[Liputan] Menemukan Persilangan Budaya Lokal dan Jepang di Nihon no Matsuri 12Dibutuhkan waktu 2 menit untuk membaca artikel ini

Acara tahunan Nihon no Matsuri telah terselenggara untuk yang ke-12 kalinya. Kali ini, ia diselenggarakan dengan mengambil konsep persilangan budaya lokal dengan budaya Jepang.

Pergelaran tahunan Nihon no Matsuri ke-12 telah terselenggara pada hari Minggu (28/4) ini di Telkom University Convention Center. Festival bertajuk Jinrui no Kao ini memiliki banyak acara, mulai dari pra-acara yang terdiri dari berbagai lomba, sampai acara utama yang diisni oleh pemampilan panggung, stand komunitas, Maid Cafe, dan rumah hantu bertajuk Obake House.

“Awalnya pengen nyoba,” ujar salah satu panitia. “Meskipun tidak ada (program studi) Sastra Jepang di Telkom, kan, kita sama-sama suka Jejepangan.” Merupakan pergelaran yang ke-12 kalinya, pertama kali diselenggarakan pada tahun 2007 di bilangan Cihampelas, dalam perkembangannya Nihon no Matsuri menjadi salah satu acara yang paling besar skalanya di bidangnya dalam ranah Jawa Barat.

Acara ini dilaksanakan oleh Unit Kegiatan Mahasiswa Nippon Bunka-bu dari Telkom University. Merupakan program kerja paling besar dari UKM terbaik se-Telkom University tahun lalu ini, para divisi berkolaborasi seperti subdivisi gim yang bekerjasama untuk melaksanakan area permainan Yu-Gi-Oh, divisi yang berfokus pada band dan vocaloid, serta divisi Design and Arts.

Fokus acara sendiri terdapat di panggung utama. Sejumlah cover band mengisi acara sepanjang hari diiringi dengan antusiasme dari pengunjung, yang diisi bintang tamu seperti Lunatic Tokyo, Stellar Band, Henohenomoheji, Fairytails, dan Angelights. Terdapat juga penampilan spesial dari Harvest, Marienorns, Naira, Quincy, Totsuzen, dan konser Hatsune Miku oleh Voca no Hon.

“Akhir-akhir ini terdapat beberapa acara baru.” ujarnya. Terdapat Maid Cafe bertajuk Utopiosphere dan Obake House yang berada di sebelah kiri dan kanan sebelum pintu masuk panggung utama yang cukup diminati pengunjung. “Kita bikin ini tidak sekedar ingin bikin, tentu ada alasan di baliknya.” lengkapnya. Selain Maid Cafe dan Obake House, ada juga arena gim papan BG-KAN! dan permainan kartu Yu-Gi-Oh. Di luar panggung utama pun terdapat sejumlah stand makanan dan minuman untuk mengakomodasi pengunjung.

Acara ini sendiri tak hanya berpusat pada pop kultur Jepang modern. “Kita masih memperhatikan budaya,” terangnya, “Dalam pemilihan tema sendiri, kami memilih perpaduan budaya Indonesia dan Jepang.” Terdapat beberapa pertunjukan bertajuk kebudayaan, seperti yang dibawakan oleh Hana-B Yosakoi. Selain itu juga terdapat penampilan dari unit-unit sekolah dan universitas lain seperti Himade STBA YAPARI, Odori UNPAD, UKJ ITB, dan Daruma NBB. Terdapat juga stan Tanabata.

Pergelaran Nihon no Matsuri yang ke-12 ini lantas ditutup oleh performa kolektif Bon Odori. Panitia pelaksana berharap acara ini, ujarnya, “tak hanya berskala daerah, tetapi juga nasional.”

Penulisan dan peliputan oleh Muhammad Naufal Hanif


Tinggalkan Balasan