnam), Sabah (Malaysia), Kuala Lumpur (Malaysia), Cosplay Mania (Filipina) & Winter Comiket 2017 di Jepang.

https://www.instagram.com/olaaphrodite/

Thames Malerose – Thailand

Cosplayer serba bisa asal Bangkok, Thailand, Thames Malerose selain memiliki hobi utama sebagai cosplayer ini – menekuni kesibukannya sebagai model, desainer, komposer musik dan aktor. Tergabung dalam  group band rock Thailand – Malerose.

Thames Malerose sangat teliti saat membuat kostum dan propnya. Dikenal dengan sebutan – Bintang Baru di Asia, Thames Malerose sudah diundang ke berbagai acara di berbagai negara dan bekerja dengan berbagai perusahaan sebagai cosplayer untuk mempromosikan brand mereka.

https://www.instagram.com/thames_malerose/

C3 Anime Festival Asia Jakarta 2018

  • Tanggal : 31 Agustus – 2 September 2018 (Konser I LOVE ANISONG di tanggal 31 Agustus – 1 September)
  • Venue : Indonesia Convention Exhibition (ICE)

Official Social Media :

Official Hashtag : #C3AFAJKT & #C3AFAJKT18

Agen Tiket Resmi : www.loket.com

Official Website : https://animefestival.asia/jakarta18/

Artikel ini merupakan rilis pers resmi dari pihak penyelenggara.