[Wawancara] Larissa Rochefort: Mangafest, Tokyo, dan OptimismeDibutuhkan waktu 3 menit untuk membaca artikel ini

Kami berbincang-bincang setelah Mangafest silam bersama Larissa soal Mangafest.

Kamar redaksi agaknya bahagia bercampur bingung ketika beberapa minggu sebelum Mangafest, kami diberitahu: izin wawancara Guest Star sudah didapatkan. Guest star kali ini bukan main-main, tak lain dan tak bukan adalah Larissa Rochefort itu sendiri. Seorang cosplayer panutan yang, selain berprestasi, selalu menebarkan aura positif dan mengingatkan para pengikutnya untuk optimis dan semangat menjalankan hari.

Ketika hari kedua Mangafest sudah mulai menjelang malam, setelah sesi meet and greet yang panjang dan berkesan, kami berkesempatan untuk berbincang sebentar dengan Larissa, soal Mangafest, Ikebukuro, dan masih banyak lainnya.

Sesi meet and greet Larissa Rochefort.

Wawancara dengan Larissa Rochefort

Bagaimana Yogyakarta dan Mangafest bagi Larissa?

Asik sekali. Makannya enak, macetnya tidak seperti di Jakarta. (Mangafest) ini acara yang punya potensi di Jogja. Dengan sound system terbaik, suara bukan masalah, bahkan mengalahkan yang ada di Jakarta. Orang-orangnya juga antusias, Yogya banget.

Larissa terhitung sangat sering mengikuti berbagai event baik sebagai Guest Star maupun sebagai pengunjung. Menurut Larissa, apa perbedaan euforia dari masing-masing yang diikuti?

Dari segi bisnis, beda target pasar. Ada event kecil tapi tepat sasaran, (lebih baik) daripada event besar tapi tidak tepat sasaran. Acara-acara kecil enak buat kumpul dengan teman, tergantung tujuannya.

Untuk orang Yogya, Mangafest wajib dihadiri. Ia seperti CF (Comic Frontier, red.) –nya Jogja.

Bagaimana sejauh ini pengalaman menjadi¬†cosplayer¬†di Indonesia–salah satu yang paling sukses di dalam dan luar negeri?

Cosplay di TGS adalah sebuah kehormatan. Tanpa dukungan Tuhan dan orang-orang, hal-hal ini tidak akan bisa terlaksana.

Rasanya senang di Tokyo, bertemu cosplayer dari berbagai negara. Orang-orangnya pun lebih berpikiran terbuka dan mengapresiasi. Saat di Akihabara dan Ikebukuro bisa khilaf sepuasnya. Barang yang selama ini harus titip, sekarang di depan mata.

Sesi wawancara dengan Larissa Rochefort.

Kalau untuk Larissa sendiri, cosplay ini hanya sebatas hobi atau sudah menjadi bagian dari pekerjaan?

Sekarang sudah menjadi pekerjaan, tapi berasa seperti hobi. Hobi yang sehat, terlaksana dari hati.

Larissa juga mengajak para follower untuk berpikiran positif dan optimis. Bagaimana bisa dilakukan di tengah suasana komunitas yang panas?

Kita tidak bisa selamanya positif, tetapi yang keluar dari media sosial saya juga bukan kemunafikan. (Hal tersebut) bagian dari kepercayaan diri. Kalau hanya mengeluh, masalah tidak akan selesai. (Oleh karena itu) lebih baik optimis. Kalau gagal, mungkin bukan jalan kamu.

Hidup harus saling peduli dan saling mendukung, tak ada salahnya inisiatif. Kalau ada yang jahat ke kamu, jangan balik balas jahat.

Adakah pesan untuk para penggemar jejepangan di Indonesia dan penggemar/pelaku cosplay pada khususnya?

Budaya di sini belum seketat di Jepang, tetapi jika ingin cosplay, saran saya mulailah dengan hal-hal positif. Jangan buat hal-hal yang kontroversial. Kadang-kadang, beberapa etika itu common sense, tetapi belum umum dilaksanakan. Untuk penggemar baru, ikuti aturan yang ada atau dari yang lebih berpengalaman.

Jangan malu bertanya. Saya pun masih berbuat salah, yang penting punya kemauan untuk berubah menjadi lebih baik.

Terima kasih atas waktunya, sang panutan! Semoga ekosistem cosplay di Indonesia menjadi semakin terbawa ke arah positif ke depannya.

Wawancara oleh Aditya Putera Tanriawan dan Excel Coananda.


Muhammad Naufal Hanif