Sejarah Budaya Jejepangan di Indonesia (Bagian 1)Dibutuhkan waktu 4 menit untuk membaca artikel ini

Dari zaman bau alat Doraemon sampai zaman bau bawang, di manakah Anda memulainya?

Anime, manga, novel ringan, idol, sampai tokusatsu. Dari zaman bau alat Doraemon sampai zaman bau bawang, budaya jejepangan selalu menyimpan kisahnya sendiri. Muda mudi 90-an dan 2000-an turut merasakan hadirnya anime favorit mereka di masa kecil dan remaja. Meskipun kerap kali dipandang rendah oleh masyarakat, budaya Jejepangan masih tetap tumbuh subur hingga saat ini.

Seperti apakah perkembangan anime, manga, idol, dan segala hal berbau jejepangan dari dulu hingga kini? Hari ini, Risa Media akan membahasnya secara lengkap.

1990-2006: Jaya di Layar Kaca

Kumpulan kartun 90-an yang menemani masa kecil.

Sebelum tahun 1990, orang hanya mengenal Jepang dari industri otomotif atau barang elektronik berkualitas tinggi. Stasiun televisi hanya ada satu, dan masyarakat mulai haus akan tayangan alternatif untuk menghibur hari.

Harapan itu tiba di tahun 1990, oleh stasiun televisi yang kala itu masih seumur jagung. Setelah melepas dekoder dan mengudara secara bebas, RCTI berhasil mendapatkan hak siar Doraemon di tanah air. Ceritanya yang sederhana tapi menarik membuatnya disukai oleh berbagai kalangan, tak terkecuali anak-anak. Tidak hanya di layar kaca, Doraemon juga menghiasi berbagai media, mulai dari buku tulis, pensil, sprei, dan masih banyak lainnya.

Kesuksesan RCTI dengan Doraemon-nya membuat stasiun televisi lain turut larut dalam histeria kartun di layar kaca. Lima tahun setelah Doraemon tayang di RCTI, Indosiar ikut menyajikan kartun remaja, sebut saja Dragon Ball, Detective Conan, Digimon, Pokemon, dan Sailor Moon. Tidak mau kalah dalam persaingan, RCTI juga menambah koleksi kartunnya, apalagi kalau bukan Crayon Shin-chan, Hamtaro, dan Kobo-chan. SCTV, yang kala itu masih bersaudara dengan RCTI, ikut menayangkan kartun Dr. Slump, Tokyo Mew Mew, dan Magical Doremi.

Meskipun berbeda stasiun televisi, semua acara tersebut tayang di waktu yang sama, Minggu pagi hingga siang. Anak-anak bersemangat untuk bangun pagi di hari Minggu, tidak mau melewatkan kartun kesukaannya. Tak jarang terjadi pertengkaran yang berawal dari masalah sepele, rebutan remote TV. Terlepas dari itu semua, Minggu pagi hingga siang adalah waktu yang sangat menyenangkan bagi anak-anak di masanya.

Memasuki tahun milenium, tayangan kartun di layar kaca belum juga surut, bahkan semakin meningkat. Pada tahun 2001, TV7 (sekarang Trans 7) juga menayangkan kartun, sebut saja Captain Tsubasa, Ranma 1/2, dan Hachi.

2006-2012: Sinetron Menyerang, Spacetoon pun Datang

Pertengahan 2000-an merupakan tahun-tahun yang berat untuk tayangan kartun di layar kaca. Pada masa ini, acara sinetron mulai naik daun. Histeria kembali terjadi, stasiun televisi juga ramai-ramai membuat sinetron, dan perlahan-lahan meninggalkan kartun.

Akhirnya selesai iklan! (Sumber: TV Anak Spacetoon)

Ada beberapa alasan stasiun televisi pada masa ini (dan terus berlanjut sampai sekarang) lebih memilih untuk menayangkan sinetron dibanding kartun, di antaranya:

  • Sebelum seri kartun tayang resmi di Indonesia, stasiun televisi harus membeli lisensi penayangan dari negara asalnya, yang harganya jelas tidak murah. Belum lagi usaha dan biaya ekstra untuk sulih suara (dubbing) ke bahasa Indonesia, dan juga pemotongan adegan-adegan yang tidak senonoh.
  • Acara kartun pada masa itu ditujukan untuk penonton usia muda, terutama anak-anak (meskipun berapa seri kartun tidak cocok untuk anak di bawah 13 tahun). Ditambah dengan mahalnya pembelian lisensi, hal ini menyebabkan penayangan kartun di televisi tidak lagi menguntungkan.
  • Anak-anak cenderung mengikuti apa yang dilakukan orang dewasa, karena hal itu akan membuatnya dianggap lebih terpandang di masyarakat. Jika ibu, tante, ataupun saudaranya menonton sinetron di jam 19.00-20.00 malam, alhasil anak-anak akan turut ikut menontonnya. Hal ini jelas adalah peluang bagi produsen sinetron.

Perlahan tapi pasti, sinetron semakin menggerus pasar kartun di TV Indonesia. Indosiar mengurangi jam tayang kartunnya, disusul dengan RCTI. TV7 diakuisisi oleh Trans Corporation dan diganti namanya menjadi Trans 7, dan yang terparah, SCTV tidak lagi menayangkan kartun sama sekali. Untungnya, serial anime yang telah lama tayang di sana tidak serta merta terlantar, karena mereka menemukan tempat baru untuk berlabuh.

Perkenalkan, Spacetoon. Stasiun televisi yang dikhususkan untuk anak-anak ini pertama mengudara di tahun 2005. Program tayangannya didominasi oleh anime-anime “buangan” dari empat stasiun televisi di atas. Tidak hanya itu, Spacetoon juga menayangkan beberapa anime yang belum pernah tayang sebelumnya di Indonesia (mayoritas anime 80-an atau 90-an), juga kartun Barat dan tayangan non-kartun yang masih berorientasi anak-anak. Meskipun “buangan”, anak-anak generasi 2000-an (lahir 1996-2006) pun turut menonton dan menikmati kartun dari masa 90-an ini melalui Spacetoon. Hal ini menjelaskan kenapa banyak orang yang mengaku dirinya sebagai “anak generasi 90-an”, meskipun lahir di tahun 1998.

Bukan Global TV namanya kalau gak ada Spongebob dan Naruto!

Selain Spacetoon, ada juga stasiun televisi yang mencoba untuk melestarikan anime, siapa lagi kalau bukan Global TV (sekarang GTV). Setelah resmi mengambil alih hak tayang kartun Nickelodeon dari Lativi (sekarang tvOne), Global TV memberanikan diri untuk menayangkan sejumlah anime, di saat stasiun televisi lain mulai meninggalkannya. Beberapa di antaranya adalah Eyeshield 21, Law of Ueki, Eureka Seven, Idaten Jump, dan yang paling populer, Naruto. Bukan Global TV namanya kalau tidak ada Spongebob dan Naruto!

Malang tak dapat ditolak, Spacetoon semakin jatuh terpuruk dan merugi, tenggelam di antara lautan sinetron dan tayangan selebriti. Akhir cerita, Spacetoon diakuisisi oleh Indika Group di tahun 2013, diganti namanya menjadi NET. Mujur bagi Global TV, acara-acara anime mereka masih bertahan sampai saat ini.

Rentetan kejadian di atas seakan-akan menandakan lonceng kiamat untuk budaya pop jejepangan di Indonesia. Bagai sebuah keajaiban, hal yang terjadi justru sebaliknya. Budaya pop jejepangan malah semakin berkembang dan menguntungkan. Bagaimana mereka bisa berkembang setelah jatuh terpuruk?  Nantikan kisah selanjutnya di bagian 2!

Tulisan ini adalah opini pribadi dari penulis, tidak mencerminkan pandangan umum Risa Media. Penulisan oleh Excel Coananda.


Excel Coananda

Komikus Risa Comics, Penulis Risa Media
Hobi membuat dan membunuh meme.

Tinggalkan Balasan