"Siawa siwa uwono uweni, yang baju merah jangan sampe lepas."

Itu adalah sepenggal lirik lagu Nyanyian Kode yang mungkin akhir-akhir ini kembali viral. Lagu tersebut dinyanyikan Kasino di film Warkop DKI Pintar-pintar Bodoh tahun 1980 ini.

Dono dan Kasino menyanyikan lagu Nyanyian Kode (Pintar-pintar Bodoh, 1980)

Dalam film tersebut, lagu Nyanyian Kode adalah kode dari Kasino untuk Dono agar terus mengawasi target pengintaian mereka sembari berperan menjadi pengamen di salah satu rumah makan. Apa daya, Dono malah terpikat dengan perempuan lain sehingga target mereka keburu pergi dari rumah makan tersebut.

Meskipun lagu yang dibawakan Kasino tersebut penuh kesan komedi dan main-main, lagu asli di balik Nyanyian Kode memiliki makna dan sejarah yang bukan main hebatnya. Dinyanyikan oleh pendatang baru berusia 21 tahun, lagu ini berhasil melejit secara global dan menjadi salah satu single terlaris sepanjang masa.

Inilah kisah sebuah lagu bernama Sukiyaki yang dinyanyikan oleh seorang pemuda Jepang bernama Kyu Sakamoto.

Memandang Langit untuk Melupakan Kesedihan

"Ue o Muite Arukou"

Sukiyaki adalah lagu pop Jepang yang terbit pada tahun 1961. Lagu dengan nuansa romantis ini pada awalnya berjudul Ue o Muite Aruko sesuai dengan baris pertamanya. Agar mampu menjangkau audiens internasional, nama lagu tersebut diubah menjadi Sukiyaki, nama makanan Jepang yang terkenal secara global.

Dari seluruh potongan liriknya, makna lagu Sukiyaki sangat mudah untuk dipahami. Lagu ini bercerita mengenai seseorang yang memiliki memori berkesan atau rasa cinta yang ada pada masa lalu sehingga ia menjadi sedih saat mengingatnya. Namun, agar tidak "menitikkan air mata" ketika mengingat memori tersebut, ia memilih untuk memandang ke atas untuk melihat awan, langit, bintang, dan bulan sembari berjalan kaki.

Potongan lirik yang paling mudah diingat dari lagu Sukiyaki adalah sebagai berikut (dalam Romaji):

Ue o muite, aruko
Namidana, kobore nari yo ni
Omoidatsu, haru no hi
Hitori bochi no yoru
...
Shiawase wa kumo no ue ni
Shiawase wa sora no ue ni

Translasinya dalam bahasa Indonesia adalah sebagai berikut:

Aku melihat ke atas sembari berjalan
Agar air mataku tidak jatuh
(Ketika) mengingat hari-hari musim semi
Namun, sekarang aku sendiri
...
Kebahagiaan ada di atas awan
Kebahagiaan ada di atas langit

Setiap barisnya memiliki lirik yang berbeda-beda, misalnya seperti "hari-hari musim semi" dapat berubah menjadi "hari-hari musim panas" atau "hari-hari musim gugur." Meskipun demikian, inti dari lagunya tetap sama: sang penyanyi memandang langit agar tidak menangis ketika mengingat memori yang berkesan.

Sentimen Anti-Amerika dalam Lagu Romantis

Meskipun liriknya cenderung ditujukan kepada rasa nostalgia percintaan, lagu Sukiyaki ternyata adalah bentuk frustrasi terhadap kehadiran Amerika Serikat di tanah Jepang.

Konteksnya, pada 1960 (1 tahun sebelum penerbitan lagu ini) Jepang dilanda demonstrasi besar-besaran. Demonstrasi yang dinamai "Demonstrasi Anpo" itu dimaksudkan untuk menghentikan penandatanganan Perjanjian Keamanan AS-Jepang yang merugikan bagi masyarakat Negeri Matahari Terbit.

Setelah melalui hari-hari protes berdarah dan pendudukan gedung parlemen, Demonstrasi Anpo berhasil menurunkan perdana menteri yang mendukung penandatanganan perjanjian, Nobusuke Kishi. Namun, perjanjian keamanan tersebut pada akhirnya tetap ditandatangani sehingga seluruh aksi demonstrasi gagal mencapai tujuan utamanya.

Kegagalan tersebut membuat banyak pemuda-pemudi Jepang (partisipan aktif Demonstrasi Anpo) kecewa dan sedih; Satu di antaranya adalah Rokusuke Ei, penulis lagu Sukiyaki yang mengekspresikan rasa kecewa dan sedihnya atas kegagalan Demonstrasi Anpo di dalam lagu tersebut. Agar dapat diterima banyak orang, liriknya dibuat sesimpel mungkin agar setiap orang dapat memaknainya dengan memori masing-masing.

Rekor di Luar Negeri, Jadi Legenda di Negeri Sendiri

Prangko Jepang bertemakan lagu Sukiyaki (kiri) pada 1999

Liriknya yang mudah dan melodinya yang catchy membuat lagu ini mudah diterima oleh masyarakat dunia. Tidak butuh waktu lama sebelum lagu ini meledak di pasar internasional.

Di AS, lagu ini berhasil memuncaki Billboard Hot 100 pada 1963, menjadi lagu Asia pertama yang menduduki peringkat satu di daftar lagu terbaik AS tersebut. Posisi tersebut tidak mampu diraih oleh lagu Asia lainnya hingga 57 tahun kemudian saat BTS memuncakinya dengan lagu Dynamite pada 2020.

Dengan penjualan yang mencapai 13 juta kopi, Sukiyaki pun diakui sebagai salah satu single lagu terbaik dunia. Pencapaian tersebut ikut diakui oleh pemerintah Jepang yang menerbitkan prangko 50 Yen bertemakan lagu Sukiyaki pada tahun 1999. Tidak berhenti sampai di situ, lagu tersebut juga kembali dinyanyikan saat penutupan Olimpiade Tokyo 2020 pada 2021, tepat 60 tahun setelah lagu tersebut diterbitkan.

Tidak mengherankan jika lagunya mudah masuk ke Indonesia dan mengilhami Dono, Kasino, atau Indro untuk meng-cover lagu tersebut ke dalam humornya sebagai "Nyanyian Kode."

Sukiyaki pun memperlihatkan bagaimana suatu lagu dapat menjadi legenda. Dengan melodi yang nyaman di telinga dan lirik yang menyentuh hati pendengarnya, lagu tersebut berhasil sukses di seluruh dunia dan menciptakan persepsi positif mengenai Jepang. Lagu yang muncul dari ekspersi anti-AS ini pun bahkan berhasil "menaklukkan" AS itu sendiri.

Andaikan Kyu Sakamoto selamat dari kecelakaan pesawat Japan Airlines 123 pada 1985, ia pasti akan sangat bahagia melihat lagunya terus menjadi legenda hingga hari ini.