[Wawancara] Larissa Rochefort: Mangafest, Tokyo, dan Optimisme

Kami berbincang-bincang setelah Mangafest silam bersama Larissa soal Mangafest.

Kamar redaksi agaknya bahagia bercampur bingung ketika beberapa minggu sebelum Mangafest, kami diberitahu: izin wawancara Guest Star sudah didapatkan. Guest star kali ini bukan main-main, tak lain dan tak bukan adalah Larissa Rochefort itu sendiri. Seorang cosplayer panutan yang, selain berprestasi, selalu menebarkan aura positif dan mengingatkan para pengikutnya untuk optimis dan semangat menjalankan hari.

Ketika hari kedua Mangafest sudah mulai menjelang malam, setelah sesi meet and greet yang panjang dan berkesan, kami berkesempatan untuk berbincang sebentar dengan Larissa, soal Mangafest, Ikebukuro, dan masih banyak lainnya.

Sesi meet and greet Larissa Rochefort.

Wawancara dengan Larissa Rochefort

Bagaimana Yogyakarta dan Mangafest bagi Larissa?

Asik sekali. Makannya enak, macetnya tidak seperti di Jakarta. (Mangafest) ini acara yang punya potensi di Jogja. Dengan sound system terbaik, suara bukan masalah, bahkan mengalahkan yang ada di Jakarta. Orang-orangnya juga antusias, Yogya banget.

Larissa terhitung sangat sering mengikuti berbagai event baik sebagai Guest Star maupun sebagai pengunjung. Menurut Larissa, apa perbedaan euforia dari masing-masing yang diikuti?

Dari segi bisnis, beda target pasar. Ada event kecil tapi tepat sasaran, (lebih baik) daripada event besar tapi tidak tepat sasaran. Acara-acara kecil enak buat kumpul dengan teman, tergantung tujuannya.

Untuk orang Yogya, Mangafest wajib dihadiri. Ia seperti CF (Comic Frontier, red.) –nya Jogja.

Bagaimana sejauh ini pengalaman menjadi¬†cosplayer¬†di Indonesia–salah satu yang paling sukses di dalam dan luar negeri?

Cosplay di TGS adalah sebuah kehormatan. Tanpa dukungan Tuhan dan orang-orang, hal-hal ini tidak akan bisa terlaksana.

Rasanya senang di Tokyo, bertemu cosplayer dari berbagai negara. Orang-orangnya pun lebih berpikiran terbuka dan mengapresiasi. Saat di Akihabara dan Ikebukuro bisa khilaf sepuasnya. Barang yang selama ini harus titip, sekarang di depan mata.

Sesi wawancara dengan Larissa Rochefort.

Kalau untuk Larissa sendiri, cosplay ini hanya sebatas hobi atau sudah menjadi bagian dari pekerjaan?

Sekarang sudah menjadi pekerjaan, tapi berasa seperti hobi. Hobi yang sehat, terlaksana dari hati.

Larissa juga mengajak para follower untuk berpikiran positif dan optimis. Bagaimana bisa dilakukan di tengah suasana komunitas yang panas?

Kita tidak bisa selamanya positif, tetapi yang keluar dari media sosial saya juga bukan kemunafikan. (Hal tersebut) bagian dari kepercayaan diri. Kalau hanya mengeluh, masalah tidak akan selesai. (Oleh karena itu) lebih baik optimis. Kalau gagal, mungkin bukan jalan kamu.

Hidup harus saling peduli dan saling mendukung, tak ada salahnya inisiatif. Kalau ada yang jahat ke kamu, jangan balik balas jahat.

Adakah pesan untuk para penggemar jejepangan di Indonesia dan penggemar/pelaku cosplay pada khususnya?

Budaya di sini belum seketat di Jepang, tetapi jika ingin cosplay, saran saya mulailah dengan hal-hal positif. Jangan buat hal-hal yang kontroversial. Kadang-kadang, beberapa etika itu common sense, tetapi belum umum dilaksanakan. Untuk penggemar baru, ikuti aturan yang ada atau dari yang lebih berpengalaman.

Jangan malu bertanya. Saya pun masih berbuat salah, yang penting punya kemauan untuk berubah menjadi lebih baik.

Terima kasih atas waktunya, sang panutan! Semoga ekosistem cosplay di Indonesia menjadi semakin terbawa ke arah positif ke depannya.

Wawancara oleh Aditya Putera Tanriawan dan Excel Coananda.

Imbauan: Kurangi Drama, Utamakan Diskusi

Segala macam kasus dan skandal bisa dibahas dengan diskusi yang lebih bermanfaat.

Komunitas Jejepangan di Indonesia bukan merupakan satu organisasi yang tersusun rapi dengan strukturnya, ia terbagi ke dalam ratusan bahkan ribuan kelompok-kelompok spesifik. Dengan pemecahan yang spesifik tersebut, semuanya memiliki kesamaan yang mengkhawatirkan: kesibukan menanggapi drama dan skandal mingguan yang muncul di lini masa. Mulai dari komunitas cosplay yang mempermasalahkan uang atau mengkritik berlebihan cosplay orang lain sampai kasus tracing atau plagiat karya seni.

Namun, perlu diperhatikan bahwa kesibukan-kesibukan ini tak membuat suatu perkumpulan menjadi berkembang. Tendensi untuk menghabiskan waktu dan pikiran kepada suatu skandal hanya akan menghabiskan waktu dan pikiran kita. Jauh lebih merugikan dibanding kesenangan yang kita dapatkan.

Terdapat juga kecenderungan bagi drama untuk menarik lebih banyak–jauh dari yang diperlukan–orang daripada pembahasan-pembahasan lain, topik-topik lain. Akibatnya jelas: yang muncul adalah keributan yang melelahkan yang pada umumnya sama sekali tak menyelesaikan masalah utama.

Pembahasan akan bertele-tele tanpa contoh kasus. Mungkin apa yang akan saya tuliskan ini familiar untuk anda, dan saya akan mencoba meyakinkan anda bahwa hal-hal seperti ini tak perlu disebarluaskan dan diramaikan lagi.

Cosplay, Cosplay, Bagaimana Cosplay yang Benar?

Setiap ada drama baru di lini masa, saya berani taruhan bahwa kemungkinan besar drama tersebut datang dari komunitas cosplay. Namun, sub-bagian ini tak untuk menjelek-jelekkan mereka. Justru sebaliknya, bagaimana sebenarnya apa yang dibicarakan bisa dibahas dengan konstruktif tanpa menjadi snob yang pretensius.

Kemarin baru ramai: sejumlah¬†cosplayer¬†muncul di kanal televisi nasional untuk acara dangdut. Responnya beragam–sebagian di antaranya beracun. Mulai dari respon biasa (“Kenapa harus dangdut?” dengan “Lucu ya, kreatif”), yang keras (“Kamu tahu esensi cosplay¬†nggak?” dengan “Ya biarin aja, yang protes iri ya?”), sampai yang beracun (“Nyari duit gitu amat mas?”)

Drama cosplay, ataupun drama-drama lainnya, selalu diulang tanpa ada penyelesaian pasti.

Apakah ini soal argumentasi? Ya, setengahnya. Namun, sisanya adalah soal menjadi pretensius. Mengapa kita, dalam menanggapi drama-drama di komunitas cosplay, tak mampu membangun diskusi yang menambah pengetahuan semua orang alih alih bikin emosi semua orang?

Ditarik lagi ke belakang, kita melihat bahwa pembahasan yang tidak bermanfaat ini selalu berulang dan tidak menyelesaikan masalah.

Ketika suatu event menghasilkan skandal seks, misalnya, tentu saja pembahasan di sekelilingnya penuh dengan argumentasi kosong, sentimen yang tidak membantu (yang minta link), dan seringkali seksis (“ya memang cosplayer biasanya lonte,¬†bro”). Akhirnya keributan yang berlangsung sama sekali tak membantu isi masalah, dan semua orang dirugikan: pihak pria mungkin masih menyesal sampai sekarang, pihak wanita masih buronan, serta semua orang jelas tak terbantu dengan skandal seks murahan yang tak menghasilkan pembicaraan konstruktif.

Selanjutnya adalah pelecehan seksual. Hal ini akan saya bahas di kemudian hari, tetapi singkatnya tak ada niatan kita untuk secara serius melindungi cosplayer Indonesia dari bahaya, alih-alih hanya menjadikannya obyek atau malah menganggapnya bahan lelucon.

Padahal di belahan dunia lain dan di komunitas hobi lain, pelecehan adalah hal serius. Ia harus dibahas, dan suatu kampanye harus dijalankan untuk mencegahnya–suatu perubahan mendasar harus didiskusikan dan didebatkan. Kita, tentu saja, tak mendapatkan itu. Kita lagi-lagi mendapatkan lelucon yang tidak berguna, merusak, atau sentimen-sentimen misoginis yang paling brutal (‘pakaiannya kayak¬†lonte¬†sih, bro’; ‘ya¬†kayak gitu¬†mengundang orang dong’; ‘emang minta dipegang itu mah, gausah protes deh’; dan masih banyak lainnya).

Pembahasan-pembahasan seperti ini adalah argumentasi pendukung pertama saya bahwa kita harus menghindari drama dan menyuburkan diskusi. Keadaan komunitas lain tak lebih baik.

Dosa-Dosa Illustrator dan Hakimnya yang Paling Kejam

Ada banyak dosa yang dihitung “dosa kardinal” (cardinal sin)¬†bagi para ilustrator.¬†Tracing,¬†plagiat, tidak mencantumkan sumber, minta commish gratis, dan dosa-dosa di bawahnya yang masih banyak. Proporsi tubuh tak sesuai, overseksualisasi, commish tidak dikerjakan, proyek yang tidak jadi, konten dewasa di pasar komik, dan lain sebagainya.

Sejak grup Facebook tracing mewabah (saya tak akan menyebutkan nama grupnya), hal-hal seperti ini sudah berkali-kali serta berhari-hari diributkan. Mengapa tak ada suatu diskusi komprehensif mengenai konsep intellectual property? Mengenai sifat dari fanart, yang misal, berbeda antara Amerika dan Jepang? Mengapa tidak ada bahasan tentang kasus-kasus populer seperti bagaimana Love Live! pernah menyatakan bahwa fan art tanpa lisensi adalah bentuk plagiat?

Para kaum “beradab”, hakim massa yang sudah pasti benar, cepat untuk datang ke lokasi dengan membawa palu gada mereka masing-masing, memukuli para terdakwa dosa-dosa ilustrator tadi. Kalaupun ada yang mencoba untuk mengedukasi, seringkali dengan nada pretensius dan tak sensitif terhadap konteks sosio-ekonomi orang lain. Mengapa Anda mengharapkan orang akan mengapresiasi industri baru yang perlu dibayar dengan mengata-ngatai mereka miskin dan kampungan karena tak paham konsep seni berbayar?

Drama seputar ilustrator bisa mengarah ke debat dan diskusi yang bisa menjadi sangat panas, tapi hal itu bisa dikendalkan agar jadi lebih bermanfaat. Saya kira hal itu lebih dibutuhkan daripada pembahasan yang tak jelas arahnya, diiringi misinformasi dan tidak ada niatan untuk menyelesaikan masalah.

Para Pembajak Proletariat vs. Para Pembayar Borjuis

Di ranah internet ini ada sub-sub lokal melawan usaha P***** yang berbayar. Sub-sub internasional melawan Netflix, torrent melawan Crunchyroll. Mangarock melawan komik fisik, di toko buku atau di tempat lain.

Di sini argumen tidak berguna makin jelas lagi. Di kolom komentar mereka yang mengkampanyekan konten berbayar, sentimen yang muncul adalah “emangnya semua orang punya uang kayak kamu” atau “kalau ada yang gratis kenapa bayar”. Di kolom komentar mereka yang mengampanyekan sumber gratis, sentimen yang muncul adalah “kalau miskin nggak¬†usah nonton” atau “hargai usaha kreator lah”.

Drama pembajakan. Sudah berlangsung sejak lama, tapi tak kunjung terselesaikan.

Kalimat-kalimat di atas menjadi tidak berguna karena semuanya benar. Banyak hal lain yang harus dibahas seperti: apakah fansub secara etis dapat dibenarkan? Bagaimana dengan fansub yang komersial? Apakah ada alternatif yang bisa diandalkan untuk konten-konten legal berbayar? Mengapa Jepang begitu tidak mau meraih pasar internasional dan digitalisasi, dan oleh karena itu apakah ada bagian kesalahan di mereka juga?

Lagi-lagi, seperti halnya contoh-contoh di atas, hal-hal ini harus dibahas secara luas dan intensif–kalau bisa seramai kasus¬†F***d*****–tanpa pretensi. Fokus harus berada tak pada siapa yang punya uang, tetapi bagaimana kita bisa dan harus membantu para kreator Jepang sekaligus mengukur kemampuan finansial kita sendiri.

Event Jejepangan Seharusnya Bahagia

Tak jarang kenyataannya event Jejepangan akan menghasilkan lebih banyak drama dan omongan dibandingkan kebahagiaan yang dihasilkan. Ini, tentu saja, merupakan sifat dari program kerja itu sendiri, apalagi event mahasiswa. Hal-hal pasti akan diurus sampai tingkat teknis dan akhirnya menimbulkan perpecahan-perpecahan yang didebatkan secara intens.

Namun, sungguh banyak di antara kita harus setidaknya menahan diri atau berpikir ulang sebelum mengeluarkan pernyataan.

Dalam kasus acara di Yogyakarta beberapa tahun silam, banyak sekali pihak yang antusias untuk mengeluarkan unek-uneknya tanpa sekalipun memikirkan latar belakang masalah dan mengapa sumbangan suara mereka mungkin tak berguna (seperti mengajak boikot). Dalam kasus lain, seperti event SMA yang gagal karena oknum yang terlalu percaya diri, mengingatkan kita bahwa urusan event organizing tak hanya membutuhkan passion, tapi juga kompetensi.

Banyak hal yang telah dibahas dan unek-unek yang telah dikeluarkan. Saatnya membangun argumentasi yang lebih konstruktif dan berempati jika hal drama-drama lain seputar event naik kembali.

Kurangi Drama, Utamakan Diskusi

Dengan lini masa yang semakin melelahkan, tulisan ini adalah imbauan bagi semua penggemar subkultur Jepang untuk menahan diri sekaligus mengajak untuk melakukan pembahasan yang santai namun bermanfaat. Baik itu drama cosplayer, illustrator, dan masih banyak lainnya, ada banyak kesempatan agar setiap drama atau skandal tak berakhir begitu saja dan hanya membuang waktu, pikiran, hingga tenaga.

Tak semua drama harus dibahas. Saya juga tak menuntut komunitas Jejepangan di Indonesia tiba-tiba menjadi pusat studi dan forum diskusi yang serius. Setidaknya pada beberapa kasus, apalagi skandal seks, harus dihindari dan tak usah kita bahas dan kasus-kasus lain perlu diramaikan dengan hati-hati.

Sebab suatu basis penggemar dengan suasana yang buruk akan berdampak ke semua orang. Ada hal-hal yang perlu kita pikirkan ulang dan perbaiki, minimal dari diri sendiri, agar ke depannya hal-hal seperti ilustrator dalam mata pencahariaannya dapat lebih dipahami, cosplayer dapat menjalankan hobinya dengan aman, para kepanitiaan melancarkan event dengan bahagia, dan mengundang orang lain untuk turut serta mengekspresikan diri dalam lingkungan penggemar yang kondusif.

Bukankah kita semua pada awalnya pemula yang tak tahu apa-apa dalam hal Jejepangan ini?

Hell Joseon: Hidup di Korea itu Berat!

Adanya istilah Hell Joseon ini membuktikan, kehidupan di Korea Selatan tak seindah di drama Korea.

Ketika mendengar kata Korea, khususnya Korea Selatan, banyak hal indah-indah yang terbayang di pikiran kalian. K-Pop, drakor, webtoon, Korean BBQ, Tayo, teknologi tinggi, internet cepat, Samsung, kimchi, dan Korean BBQ. Tidak perlu diragukan lagi, Korea tengah menjadi pusat perhatian dunia dalam bidang pop culture, bahkan mengalahkan Jepang. Tampak indah, bukan? Tunggu sampai kalian mendengar istilah “Hell Joseon”.

Berasal dari nama dinasti yang bertakhta di Korea sebelum penjajahan Jepang, “Hell Joseon” merupakan sebuah kritik akan kehidupan sosial-ekonomi Korea yang bagai neraka, tersembunyi di balik glamornya K-Pop dan drakor. Berkaca pada kematian artis K-Pop Sulli, salah satu dari sekian banyak penyebabnya adalah neraka Korea yang keras ini.

Dari Sengsara Menjadi Macan Asia

Bicara soal Hell Joseon, tentu tak lengkap jika tak membahas soal sejarahnya. Bagaimana sosial-ekonomi Korea Selatan berkembang juga dapat ditelusuri dari kebijakan-kebijakan terdahulu.

Korea Selatan di tahun 1950 hingga 1960-an hanyalah negara miskin. Tanah dan bangunan hancur lebur akibat perang. Ekonominya masih tergantung pada pertanian, serta santunan dari Amerika Serikat. Namun, semuanya berubah saat presiden Park Chung Hee menjabat di tahun 1960-an. Ia mengeluarkan sebuah kebijakan yang membuat ekonomi Korea Selatan meningkat pesat.

Kondisi Korea Selatan pada tahun 1950-an.

Park Chung Hee mengundang para chaebol, sebutan untuk konglomerat bisnis besar di Korea Selatan. Para chaebol ini diberikan pinjaman besar dari pemerintah. Selain pinjaman besar, para chaebol ini juga diberikan hak istimewa untuk merambah ke berbagai jenis industri, dari tekstil, kimia, hingga manufaktur. Hasilnya berbuah manis. Ekonomi meningkat pesat, mengantarkan Korea Selatan menjadi Empat Macan Asia, bersama Hong Kong, Singapura, dan Taiwan. Nama-nama chaebol ini tentu tak asing lagi di telinga. Samsung, LG, Hyundai, Lotte, dan CJ (pemilik jaringan bioskop CGV) adalah beberapa contoh di antaranya.

Meskipun ekonomi meroket, kebijakan ekonomi yang mengutamakan perusahaan besar ini mengundang konsekuensinya sendiri. Hal ini erat kaitannya dengan Hell Joseon.

Sudah Keras Sedari Kecil

Bagi masyarakat Korea, pendidikan adalah segalanya. Pendidikan menjadi solusi untuk meningkatkan status sosial dan ekonomi keluarga. Sedari kecil, anak-anak Korea diajarkan untuk mendapat nilai dan ranking bagus, agar dapat bekerja di perusahaan ternama dan mampu menghidupi diri sendiri dan keluarga.

Secara pembagian kelas, sistem pendidikan di Korea dan Indonesia kurang lebih sama. Enam tahun SD (Chodeung hakgyo), tiga tahun SMP (Jung hakgyo), dan tiga tahun SMA (Godeung hakgyo). Siswa SMA di sana berangkat sekolah pukul 05.00, dan selesai pukul 16.00. Setelah sekolah, siswa masih harus belajar di sekolah atau perpustakaan hingga pukul 22.00. Kebiasaan unik ini dinamakan yaja, yang artinya “belajar sore mandiri”, dan beberapa sekolah malah mengharuskannya. Meskipun demikian, sejumlah sekolah tidak lagi mewajibkan yaja.

Belajar selesai? Belum! Siswa masih harus mengikuti hagwon, yang umum dikenal di Indonesia sebagai bimbel. Mengikuti hagwon tentunya tak murah, namun orang tua tak sungkan menghabiskan uangnya demi nilai bagus sang anak. Alhasil, siswa baru bisa tidur pukul 02.00, yang dalam artian mereka hanya sempat tidur 3 jam sebelum akhirnya bangun lagi untuk sekolah.

Lelah dengan sekolah, sebagian siswa Korea menjadikan game sebagai pelarian.

Kalau akhir pekan dimanfaatkan orang Indonesia untuk bersantai dan jalan-jalan, siswa Korea masih menggunakan waktu itu untuk belajar. Bagaimana tidak, demi masuk universitas elit mereka harus terus belajar sampai lupa caranya bermain. Sebagian lagi yang sudah tak tahan, memilih untuk mengakhiri hidupnya atau bermain game sampai kecanduan.

Kerja keras selama sekolah ditentukan dalam CSAT, yaitu tes masuk perguruan tinggi. Sekitar 60% dari hasil tes ini akan menentukan universitas sang siswa, di mana 40% dihitung dari hasil rapor. Universitas presitisus yang menjadi incaran adalah Seoul National University, Korea University, dan Yonsei University.

Hidup Sesudah Kuliah, Lebih Berat Lagi

Setelah masuk universitas, mahasiswa baru belum bisa bernafas lega. Bagai pepatah “sudah jatuh tertimpa tangga”, saat kuliah sudah berat dan setelah kuliah juga demikian.

Saat mereka menjalani kuliah, mahasiswa lelaki dipanggil oleh negara untuk mengikuti wajib militer selama dua tahun. Ancaman dari tetangganya di sebelah utara menjadi alasan kuat budaya ini ada. Melewatkan wajib militer ini adalah bentuk pengkhianatan terhadap negara.

Setelah lulus kuliah, mahasiswa yang baru lulus ini akan dihadapkan pada pilihan hidup, sama seperti manusia pada umumnya. Bedanya, mahasiswa Korea punya sedikit pilihan. Kerja keras yang dilaluinya selama ini membuatnya merasa pantas untuk bekerja di perusahaan-perusahaan besar. Gaji mereka besar, setidaknya untuk standar Indonesia, tetapi tidak untuk Korea Selatan dengan biaya hidup tinggi. Kembali lagi, perusahaan-perusahaan besar ini adalah chaebol. Sebagian chaebol ini masih perusahaan keluarga. Kalau tidak ada koneksi ke sana, jangan harap bisa naik pangkat. Gajimu akan segitu-segitu saja.

Sebagian dari kalian mungkin berpikir untuk membuka bisnis. Tapi kembali lagi, ada chaebol. Mereka sudah memonopoli berbagai aspek kehidupan, dan mereka punya hak istimewa. Makanan, media, teknologi, hingga militer, hampir semuanya dikuasai oleh chaebol. Kecuali kalau keluargamu memang benar-benar kaya, mungkin lain cerita.

Menjadi Artis K-Pop? Tidak Semudah Itu

Sampai pada titik ini, mungkin kalian berpikir. “Kalau pendidikan sesulit itu, kenapa tidak menjadi artis K-Pop saja?”. Sebagian anak muda Korea juga memikirkan hal yang sama, namun kenyataan yang ada tak sebanding dengan imej mewah dan terkenal di luar sana.

Untuk menjadi artis K-Pop, seseorang harus melewati agensi terlebih dahulu. Agensi inilah yang nantinya akan melatih dan mendanai para artis. Sebelum debut, mereka ditempatkan dalam “boot camp”, di mana mereka akan dilatih menyanyi, menari, dan kegiatan fisik lainnya. Mereka butuh waktu bertahun-tahun, bahkan terkadang hingga 10 tahun, hanya agar bisa debut. Tidak hanya itu, mereka harus membayar untuk boot camp ini.

Kasus bunuh diri Jonghyun tahun 2017 lalu juga menjadi bukti dari kejamnya Hell Choson ini.

Budaya Korea lekat dengan budaya Konfusius yang menjunjung tinggi kesempurnaan. Artis-artis ini harus tampil sempurna di hadapan penggemarnya. Kesempurnaan tidak hanya dari skill menyanyi dan menari, tetapi juga tampang. Salah sedikit saja, penggemar bisa mencaci maki sejadi-jadinya. Oleh karena itu, operasi plastik dan diet ekstrim menjadi hal lumrah, bahkan diwajibkan, agar sang artis tetap digemari.

Tidak hanya fisik yang dikorbankan, mental dan kehidupan pribadi juga harus dikorbankan jika ingin menjadi artis K-Pop. Artis-artis K-Pop ini terjebak dalam kontrak yang tidak adil. Mereka hanya mendapat sebagian kecil dari pendapatan mereka manggung dan membintangi iklan, sisanya diserahkan ke agensi. Kehidupan pribadi mereka benar-benar dipantau, termasuk urusan cinta. Mau mencoba keluar? Siap-siap membayar denda, dan dendanya tentu tidak murah.

Tekanan yang bertubi-tubi inilah yang membuat penyakit mental mewabah di Korea Selatan, terlebih mereka yang menggeluti dunia hiburan. Ditambah dengan budaya Asia Timur yang masih meremehkan penyakit mental, tidak heran tingkat bunuh diri di Korea Selatan terbilang tinggi. Kematian Sulli dan Jonghyun akibat bunuh diri menjadi bukti nyata kejamnya hidup di neraka Korea Selatan.

Keluar dari “Neraka”

Sekolah sampai dini hari, masuk kuliah bersaing keras, tengah kuliah wajib militer, lulus kuliah bersaing keras lagi. Begitulah Hell Joseon, kehidupan di Korea Selatan yang tertutup oleh gemerlapnya Gangnam. Di sana hanya ada kebosanan dan neraka. Hidup akan begini-begini saja.

Tidak ada cara lain untuk keluar dari neraka ini, selain pindah ke luar negeri. Negara-negara Asia Tenggara, salah satunya Indonesia, menjadi salah satu tujuan favorit mereka. Memang masyarakat Indonesia tidak semaju di sana, setidaknya kesempatan di negara ini masih terbuka lebar untuk siapa saja yang berusaha keras.

Rakyat Korea Selatan hanya bisa berkata: “Korea Utara dan Selatan sama saja, yang membedakan hanyalah gaya hidupnya.”

Menjadi yang terhebat dapat mengantarkan kalian menuju kesuksesan. Meskipun demikian, sempatkanlah waktu untuk menikmati hidup, apapun caranya. Kalau sudah lelah, jangan dipaksa. Ada kalanya jiwa ini butuh istirahat.

[Ulasan] Joker (2019): Boleh Suka Badut, Tetapi Jangan Jadi Badut

Singkatnya, ulasan film Joker kali ini benar-benar menceritakan tentang masyarakat kita saat ini. Sayangnya, banyak yang salah paham.

Kemarin, saya dan salah satu kenalan pergi ke Lotte Shopping Avenue. Kami pergi untuk menonton film yang sudah saya nantikan sejak reveal di akhir tahun lalu: Joker. Sejak itu, saya mencoba menghindari semua pemberitaan, semua trailer baru, dan review dari orang lain. Saya ingin benar-benar dibuat terkejut oleh film yang satu ini.

Kenapa saya sangat menantikan Joker? Di tengah banyaknya film superhero yang berasa seperti kartun tiap hari Minggu dan berasa membosankan, DC tiba-tiba merilis satu film yang terlihat sangat emosional, sangat personal, dan bukan bagian dari jagat sinematik tertentu.

Berada di bawah naungan direksi DC Black, mereka merilis sebuah film rating R (artinya film ini ditujukan untuk penonton dewasa) dengan subjek yang terkenal dari segala kegilaannya. Siapa lagi kalau bukan Joker, musuh bebuyutan Manusia Kelelawar dari kota Gotham.

To Create the Perfect Joker

Joker kali ini memiliki nama asli Arthur Fleck yang diperankan oleh Joaquin Phoenix. Jujur saja, pertemuan saya satu-satunya dengan Phoenix sebelum Joker adalah di film Her, di mana Phoenix berperan sebagai pria kesepian yang akhirnya menjalin hubungan dengan sebuah Artificial Intelligence.

Phoenix memerankan Joker dengan sangat sempurna. Lebih dari sebatas bermain peran, Phoenix juga rela “merusak” tubuh dan mentalnya hingga turun 24 kg untuk mendapatkan gambar sempurna seorang Arthur Fleck yang hidup miskin dan menderita.

Singkatnya, Phoenix sungguh totalitas untuk menjadi Arthur Fleck. Selama menonton film ini, saya tidak pernah merasa melihat seorang aktor yang sedang memerankan seorang karakter. Saya melihat Arthur Fleck yang sedang menderita.

Sinematografi film ini merupakan salah satu sinematografi terbaik dari semua film yang saya tonton selama tahun 2019. Semua pengambilan gambar terasa seperti lukisan yang menceritakan banyak hal.

Salah satu scene yang saya sangat suka adalah saat Arthur mengunjungi Arkham State Hospital. Di scene tersebut, sutradara Todd Phillips serasa ingin menyampaikan betapa rumitnya isi kepala dari Arthur itu sendiri.

Perlu diingat, Todd Phillips selama ini lebih sering menyutradarai film komedi. Entah apa yang merasuki dirinya sehingga membuat karya yang tak biasanya ia lakukan sebelumnya.

Kemudian di bagian color palette atau pemilihan warna di film ini, Gotham diberikan warna yang sangat kelam sekaligus sangat berwarna di beberapa bagian. Warna yang ada terlihat over-saturated, yang kadang bisa memabukkan para penontonnya.

Pemilihan warna ini juga sangat efektif, sehingga kita dibuat lupa dengan betapa gelap dan kotornya Gotham dengan warna-warna yang ada. Sangat efektif untuk menggambarkan kontras antara warga kaya raya dengan miskin di kota itu.

Entah kalian sadar atau tidak, musik yang dimainkan mulai dari Arthur Fleck masih “waras” di awal film, hingga musiknya berubah menjadi lebih dinamis ketika ia berubah menjadi Joker.

Awal mula musik terasa pelan, melankolik, dan bahkan sedikit depressing. Namun, lambat laun musiknya berubah menjadi lebih keras, menggebu-gebu, tegas, dan akhirnya meledak di bagian akhir film yang menurut saya terasa sangat memuaskan.

Komposisi musik di Joker dipersembahkan oleh Hildur Gu√įnad√≥ttir, yang juga memberikan komposisi musiknya untuk serial TV¬†Chernobyl. Tidak heran kenapa komposisi musiknya bisa sebagus ini, bahkan menurut saya jauh lebih dinamis daripada Chernobyl.

Joker, bagi saya pribadi, merupakan film yang dengan mudah bisa meraih skor 9.5/10.

Put on a Happy Face

Pertama-tama, izinkan saya bilang bahwa Joker versi Joaquin ini merupakan Joker yang paling sesuai dengan versi komiknya. Setidaknya kedua setelah Joker versi Cameron Monaghan.

Joker versi Monaghan memiliki identitas asli bernama Jerome Valeska. Di Gotham, Joker ini memiliki pengaruh yang sangat besar bagi orang-orang tertindas di Gotham. Bahkan, beberapa orang menganggapnya sebagai solusi atas bobroknya kota Gotham. Tapi, dia tidak mengharapkan semua perhatian itu, ia bertindak semaunya, kapanpun, dan dimanapun yang ia mau.

Hmm, seorang penderita penyakit jiwa melakukan apapun yang dia mau tanpa tujuan tertentu, tapi justru menjadi inspirasi bagi banyak orang dan dianggap layaknya seorang nabi… Di mana saya pernah melihat karakter seperti itu?

Oh iya, Sabtu kemarin di bioskop.

Yes, Joker versi Phoenix memiliki nilai paling dasar seorang Joker. Seseorang yang sakit jiwa, melakukan apa yang dia mau tanpa peduli apa anggapan orang lain, tapi justru dianggap layaknya seorang dewa. Itulah mengapa Joker versi Phoenix lebih saya cintai daripada versi yang lain.

Ya, bahkan lebih baik daripada Heath Ledger.

Jangan salah, Ledger memberikan nyawanya untuk Joker, dan performa yang luar biasa untuk The Dark Knight. Tapi menurut saya pribadi, Joker versi Ledger entah kenapa terlihat lebih terstruktur, lebih teratur dibandingkan dengan versi Phoenix dan Monaghan yang terlihat lebih kacau dan benar-benar ngawur.

Selanjutnya adalah bagian untuk impact pribadi Joker terhadap saya, dan reaksi saya terhadap para badut media sosial yang saya temui beberapa saat setelah Joker tayang di bioskop.

You Got a Clown in Me

Bukan Joker yang ini, begok.

Joker sebenarnya adalah lagu lama untuk menarik relatibility dari para penontonnya. Berapa dari kita pernah merasakan kesepian, penolakan dari orang-orang di dekat kita, hingga rasa ingin meledak agar bisa didengar oleh orang lain.

Pastinya kalian, para pembaca, pernah merasakan hal tersebut.

Hell, saya sendiri pernah merasakan bagaimana pedihnya menjadi seorang Arthur Fleck (walaupun tidak separah itu). Saya sendiri juga merupakan anak dari seorang single mother, dan paham benar bagaimana rasa cinta untuk Ibu itu memang tiada duanya.

Saya paham benar bagaimana kejamnya dunia di luar sana, dan bagaimana kondisi dunia — terutama Indonesia saat ini. Lebih gila dan konyol dibanding beberapa tahun sebelumnya.

Tapi tolong, untuk orang-orang di luar sana, tolong jangan jadikan Arthur Fleck — atau dalam hal ini Joker — menjadi¬†rolemodel atau panutan untuk diri anda. Kenapa?

Arthur Fleck merupakan pribadi yang mengidap penyakit mental, dia adalah orang sakit. Dia adalah orang yang setelah menerima banyak penganiayaan, banyak kesakitan baik secara fisik dan mental, akhirnya melihat betapa hitam dan gelapnya dunia ini.

Arthur adalah orang yang selama hidupnya selalu ditindas. Hal yang paling parah, ia tidak pernah mendapatkan cinta dari siapapun selama masa hidupnya.

Joker, Relatable?

Saya yakin kalian pasti bisa merasakan penderitaan tersebut, tapi jangan pernah sekalipun berpikiran bahwa apa yang dilakukan Arthur adalah hal yang wajar dan benar. Cara yang benar adalah kalian harus menerima semua rasa sakit itu, dan gunakan rasa itu sebagai motivasi untuk melakukan hal baik, sebagai motivasi agar kalian tidak melakukan hal jahat terhadap orang lain.

Apa? Menerima rasa sakit dan menjadikan hal itu sebagai motivasi untuk melakukan hal baik? Kok rasanya konsep itu nggak asing, ya?

Ya, karena ada orang lain di Gotham yang melakukan hal itu. Banyak orang bilang, dia dan Joker adalah dua sisi dari satu koin yang sama. Satu tunduk kepada sisi gelap seorang manusia, dan yang satu lagi menggunakan sisi gelap tersebut untuk melawan kegelapan lain.

Saya merasa terganggu karena melihat banyak pengguna sosial media yang rasanya baru pertama kali mendapatkan film tentang seseorang yang relatable kemudian menganggap bahwa orang tersebut merupakan role model bagi dirinya.

Dicuri dari pej “Saya punya depresi yang melumpuhkan, maka saya menghibur diri sendiri”

Berhentilah jadi sosok edgy yang merasa dirinya merupakan orang paling menderita di muka bumi ini. Punya perasaan buruk yang selalu menghantui? Pergi ke psikiater ato psikolog, find a real help. Stop sakiti diri sendiri, mulai sayangi diri sendiri.

Satu hal yang paling penting: boleh suka badut, jangan jadi badut.

[Risa Gaming] Pengarang ‘Tokyo Ghoul’ Sui Ishida Mengumumkan Seri Game Terbaru, ‘Jack Jeanne’ Untuk Nintendo Switch!

Setelah tema supernatural kini Sui Ishida menghadiri serial bertema sekolah drama Opera!

Hai – hai Riscomrades! Cerita dari serial manga Tokyo Ghoul memang sudah berakhir pada 2018 yang lalu. Namun, tentunya masih terlalu cepat untuk pengarang serial tersebut yakni Sui Ishida untuk pensiun dari berkarya.

Sui Ishida dan pihak Broccoli mengumumkan bahwa proyek gim terbaru mereka Jack Jeanne akan hadir untuk Switch pada tahun 2020 untuk Jepang!

Sinopsis dari cerita Jack Jeanne menceritakan tentang seorang gadis bernama Kisa Tachibana yang berputus asa terhadap karirnya dalam pentas drama. Kemudian, ia mendapat undangan untuk hadir ke Univers Drama School, sebuah sekolah drama elit untuk aktor pria. Para siswa memainkan peran wanita (peran Jeanne) sekaligus dengan peran pria (peran Jack). Namun, demi mempertahankan status diterimanya, Kisa harus membintangi pertunjukan akhir pada akhir tahun, dan tentu saja Kisa juga harus menyembunyikan identitas aslinya sebagai perempuan.

Jack Jeanne merupakan perpaduan dari genre gim Simulation dan Rhythm. Disini, kalian sebagai Kisa Tachibana mempererat ikatan dengan teman sekelas kalian sambil mengincar peran utama dalam drama sekolah akhir tahun. Pada saat memasuki sesi drama, seperti halnya dengan gim Rhythm, kalian bisa menyaksikan performa mereka dalam tampilan gambar 3D.

Pihak Happinet juga mengkonfirmasikan bahwa mereka ingin memperluas gim ini ke berbagai media lain, termasuk anime, gim smartphone, event, kolaborasi, CD, dan merchandise. Saat ini, belum ada kabar jelas apakah rencana ini sudah berjalan atau belum.

Sumber: situs resmi, melalui ANN

 

TVRI Akan Menayangkan Kembali Serial Drama “Oshin”

Sebuah serial drama Jepang yang hits di era 80-an akan tayang lagi di TVRI.

TVRI akhirnya menayangkan kembali sebuah drama Jepang yang populer di era 80-an berjudul Oshin. Melalui akun media sosialnya, Oshin akan tayang pada tanggal 15 September 2018 pukul 21.00 dan beberapa warganet sangat antusias atas pengumuman tersebut.

Oshin merupakan serial televisi drama Jepang yang ditayangkan di NHK dari 4 April 1983 hingga 31 Marei 1984. Serial ini menceritakan perjalanan hidup¬†Shin Tanokura dalam era Meiji. Ia dipanggil “Oshin” dan harus bekerja keras sejak kecil karena kondisi keuangan keluarganya, tetapi berkat kerja kerasnya, ia menjadi pemilik waralaba toko swalayan yang kaya. Serial ini terdiri dari 297 episode sepanjang 15 menit dan telah ditayangkan di 59 negara termasuk Indonesia.