City Pop, Estetika Budaya Pop Jepang 80-an

“I'm just playing games
I know that's plastic love
Dance to the plastic beat”

Jika kalian membaca penggalan lirik di atas sambil menyanyikan nadanya, kalian sudah pernah mendengarkan salah satu musik legendaris dari negeri sakura. Penggalan lirik diatas merupakan outro dari lagu Plastic Love yang dinyanyikan oleh seorang diva dari Jepang, Mariya Takeuchi. Seorang jurnalis musik dari noisey, Ryan Bassil bahkan mengatakan bahwa Plastic Love merupakan lagu pop terbaik di dunia. Seperti yang kita tahu Plastic Love bukan berasal dari era 2000-an, melainkan “artifak” budaya city pop dari Jepang era 1980an.

City Pop secara “ajaib” kembali hadir dan menjadi sebuah hype yang digemari oleh para millennial dan generasi Z. Secara misterius, genre ini kembali bangkit di era sekarang. Tidak banyak yang tahu alasan spesifik kenapa genre ini bisa muncul kembali, dan digemari oleh orang-orang yang bahkan belum lahir pada tahun 80-an. Alasan nostalgik tentu bukan menjadi alasan utama kenapa genre ini bisa kembali bangkit dan populer.

Apa itu City Pop?

Menurut definisi Wikipedia, City Pop (シティーポップ shitī poppu) adalah subset dari musik pop yang berasal dari Jepang pada akhir era 70an. Aliran musik ini memadukan genre musik-musik Barat dengan budaya Jepang modern di masa itu. Pada masa itu, musisi-musisi Jepang banyak sekali melalukan eksperimen dengan memadukan aliran-aliran musik Barat, seperti jazz, soft rock, disco, funk, dan R&B, dengan instrument-instrumen elektronik yang pada masa itu sangat digemari oleh musisi-musisi pop Jepang. Genre ini menggunakan teknik bermusik dan aransemen yang canggih pada masanya, sehingga memiliki ciri yang khas.

Musik Menyongsong Optimisme

Mari kita mundur sejenak ke jepang era 1980-an. Apa yang terjadi di era tersebut? Kenapa city pop bisa menjadi populer?

Jepang pada tahun 1980-an hingga 1991 mengalami perkembangan ekonomi yang sangat pesat. Pertumbuhan ekonomi ini tak hanya dirasakan di Jepang, melainkan juga di seluruh Asia. Jepang menyebutnya dengan sebutan baburu keiki (バブル景気), economic bubble.

Gelembung ekonomi yang muncul di Asia pada masa itu mendorong bertumbuhnya industri hiburan di Jepang. Setelah perang dunia berakhir, tidak semua warga Jepang dapat menikmati hiburan seperti musik dan lainnya. Singkatnya, hiburan seperti musik hanya bisa dinikmati oleh warga yang mempunyai uang lebih.

Munculnya gelembung ekonomi di Jepang mendorong juga pertumbuhan finansial warganya. Bertumbuhnya taraf hidup secara finansial akhirnya juga mendorong bertumbuhnya industri hiburan. Kemajuan itu juga didorong oleh berkembangnya teknologi di Jepang pada saat itu. Semua orang bisa menikmati musik di manapun mereka berada. Pada masa itu, teknologi berkembang sangat pesat.

Kehadiran instrumen musik elektronik dan pemutar musik portable kini bisa dinikmati oleh semua kalangan. Banyak warga Jepang bisa membeli alat pemutar musik, baik untuk di rumah atau berpergian. Industri otomotif juga berkembang pesat, karena banyak warga Jepang akhirnya bisa membeli mobil pribadi. Kehadiran kendaraan pribadi juga memunculkan teknologi pemutar musik yang bisa dipasang di dalam mobil pribadi. Kini semua orang bisa mendengarkan musik di manapun dan kapanpun. Tentu saja ini menyebabkan aliran musik city pop semakin populer.

Kenapa Digemari?

Musik city pop sangat digemari oleh warga Jepang pada era 80-an. Nada dan beat yang funky namun tetap enak didengar sambil berpergian atau bersantai di rumah. Lirik lagu-lagunya mencerminkan kemajuan ekonomi Jepang pada masa itu. Kebanyakan lagunya menggambarkan kemajuan teknologi, free love, liburan musim panas di pulau tropis, urban lifestyle, dan kemewahan glamor yang jamak ditemui pada masa itu.

Kancah city pop tidak hanya diisi oleh Mariya Takeuchi namun banyak sekali musisi-musisi jepang yang berlomba membuat aransemen musik paling keren. Muncul banyak nama dan grup band yang ikut meramaikan kancah ini. Sebut saja Tatsuro Yamashita, Junko Ohasi, Casiopea, WINK, SEASIDE LOVERS, dan lain sebagainya. City pop benar-benar menjadi simbol kesuksesan Jepang setelah kalah perang dunia kedua.

Hiburan yang Ditinggalkan

 

Tidak ada yang abadi di dunia ini, termasuk city pop dan gelembung ekonomi.

Gelembung ekonomi yang dialami jepang pada era 80-an akhirnya pecah di tahun 1992. Krisis ekonomi menyerang hampir semua negara di Asia, termasuk Jepang. Pertumbuhan ekonomi jepang menjadi stagnan di tahun tersebut. Pecahnya gelembung ekonomi akhirnya mempengaruhi gaya hidup warga Jepang. Pada saat itu, kebanyakan warga jepang mencoret hiburan dari prioritas kebutuhannya. Lifestyle glamor ala city pop akhirnya ditinggalkan. Warga jepang kembali bekerja keras untuk membangun kembali perekonomian negaranya. Tidak ada waktu untuk city pop!

Imbas menurunnya ekonomi, genre ini perlahan mulai pudar. City pop pun akhirnya hanya dianggap musik kuno yang didengarkan oleh generasi ”tua”. Pecahnya gelembung ekonomi membuat sebagian besar warga menjadi pesimistis, berbeda sekali dengan budaya city pop yang optimistis, mewah dan riang gembira. Inilah waktu “kematian” city pop.

Walaupun perekonomian Jepang kembali bangkit dan menjadi salah satu yang terbaik di dunia, city pop sudah terlanjur “mati”. Mereka sudah menemukan hiburan baru pada waktu itu. Era 90-an akhir hingga awal 2000-an menjadi era emas bagi industri hiburan Jepang seperti anime, manga, j-pop, dan idol group. Warga jepang kini lebih menyukai Hatsune Miku ketimbang Mariya Takeuchi. Budaya anime dan idol juga menyebar ke berbagai negara, termasuk Indonesia. Kehadiran anime-anime di tv lokal pada Minggu pagi, kemunculan idol group JKT48, dan munculnya berbagai komunitas dan acara jejepangan lokal. Singkatnya, budaya anime dan idol sudah sepenuhnya menghapus kenangan tentang city pop.

Internet, Sarana Kebangkitan City Pop

Internet sekarang sudah menjadi kebutuhan pokok setiap manusia. Bisa saja, teori hierarki kebutuhan Maslow harus direvisi dengan memasukan Internet sejajar dengan kebutuhan pokok lainnya. Internet tak berhenti memberikan manusia kesempatan untuk berkomunikasi dan mencari hiburan. Tidak jarang, internet memberikan sebuah keajaiban.

Hingar-bingar City Pop memang sudah lama hilang, tapi Internet tetap menyimpan memori itu. Sampai suatu ketika, lagu “Plastic Love” kembali hadir di kolom rekomendasi para pengguna YouTube. Algoritma YouTube secara misterius memunculkan salah satu harta karun era city pop.

Pertengahan tahun 2010, ada salah satu pengguna YouTube mengunggah salinan audio Plastic Love. Secara misterius. Plastic Love muncul di beranda para pengguna YouTube lainnya. Singkat cerita, Plastic Love kembali viral. Kehadiran Plastic Love membuat para pengguna Internet, yang sebagian besar adalah millennial (generasi Y) dan generasi Z, kembali mencari tahu tentang keberadaan city pop yang sudah lama mati.

City pop akhirnya kembali bangkit, dan sebagian besar populasi Internet senang dengan estetika 80-an yang disajikan. Berbagai salinan lagu lama mengisi berbagai platform Internet, seperti YouTube, Spotify, Apple Music dan lainnya. Berbagai meme, fanart, cover yang berkaitan dengan genre ini bermunculan di internet. Bahkan, setelah 35 tahun akhirnya Warner Music Japan akhirnya membuat video klip untuk Plastic Love.

Lantas, apa yang membuat city pop bisa sangat digandrungi oleh pengguna Internet? Bukan hanya efek nostalgia, karena sebagian besar pengguna internet bahkan belum lahir di era 80-an. Tetapi, keindahan estetika 80an-lah yang menarik untuk dinikmati oleh para pengguna Internet.

Berbagai macam hal yang berkaitan dengan era vintage memang digemari oleh pengguna Internet. Pengguna internet sekarang cenderung mudah bosan dengan genre pop modern. City pop memberikan sesuatu yang belum pernah mereka dengar sebelumnya, memberikan pengalaman yang baru dan unik bagi para penikmat musik di era sekarang.

Kini, city pop kembali berkembang melahirkan beberapa genre musik baru seperti vaporwave dan future funk. Era emasnya memang sudah selesai, tapi bukan berarti estetikanya hilang begitu saja. Internet selalu bisa menemukan cara untuk terus memeriahkan sesuatu yang telah lama pudar.

Artikel ditulis oleh Giovanni Yano