Counter Strike Online Tutup Server

Kabar duka kembali datang dari dunia gim online lokal

Setelah beberapa bulan yang lalu Closers Indonesia ditutup oleh Megaxus, kini giliran game shooter Counter Strike Online (CSO) yang harus merasakan nasib yang serupa. Selama hampir 8 tahun, CSO merupakan salah satu game online yang cukup terkenal di masanya, yang juga bersaing dengan game-game ber-gameplay serupa, seperti Point Blank ataupun CrossFire.

Alasan dibalik penutupan server pun tidak disebutkan secara jelas oleh Megaxus. Namun, mereka akan tetap memberi kompensasi bagi para pemain dengan memberikan item in-game untuk game-game lain dari Megaxus‚ÄĒAyodance PC, Ayodance Mobile, dan Fatal Raid.

Penutupan server pun dilakukan secara berkala, dimulai dari penghentian pengisian in-game currency pada tanggal 3 Juli, dan penutupan resmi server akan dilakukan pada tanggal 1 Agustus. Untuk info selengkapnya tentang kompensasi, bisa dilihat disini.

Salute, Soldier!

Penulisan oleh Kevin Akbar

[Liputan] Serunya Mengunjungi Ennichisai 2019!

Seperti pada tahun-tahun sebelumnya, Ennichisai selalu meriah dan dipenuhi oleh para pengunjung!

Festival Jepang (Matsuri) Little Tokyo Ennichisai telah selesai digelar pada 22-23 Juni untuk tahun ini. Seperti biasa, bukan Ennichisai namanya kalau tidak ramai dan penuh dengan semangat pengunjung untuk mengarungi jalan-jalan di kawasan Blok M.

Ennichisai ke-10 juga diperingati sebagai 10th Anniversary dari acara ini dengan tujuan mempromosikan kawasan Blok M dengan banyak restoran Jepang dan area belanja yang cocok sebagai tujuan wisata di Jakarta.

Sama seperti Ennichisai sebelumnya, Ennichisai 2019 terdiri dari Main Stage (Traditional, Band), Pop Culture Stage (Pop Culture, Performer dari Jepang, JKT48, Cosplay), dan Chika Stage (Berbagai komunitas hobi Jepang, Idol lokal, Band lokal).

Seperti apa keseruan suasana Ennichisai pada tahun ini yang memiliki tema UNITY? Yuk, kita lihat saja foto-fotonya, ya!

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Serta telah dikonfirmasi bahwa Ennichisai tahun ini menjadi Ennichisai terakhir di kawasan Little Tokyo Blok M.

Sampai jumpa di Ennichisai tahun depan!

Diliput oleh Tim Risa Media

Insert Live: Bincang-bincang Seputar Nogizaka46 Bersama Sakamichi Indonesia

Sakamichi Series merujuk kepada sekumpulan grup saudari dari grup idola Jepang dengan angka 46 yang merupakan sebuah grup rival resmi 48. Berdasarkan pada konsep "idola yang akan menemuimu" yang merupakan lawan dari konsep "idola yang akan kamu temui" milik AKB48.

Empat Grup Sakamichi

Untuk saat ini sudah terdiri dari 4 grup, yaitu kakak mereka, Nogizaka46, yang dibentuk pada 22 Agustus 2011, lalu dilanjutkan dengan grup saudari pertama, Keyakizaka46, dibentuk pada 21 Agustus 2015. Kemudian pada 21 Februari 2018, Yoshimotozaka46 dibentuk sebagai grup saudari kedua dan pada 11 Februari 2019 sub-grup dari grup Keyakizaka46 yakni Hiragana Keyakizaka46 memulai debutnya sebagai grup independen dan berganti nama menjadi Hinatazaka46.

Dalam hal nya, ada idola, ada pula fans. Salah satunya fans dari Sakamichi Indonesia yang menyebut diri mereka dengan nama Sakamichi Jabodetabek dan Sakamichi Squad Bandung. Pada tanggal 26 Juni 2019, Insert Live J-POP menayangkan wawancara bersama mereka dengan mengupas tuntas tentang Nogizaka46 yang dapat disaksikan melalui situs webnya di insertlive.com

Kenapa Sih Harus Nogizaka46?

Nogizaka46 sendiri membawakan lagu-lagu dengan nuansa elegan dan sudah merupakan ciri khasnya tersendiri. Banyak filosofi yang terkandung dalam lirik lagu Nogizaka46 sehingga kita yang mendengar tidak akan dibuat bosan.

Di dalam variety show mereka yang bernama Nogizaka Koujichuu sendiri pun, para member memiliki karakternya masing-masing dan sebagian dari mereka unik sehingga membuat para fans tertarik untuk menjadikan para member sebagai oshinya.

Memang tidak dapat dipungkiri lagi mengoshikan member adalah suatu kewajiban bagi para pendukung idol tersebut. Tentunya setiap fans memiliki oshinya masing-masing, dengan jumlah yang beragam.

Tidak Hanya Satu Oshi

Ada yang memilih mengoshikan satu member saja. Namun, ada pula yang mengoshikan banyak member. Bicara soal oshi, yuk kita dengar alasan Rizka Farah (18) kenapa memilih Ikuta Erika sebagai oshinya.

‚ÄúKarena Erika sendiri lahir di Jerman, dan dia pinter main piano, di rumahnya juga ada grand piano gitu. Mungkin biasanya kan kalau idol nyanyi sambil nari gitu ya, kadang di konser juga dia yang ngiringin pianonya.Bahkan saking pintarnya dia main piano, orangtuanya hampir kayak nggak setuju gitu dia masuk Nogizaka46, tapi karena itu kemauan dia sendiri, akhirnya orangtuanya merestui‚ÄĚ ujar Kak Farah di acara Insert Live J-POP¬†yang tayang setiap hari pukul 13.00. Wah, memang latar belakang yang menarik!

Pada awal mula dibentuk, Sakamichi Jabodetabek bercerita bahwa komunitas ini berdiri dari buka bersama yang digelar di rumah Gemilang Ramadhan(27) yang merupakan salah satu member dari grup fanbase yang hadir dalam acara tersebut.

Setelah saling berbincang banyak tentang idol Nogizaka46 dan sister grupnya yang lain, mereka pun berkumpul di salah satu lokasi taman Kota Jakarta sebagai tempat gathering mereka dengan membawa kesan yang berbeda seperti piknik.

Sakamichi Squad Bandung juga memiliki ceritanya sendiri, berawal dari sekedar kumpul di minimarket untuk saling berbagi file idol Nogizaka46, kemudian terbentuklah komunitas tersebut. Partisipasinya dalam event sebagai Community Partner dan Divisi Dokumentasi cukup memiliki andil sehingga aktif dalam dunia jejepangan.

Sakamichi Fan-Indonesia tidak hanya mereka tentunya, mereka ada dan terbagi disetiap daerah seperti Sakamichi Surabaya, Sakamichi Yogyakarta, Sakamichi Soloraya, Sakamichi Semarang, hingga Sakamichi Sulut, dan masih banyak lagi. Mereka juga memiliki visi-misi, lo, yaitu membawa Sakamichi Grup untuk konser di Indonesia! Wah, kita tunggu, semoga impian mereka terwujud, ya!

Sumber: Insert Live J-POP
Penulisan oleh Kantata Manik Astagina

Seiyuu Kaji Yuki dan Taketatsu Ayana Umumkan Pernikahannya!

Tidak disangka-sangka, kedua seiyuu ini akhirnya mengumumkan momen bahagia mereka!

Seiyuu Kaji Yuki (33) dan Taketatsu Ayana (30) resmi mengumumkan pernikahan mereka melalui akun Twitter resmi mereka pada hari Minggu (23/6). Kaji Yuki mengungkapkan mereka berdua adalah manusia yang belum dewasa, tetapi mereka akan berusaha lebih keras lagi sehingga semua orang dapat mendukung mereka.

Sementara itu, Taketatsu Ayana menambahkan keinginannya untuk membangun keluarga yang hangat dan penuh kebahagiaan dan akan melakukan yang terbaik untuk pekerjaannya.

Kedua seiyuu ini sama-sama berperan sebagai Pipimi untuk anime Pop Team Epic pada tahun lalu. Kaji Yuki terkenal dalam perannya mengisi suara Eren Yeager (Shingeki no Kyojin), Hyoudou Issei (High School DxD), dan Ouma Shu (Guilty Crown).

Kemudian, Taketatsu Ayana terkenal mengisi suara Nakano Nino (Gotoubun no Hanayome), Koshimizu Sachiko (The [email protected] Cinderella Girls), dan Kousaka Kirino (Ore no Imouto ga Konna ni Kawaii wake ga Nai).

Ditulis oleh Aditya Putera T.

Sumber : Livedoor

DJ YOCHI Merilis Album Baru dengan Tajuk “MIOKURI NO UTA”

Pernahkah kalian merasa sedih atau sakit kehilangan, terlupakan bahkan dibuang oleh seseorang yang paling berharga dalam hidup kalian?

Pernahkah kalian berpikir untuk membuat kenangan sebanyak-banyaknya bersama orang-orang yang paling dekat sebelum kalian kehilangan mereka?

Itulah gambaran yang ingin disampaikan oleh YOCHI & SHURI AIRIE dalam single yang berjudul “MIOKURI NO UTA”.

YOCHI memberikan suasana lagu yang sangat berbeda dari rilisan sebelumnya, sangat jauh dari hingar bingar khas seorang musisi hardcore serta lebih mengutamakan nuansa tenang, tetapi tetap pada jalur Electronic Dance Music dilengkapi karakter vokal khas dari SHURI AIRIE yang lirih membuat lagu ini semakin terasa pedih dan sakit saat kita kehilangan seseorang yang paling berharga dalam hidup kita.

Dengan sentuhan artwork dari HORO HARO membuat single ini lebih medalami makna yang sebenarnya.

Lagu ini juga diperindah oleh Official Remix dari EMKEI – VIBETRONIC dengan nuansa chill.

Melalui “MIOKURI NO UTA” juga, diharapkan semua yang mendengarkan lagu ini akan terpacu untuk memberikan, entah itu sedikit atau banyak, waktu untuk membuat kenangan indah bersama orang-orang yang paling berharga, entah teman, sahabat, kekasih ataupun keluarga.

“MIOKURI NO UTA” telah rilis di bawah naungan label RAINTUNES yang berbasis di Kota YOGYAKARTA, Indonesia. Dapat dinikmati di berbagai portal digital antara lain iTunes, Spotify, Deezer, dan layanan music streaming lainnya.

Untuk kalian yang senang mengoleksi CD, single ini akan rilis dalam bentuk fisik dan bisa kalian dapatkan di penampilan YOCHI Featuring EMKEI & ATRA dalam event ENNICHISAI BLOK M pada tanggal 22-23 Juni 2019.

Tentang YOCHI

YOCHI, DJ/Produser Musik asal kota Bandung yang akrab disapa “Oniichan” ini memulai karirnya pada tahun 2012, mengusung genre Drum & Bass, Hardcore dan antek-antek lainnya, hingga pada tahun 2016 ia menjadi salah satu pendiri Circle MATSURI ADDICT dan WAKAMONOIZU yang berbasis di kota Bandung.

Kalian bisa mendengarkan preview lagunya melalui tautan berikut ini.

Media Sosial YOCHI

Facebook          : www.facebook.com/yochimusic/
Instagram         : www.instagram.com/yochi_music/
Twitter : twitter.com/yochi_music
Soundcloud      : https://soundcloud.com/yochimusic
Youtube           : www.youtube.com/c/yochimusic
Spotify             : open.spotify.com/artist/5whTFfkxZn1nbXCbHbd82

Media Sosial SHURI AIRIE

Facebook          : www.facebook.com/ShuriAirie
Twitter : twitter.com/shuri_airie
Instagram         : www.instagram.com/shuriairie
Youtube Channel          : www.youtube.com/channel/UC-08TaKbuYzPWkpqIZGMVnQ

Media Sosial HORO HARO

Instagram         : https://www.instagram.com/horoharo/
DeviantART      : https://www.deviantart.com/horoharo
Youtube Channel          : https://www.youtube.com/channel/UCeb7AZowNsquGfaLFaOqiEA

Media Sosial EMKEI

Facebook          : https://www.facebook.com/emkeitunes
Instagram         : https://www.instagram.com/emkeitunes
Soundcloud      : https://www.soundcloud.com/emkeitunes
Youtube Channel          : https://www.youtube.com/channel/UCQwVb9q77nfCdScpmFuOy6g

Artikel ini merupakan rilis pers resmi dari pihak penyelenggara

Catatan Perjuangan Nadeshiko Japan Menjelang Piala Dunia Wanita 2019

Pertandingan memasuki menit ke-115, tersisa kurang lebih lima menit pada babak tambahan ini sebelum peluit panjang dibunyikan. Ekspresi masing-masing pendukung mencerminkan hasil sementara pada pertandingan tersebut.

Detik-detik di Final

Pendukung tim berseragam putih sudah bersorak bergembira dalam sepuluh menit terakhir, setelah mereka mencetak gol yang mengubah kedudukan.  Sorakan semakin keras, jelas saja karena mereka hanya perlu menghabiskan lima menit untuk mengangkat piala. Seharusnya bukan waktu yang lama.

Sebaliknya, pendukung tim berseragam biru berharap lima menit terakhir menjadi lima menit yang lama, mereka berharap sembari cemas melihat papan skor di Commerzbank-Arena yang menunjukkan angka satu dan dua. Berharap adanya keajaiban, setidaknya untuk menunda perayaan kemenangan tim lawan.

Sorakan yang diberikan oleh pendukung tim putih tidak membuat semangat tim biru memudar. Tim biru terus menggempur pertahanan lawannya. Masih di menit yang sama pula, pendukung tim putih menghentikan sorakannya sejenak.

Kapten tim biru memberikan umpan terobosan indah kepada Kinga. Seorang pemain dengan nomor punggung dua, nomor punggung yang identik dengan posisi sebagai bek kanan, dengan berani melakukan overlap ke dalam kotak pinalti tim putih. Berhasil melewati kiper setelah menerima umpan terobosan, sayang peluang emas tersebut berhasil digagalkan.

Namun, pendukung tim putih belum bisa tenang, melalui peluang tersebut, tim biru mendapatkan sebuah sepak pojok.

Miyama, seorang gelandang yang bermain di Amerika Serikat hingga beberapa bulan sebelum turnamen ini digelar ditugaskan untuk mengambil sepak pojok. Sepak pojok ditendang tidak begitu tinggi, mengarah ke tiang dekat gawang. Miyama mengambil keputusan tersebut mengetahui perbedaan postur yang cukup jauh antara tim putih dan biru.

Pemain bernomor punggung sepuluh dari tim biru berlari ke arah bola hasil sepak pojok tersebut. Dijaga ketat, dia melakukan half-volley dengan bagian luar dari kaki kanannya yang akhirnya berhasil menyamakan kedudukan. Pemain yang mencetak gol penyama kedudukan tersebut adalah Homare Sawa, gelandang yang akhirnya menjadi pencetak gol terbanyak dan pemain terbaik pada turnamen tersebut.

Akan tetapi, selain dua gelar dan satu gol penyama kedudukan tersebut, ada satu hal yang akan diingat mengenai dirinya. Homare Sawa, sebagai kapten tim terus bersemangat, memastikan rekan setimnya untuk terus berjuang. Memastikan bahwa Nadeshiko Japan menolak untuk menyerah.

Begitulah cerita singkat bagaimana Nadeshiko Japan, sebutan untuk tim nasional sepakbola wanita Jepang yang menggunakan seragam biru kebanggaannya, menolak untuk kalah menghadapi tim nasional sepakbola wanita Amerika Serikat pada 2011 FIFA Women’s World Cup.

Setelah gol penyama kedudukan tersebut, pertandingan berlanjut pada babak adu pinalti, di mana Ayumi Kaihori menunjukkan kemampuannya sebagai penjaga gawang dengan menggagalkan dua pinalti pemain Amerika Serikat. Nadeshiko Japan memenangkan pertandingan tersebut, dan mengangkat piala sebagai tim nasional wanita terbaik dunia.

Kemenangan ini menjadi semakin emosional, karena beberapa bulan sebelum gelaran piala, Jepang mengalami musibah tsunami yang menelan banyak korban jiwa. Bek Nadeshiko Japan Aya Sameshima adalah salah satu orang yang merasakan dampak dari bencana tersebut. Klubnya, TEPCO Mareeze yang dimiliki oleh Tokyo Electric Power Company harus ditutup akibat bencana tersebut.

Seperti pemain lainnya yang bermain di TEPCO Mareeze, mereka juga bekerja di Fukushima Daiichi Nuclear Power Plant yang dijalankan oleh TEPCO tempat dia masih hadir untuk bekerja hingga beberapa hari sebelum kejadian. Beruntungnya dia sedang mengikuti pemusatan latihan bersama Nadeshiko Japan ketika hal mengerikan tersebut terjadi.

Kembali ke Final

Empat tahun berselang, pada final turnamen yang sama, Nadeshiko Japan harus menerima balas dendam dari Amerika Serikat. Bermain di stadion BC Place, mereka harus mengakui keunggulan telak Amerika Serikat dengan skor 5-2. Bahkan ketika pertandingan baru berjalan 17 menit, Nadeshiko Japan harus mengambil bola dari gawangnya sebanyak empat kali. Bukan final yang diharapkan akan terulang lagi.

Delapan tahun sudah berlalu sejak cerita heroik itu terjadi dan empat tahun setelah kekalahan memalukan di final, Nadeshiko Japan akan berjuang lagi. Kali ini tidak akan ada penyelamatan gemilang dari Kaihori, atau keahlian dan semangat Sawa. Nadeshiko Japan datang ke Prancis, tempat digelarnya 2019 FIFA Women’s World Cup dengan banyak pemain muda. 14 dari 23 pemain yang di bawa oleh pelatih Asako Takakura adalah U-23.

Kepercayaan kepada para pemain muda ini muncul setelah mereka memenangkan medali emas pada Asian Games 2018 di Palembang. Walaupun setelah ajang tersebut, Nadeshiko Japan menjalani 2019 dengan hasil yang kurang baik.

Asa untuk Tahun Ini

Nadeshiko Japan memulai 2019 dengan hasil seri melawan Amerika Serikat, lalu menang melawan Brasil di mana ini menjadi satu-satunya kemenangan Nadeshiko Japan di tahun ini. Setelah itu mereka mengalami kekalahan beruntun dari Inggris dan Prancis dan diakhiri dengan hasil seri melawan Jerman dan Spanyol.

Hasil buruk sebelum Piala Dunia ini memang cukup mengkhawatirkan, tetapi jika kilas balik ke tahun 2011, sebelum mereka mengikuti Piala Dunia, rekor mereka juga tidak bagus dengan dua kali seri dan dua kali kalah.

Pada gelaran 2019 FIFA Women’s World Cup tahun ini, Nadeshiko Japan akan bergabung di grup D bersama Inggris, Skotlandia dan Argentina. Di atas kertas, Nadeshiko Japan seharusnya tidak memiliki kesulitan berarti melewati grup ini karena hanya bersaing dengan Inggris yang sekarang berada di peringkat 3 FIFA.

Skotlandia yang akan memulai debutnya di turnamen ini berada di peringkat 20 sedangkan Argentina di peringkat 37. Nadeshiko Japan sendiri berada di peringkat 7.

Mereka yang Berjuang

Dalam gelaran kali ini, Nadeshiko Japan akan kembali diperkuat oleh muka lama seperti Rumi Utsugi, Mizuho Sakaguchi, Aya Sameshima, Mana Iwabuchi dan Saki Kumagai. Mereka adalah pemain-pemain yang terlibat dalam keberhasilan Nadeshiko Japan pada tahun 2011. Khusus nama terakhir, dia akan melanjutkan apa yang sudah dilakukan oleh Sawa dan Miyama, memimpin Nadeshiko Japan di lapangan sebagai kapten. Selain nama senior, untuk gelaran kali ini Jepang membawa cukup banyak pemain-pemain muda.

Salah satu nama yang menarik untuk ditunggu aksinya adalah Yui Hasegawa. Pemain kelahiran 22 Januari 22 tahun yang lalu ini sudah memiliki lebih dari 30 penampilan bersama dengan Nadeshiko Japan, terbanyak diantara para pemain U-23 lainnya yang dipanggil.

Saki Kumagai adalah pemain yang memiliki jam terbang serta prestasi yang tidak perlu diragukan lagi. Bermain untuk klub Olympique Lyonnais Féminin sejak 2013, dia merupakan bagian dari dominasi klub tersebut di Eropa. 6 Piala Divisi 1 Prancis (2014-2019), 5 Piala Coup de France (2014-2017, 2019), 4 piala Uefa Champions League (2016-2019) dan lebih dari 100 penampilan bersama dengan klub terkuat di Eropa ini menjadi bukti seberapa hebat dirinya di lapangan hijau. Masih berusia 28 tahun, seharusnya masih banyak yang bisa diberikan olehnya kepada klub dan Nadeshiko Japan.

Memiliki tinggi hanya 157 cm tidak membuat Yui Hasegawa berkecil hati. Pemain yang berposisi di sayap kiri ini berhasil memukau para penonton dengan gocekan-gocekan yang mengacaukan pertahanan lawan. Bermain untuk Nippon TV Beleza sejak berusia 16 tahun, dia sudah bermain sebanyak 114 kali di usia yang sangat muda. Dia juga merupakan bagian dari dominasi klubnya di Nadeshiko.League Division 1 yang menjuarai liga sebanyak empat kali secara beruntun (2015 ‚Äď 2018)

Tidak tanggung-tanggung, pada tahun 2018 dia membantu klubnya untuk meraih Seasonal Triple Crown (memenangkan Nadeshiko League, League Cup, and Empress’s Cup dalam satu musim yang sama). Dia juga merupakan bagian dari tim yang berhasil mendapatkan medali emas Asian Games 2018 di Palembang.

Nadeshiko Japan akan dikomandoi mantan pemainnya yaitu Asako Takakura. Pelatih berusia 51 tahun ini menggantikan Norio Sasaki pada tahun 2016. Norio Sasaki sendiri merupakan pelatih yang mengantarkan Nadeshiko Japan menuju dua kali final Piala Dunia pada tahun 2011 dan 2015. Asako Takakura, pelatih wanita pertama Nadeshiko Japan, memiliki taktik yang tidak berbeda jauh dengan Norio Sasaki.

Mengandalkan kecepatan dan umpan-umpan pendek yang merepotkan lawan dia berhasil membawa timnya mendapatkan medali emas pada Asian Games 2018.

Nadeshiko Japan akan memulai gelaran 2019 FIFA Women’s World Cup menghadapi Argentina pada 10 Juni mendatang. Pertandingan ini akan menjadi pembuktian seberapa jauh mereka dapat melangkah pada gelaran empat tahun sekali ini. Nadeshiko Japan memang diunggulkan untuk lolos dari grup D.

Apakah Nadeshiko Japan dapat mengulang apa yang terjadi pada tahun 2011 atau kekalahan pada empat tahun yang lalu akan terulang? Tidak ada yang tahu, seperti kata mantan pemain timnas Jerman, Sepp Herberger: ‚ÄúBola itu bundar, pertandingan berjalan selama 90 menit, dan hal lain hanyalah murni teori.‚ÄĚ

Penulisan oleh Edbert (@vert10_)

Foto Pertandingan Olimpiade Tokyo 2020 Tak Boleh Disebarluaskan di Media Sosial

Olimpiade Tokyo 2020 menghadirkan lagi peraturan yang dianggap janggal: larangan untuk memublikasikan foto.

Penyelenggaraan turnamen olaharga termasyhur di seluruh dunia, Olimpiade, akan dilaksanakan untuk yang ke-32 kalinya tahun depan di Tokyo, Jepang, mulai dari 24 Juli hingga 9 Agustus 2020.

Dengan waktu yang semakin mendekati hari-H, tiket sudah mulai dijual dan aturan sudah mulai dikeluarkan oleh IOC (International Olympic Committee).

Salah satu peraturan yang menonjol adalah peraturan mengenai pengambilan dan penyebaran setiap jenis foto dan video yang direkam di stadion dan gelanggang-gelanggang olahraga lainnya.

Meskipun, seperti turnamen olahraga lainnya, Olimpiade memperbolehkan pengunjung untuk mengambil foto maupun merekam video dan audio di dalam arena pertandingan selama masih dalam konsumsi pribadi, tetapi ‚Äėkonsumsi pribadi‚Äô ini membatasi banyak hal yang lazim dilakukan.

Ketika pengunjung membeli tiket, salah satu syarat dan peraturannya adalah semua foto dan video, termasuk swafoto sekalipun, yang diambil di arena studio, dengan atau tanpa adanya atlet di dalamnya, sama sekali tidak boleh disebarluaskan di televisi, radio, maupun internet.

Ini berarti, setiap foto atau video yang diambil di arena pertandingan Olimpiade Tokyo 2020 tidak boleh diunggah ke Instagram, Twitter, maupun media sosial lainnya.

Demi Melindungi Hak Penyiaran

Tak hanya itu, hak milik dari seluruh foto dan video yang diambil di arena pertandingan menjadi milik panitia Olimpiade (IOC).  Igarashi Atsushi yang mengepalai departemen hukum dari Olimpiade Tokyo, menyatakan bahwa hal ini dilakukan untuk melindungi hak penyiaran eksklusif milik saluran televisi maupun radio.

Hal ini berbeda dengan turnamen olahraga lain di Jepang, dimana turnamen sepakbolanya yang terbesar. J.League, meskipun sama-sama tak membolehkan publikasi foto yang diambil di stadion, tetapi tidak sampai meminta hak milik atas foto yang diambil pengunjung tersebut.

Beberapa orang sangat meragukan efektivitas peraturan ini, belum lagi kapasitas IOC untuk melakukannya, sebab hal ini sudah lazim dilakukan pada turnamen olahraga manapun dan ratusan ribu pengunjung yang datang tentu tidak bisa satu per-satu dimonitor penggunaan media sosialnya.

Terlalu Membatasi Kebebasan

Selain itu, Fukui Kensaku, pengacara di bidang properti intelektual, menyatakan bahwa derajat kebebasan yang lebih tinggi lazimnya diperbolehkan di acara-acara olahraga, berbeda dengan konser musik.

‚ÄúSaya merasa meminta para penggemar untuk menyerahkan hak milik untuk Olimpiade dan melarang unggahan ke situs-situs daring terlalu membatasi kebebasan mereka‚ÄĚ ujarnya.

Sumber: Asahi Shimbun

Penulisan oleh Muhammad Naufal Hanif

[VTuber Corner] Meriahnya Penampilan Real Live Perdana VTuber AZKi Bertajuk “The Shitest Start”

Konser tunggal AZKi ini membawakan berbagai lagu andalannya.

Pada tanggal 19 Mei 2019, VTuber asal Jepang, AZKi, baru saja mengadakan konser live tunggalnya di Akibara Entasu. Penampilan ini merupakan pertunjukan solo real live perdana bagi AZKi yang biasanya menampilkan diri secara virtual.

Tiket untuk konser ini telah terjual habis sebelum real live digelar dan ratusan penggemar AZKi yang disebut dengan Kaitakusha berkumpul di dalam aula dengan penuh semangat sebelum penampilan AZKi dimulai.

Saat mendekati dimulainya acara, sebuah pengumuman penting disampaikan oleh sang manager, TSURANIMIZU, setelah perkenalan dari AZKi. Isi dari pengumuman ini adalah AZKi bergabung di bawah naungan label musik Inonaka Music dari VTuber Horo Live dan di dalam label tersebut juga turut bergabung VTuber baru, Hoshimachi Suisei, yang telah aktif secara individu sebelumnya.

Saat tempat pertunjukan dipenuhi dengan hiruk-pikuk para Kaitakusha, layar pun berganti dan menampilkan Hoshimachi Suisei.

Setelah itu, lagu “Felicia” dan “Real melancholy” ditampilkan. Lagu “Felicia” sebelumnya telah diunggah dalam saluran YouTube. Sementara itu, dalam “Real melancholy”, suara dari para Kaitakusha¬†turut bergema dengan sahutan yang dilontarkan AZKi pada awal lagu. Memang terasa bising, tetapi inilah rasa cinta yang sesungguhnya yang ditujukan oleh para penggemarnya kepada AZKi.

Penampilan AZKi dilanjutkan dengan lagu ballad “Starry Regrets” dan “Inochi” dari grup AZKi WHiTE. Lirik dari lagu ini menceritakan tentang permasalahan yang ada dari eksistensi mayanya dan menyentuh hati para pendengarnya. Kemampuan AZKi dalam menyanyikan lagu tersebut menunjukkan bahwa dia telah memberikan emosinya pada lirik yang ada.

Setelah grup AZKi WHiTE membawakan lagunya, figur dari AZKi berganti menuju ke dalam rupa hitamnya dan dimulailah gemuruh suara dari grup AZKi BLaCK. Penampilan diawali dengan “Shit Days” yang telah diungkapkan dalam program radio web AZKi, Azuraji, dan disambut dengan antusiasme dari para Kaitakusha.¬†Konser dilanjutkan dengan “Hikari no Machi”, “I can’t control myself”, dan “Fake.Fake.Fake”.

“Pertama-tama, aku mengucapkan terima kasih kepada kalian para Kaitakusha. Aku bisa melakukan konser tunggal live ini dalam waktu setengah tahun berkat kalian… rasanya aku ingin mengeluarkan air mata untuk mengucapkan ini,” sambut AZKi. Dia juga menambahkan “karena aku suka untuk menyanyikan laguku sendiri dan memulai hal ini, apakah kalian siap untuk membuat dunia denganku?”

Para Kaitakusha kemudian menjawab dengan suara lantang. Saat penanda untuk lampu merah menyoroti para penonton, seisi aula mengarah kepada AZKi dengan tatapan yang hangat.

Lagu yang dipilih sebagai penutup konser solo real live pertama ini adalah “Creating World”. Para Kaitakusha tak kuasa menahan tangis saat lagu ini dimulai. Dibalut dengan suasana yang emosional, usai sudah bagian utama dalam konser ini.

Untuk lebih membuat kenangan konser ini semakin berwarna, terdengar panggilan untuk encore¬†yang dilantangkan oleh para Kaitakusha yang bergema di dalam aula. Lagu yang dipilih oleh AZKi adalah “Creating World (Jun Kuroda Remix)” yang baru saja mulai diumumkan pada awal acara.

Pada hari yang sama, turut diumumkan juga kostum baru yang akan diperlihatkan di saluran YouTube dari AZKi pada hari Minggu ini (26/5) dan pengumuman mengenai akan diadakannya live kedua dari AZKi yang bertajuk “A GOODDAY TO DiE” pada 27 Juli 2019 mendatang dan masih berlokasi di Akihabara Entasu.

Daftar lagu yang dibawakan:

1. overture (SE)
2. Creating World (Jun Kuroda Remix)
3. Felicia
4. Real melancholic
5. Inochi
6.Starry Regrets
7. Shit Days
8. Hikari no Machi
9. I can’t control myself
10.Fake.Fake.Fake
11.Creating World
EN.Creating World (Jun Kuroda Remix)

AZKi juga akan mengadakan konser keduanya yang bertajuk AZKi 2nd Live “A GOODDAY TO DiE”¬†dengan rincian sebagai berikut:

Hari dan Tanggal: Sabtu, 27 Juli 2019
Lokasi: Akihabara Entas (1-2-7 Onoden Main Building, 5-7)
Jam buka: 18.00 waktu Jepang
Jam mulai: 18.30 waktu Jepang
Biaya: 3.000 yen
Tautan pembelian: https://passmarket.yahoo.co.jp/event/show/detail/01ckaf109ka02.html

Tagar resmi: #AZŤĎ¨

Penulisan rilis pers asli oleh Kamiki Kaoru – Gambar oleh Yuri Yuriya – Penulisan telah disunting seperlunya.

Artikel ini merupakan rilis pers resmi dari pihak penyelenggara.

Anime ‚ÄúNon Non Biyori‚ÄĚ Resmi Dapatkan Musim ke-3!

Nyampasu! Anime ini baru saja dikonfirmasi penayangan musim ketiganya!

Melalui event Nyanpasu Matsuri Vacation Nanon! yang digelar pada Sabtu, 11 Mei 2019, diumumkan bahwa lanjutan serial Non Non Biyori telah disetujui. Situs web resmi anime Non Non Biyori juga mulai menampilkan video promosi untuk lanjutan musim ketiganya.

Serial anime Non Non Biyori sendiri diangkat dari manga karya Atto yang berjudul sama. Anime ini pertama kali ditayangkan pada tahun 2013 dan mendapatkan musim kedua pada tahun 2015, diproduksi oleh sutradara Kawatsura Shinya di studio animasi SILVER LINK.

Serial ini juga mendapatkan 2 OVA dan satu film anime berjudul Non Non Biyori Vacation yang tayang di Jepang pada 25 Agustus 2018 lalu. Pemeran suara dan staf pada musim sebelumnya dipastikan kembali dalam musim ketiga ini.

Serial ini mengambil tempat di pedesaan Jepang di mana toko buku terdekat berjarak 20 menit dengan bersepeda, majalah Ju*p baru tersedia 2 hari setelah terbit, dan toko rental video terdekat berjarak 10 stasiun. Ichijou Hotaru pindah dari Tokyo ke sekolah pedesaan ini. Teman-teman baru di sekolahnya ada Natsumi, Komari, Renge, dan Kakak Sulung Komari, Suguru yang menginjak kelas tiga SMP.

Atto merilis manga ini di majalah Gekkan Comic Alive milik Kadokawa pada tahun 2019, dan Kadokawa merilis 13 volume kompilasi manga ini pada 21 November 2018 lalu.

Sumber: Moetron

Penulis: Aditya Putera T.