[Fella ke Jepang] Tokyo Game Show 2019, Seperti Apa Sih?

Ya, Fella benar-benar mengunjungi Tokyo Game Show 2019, setelah sekian lama melihat beritanya di media daring.

Hai, hai, Riscomrades! Fella kembali lagi memberitakan pengalaman Fella di sini! Minggu lalu, kita tahu di Jepang ada pameran gim terbesar bernama Tokyo Game Show (TGS) 2019. Berkenaan dengan TGS, Fella mau kasih tahu kalian satu fakta menarik yang singkat. Meskipun namanya “Tokyo”, tetapi acara ini dilangsungkan di Chiba! Ya, masih satu daerah sih.

Perjalanan dari Osaka ke Chiba sangat melelahkan, karena harus memakai bus malam. Sesampainya di sana, waktu menunjukkan jam enam pagi hari esoknya (Minggu), sedangkan pintu saja baru dibuka jam sepuluh. Teriknya sinar matahari musim panas sangat tidak bersahabat sehingga Fella merasa hampir pingsan selama mengantri di sana. Namun, kelelahan itu semua rasanya hilang begitu bisa memasukki venue TGS!

Pamerannya sendiri dibagi menjadi dua bagian hall: 1-8 dan 9-11. Hall 1-8 berisikan booth-booth besar dari perusahaan hardware maupun game. Di TGS ini jugalah ada berbagai perilisan game yang dapat kita coba di tempat. Sebutlah Project Resistance dari Capcom. Selain itu, game yang memang pengumuman rilisnya dari lama juga bisa kita coba di sana (termasuk yang memang baru-baru ini rilis), contohnya Monster Hunter World: Iceborne, Minecraft Dungeons, dan Persona 5 Royal. Di beberapa booth pun terletak patung-patung yang menyerupai karakter dalam gamenya! Sebuah hal yang jarang Fella temui di Indonesia dan membuat Fella merasakan euforia ketika pulang sekalipun!

Salah satu pajangan megah di TGS 2019.

 

Selain itu juga, di beberapa booth ada lomba cosplay, contohnya yang dimenangkan oleh Lola Zieta di Cyberpunk 2077. Selamat! Sayangnya, karena Fella datang hari Minggu, Fella tidak bisa melihat kak Larissa Rochefort saat ber-cosplay­ di panggung. Namun, melihat foto-fotonya saja, Fella sudah tahu cosplayer yang diundang di TGS dari negara-negara lain memang sangat ciamik!

Tokyo Game Show, Segalanya Tentang Game

Berbeda dari hall 1-8, hall 9-11 berisikan kompetisi e-sports, zona VR, booth game indie, dan merchandise resmi dari berbagai franchise. Untuk pindah hall, Fella harus melewati jembatan penyeberangan dulu, karena memang berbeda gedung. Dari atas jembatan itu, Fella bisa melihat ada beberapa cosplayer yang melaksanakan photoshoot di luar venue. Arena cosplay berada di hall 9-11 ini, tetapi bila Riscomrades mau ber-cosplay di hall 1-8 juga tidak masalah.

Masuk ke hall 9-11, booth yang terbesar tentunya adalah e-sports. Booth e-sports dipisahkan menjadi dua berdasarkan platformnya. Saat Fella ke situ, bukan League of Legends dan game-game PC lainnya yang dilombakan. Melainkan mobile game seperti Dragon Quest Rivals dan Tekken. Melihat tempatnya pun, Fella memang menyadari tidak mungkin ada pertandingan game PC di situ.

Kurang lebih seperti itulah pengalaman Fella selama ke Tokyo Game Show 2019! Memang asyik sih saat berada di tempatnya, tetapi perjalanan jauh yang membuat Fella tepar sampai ke hari-hari berikutnya juga. Sampai juga di artikel selanjutnya, Riscomrades!

Tulisan ini adalah opini pribadi dari penulis, tidak mencerminkan pandangan umum Risa Media. Penulisan oleh Dewi Pannadhika.

Pizza Ini Dibuat untuk Tsundere!

Pizza tsundere???????

Hai, hai! Balik lagi sama Fella semuanya! Riscomrades di sini ada yang suka pizza? Suka anime juga? Pasti kalian pernah mendengar kata “Tsundere”. Apa sih tsundere itu? Tsundere berasal dari kata tsuntsun yang berarti marah-marah (tetapi marah yang dimaksud adalah yang biasa terkesan imut) dan deredere yang berarti perasaan suka, juga cheerful yang agak tercampur. Salah satu tsundere yang terkenal adalah Aisaka Taiga. Namun Fella di sini bukan untuk mengedukasi kalian soal hal yang pasti semua orang tahu ini ya, melainkan Fella ingin membahas tentang sesuatu yang negara matahari terbit ini implementasikan soal tsundere. Kenapa, sih, Fella membahas soal pizza di atas?

Tadaa! Yang kalian lihat ini bukan sulap bukan sihir! Memang benar adanya di Domino’s Pizza cabang Jepang, mereka sedang menjual pizza tsundere! Interpretasi orang Jepang terhadap tsundere adalah pedas. Oleh karena itu setiap kali mereka menjual makanan bertemakan tsundere, bisa dipastikan ada unsur pedas di dalamnya! Sesuai yang tertera di atas, pizza ini dilengkapi dengan topping jalapeno, jenis cabai yang ukurannya cukup besar dan berwarna hijau. Unik yah! Pizza ini dibanderol dengan harga Rp375.000,- sampai Rp523.000,-. Mungkin Riscomrades mau coba untuk buat challenge bersama teman­-teman? Sayangnya pizza ini hanya ada sampai tanggal 10 September mendatang, jadi bagi yang mau silakan coba dipesan!

Selain pizza, Jepang juga sudah pernah membuat inovasi makanan yang terinspirasi oleh tsundere, contohnya adalah kukis tsundere. Kukis tsundere ini biasanya dipakai Youtuber untuk membuat konten raffle ataupun challenge. Dalam satu kotak kukis ini, tidak semua kukis rasanya pedas melainkan hanya beberapa. Mungkin ini untuk menyimbolkan bahwa dalam seorang tsundere tetap ada sikap manis meskipun sekali-sekali mereka juga akan bersikap dingin. Kukis tsundere seharga Rp57.000,- ini dijual oleh candysan untuk pemesanan luar Jepang. Di dalam Jepang pun tidak sembarang toko menjual kukis tsundere ini.

Wah menarik ya, Riscomrades. Apakah Riscomrades tertarik untuk mencobanya?

[Fella ke Jepang] Tertinggalnya Jepang dalam Teknologi Informasi

Jepang, negara yang terkenal maju akan teknologinya, ternyata tertinggal dalam hal teknologi informasi. Benarkah demikian?

Hai, hai, Riscomrades! Kembali lagi bersama Fella. Kali ini Fella ingin memberi tahu kalian sebuah fakta yang menarik tentang Jepang, yaitu: Jepang memang adalah negara yang maju, tetapi bukan berarti mereka semua melek teknologi, terutama teknologi informasi. Eits, ini bukan clickbait. Dibaca dulu ya sampai habis!

Bagi orang Jepang, tidak mempunyai PC ataupun laptop merupakan hal yang wajar.

Pertama kali mengetahui hal ini, sebagai orang Indonesia yang sehari-harinya hidup dekat dengan laptop, Fella cukup terkejut. Sebelumnya memang Fella tahu, untuk kebutuhan gaming bagi masyarakat Jepang, mereka lebih mengutamakan console. Yang lebih menarik, ternyata alasannya dekat dengan culture dan pola pikir hidup mereka! Kurang lebih beginilah jabarannya:

Sistem Pembuangan Sampah Elektronik

Di Jepang, pembuangan sampah adalah sebuah hal yang cukup ketat, di mana sampah sehari-hari harus dipisahkan antara organik dan non-organik, botol plastik, dan sebagainya. Lain dari itu, pembuangan sampah yang berukuran besar (soudai gomi) mempunyai tata cara sendiri, Mereka harus mengontak perusahaan yang mengurusi sampah ukuran besar, membeli tiket dari minimarket, dan terakhir meletakan sampah itu di depan apartment (bila ukurannya masih wajar untuk diangkat). Kurang lebih prosedurnya akan sama untuk pembuangan sampah elektronik, jadi tidak bisa sembarang buang.

Ribet-nya hal ini dan harus ada biaya yang dikeluarkan untuk membuang sampah menjadi salah satu pertimbangan mereka untuk membeli barang elektronik seperti PC ataupun laptop.

Tidak Butuh, Tidak Beli

Hal ini ditanamkan ke pola pikir orang Jepang kebanyakan sedari dini. Mereka akan membeli barang yang tidak begitu dibutuhkan di toko 100 yen, tetapi untuk barang ukuran besar mereka akan berpikir berulang kali untuk membelinya.

Rumah di Jepang kebanyakan ukurannya tidak begitu besar, sehingga tempatnya terbatas untuk meletakkan barang-barang yang ukurannya cukup besar. Tentunya dengan alasan ini juga mereka tidak mau sembarangan membeli barang besar yang tidak begitu berguna untuk mereka (setidaknya di saat itu).

Ponsel lipat masih umum digunakan di Jepang.

Alasan ini juga yang menjadikan Jepang serasa “terjebak di dekade 80-an”, setidaknya begitulah tanggapan para gaijin. Musik J-Pop masih dijual melalui media CD, alih-alih situs musik online semacam Spotify. Beberapa orang Jepang masih menggunakan ponsel lipat yang bisa browsing via 4G dan menonton TV. Perkembangan teknologi informasi di Jepang yang seakan tertinggal ini memiliki julukannya sendiri: Galapagos Syndrome, mengacu pada sebuah pulau di Pasifik yang memiliki spesies uniknya sendiri.

Ruang Publik yang Memadai

Fella teringat lagi, mengapa, sih, di Indonesia kita banyak yang membeli laptop. Salah satu alasan yang terpikirkan Fella adalah: untuk kebutuhan sekolah. Tentunya di Jepang juga ada tugas untuk membuat makalah dan presentasi, di mana kita semua biasa membuatnya di rumah dengan PC pribadi. Namun, di Jepang mereka terbiasa untuk meminjam ruangan komputer sekolah, sehingga tidak ada keharusan untuk membeli PC di rumah.

sadowara_img02.jpg
Komputer sekolah dapat digunakan hingga larut malam untuk mengerjakan tugas.

Lingkungan transportasi dan/ataupun keamanan yang memadai pun juga ikut membantu mereka dalam urusan ini. Kereta yang praktis beroperasi hingga larut malam (sekitar jam 12) dan keamanan Jepang di mana hampir tidak ada pencuri, membuat para orangtua juga aman bila anaknya harus pulang malam demi tugas sekolah.

Jepang yang Mulai Terbuka

Isolasi dari dunia luar bukanlah hal baru dari negeri matahari terbit ini. Kabar baiknya, Jepang perlahan-lahan mulai terbuka akan teknologi informasi dari belahan bumi lainnya.

Salah satu contohnya adalah penggunaan smartphone yang kian marak di Jepang. Hal ini terlihat dari anime rilisan 2016 ke atas yang mulai menampilkan karakternya menggunakan smartphone alih-alih flip phone. Kebutuhan akan media sosial, Internet, dan pesan singkat membuat anak muda mengganti ponsel lamanya dengan smartphone. Hal yang sama juga terjadi dalam industri musik, di mana idol Jepang seperti Love Live mulai berekspansi melalui Spotify.

Karakter-karakter di anime terbaru sudah menggunakan smartphone.

Begitulah ringkasan Fella saat menanyai teman Jepang soal mengapa kebanyakan dari mereka tidak mempunyai PC. Culture shock? Iya, mungkin itu yang bisa menggambarkan perasaan Fella. Terutama ketika mengetahui tidak ada teman main untuk bermain game Steam. Namun ketika berpindah negara memang sewajarnya kita tahu akan ada perbedaan antara negara satu dengan negara lainnya.

Tulisan ini adalah opini pribadi dari penulis, tidak mencerminkan pandangan umum Risa Media. Penulisan oleh Dewi Pannadhika.