Haruka Nakagawa dan “Prank” yang Tidak EtisDibutuhkan waktu 3 menit untuk membaca artikel ini

Kejadian yang menimpa Haruka Nakagawa ini perlu mendapat perhatian serius, agar hal serupa tidak terjadi lagi.

Setelah kasus report massal yang menghebohkan ranah maya akhir-akhir ini, kabar buruk kembali datang dari acara televisi Pesbukers ANTV. Haruka Nakagawa, eks personil AKB48 dan JKT48 yang kini berkarir solo, berderai air mata. Pasalnya, ia terkena “prank” oleh tim Pesbukers, sehingga membuatnya menangis.

Kejadian tersebut bermula pada acara Pesbukers tanggal 17 Mei 2019. Tim Pesbukers menyiapkan rencana “prank” untuk Haruka yang kebetulan diundang dalam acara itu. Tim mengambil jam tangan milik Raffi Ahmad dan menyembunyikannya di dalam tas Haruka. Kemudian, tim serempak menuduh Haruka telah mencuri jam tangan Raffi. Haruka pun terkejut dan kemudian menangis.

Petisi yang dikumandangkan oleh Alvian dengan tujuan agar acara Pesbukers dihentikan.

Kasus ini diviralkan oleh Naufal Alfarizy, salah satu pengamat pertelevisian Indonesia. Ia menyayangkan tindakan tim Pesbukers yang menurutnya sudah kelewat batas, terlebih situasi Haruka yang masih dilanda duka akan kepergian kakaknya. Selain itu, warganet bernama Alvian juga menyerukan petisi untuk menghentikan acara Pesbukers yang menurutnya sudah tidak mendidik. Saat ini, petisi tersebut telah ditandatangani oleh lebih dari 10.000 orang.

Menanggapi kasus yang viral ini, Haruka memberikan laporan terbaru dalam twitnya. Ia masih dalam keadaan baik-baik saja, dan mengaku senang bisa hadir di acara Pesbukers. Segenap tim sudah meminta maaf atas perbuatannya. Meskipun demikian, penggemarnya sudah telanjur kesal akan acara tersebut dan meminta acara Pesbukers dihentikan saja.

Prank Ada Tata Caranya!

Melakukan prank sudah tidak lagi menjadi hal yang asing. Semua lapisan masyarakat melakukannya, mulai dari Youtuber kelas kakap hingga obrolan santai dengan teman. Meskipun prank adalah hal yang lazim, hal ini tentu harus dilakukan secara hati-hati agar tidak menimbulkan masalah pada kemudian hari.

Bagi Anda yang belum tahu, prank adalah salah satu bentuk dari lelucon yang dilakukan secara praktik. Pelaku menyampaikan leluconnya kepada korban dalam bentuk tingkah laku dan tentunya dengan maksud bercanda semata. Ada beberapa contoh acara prank yang umum dikenal masyarakat Indonesia, seperti Just For Laughs Gags, Spontan dari Starvision Plus, dan Salah Sambung dari GenFM.

Reaksi korban ketika dirinya kena prank tentunya berbeda-beda. Ada yang tertawa, kaget, marah, bahkan ada pula yang sedih. Sesuatu yang kita sebut sebagai lelucon dapat dimaknai secara serius dalam pikiran orang lain. Hal ini sudah dapat kita lihat dalam kasus yang melibatkan lolicon dan Nafa Urbach, juga kasus wibu yang memasukkan cosplayer ke dalam karung.

Memang kita tidak dapat memprediksi reaksi korban, tetapi kita dapat mencegah jika sesuatu yang buruk terjadi. Biasanya, korban akan menonton kembali rekamannya saat di-prank. Jika korban tidak ingin rekaman tersebut ditayangkan, ia dapat menolak. Saat ditayangkan, acara akan menampilkan pesan bahwa aksi prank tersebut telah mendapat persetujuan dari korban.

Dalam kasus yang menimpa Haruka ini, acara Pesbukers ditayangkan secara langsung. Tidak ada persetujuan, semua kejadian langsung ditayangkan di layar kaca. Kejadian ini menjadi sangat memalukan bagi korban itu sendiri.

Pahami Situasi dan Kondisi

Haruka Nakagawa adalah orang Jepang, yang memiliki budaya yang berbeda dengan kita. Budaya Jepang erat kaitannya rasa malu. Pejabat pemerintahan yang ketahuan korupsi langsung mengundurkan diri, bahkan perbuatan harakiri (bunuh diri dengan menusuk perut) menjadi jalan “mati terhormat” untuk mereka yang gagal dalam mengemban tugas.

Meskipun telah lama tinggal di Indonesia, budaya ini tetap dipegang teguh oleh Haruka. Dia merasa bersalah dan malu karena telah “mencuri” barang milik Raffi, terlebih segenap tim menuduhnya. Kata-kata “hanya prank” tidak dapat membendung emosinya. Terlebih lagi, Haruka baru saja ditinggalkan oleh kakak tercintanya. Suatu hal yang tidak diperhatikan oleh stasiun televisi yang hanya mengejar rating tinggi.

Kasus ini tentunya menjadi perhatian bagi kita semua, agar lebih berhati-hati dalam berinteraksi dengan sesama. Pahami budaya orang tersebut agar tidak terjadi salah paham yang dapat merusak hubungan baik Anda. Pintarlah dalam memilih tayangan yang Anda tonton dan jauhi tayangan yang menurut Anda tidak baik. Jika saja acara yang tidak etis semacam ini sepi peminat, acara ini tentu akan berhenti dengan sendirinya. Semoga.

Tulisan ini adalah opini pribadi dari penulis, tidak mencerminkan pandangan umum Risa Media. Penulisan oleh Excel.


Excel Coananda

Komikus Risa Comics, Penulis Risa Media
Hobi membuat dan membunuh meme.

Tinggalkan Balasan