Saat Yakuza dan Otaku Bersuara Melawan RasismeDibutuhkan waktu 1 menit untuk membaca artikel ini

Sebuah kejadian langka ketika seorang otaku tidak hanya berdiam diri di dalam rumah saja.

Jepang adalah negara yang homogen, di mana 98,5% warganya merupakan etnis Jepang. Seiring berjalannya waktu, gelombang imigran dari luar negeri mulai berdatangan untuk mencari penghidupan yang lebih baik. Terbiasa hidup di negara homogen membuat sebagian warganya tidak nyaman dengan pendatang, memicu tumbuhnya gerakan nasionalisme kanan ekstrem.

Zaitokukai, salah satu dari gerakan ekstrem ini sempat membuat kegaduhan. Pada bulan Mei 2015, mereka berpakaian ala tentara Jepang era Perang Dunia II, mendatangi sekolah TK etnis Korea di Jepang, dan mengancam akan membantai seluruh etnis Korea di tanah Jepang. Selain etnis Korea, etnis pendatang lainnya juga tak luput dari sasaran mereka. Anehnya, polisi malah tidak berkutik menghadapi mereka.

Sebagian anggota yakuza, mafia berpengaruh di tanah Jepang, tidak senang dengan gerakan ekstrem ini. Meskipun pandangan mereka cenderung konservatif, mereka tidak senang jika etnis pendatang ditindas, terlebih jika korbannya anak-anak. Tidak tanggung-tanggung, para yakuza ini juga siap menggunakan kekerasan bila diperlukan, agar para ekstremis ini tidak berani membuat gaduh di lain hari.

Satu hal yang paling menarik dari aksi ini, beberapa otaku juga turut terlibat dalam aksi ini. Di bawah jargon Otaku Against Racism, mereka mengenakan atribut anime dan membuat ilustrasi, menyatakan siap pasang badan melawan aksi rasisme yang dilakukan oleh ekstremis. Sebuah kejadian yang langka, di mana otaku turun ke jalan dan memperjuangkan pendapatnya, sekaligus melawan stigma otaku yang terbuang dalam masyarakat.

Sumber: Crunchyroll, 18 Mei 2015

Excel Coananda

Komikus Risa Comics, Penulis Risa Media
Hobi membuat dan membunuh meme.

Tinggalkan Balasan