Selamat datang kembali, Haachama dan Coco!

Untuk merayakan kembalinya dua idol ternama dari Hololive ini setelah berkasus dengan penggemar Tiongkok daratan dua minggu yang lalu, mari kita sejenak merekap apa yang telah terjadi, apa tanggapan kita, dan apa sebenarnya posisi kita dalam mendukung para VTuber yang kita senangi.

Kembali dari 3 minggu "rehat", Haachama-Coco telah kembali!

Selama tiga minggu terakhir, affair ini semacam pom bensin yang terbakar: cepat membara, cepat hangus, dan cepat menghilang. Tidak sampai hitungan belasan hari sebelum para fans yang begitu semangat mengutuk apapun yang ada urusannya dengan Tiongkok untuk menghilang lagi, kembali ke posisi masing-masing, dan tidak menghasilkan apa-apa kecuali meme Tragedi Tiananmen.

Oh ya, sebagai latar belakang, kasus ini dimulai dari kemelut dunia VTuber Hololive antara Akai Haato (Haachama) dan Kiryu Coco (Coco) dengan fans Tiongkok yang tidak terima atas penyebutan 'Taiwan' di stream mereka.

Lalu, akibat mengamuknya penggemar dari Tiongkok karena penyebutan 'Taiwan', Cover selaku korporasi induk yang akan terlihat di bawah tidak punya niat serius untuk sepenuhnya melindungi talentanya ini lantas 'menghukum' Haachama dan Coco selama tiga minggu akibat 'kesalahan yang dilakukan' dan 'sosialisasi yang kurang' dari pihak perusahaan.

Kita, seperti yang sudah-sudah, menanggapi dengan serampangan. Framing yang langsung dibentuk adalah Cover perlu melawan kesewenang-wenangan politik Tiongkok yang mengganggu aktivitas sehari-hari mereka melihat idolanya. Maka sasaran utama dari amarah balik pengcogemar adalah Tiongkok itu sendiri, baik itu orang-orangnya maupun pemerintahannya, dengan sentimen yang seringkali meleset. Pokoknya, fans Tiongkok daratan yang mengamuk ini ngawur karena memaksakan kehendaknya, tapi Cover juga lantas dituntut untuk 'berdiri' di samping talentanya 'melawan' politik Tiongkok.

Di dalam artikel ini, kita akan menelusuri mengapa respon seperti ini serampangan dan seringkali tidak bermanfaat, bahwa Cover dan penggemar Tiongkok bekerja dengan logika yang sama, dan mengapa jika fans Hololive serius ingin melindungi idolanya, perlu untuk memahami bahwa akar dari betapa rawannya posisi VTuber tidak terletak di politik Tiongkok, tetapi di dalam topik yang tidak nyaman dibahas: hubungan karya hiburan, industri, dan profit.

Malapetaka dalam Dua Hari

Masalah dimulai tiga minggu yang lalu, ketika Akai Haato, tanpa niat merendahkan prinsip 'one China' milik Tiongkok, mengatakan bahwa sejumlah fansnya berasal dari Taiwan. Siapa sangka, fans dari Tiongkok sangat marah karena bagi mereka, menyebut Taiwan sama saja dengan mengakui eksistensi Taiwan sebagai negara merdeka. Mereka berhari-hari bergerak menyerang stream Haachama secara membabi buta di superchat.

Kiryu Coco, sohib dari Akai Haato, tentu tidak terima jika rekannya diserang oleh mainlander. Coco kemudian ikut membahas Taiwan di stream Asacoco-nya pada keesokan harinya. "Diprovokasi" oleh Coco, fans Tiongkok ikut menyerang superchat Coco. Bilibili, sebagai media video Hololive di Tiongkok, juga tidak tinggal diam; Haachama dan Coco langsung dicekal dari Tiongkok karena menyebutkan 'Taiwan'.

Cover Corp lama kelamaan tidak kuat menahan tekanan dari Tiongkok; fans mengamuk ditambah akses diblokir itu sama saja dengan tidak ada uang. Tak berdaya, hanya dalam dua hari sang korporat memilih mengambil "jalur aman". Dua surat berbeda dikeluarkan oleh Cover Corporation: permohonan maaf atas "kesalahan" yang terjadi dan mendukung kebijakan "Satu China" bagi fans Tiongkok, dan pembekuan aktivitas Haachama dan Coco selama tiga minggu bagi fans internasional.

Apakah sudah berakhir? Tidak. Fans Tiongkok merasa pembekuan tersebut belum cukup "menghukum" keduanya, terutama Coco. Muncullah tuntutan: Coco hengkang dari Hololive, atau Hololive hengkang dari Tiongkok. Fans internasional juga kecewa dengan keputusan Cover yang dianggap "memanjakan" Tiongkok.

Sekarang, semua keputusan ada di tangan Cover Corporation. Ia terjebak dalam dua pilihan: mengikuti kehendak fans Tiongkok Merah atau mengakui keinginan fans internasional. Dengan demikian, minggu-minggu ke depan akan menjadi minggu-minggu yang menegangkan.

Artikel mengenai kronologi telah diulas di Risa Media sebelumnya, selengkapnya bisa dilihat di sini

Haachama dan Politik Tiongkok Daratan

Tiongkok daratan punya kekuasaan besar di mata Cover Corp bukan dari misilnya, kapal perangnya, atau tentara-tentaranya. Cover Corp mengambil posisi appeasing akibat satu kekuasaan yang mutlak dimiliki para penggemar Tiongkok daratan: uang.

Secara jumlah, fans asal Tiongkok merupakan salah satu fans Hololive dengan jumlah terbesar. Bagaimana cara mengetahuinya? Kita bisa bandingkan jumlah subscriber YouTube dengan jumlah fans di Bilibili. Ternyata, perbandingan rata-rata subscriber Youtube dan fans Bilibili dari VTuber hololive adalah 2:1 (dalam beberapa kasus seperti Minato Aqua bahkan 1:1). Dengan mengasumsikan bahwa fans Bilibili 100% berasal dari Tiongkok, kita dapat memperkirakan bahwa 33% hingga 50% fans Hololive berasal dari Tiongkok. Dengan demikian, profit yang diraih oleh Cover Corp dari fans Tiongkok juga sangat signifikan.

"Hanya ada satu Tiongkok, dan Taiwan adalah bagian dari Tiongkok" - Pemerintah RRT

Beberapa tahun terakhir, masyarakat Tiongkok juga ditengarai semakin memiliki sentimen nasionalis. Kampanye pemerintah Tiongkok yang mendorong "Satu China" selama bertahun-tahun telah membentuk pemikiran masyarakat Tiongkok yang menganggap kemerdekaan Taiwan sebagai hal terkutuk. Selain itu, kemudahan ekonomi sejak era Deng menjadikan masyarakat Tiongkok merasa angkuh dengan kesejahteraan yang mereka miliki, sehingga memunculkan arogansi terhadap masyarakat dari negara dan kebudayaan lain.

Dengan demikian, Cover Corp telah terjebak dalam tekanan Tiongkok Merah sebagai sumber kapital. Sistem korporasi kapitalistik membuatnya harus bergantung kepada fans selaku konsumen untuk mendapatkan keuntungan, termasuk fans Tiongkok yang menjadi hampir setengah basis fans Hololive. Tidak mau mengikuti kehendaknya? Siap-siap saja kehilangan hingga 50% fans dalam satu malam, atau diserang dan diancam secara arogan serta membabi buta sehingga Cover Corp akan kehilangan profit secara signifikan dalam sekejap.

Cover Corp dan Fans Tiongkok, Dua Sisi dari Koin yang Sama

Jadi, di bagian ini, mari kita menelusuri mengapa Cover akhirnya berperilaku demikian. Kita sudah selesai membahas tentang tingkah Tiongkok daratan, dan seperti apa yang telah disampaikan di pembuka. Ada baiknya kita tidak sepenuhnya menyasarkan amarah hanya ke mereka, tetapi perlu juga kita mempertanyakan sikap penaung VTuber terbesar yang ada: Cover Corp.

Cover Corp di mata penggemar internasional saat ini. Kenyataannya, tidak semudah itu.

Sederhananya, Cover main aman. Mereka bahkan secara eksplisit menyatakan diri mendukung 'program satu Tiongkok' dan secara implisit menyatakan bahwa kesalahan Haachama-Coco disebabkan oleh tindakan 'yang tidak sesuai guideline' dan 'kurangnya sosial'. Mereka jungkir balik mengembalikan fans Tiongkok yang mengamuk.

Mengapa? Ini adalah bagian kunci yang perlu dipahami dan diperhatikan penggemar yang ingin membantu 'bersolidaritas' dengan Haachama-Coco, mempertanyakan keputusan Cover, maupun ingin mengantisipasi hal-hal serupa di masa depan. Perhatikan:

Cover Corp tidak dibentuk pertama dan utama untuk melindungi talentanya, menyediakan platform bagi VTuber semata-mata agar mereka yang bertalenta dapat bercengkerama dan berinteraksi dengan penggemar, dan mengambil keputusan atas dasar penyebarluasan karya hiburan untuk masyarakat luas. Cover Corp, pertama-tama, adalah perusahaan. Perusahaan, utamanya, memiliki tujuan untuk menumpuk profit sebanyak mungkin.

Cover mengambil keputusan dengan mempertimbangkan trade-off dan untung-rugi dalam bersikap. Agenda-agenda seperti kemaslahatan VTuber dan keinginan penggemar, semuanya menempati posisi sekunder di bawah profit. Profit membutuhkan surplus dari produksi yang diciptakan dengan pengelolaan kapital. Jenis-jenis kapital adalah: bahan baku, alat produksi, tempat bekerja, dan buruh.

Haachama dan Coco adalah buruh. Haachama dan Coco adalah kapital, atau alat, bukan tujuan dari operasional Hololive maupun Cover. Oleh karena itu, mereka sekadar aspek yang perlu dikelola agar Cover mencapai profit setinggi-tingginya. Maka, dari sini, mengapa Cover bertindak tidak jelas, ambigu, dan terlihat menimbang-nimbang keputusan apa yang akan diambil antara menyanggupi permintaan fans Tiongkok atau membela Haachama-Coco terlihat jelas: sebab ia pada akhirnya bekerja dengan logika perusahaan, logika kapital.

Jadi, meskipun penting bagi kita untuk menyadari, misal, perilaku politik Tiongkok, membawa-bawa Tiananmen bukan arah yang tepat. Cover, yang tidak jelas posisinya di hadapan VTuber, penggemar Tiongkok, maupun penggemar non-Tiongkok, adalah tokoh utama dalam drama ini.

Dari penjelasan ini, mari menelusuri apa saja yang bisa dilakukan oleh Cover:

Menelusuri Keputusan-keputusan yang Bisa Diambil Cover

Saya sangat yakin manajemen Cover Corp sedang dilanda pusing yang menjadi-jadi dalam menghadapi masalah ini. Mereka sudah "diultimatum" oleh komunitas fans Hololive sehingga hanya muncul dua opsi: ikuti Tiongkok Merah atau ikuti dunia internasional. Saya akan mencoba menganalisisnya di bawah ini.

Pilihan 1: Mengikuti Kehendak Tiongkok Merah

Jika Cover Corp mengikuti pilihan ini, tindakan yang kemungkinan besar akan dilakukan adalah memberhentikan Coco dari Hololive. Mungkin terlihat mudah, hanya satu member ini saja, kan? Apalagi, dia terlihat memprovokasi masalah "T-word" yang terjadi di stream-nya Haachama dan mengambil untung di tengah krisis dengan membuat konten membership-only untuk dihujat oleh mainlanders.

Tidak semudah itu, sayangnya. Kiryu Coco merupakan VTuber Hololive dengan pendapatan superchat tertinggi (85 juta Yen dalam sembilan bulan sejak debut) sehingga memberikan keuntungan yang tinggi bagi Cover Corporation. Kehilangan Coco berarti kehilangan keuntungan yang signifikan.

Fans internasional juga akan berang jika Cover mengambil pilihan tersebut karena dianggap pro-Tiongkok Merah. Meme yang menyindir sikap Cover sendiri mungkin sudah menyebar di linimasa Anda. Bahkan, di dalam komunitas fans internasional saja sudah beredar rumor akan dilakukannya boikot terhadap Hololive jika Cover terus menunjukkan gelagat pro-Tiongkok Merah.
Kehilangan sumber keuntungan dan munculnya ancaman boikot berarti kerugian besar bagi Cover Corporation.

Pilihan 2: Menolak Kehendak Tiongkok Merah

Secara garis besar, saya tidak perlu menjelaskan lebih dalam lagi karena beberapa bagiannya sudah dijelaskan di atas. Cover Corp terancam kehilangan 33% hingga 50% fansnya karena boikot dari fans Tiongkok, atau bahkan mendapatkan sanksi larangan tayang oleh Bilibili. Tentunya, jumlah pendapatan pun akan sama-sama menurun secara signifikan.

Kalau begitu, mengapa Cover tidak melebarkan sayapnya di negara lain saja? Sekarang begini, apakah pertumbuhan jumlah fans non-Tiongkok dapat menggantikan jumlah fans Tiongkok yang hilang dalam sekejap? Kerugian yang besar tentunya tidak bisa langsung digantikan secara instan, kecuali dengan mukjizat ilahi.

Selain itu, pilihan ini dapat mencoreng kepercayaan otoritas Tiongkok terhadap industri VTuber dan hiburan lainnya dari Jepang di Tiongkok. Pemerintah Tiongkok bisa saja memandang bahwa tindakan ini dapat memicu aksi "subversif dan separatis". Akibatnya, industri hiburan yang dianggap punya asosiasi dengan Hololive dapat dibredel dan dipersulit ruang geraknya di Tiongkok.

Pilihan Lain?

Pilihan ketiga adalah tidak terjadi apa-apa. Dalam gamble-nya untuk mempertaruhkan semua hal, Hololive akhirnya berusaha untuk menelusuri jalur ini dengan pernyataan sikap yang paling kering dan ambigu, serta tidak mengantisipasi protes fans Tiongkok di masa depan.

Dalam memilih pilihan ini, pertanyaan yang segera muncul adalah: sampai kapan? Kita berada di posisi ketidakpastian yang secara terus menerus berusaha dilanjutkan oleh Hololive. Di masa depan, ketika Holo harus memilih antara tekanan penggemar dan perlindungan talenta, kita tidak tahu mana yang ia pilih.

Demokrasi dengan Uang Kita Sendiri

Kalau kita memang benar-benar marah dan tidak cuma reaksioner, kita harusnya sadar akan kekuatan yang sama dimiliki oleh penggemar Tiongkok: uang. Mereka mengetahui betul konsep 'voting with your money' dan cara-cara untuk menekan perusahaan untuk mengikuti keinginan mereka.

Singkatnya, memilih dengan uang sendiri adalah usaha para penggemar untuk berbicara dalam bahasa yang sama dengan perusahaan penaung idolanya: uang. Kita mungkin tidak punya kontrol atas bagaimana idola kita dikelola dan diatur, tapi kita punya kontrol atas bagaimana perusahaan itu dilaksanakan, yaitu lewat uang kita sendiri. Maka, bentuk-bentuk protes seperti membeli produk lain atau boikot adalah cara yang cenderung efektif akhir-akhir ini bagi penggemar agar bisa 'mengontrol' perusahaannya.

Bahkan BTS, dengan bantuan "angkatan bersenjata terkuat di dunia", masih terkena amukan Tiongkok merah. (Foto: AP/Lee Jin-wook)

Tiongkok tahu ini. Dalam kasus serupa beberapa saat lalu ketika penggemar Tiongkok memboikot BTS karena tidak menyebutkan negaranya ketika memberikan penghormatan terhadap korban Perang Korea, yang berakibatkan beberapa sponsor superbesar yang menjadi 'berjarak' dengan brand yang juga superbesar itu.

Seorang mengatakan dalam kutipan New York Times: 'Kami tidak bisa memaksa seseorang untuk memiliki opini yang selaras dengan negara kami, tetapi kami bisa memilih siapa yang akan kami dukung'. Frasa terakhir adalah esensi dari 'memilih dengan uangmu'. Mereka yang marah, meminta Haachama-Coco untuk mendukung kebijakan satu Cina atau meminta mereka untuk mengundurkan diri, tidak melakukannya dengan retorika atau kekerasan, tetapi dengan bagaimana mereka menggunakan uangnya.

Fans internasional yang ingin melawan perilaku menjengkelkan ini perlu mencermati atau justru melakukan taktik yang sama dengan apa yang dilakukan oleh mereka. Tapi, lagi-lagi, taktik ini pada akhirnya memerangkap penggemar dalam kerangka yang sama: bahwa yang pertama dan utama dalam industri hiburan adalah akumulasi profit.

Jika kita ingin menjaga VTuber yang kita sukai, sebagaimana aktor, aktris, penyanyi, atau cosplayer, maka kita butuh kerangka lain.

Memanusiakan Idola

Para penggemar VTuber menonton idolanya untuk mendapatkan relasi antarmanusia, hiburan tanpa rekayasa, yang (sampai tahap tertentu) jujur dan memiliki timbal balik. Para penggemar ini jarang melakukan aktivitasnya dalam kerangka komersial — menonton VTuber berbeda dengan membeli pisang goreng atau dua kaleng cat dari toko bangunan. Kerangka yang dipakai tidak berupa 'saya memberikan donasi, orang ini menghibur saya'.

Tetapi, sudah dijelaskan panjang lebar bahwa perusahaan yang menaungi idola tersebut, dan mungkin ada juga VTuber di dalamnya, yang memiliki kerangka komersial dalam beraktivitas. Bagaimana kemudian aktivitas kita, yang (sampai tahap tertentu) jujur dan tulus dikomersialisasi dan dikomodifikasi, adalah langkah pertama untuk menarik diri dari kerangka perusahaan dan menemukan cara lain membentuk hubungan antara idola dan penggemarnya.

Sebab tentu tidak ada yang transaksional dari menangis ketika VTuber yang anda senangi menangis, tertawa ketika cosplayer yang anda senangi tertawa, dan marah ketika aktor kesukaan anda marah. Ketika anda memencet klik donasi, membeli photobook, atau memesan CD album, anda tidak sedang berpikir dalam ilmu ekonomi, bisa jadi anda berpikir mudah-mudahan ia yang Anda sukai karyanya tetap dapat terus berkarya, mudah-mudahan kesulitan-kesulitannya terbantu dan ia akan semakin bahagia.

Banyak penggemar yang membangun hubungan interpersonal dengan idolanya (urusan ini adalah topik untuk artikel lain), dan untuk bagian itu, kita mencaci-maki dan menanggap dangkal mereka yang berusaha membangun hubungan tersebut dengan memberikan uang sebanyak-banyaknya. Kita mencibir dan menggoblok-gobloki mereka yang merasa bahwa dengan memberikan uang, maka idolanya harus memberikan sesuatu balik ke dia.

Jadi, kita sebenarnya punya imajinasi dan idealisme untuk membayangkan hiburan dan produk-produk popkultur bukan sekadar menjadi alat tukar yang setara nilainya dengan sejumlah uang. Penggemar VTuber, masa kemarin itu, marah karena mereka tidak lagi bisa melihat idolanya, tetapi juga karena mereka khawatir tentang kesehatan mental dan nasib dari idola tersebut. Kemarahan otaku atas kasus Haachama-Coco tidak bisa disamakan dengan kemarahan orang ketika mengetahui daging sapi asap telah habis dan stoknya tidak akan datang dalam dua minggu kedepan.

Namun, apakah Cover dan Hololive punya pandangan yang sama dengan kita? Belum tentu. Untuk banyak perusahaan industri lain di dunia, jawabannya adalah jelas tidak. Untuk menyelesaikan artikel ini, mari kita tutup dengan membahas asal mula dari semua ini, mengapa keributan ini terjadi, dan korban utama dari pertikaian ini: Akai Haato dan Kiryu Coco itu sendiri.

Menjaga VTuber dan Idol-idol Lainnya

Memang Cover Corp dapat dilihat sebagai pihak yang sedang terpojok dan menderita akibat kuasa dan arogansi Tiongkok. Namun, banyak orang luput terhadap satu fakta: yang sesungguhnya paling terpojok dan menderita adalah VTuber itu sendiri.

Bagaimana tidak? Sebagai pekerjaan di sektor hiburan, para VTuber harus selalu bekerja secara menghibur, tidak peduli bagaimana emosi pribadi mereka. Jika mereka melakukan kesalahan, baik disengaja maupun tidak, korporasi akan menyalahkan mereka sesuai ketentuan korporasi dan kontrak yang berlaku. Bisa dibayangkan betapa stresnya Haachama dan Coco sekarang karena ditekan oleh keadaan dan korporat. Hal ini pula yang tampaknya mendorong Mano Aloe untuk mengundurkan diri dari Hololive.

Remember our succubus-in-training Mano Aloe? Sure we do.

Selain itu, sebagai figur publik, para VTuber harus tampil secara sempurna kepada publik. Apabila ia melakukan kesalahan di mata fans, siap-siap saja dihujat, dicaci maki, hingga diberi ancaman pembunuhan. Hal itulah yang terjadi kepada Haachama dan Coco sekarang, terutama Coco yang telah mendapatkan ancaman pembunuhan karena dianggap sebagai "provokator".

Dihimpit oleh struktur, korporasi, dan fans, kita tidak tahu apakah Haachama dan Coco dapat bertahan dalam beberapa minggu ke depan.

Pada akhirnya, Cover Corp yang telah terjebak dalam struktur kapitalisme berada di posisi yang tidak menguntungkan sama sekali. Jika ia mengikuti Tiongkok Merah, ia dapat dijauhi dan diboikot dunia. Jika ia mengikuti dunia, ia dapat dibunuh dan dihancurkan Tiongkok Merah. Jika ia memilih untuk diam, ia tidak tahu apakah masa depan akan lebih baik atau jauh lebih buruk bagi bisnisnya.

Namun sangat disayangkan, yang paling menderita bukanlah Cover, Tiongkok Merah, maupun fans internasional lainnya. Yang paling menderita adalah talenta di balik Haachama, Coco, dan VTuber lainnya. Semua karena struktur yang eksploitatif, arogansi dari segelintir manusia, politik praktis, dan ketidaksengajaan.

Filsuf Jerman, Theodor Adorno, setengah abad lalu menyesalkan betapa kesenian dan hiburan begitu terjebak dalam kerangka produksi, dalam kerangka industri, dalam perhitungan untung dan rugi. Ia menyebutkan bahwa seni tipe ini, seni yang dijadikan komoditas dan diproduksi secara massal, hanya akan menghasilkan banyak sekali masalah. Haachama Affair ini hanyalah satu catatan kecil di tengah ribuan masalah serupa yang tidak disadari penggemar popkultur Jepang hari ini.

Gambar keluku oleh yasu007.