[Wawancara] Larissa Rochefort: Mangafest, Tokyo, dan Optimisme

Kami berbincang-bincang setelah Mangafest silam bersama Larissa soal Mangafest.

Kamar redaksi agaknya bahagia bercampur bingung ketika beberapa minggu sebelum Mangafest, kami diberitahu: izin wawancara Guest Star sudah didapatkan. Guest star kali ini bukan main-main, tak lain dan tak bukan adalah Larissa Rochefort itu sendiri. Seorang cosplayer panutan yang, selain berprestasi, selalu menebarkan aura positif dan mengingatkan para pengikutnya untuk optimis dan semangat menjalankan hari.

Ketika hari kedua Mangafest sudah mulai menjelang malam, setelah sesi meet and greet yang panjang dan berkesan, kami berkesempatan untuk berbincang sebentar dengan Larissa, soal Mangafest, Ikebukuro, dan masih banyak lainnya.

Sesi meet and greet Larissa Rochefort.

Wawancara dengan Larissa Rochefort

Bagaimana Yogyakarta dan Mangafest bagi Larissa?

Asik sekali. Makannya enak, macetnya tidak seperti di Jakarta. (Mangafest) ini acara yang punya potensi di Jogja. Dengan sound system terbaik, suara bukan masalah, bahkan mengalahkan yang ada di Jakarta. Orang-orangnya juga antusias, Yogya banget.

Larissa terhitung sangat sering mengikuti berbagai event baik sebagai Guest Star maupun sebagai pengunjung. Menurut Larissa, apa perbedaan euforia dari masing-masing yang diikuti?

Dari segi bisnis, beda target pasar. Ada event kecil tapi tepat sasaran, (lebih baik) daripada event besar tapi tidak tepat sasaran. Acara-acara kecil enak buat kumpul dengan teman, tergantung tujuannya.

Untuk orang Yogya, Mangafest wajib dihadiri. Ia seperti CF (Comic Frontier, red.) –nya Jogja.

Bagaimana sejauh ini pengalaman menjadi¬†cosplayer¬†di Indonesia–salah satu yang paling sukses di dalam dan luar negeri?

Cosplay di TGS adalah sebuah kehormatan. Tanpa dukungan Tuhan dan orang-orang, hal-hal ini tidak akan bisa terlaksana.

Rasanya senang di Tokyo, bertemu cosplayer dari berbagai negara. Orang-orangnya pun lebih berpikiran terbuka dan mengapresiasi. Saat di Akihabara dan Ikebukuro bisa khilaf sepuasnya. Barang yang selama ini harus titip, sekarang di depan mata.

Sesi wawancara dengan Larissa Rochefort.

Kalau untuk Larissa sendiri, cosplay ini hanya sebatas hobi atau sudah menjadi bagian dari pekerjaan?

Sekarang sudah menjadi pekerjaan, tapi berasa seperti hobi. Hobi yang sehat, terlaksana dari hati.

Larissa juga mengajak para follower untuk berpikiran positif dan optimis. Bagaimana bisa dilakukan di tengah suasana komunitas yang panas?

Kita tidak bisa selamanya positif, tetapi yang keluar dari media sosial saya juga bukan kemunafikan. (Hal tersebut) bagian dari kepercayaan diri. Kalau hanya mengeluh, masalah tidak akan selesai. (Oleh karena itu) lebih baik optimis. Kalau gagal, mungkin bukan jalan kamu.

Hidup harus saling peduli dan saling mendukung, tak ada salahnya inisiatif. Kalau ada yang jahat ke kamu, jangan balik balas jahat.

Adakah pesan untuk para penggemar jejepangan di Indonesia dan penggemar/pelaku cosplay pada khususnya?

Budaya di sini belum seketat di Jepang, tetapi jika ingin cosplay, saran saya mulailah dengan hal-hal positif. Jangan buat hal-hal yang kontroversial. Kadang-kadang, beberapa etika itu common sense, tetapi belum umum dilaksanakan. Untuk penggemar baru, ikuti aturan yang ada atau dari yang lebih berpengalaman.

Jangan malu bertanya. Saya pun masih berbuat salah, yang penting punya kemauan untuk berubah menjadi lebih baik.

Terima kasih atas waktunya, sang panutan! Semoga ekosistem cosplay di Indonesia menjadi semakin terbawa ke arah positif ke depannya.

Wawancara oleh Aditya Putera Tanriawan dan Excel Coananda.

Kami Datang (Kembali) ke Mangafest Yogyakarta!

Kami kembali mengunjungi event yang paling wajib datang di tanah Jawa Tengah dan Yogyakarta. Simak Perjalanan kami di Mangafest 2019!

Mangafest, event tahunan yang selalu ditunggu oleh penggemar kultur jejepangan di Jawa Tengah dan Yogyakarta akhirnya kembali lagi. Event yang menurut Larissa Rochefort mempunyai potensi mampu menyaingi AFA  ini dikelola oleh Himpunan Mahasiswa Sastra Jepang (Himaje) Universitas Gadjah Mada (UGM).

Acara Mangafest kali ini sudah berusia sembilan Tahun. Sampai sekarang, Mangafest masih memegang teguh prinsipnya yaitu menjadi panggung doujin/komik/karya lain buatan sendiri yang berasal dari dalam negeri. Event ini otomatis menjadi medan perang para kreator karya lokal yang tak hanya dari Yogyakarta dan Jawa Tengah, namun juga dari kota lain seperti Jakarta, Bandung, Semarang, dan lain lain.

“Selamat Datang di Mangafest, Selamat berbelanja~” [foto: Aditya Putera T.]
Mangafest kali ini bertempat di Jogja Expo Center (JEC), gedung pertemuan terluas di Jogja. Acara ini berlangsung selama dua hari, yaitu pada tanggal 26-27 Oktober 2019. Luasnya gedung yang dipakai ternyata tidak sebanding dengan jumlah pengunjung yang datang. Seorang panitia bahkan berbicara kepada kami bahwa pengunjung Mangafest pada tahun ini tiga kali lipat dari tahun lalu dan melebihi ekspektasi dari panitia sendiri.

Kami kira wajar sekali panitia kaget. Mangafest dari dulu dianggap sebagai event terbesar di Jawa Tengah-Yogyakarta, dan ada anggapan jika anda penggemar jejepangan yang berada di wilayah tersebut, belum lengkap rasanya kalau belum mengunjungi Mangafest. Hal ini menyebabkan banyak sekali orang rela jauh-jauh datang hanya untuk mengunjungi Mangafest.

Penulis datang pada hari Minggu saja, dan ternyata itu adalah waktu yang sangat salah. Saat penulis datang, antrian sudah mengular dari ujung sampai ujung gedung, dan waktu baru menunjukkan pukul 11:00 WIB, satu jam setelah open gate. Suhu Kota Yogyakarta kala itu sedang dalam puncaknya makin memperpanas suasana antrian.

Membaca salah satu karya lomba yang dipamerkan [Foto: Aditya Putera T.]

Comiket Mangafest yang Ramai dan Terjangkau

Saat memasuki area event, pengunjung langsung disuguhkan berbagai karya lomba yang diadakan Mangafest seperti lomba membuat komik dan lomba membuat fanart dari maskot Mangafest, pengunjung juga dapat ikut berpartisipasi untuk memilih karya favorit mereka untuk menentukan siapa yang berhasil mendapatkan juara hasil voting pengunjung.

Melihat proses transaksi jual beli doujin [foto: Aditya Putera T.]
Setelah melalui labirin berisi karya lomba, pengunjung langsung disuguhkan berbagai karya dari kreator lokal di area Comiket, berbagai circle atau lingkarya kreator mampu menyihir pengunjung untuk membeli dagangannya sehingga tanpa sadar uang pengunjung tiba-tiba berkurang drastis.

Mas Gundala!!!! Mbak Sri!!! [foto: Aditya Putera T.]
Cosplayer yang berada di Mangafest tidak hanya memerankan tokoh karakter dari pop kultur jejepangan saja, banyak juga yang menurunkan kostum dari pop kultur Amerika bahkan karakter asli Indonesia juga ada! Totalitas dalam memerankan tokoh yang mereka sukai patut diacungi jempol! Banyak sekali cosplayer yang rela mempersiapkan jauh-jauh hari seperti berdandan semaksimal mungkin dan mempersiapkan kostum dengan baik, alhasil hasil cosplay mereka sangat bagus.

Penampilan Shojo Complex dihari pertama. [foto: Mustafa Kharis]
Memasuki panggung hiburan, penulis ingin segera memilih untuk berpindah ke lain tempat. Alasannya sangat simpel, panggung hiburan penuh dengan pengunjung meskipun ruangannya sangat luas, sehingga kesan sumpek, panas, dan kondisi tidak nyaman itu sangat terasa terlebih saat itu Jogja sedang dalam fase suhu terpanasnya sehingga berada di dekat panggung hiburan sangat menyiksa penulis. Penulis sempat melihat beberapa penampilan lomba dance cover dan langsung mengamini pendapat Larissa Rochefort tentang tata suara dan pencahayaaan panggung hiburan Mangafest 2019 yang sangat luar biasa.

Para Komunitas Lokal yang Berkumpul dan Berbahagia

Pemenang Mini Games stand BanG Dream Yogyakarta berserta Panitia lomba [foto: Mustafa Kharis]
Penulis kemudian memilih menyingkir ke area stand komunitas. Banyak stand komunitas lokal Yogya unjuk gigi dan pamer tentang komunitas mereka. Tidak sedikit komunitas yang mengadakan mini-games seperti dari komunitas BanG Dream! Yogyakarta yang mengadakan lomba bermain game BanG Dream! yang bertipe rhythm yang menguji ketangkasan jari tangan. Pemenang dari minigames mereka mendapatkan berbagai hadiah unik seperti Google Play Card (GPC) dan Indomie. Anehnya, juara keempat mendapatkan lebih banyak bungkus Indomie premium dibandingkan juara kedua dan ketiga.

Talkshow bersama perwakilan dari BumiLangit [foto: Aditya Putera T.]
Terdapat juga stand makanan yang jumlahnya cukup banyak dan diimbangi dengan stand-stand pernak-pernik Jejepangan lainnya. Namun stand Comiket jelas sangat mendominasi sesuai komitmen pihak panitia yang ingin kreator lokal berjaya. Panitia juga menyediakan berbagai lokakarya (workshop) dan talkshow menarik bagi kreator dengan narasumber kreator-kreator komik lokal yang terkenal seperti Sweta Kartika, Matto Haq, dan lain-lain.

HENSHIN!!!! [foto: Aditya Putera T.]
Tidak hanya berfokus pada Comiket, panggung hiburan juga penuh penampilan tidak hanya dari Idol atau Band lokal seperti őľ’Zone, Nanoka, Victoria Symphony ataupun Minerva Land, terdapat juga keunikan tersendiri seperti Tari Bali, Ketoprak, dan Wayang yang ternyata berhubungan dengan tema yang diangkat panitia Mangafest tahun ini.

Bintang Acara, Larissa Rochefort

Pada Mangafest kali ini, panitia mengangkat tema Culturenation, tema yang diangkat dari keprihatinan terhadap budaya asli Indonesia yang perlahan mulai dilupakan sehingga panitia ingin mengajak para penikmat kultur Jejepangan jangan sampai melupakan budaya asli Indonesia dengan menyelipkan berbagai budaya khas Indonesia pada Mangafest tahun ini.

Mari mengantri demi bertemu mbak Larissa~ [foto: Aditya Putera T.]
Sebagai Guest Star utama, dipilihlah seorang cosplayer yang mewakili Indonesia di ajang Tokyo Game Show (TGS) 2019, yaitu Larissa Rochefort, dan sebagai penampilan spesial, grup idol Shojo Complex (ShoCom) dan grup kebudayaan Jathilan. Ximplah Cs dipilih untuk menghibur pengunjung Mangafest.

Saat berjalannya event, penulis menemui banyak sekali teman yang pernah satu hobi namun sudah lama tidak bertemu dan tiba-tiba muncul di Mangafest. beberapa orang yang mengaku pensiun dari dunia jejepangan pun terlihat datang. Banyak teman yang mengaku hanya Mangafest adalah event yang paling menarik perhatian mereka, sehingga banyak reuni singkat terjadi disini.

Harta yang paling berharga adalah Keluarga~ [foto: Aditya Putera T.]
Alhasil adanya Mangafest ini bisa dibilang tidak hanya sebagai medan perang kreator karya seni, namun sebagai pengikat kembali kekeluargaan penggemar kebudayaan Jepang yang lama tidak bertemu setiap tahunnya.

Liputan dan Penulisan oleh Aditya Putera Tanriawan