DJ YOCHI Merilis Album Baru dengan Tajuk “MIOKURI NO UTA”

Pernahkah kalian merasa sedih atau sakit kehilangan, terlupakan bahkan dibuang oleh seseorang yang paling berharga dalam hidup kalian?

Pernahkah kalian berpikir untuk membuat kenangan sebanyak-banyaknya bersama orang-orang yang paling dekat sebelum kalian kehilangan mereka?

Itulah gambaran yang ingin disampaikan oleh YOCHI & SHURI AIRIE dalam single yang berjudul “MIOKURI NO UTA”.

YOCHI memberikan suasana lagu yang sangat berbeda dari rilisan sebelumnya, sangat jauh dari hingar bingar khas seorang musisi hardcore serta lebih mengutamakan nuansa tenang, tetapi tetap pada jalur Electronic Dance Music dilengkapi karakter vokal khas dari SHURI AIRIE yang lirih membuat lagu ini semakin terasa pedih dan sakit saat kita kehilangan seseorang yang paling berharga dalam hidup kita.

Dengan sentuhan artwork dari HORO HARO membuat single ini lebih medalami makna yang sebenarnya.

Lagu ini juga diperindah oleh Official Remix dari EMKEI – VIBETRONIC dengan nuansa chill.

Melalui “MIOKURI NO UTA” juga, diharapkan semua yang mendengarkan lagu ini akan terpacu untuk memberikan, entah itu sedikit atau banyak, waktu untuk membuat kenangan indah bersama orang-orang yang paling berharga, entah teman, sahabat, kekasih ataupun keluarga.

“MIOKURI NO UTA” telah rilis di bawah naungan label RAINTUNES yang berbasis di Kota YOGYAKARTA, Indonesia. Dapat dinikmati di berbagai portal digital antara lain iTunes, Spotify, Deezer, dan layanan music streaming lainnya.

Untuk kalian yang senang mengoleksi CD, single ini akan rilis dalam bentuk fisik dan bisa kalian dapatkan di penampilan YOCHI Featuring EMKEI & ATRA dalam event ENNICHISAI BLOK M pada tanggal 22-23 Juni 2019.

Tentang YOCHI

YOCHI, DJ/Produser Musik asal kota Bandung yang akrab disapa “Oniichan” ini memulai karirnya pada tahun 2012, mengusung genre Drum & Bass, Hardcore dan antek-antek lainnya, hingga pada tahun 2016 ia menjadi salah satu pendiri Circle MATSURI ADDICT dan WAKAMONOIZU yang berbasis di kota Bandung.

Kalian bisa mendengarkan preview lagunya melalui tautan berikut ini.

Media Sosial YOCHI

Facebook          : www.facebook.com/yochimusic/
Instagram         : www.instagram.com/yochi_music/
Twitter : twitter.com/yochi_music
Soundcloud      : https://soundcloud.com/yochimusic
Youtube           : www.youtube.com/c/yochimusic
Spotify             : open.spotify.com/artist/5whTFfkxZn1nbXCbHbd82

Media Sosial SHURI AIRIE

Facebook          : www.facebook.com/ShuriAirie
Twitter : twitter.com/shuri_airie
Instagram         : www.instagram.com/shuriairie
Youtube Channel          : www.youtube.com/channel/UC-08TaKbuYzPWkpqIZGMVnQ

Media Sosial HORO HARO

Instagram         : https://www.instagram.com/horoharo/
DeviantART      : https://www.deviantart.com/horoharo
Youtube Channel          : https://www.youtube.com/channel/UCeb7AZowNsquGfaLFaOqiEA

Media Sosial EMKEI

Facebook          : https://www.facebook.com/emkeitunes
Instagram         : https://www.instagram.com/emkeitunes
Soundcloud      : https://www.soundcloud.com/emkeitunes
Youtube Channel          : https://www.youtube.com/channel/UCQwVb9q77nfCdScpmFuOy6g

Artikel ini merupakan rilis pers resmi dari pihak penyelenggara

Catatan Perjuangan Nadeshiko Japan Menjelang Piala Dunia Wanita 2019

Pertandingan memasuki menit ke-115, tersisa kurang lebih lima menit pada babak tambahan ini sebelum peluit panjang dibunyikan. Ekspresi masing-masing pendukung mencerminkan hasil sementara pada pertandingan tersebut.

Detik-detik di Final

Pendukung tim berseragam putih sudah bersorak bergembira dalam sepuluh menit terakhir, setelah mereka mencetak gol yang mengubah kedudukan.  Sorakan semakin keras, jelas saja karena mereka hanya perlu menghabiskan lima menit untuk mengangkat piala. Seharusnya bukan waktu yang lama.

Sebaliknya, pendukung tim berseragam biru berharap lima menit terakhir menjadi lima menit yang lama, mereka berharap sembari cemas melihat papan skor di Commerzbank-Arena yang menunjukkan angka satu dan dua. Berharap adanya keajaiban, setidaknya untuk menunda perayaan kemenangan tim lawan.

Sorakan yang diberikan oleh pendukung tim putih tidak membuat semangat tim biru memudar. Tim biru terus menggempur pertahanan lawannya. Masih di menit yang sama pula, pendukung tim putih menghentikan sorakannya sejenak.

Kapten tim biru memberikan umpan terobosan indah kepada Kinga. Seorang pemain dengan nomor punggung dua, nomor punggung yang identik dengan posisi sebagai bek kanan, dengan berani melakukan overlap ke dalam kotak pinalti tim putih. Berhasil melewati kiper setelah menerima umpan terobosan, sayang peluang emas tersebut berhasil digagalkan.

Namun, pendukung tim putih belum bisa tenang, melalui peluang tersebut, tim biru mendapatkan sebuah sepak pojok.

Miyama, seorang gelandang yang bermain di Amerika Serikat hingga beberapa bulan sebelum turnamen ini digelar ditugaskan untuk mengambil sepak pojok. Sepak pojok ditendang tidak begitu tinggi, mengarah ke tiang dekat gawang. Miyama mengambil keputusan tersebut mengetahui perbedaan postur yang cukup jauh antara tim putih dan biru.

Pemain bernomor punggung sepuluh dari tim biru berlari ke arah bola hasil sepak pojok tersebut. Dijaga ketat, dia melakukan half-volley dengan bagian luar dari kaki kanannya yang akhirnya berhasil menyamakan kedudukan. Pemain yang mencetak gol penyama kedudukan tersebut adalah Homare Sawa, gelandang yang akhirnya menjadi pencetak gol terbanyak dan pemain terbaik pada turnamen tersebut.

Akan tetapi, selain dua gelar dan satu gol penyama kedudukan tersebut, ada satu hal yang akan diingat mengenai dirinya. Homare Sawa, sebagai kapten tim terus bersemangat, memastikan rekan setimnya untuk terus berjuang. Memastikan bahwa Nadeshiko Japan menolak untuk menyerah.

Begitulah cerita singkat bagaimana Nadeshiko Japan, sebutan untuk tim nasional sepakbola wanita Jepang yang menggunakan seragam biru kebanggaannya, menolak untuk kalah menghadapi tim nasional sepakbola wanita Amerika Serikat pada 2011 FIFA Women’s World Cup.

Setelah gol penyama kedudukan tersebut, pertandingan berlanjut pada babak adu pinalti, di mana Ayumi Kaihori menunjukkan kemampuannya sebagai penjaga gawang dengan menggagalkan dua pinalti pemain Amerika Serikat. Nadeshiko Japan memenangkan pertandingan tersebut, dan mengangkat piala sebagai tim nasional wanita terbaik dunia.

Kemenangan ini menjadi semakin emosional, karena beberapa bulan sebelum gelaran piala, Jepang mengalami musibah tsunami yang menelan banyak korban jiwa. Bek Nadeshiko Japan Aya Sameshima adalah salah satu orang yang merasakan dampak dari bencana tersebut. Klubnya, TEPCO Mareeze yang dimiliki oleh Tokyo Electric Power Company harus ditutup akibat bencana tersebut.

Seperti pemain lainnya yang bermain di TEPCO Mareeze, mereka juga bekerja di Fukushima Daiichi Nuclear Power Plant yang dijalankan oleh TEPCO tempat dia masih hadir untuk bekerja hingga beberapa hari sebelum kejadian. Beruntungnya dia sedang mengikuti pemusatan latihan bersama Nadeshiko Japan ketika hal mengerikan tersebut terjadi.

Kembali ke Final

Empat tahun berselang, pada final turnamen yang sama, Nadeshiko Japan harus menerima balas dendam dari Amerika Serikat. Bermain di stadion BC Place, mereka harus mengakui keunggulan telak Amerika Serikat dengan skor 5-2. Bahkan ketika pertandingan baru berjalan 17 menit, Nadeshiko Japan harus mengambil bola dari gawangnya sebanyak empat kali. Bukan final yang diharapkan akan terulang lagi.

Delapan tahun sudah berlalu sejak cerita heroik itu terjadi dan empat tahun setelah kekalahan memalukan di final, Nadeshiko Japan akan berjuang lagi. Kali ini tidak akan ada penyelamatan gemilang dari Kaihori, atau keahlian dan semangat Sawa. Nadeshiko Japan datang ke Prancis, tempat digelarnya 2019 FIFA Women’s World Cup dengan banyak pemain muda. 14 dari 23 pemain yang di bawa oleh pelatih Asako Takakura adalah U-23.

Kepercayaan kepada para pemain muda ini muncul setelah mereka memenangkan medali emas pada Asian Games 2018 di Palembang. Walaupun setelah ajang tersebut, Nadeshiko Japan menjalani 2019 dengan hasil yang kurang baik.

Asa untuk Tahun Ini

Nadeshiko Japan memulai 2019 dengan hasil seri melawan Amerika Serikat, lalu menang melawan Brasil di mana ini menjadi satu-satunya kemenangan Nadeshiko Japan di tahun ini. Setelah itu mereka mengalami kekalahan beruntun dari Inggris dan Prancis dan diakhiri dengan hasil seri melawan Jerman dan Spanyol.

Hasil buruk sebelum Piala Dunia ini memang cukup mengkhawatirkan, tetapi jika kilas balik ke tahun 2011, sebelum mereka mengikuti Piala Dunia, rekor mereka juga tidak bagus dengan dua kali seri dan dua kali kalah.

Pada gelaran 2019 FIFA Women’s World Cup tahun ini, Nadeshiko Japan akan bergabung di grup D bersama Inggris, Skotlandia dan Argentina. Di atas kertas, Nadeshiko Japan seharusnya tidak memiliki kesulitan berarti melewati grup ini karena hanya bersaing dengan Inggris yang sekarang berada di peringkat 3 FIFA.

Skotlandia yang akan memulai debutnya di turnamen ini berada di peringkat 20 sedangkan Argentina di peringkat 37. Nadeshiko Japan sendiri berada di peringkat 7.

Mereka yang Berjuang

Dalam gelaran kali ini, Nadeshiko Japan akan kembali diperkuat oleh muka lama seperti Rumi Utsugi, Mizuho Sakaguchi, Aya Sameshima, Mana Iwabuchi dan Saki Kumagai. Mereka adalah pemain-pemain yang terlibat dalam keberhasilan Nadeshiko Japan pada tahun 2011. Khusus nama terakhir, dia akan melanjutkan apa yang sudah dilakukan oleh Sawa dan Miyama, memimpin Nadeshiko Japan di lapangan sebagai kapten. Selain nama senior, untuk gelaran kali ini Jepang membawa cukup banyak pemain-pemain muda.

Salah satu nama yang menarik untuk ditunggu aksinya adalah Yui Hasegawa. Pemain kelahiran 22 Januari 22 tahun yang lalu ini sudah memiliki lebih dari 30 penampilan bersama dengan Nadeshiko Japan, terbanyak diantara para pemain U-23 lainnya yang dipanggil.

Saki Kumagai adalah pemain yang memiliki jam terbang serta prestasi yang tidak perlu diragukan lagi. Bermain untuk klub Olympique Lyonnais Féminin sejak 2013, dia merupakan bagian dari dominasi klub tersebut di Eropa. 6 Piala Divisi 1 Prancis (2014-2019), 5 Piala Coup de France (2014-2017, 2019), 4 piala Uefa Champions League (2016-2019) dan lebih dari 100 penampilan bersama dengan klub terkuat di Eropa ini menjadi bukti seberapa hebat dirinya di lapangan hijau. Masih berusia 28 tahun, seharusnya masih banyak yang bisa diberikan olehnya kepada klub dan Nadeshiko Japan.

Memiliki tinggi hanya 157 cm tidak membuat Yui Hasegawa berkecil hati. Pemain yang berposisi di sayap kiri ini berhasil memukau para penonton dengan gocekan-gocekan yang mengacaukan pertahanan lawan. Bermain untuk Nippon TV Beleza sejak berusia 16 tahun, dia sudah bermain sebanyak 114 kali di usia yang sangat muda. Dia juga merupakan bagian dari dominasi klubnya di Nadeshiko.League Division 1 yang menjuarai liga sebanyak empat kali secara beruntun (2015 – 2018)

Tidak tanggung-tanggung, pada tahun 2018 dia membantu klubnya untuk meraih Seasonal Triple Crown (memenangkan Nadeshiko League, League Cup, and Empress’s Cup dalam satu musim yang sama). Dia juga merupakan bagian dari tim yang berhasil mendapatkan medali emas Asian Games 2018 di Palembang.

Nadeshiko Japan akan dikomandoi mantan pemainnya yaitu Asako Takakura. Pelatih berusia 51 tahun ini menggantikan Norio Sasaki pada tahun 2016. Norio Sasaki sendiri merupakan pelatih yang mengantarkan Nadeshiko Japan menuju dua kali final Piala Dunia pada tahun 2011 dan 2015. Asako Takakura, pelatih wanita pertama Nadeshiko Japan, memiliki taktik yang tidak berbeda jauh dengan Norio Sasaki.

Mengandalkan kecepatan dan umpan-umpan pendek yang merepotkan lawan dia berhasil membawa timnya mendapatkan medali emas pada Asian Games 2018.

Nadeshiko Japan akan memulai gelaran 2019 FIFA Women’s World Cup menghadapi Argentina pada 10 Juni mendatang. Pertandingan ini akan menjadi pembuktian seberapa jauh mereka dapat melangkah pada gelaran empat tahun sekali ini. Nadeshiko Japan memang diunggulkan untuk lolos dari grup D.

Apakah Nadeshiko Japan dapat mengulang apa yang terjadi pada tahun 2011 atau kekalahan pada empat tahun yang lalu akan terulang? Tidak ada yang tahu, seperti kata mantan pemain timnas Jerman, Sepp Herberger: “Bola itu bundar, pertandingan berjalan selama 90 menit, dan hal lain hanyalah murni teori.”

Penulisan oleh Edbert (@vert10_)

Foto Pertandingan Olimpiade Tokyo 2020 Tak Boleh Disebarluaskan di Media Sosial

Olimpiade Tokyo 2020 menghadirkan lagi peraturan yang dianggap janggal: larangan untuk memublikasikan foto.

Penyelenggaraan turnamen olaharga termasyhur di seluruh dunia, Olimpiade, akan dilaksanakan untuk yang ke-32 kalinya tahun depan di Tokyo, Jepang, mulai dari 24 Juli hingga 9 Agustus 2020.

Dengan waktu yang semakin mendekati hari-H, tiket sudah mulai dijual dan aturan sudah mulai dikeluarkan oleh IOC (International Olympic Committee).

Salah satu peraturan yang menonjol adalah peraturan mengenai pengambilan dan penyebaran setiap jenis foto dan video yang direkam di stadion dan gelanggang-gelanggang olahraga lainnya.

Meskipun, seperti turnamen olahraga lainnya, Olimpiade memperbolehkan pengunjung untuk mengambil foto maupun merekam video dan audio di dalam arena pertandingan selama masih dalam konsumsi pribadi, tetapi ‘konsumsi pribadi’ ini membatasi banyak hal yang lazim dilakukan.

Ketika pengunjung membeli tiket, salah satu syarat dan peraturannya adalah semua foto dan video, termasuk swafoto sekalipun, yang diambil di arena studio, dengan atau tanpa adanya atlet di dalamnya, sama sekali tidak boleh disebarluaskan di televisi, radio, maupun internet.

Ini berarti, setiap foto atau video yang diambil di arena pertandingan Olimpiade Tokyo 2020 tidak boleh diunggah ke Instagram, Twitter, maupun media sosial lainnya.

Demi Melindungi Hak Penyiaran

Tak hanya itu, hak milik dari seluruh foto dan video yang diambil di arena pertandingan menjadi milik panitia Olimpiade (IOC).  Igarashi Atsushi yang mengepalai departemen hukum dari Olimpiade Tokyo, menyatakan bahwa hal ini dilakukan untuk melindungi hak penyiaran eksklusif milik saluran televisi maupun radio.

Hal ini berbeda dengan turnamen olahraga lain di Jepang, dimana turnamen sepakbolanya yang terbesar. J.League, meskipun sama-sama tak membolehkan publikasi foto yang diambil di stadion, tetapi tidak sampai meminta hak milik atas foto yang diambil pengunjung tersebut.

Beberapa orang sangat meragukan efektivitas peraturan ini, belum lagi kapasitas IOC untuk melakukannya, sebab hal ini sudah lazim dilakukan pada turnamen olahraga manapun dan ratusan ribu pengunjung yang datang tentu tidak bisa satu per-satu dimonitor penggunaan media sosialnya.

Terlalu Membatasi Kebebasan

Selain itu, Fukui Kensaku, pengacara di bidang properti intelektual, menyatakan bahwa derajat kebebasan yang lebih tinggi lazimnya diperbolehkan di acara-acara olahraga, berbeda dengan konser musik.

“Saya merasa meminta para penggemar untuk menyerahkan hak milik untuk Olimpiade dan melarang unggahan ke situs-situs daring terlalu membatasi kebebasan mereka” ujarnya.

Sumber: Asahi Shimbun

Penulisan oleh Muhammad Naufal Hanif

[VTuber Corner] Meriahnya Penampilan Real Live Perdana VTuber AZKi Bertajuk “The Shitest Start”

Konser tunggal AZKi ini membawakan berbagai lagu andalannya.

Pada tanggal 19 Mei 2019, VTuber asal Jepang, AZKi, baru saja mengadakan konser live tunggalnya di Akibara Entasu. Penampilan ini merupakan pertunjukan solo real live perdana bagi AZKi yang biasanya menampilkan diri secara virtual.

Tiket untuk konser ini telah terjual habis sebelum real live digelar dan ratusan penggemar AZKi yang disebut dengan Kaitakusha berkumpul di dalam aula dengan penuh semangat sebelum penampilan AZKi dimulai.

Saat mendekati dimulainya acara, sebuah pengumuman penting disampaikan oleh sang manager, TSURANIMIZU, setelah perkenalan dari AZKi. Isi dari pengumuman ini adalah AZKi bergabung di bawah naungan label musik Inonaka Music dari VTuber Horo Live dan di dalam label tersebut juga turut bergabung VTuber baru, Hoshimachi Suisei, yang telah aktif secara individu sebelumnya.

Saat tempat pertunjukan dipenuhi dengan hiruk-pikuk para Kaitakusha, layar pun berganti dan menampilkan Hoshimachi Suisei.

Setelah itu, lagu “Felicia” dan “Real melancholy” ditampilkan. Lagu “Felicia” sebelumnya telah diunggah dalam saluran YouTube. Sementara itu, dalam “Real melancholy”, suara dari para Kaitakusha turut bergema dengan sahutan yang dilontarkan AZKi pada awal lagu. Memang terasa bising, tetapi inilah rasa cinta yang sesungguhnya yang ditujukan oleh para penggemarnya kepada AZKi.

Penampilan AZKi dilanjutkan dengan lagu ballad “Starry Regrets” dan “Inochi” dari grup AZKi WHiTE. Lirik dari lagu ini menceritakan tentang permasalahan yang ada dari eksistensi mayanya dan menyentuh hati para pendengarnya. Kemampuan AZKi dalam menyanyikan lagu tersebut menunjukkan bahwa dia telah memberikan emosinya pada lirik yang ada.

Setelah grup AZKi WHiTE membawakan lagunya, figur dari AZKi berganti menuju ke dalam rupa hitamnya dan dimulailah gemuruh suara dari grup AZKi BLaCK. Penampilan diawali dengan “Shit Days” yang telah diungkapkan dalam program radio web AZKi, Azuraji, dan disambut dengan antusiasme dari para Kaitakusha. Konser dilanjutkan dengan “Hikari no Machi”, “I can’t control myself”, dan “Fake.Fake.Fake”.

“Pertama-tama, aku mengucapkan terima kasih kepada kalian para Kaitakusha. Aku bisa melakukan konser tunggal live ini dalam waktu setengah tahun berkat kalian… rasanya aku ingin mengeluarkan air mata untuk mengucapkan ini,” sambut AZKi. Dia juga menambahkan “karena aku suka untuk menyanyikan laguku sendiri dan memulai hal ini, apakah kalian siap untuk membuat dunia denganku?”

Para Kaitakusha kemudian menjawab dengan suara lantang. Saat penanda untuk lampu merah menyoroti para penonton, seisi aula mengarah kepada AZKi dengan tatapan yang hangat.

Lagu yang dipilih sebagai penutup konser solo real live pertama ini adalah “Creating World”. Para Kaitakusha tak kuasa menahan tangis saat lagu ini dimulai. Dibalut dengan suasana yang emosional, usai sudah bagian utama dalam konser ini.

Untuk lebih membuat kenangan konser ini semakin berwarna, terdengar panggilan untuk encore yang dilantangkan oleh para Kaitakusha yang bergema di dalam aula. Lagu yang dipilih oleh AZKi adalah “Creating World (Jun Kuroda Remix)” yang baru saja mulai diumumkan pada awal acara.

Pada hari yang sama, turut diumumkan juga kostum baru yang akan diperlihatkan di saluran YouTube dari AZKi pada hari Minggu ini (26/5) dan pengumuman mengenai akan diadakannya live kedua dari AZKi yang bertajuk “A GOODDAY TO DiE” pada 27 Juli 2019 mendatang dan masih berlokasi di Akihabara Entasu.

Daftar lagu yang dibawakan:

1. overture (SE)
2. Creating World (Jun Kuroda Remix)
3. Felicia
4. Real melancholic
5. Inochi
6.Starry Regrets
7. Shit Days
8. Hikari no Machi
9. I can’t control myself
10.Fake.Fake.Fake
11.Creating World
EN.Creating World (Jun Kuroda Remix)

AZKi juga akan mengadakan konser keduanya yang bertajuk AZKi 2nd Live “A GOODDAY TO DiE” dengan rincian sebagai berikut:

Hari dan Tanggal: Sabtu, 27 Juli 2019
Lokasi: Akihabara Entas (1-2-7 Onoden Main Building, 5-7)
Jam buka: 18.00 waktu Jepang
Jam mulai: 18.30 waktu Jepang
Biaya: 3.000 yen
Tautan pembelian: https://passmarket.yahoo.co.jp/event/show/detail/01ckaf109ka02.html

Tagar resmi: #AZ葬

Penulisan rilis pers asli oleh Kamiki Kaoru – Gambar oleh Yuri Yuriya – Penulisan telah disunting seperlunya.

Artikel ini merupakan rilis pers resmi dari pihak penyelenggara.

Anime “Non Non Biyori” Resmi Dapatkan Musim ke-3!

Nyampasu! Anime ini baru saja dikonfirmasi penayangan musim ketiganya!

Melalui event Nyanpasu Matsuri Vacation Nanon! yang digelar pada Sabtu, 11 Mei 2019, diumumkan bahwa lanjutan serial Non Non Biyori telah disetujui. Situs web resmi anime Non Non Biyori juga mulai menampilkan video promosi untuk lanjutan musim ketiganya.

Serial anime Non Non Biyori sendiri diangkat dari manga karya Atto yang berjudul sama. Anime ini pertama kali ditayangkan pada tahun 2013 dan mendapatkan musim kedua pada tahun 2015, diproduksi oleh sutradara Kawatsura Shinya di studio animasi SILVER LINK.

Serial ini juga mendapatkan 2 OVA dan satu film anime berjudul Non Non Biyori Vacation yang tayang di Jepang pada 25 Agustus 2018 lalu. Pemeran suara dan staf pada musim sebelumnya dipastikan kembali dalam musim ketiga ini.

Serial ini mengambil tempat di pedesaan Jepang di mana toko buku terdekat berjarak 20 menit dengan bersepeda, majalah Ju*p baru tersedia 2 hari setelah terbit, dan toko rental video terdekat berjarak 10 stasiun. Ichijou Hotaru pindah dari Tokyo ke sekolah pedesaan ini. Teman-teman baru di sekolahnya ada Natsumi, Komari, Renge, dan Kakak Sulung Komari, Suguru yang menginjak kelas tiga SMP.

Atto merilis manga ini di majalah Gekkan Comic Alive milik Kadokawa pada tahun 2019, dan Kadokawa merilis 13 volume kompilasi manga ini pada 21 November 2018 lalu.

Sumber: Moetron

Penulis: Aditya Putera T.

Daftar Pemenang Kodansha Manga Awards ke-43 Telah Diumumkan

Kategori Manga Shounen Terbaik melahirkan dua pemenang. Bagaimana dengan kategori lainnya?

Penerbit asal Jepang, Kodansha, baru saja mengumumkan para komik pemenang Kodansha Manga Awards ke-43 pada hari Jumat kemarin (10/5). Ajang penghargaan ini terdiri dari tiga kategori reguler ditambah dengan kategori Penghargaan Spesial (Special Award) dalam rangka memperingati 110 tahun berdirinya Kodansha. Para nomine untuk penghargaan ini telah diumumkan pada bulan April lalu.

Nah, komik mana saja yang berhasil keluar sebagai pemenang?

Manga Shounen Terbaik

Kategori Manga Shounen Terbaik dimenangi oleh Gotoubun no Hanayome karya Negi Haruba. Manga ini diterbitkan mingguan di majalah Weekly Shounen Magazine milik Kodansha. Manga ini telah diberi lampu hijau untuk terbit di Indonesia.

Tidak hanya satu judul saja, kategori ini juga dimenangi oleh Fumetsu no Anata e karya Yoshitoki Oima yang telah terbit di tanah air melalui penerbit m&c! dengan judul Untukmu yang Abadi dan di Jepang diterbitkan mingguan di majalah Weekly Shounen Magazine milik Kodansha.

Nomine lainnya untuk kategori ini adalah act-age dan Midarana Ao-chan wa Benkyou ga Dekinai.

Manga Shoujo Terbaik

Sementara itu, kategori Manga Shoujo Terbaik dimenangi oleh Perfect World karya Rie Aruga. Manga ini telah terbit di tanah air melalui penerbit m&c! dan dalam bahasa aslinya diterbitkan bulanan di majalah Kiss milik Kodansha.

Nomine lainnya untuk kategori ini adalah Kiss Me at the Stroke of Midnight, Nagi no Oitoma, dan Our Precious Conversations.

Manga Umum Terbaik

Dari kategori terakhir, Manga Umum Terbaik dimenangi oleh Kinou Nani Tabeta? karya Fumi Yoshinaga. Manga ini diterbitkan mingguan di majalah Morning milik Kodansha.

Nomine lainnya untuk kategori ini adalah Showa Tennou Monogatari, The Blue Period., dan Watashi wa Douka Shiteiru.

Special Award

Special Award diberikan kepada serial manga Kosaku Shima karya Kenshi Hirokane dan manga Hajime no Ippo karya George Morikawa. Kedua judul di atas diterbitkan oleh Kodansha.

Hadiah yang diberikan kepada setiap mangaka yang karyanya keluar sebagai pemenang meliputi sertifikat, arca perunggu, dan uang sebesar satu juta yen (sekitar 130 juta rupiah per 11 Mei 2019). Anggota komite pada Kodansha Awards tahun ini terdiri dari Ken Akamatsu, Tochi Ueyama, Oh! great, Atsushi Kase, Akiko Hitashimura, Yūji Moritaka, dan Waki Yamato.

Sumber: Anime News Network
Penulis: Rahmat Maulana Koto

Meriahnya Ucapan Ulang Tahun untuk Kembar Lima Nakano dari ‘Gotoubun no Hanayome’

Bayangkan bila kembar lima Nakano adalah temanmu. Satu hari bisa dapat lima traktiran, lo!

Serial manga Gotoubun no Hanayome (atau The Quintessential Quintuplets) adalah salah satu serial yang sedang banyak dibicarakan pada saat ini. Serial ini juga baru saja menyudahi musim pertama animenya yang tayang mulai Januari hingga Maret tahun ini. Manga ini menceritakan tentang kehidupan sang tokoh utama, Futaro Uesugi, yang harus mengajar para gadis kembar lima keluarga Nakano sebagai pekerjaan untuk menyambung hidupnya.

Nah, para gadis kembar lima ini terdiri dari Ichika, Nino, Miku, Yotsuba, dan Itsuki. Kelima gadis yang berasal dari keluarga tajir ini memiliki kepribadian dan karakter yang saling berbeda satu sama lain. Walau bagaimanapun, mereka tetap memiliki satu kesamaan sebagai sesama saudara kandung yang lahir pada waktu bersamaan: hari ulang tahun yang sama!

Hari ulang tahun para kembar lima Nakano dirayakan setiap 5 Mei. Tanggal ini terasa pas untuk mewakili simbol kembar lima: hari 5 dan bulan 5. Tentu saja, dengan adanya lima tokoh yang merayakan ulang tahun secara bersamaan dalam suatu serial membuat suasana menjadi semakin ramai dan meriah.

Dengan tagar (Nakanochi Itsusugo Tanjoubi; Ulang Tahun Kembar Lima Nakano), kamu bisa melihat bagaimana antusiasnya para pengguna Twitter merayakan hari ulang tahun mereka! Omong-omong, kami pernah membahas salah satu anggota dari kembar lima ini di Fetish Corner, lo!

Selain itu, berikut ini adalah unggahan dari sang mangakanya, Negi Haruba.

Nah, apakah kalian juga ingin turut serta merayakan ulang tahun mereka?

Sumber: Twitter

Penulisan oleh Rahmat Maulana Koto

[Risa Gaming] Ulasan Rich Wars: Mobile Board Game yang Tampil Menantang!

Mari kita selamatkan pub milik Johnny dengan mendapatkan 10 juta Stacks dari kemenangan di Rich Wars!

Beberapa waktu lalu sempat hadir gim mobile yang cukup fenomenal di Indonesia, yaitu Get Rich. Gim ini tampil berupa board game yang dimainkan secara online karya Netmarble. Nah, Netmarble kini menghadirkan sebuah board game monopoli yang jauh lebih menantang, Rich Wars.

Dalam kesempatan ini, penulis akan memberikan ulasan dari Rich Wars. Penasaran? Langsung simak saja selengkapnya!

Cerita Awal

Gim ini mengisahkan tentang penyelamatan pub milik Johnny yang sedang dilanda krisis. Kita dapat membantu Johnny menyelamatkan pub-nya dengan mendapatkan 10 juta Stacks dari memenangkan pertarungan di Rich Wars.

Karakter dan Kemampuan

Di awal permainan, kita berkesempatan untuk memilih salah satu dari empat karakter yang sudah disediakan, yaitu Bella, Brandon, Austin, dan Gemma. Semua karakter di gim ini memiliki skill yang unik dan berbeda, seperti Bella yang berkemampuan mencuri Stacks saat melewati lawan, Brandon yang dapat terbebas biaya sewa saat berhenti di tanah milik lawan, maupun Austin yang memiliki kesempatan lebih besar untuk mendapatkan keberuntungan dari dadu double.

Kita bisa memiliki karakter unik lainnya atau menggunakan beraneka ragam dadu yang menarik dalam permainan. Selain itu, kita juga dapat meningkatkan kemampuan karakter dan dadu yang kita miliki dengan menggunakan diamond atau coin.

Gameplay

Rich Wars berisikan sebuah papan game dengan 24 kotak, yaitu 1 kotak Start, 18 kotak City, 2 kotak Mystery Card, 1 kotak World Travel, dan 1 kotak City Hub. Dari kotak-kotak tersebutlah terdapat salah satu keunikan dari gim Rich Wars, yaitu kotak City Hub. Di City Hub ini kita bisa membeli tanah, landmark kota yang sudah kita miliki, dan terpenting adalah kita bisa mengaktifkan Overcharged!

Overcharged ini bisa menjadi sangat menguntungkan untuk kita atau malah menjadi hal paling berbahaya, karena jika kita berhasil mendapatkan Overcharged yang sudah aktif, kita bisa langsung landmark kota yang kita beli atau menghancurkan kota milik lawan walaupun kota tersebut sudah di-landmark olehnya.

Fitur-Fitur

Seperti gim online pada umumnya, Rich Wars memiliki beberapa fitur yang sangat menguntungkan berupa quest, ranking, cube, shop, inventory, social, dan tournament. Kita bisa mendapatkan berbagai hadiah menarik dari cube yang kita dapatkan saat kita menang pertandingan, menyelesaikan quest harian, dan memenangkan tournament. Kita bisa membeli beberapa keperluan materi di shop dan meningkatkan kemampuan dari karakter dan dadu di inventory. Lalu, apa yang terpenting adalah kita bisa menambah jangkauan sosial kita, menambahkan teman atau bergabung dengan klub untuk mendapatkan hadiah mingguan.

Sekian review tentang Rich Wars dari penulis. Jangan lupa unduh dan ajak kerabat kalian untuk ikut bermain gim ini juga, ya!

Tulisan ini adalah opini pribadi dari penulis, tidak mencerminkan pandangan umum Risa Media. Penulisan oleh Aisyah M.

Film ‘Battle of Surabaya’ Kini Bisa Ditonton di IMAX TMII

Sudah bisa dinikmati mulai bulan ini.

Masih ingatkah kalian dengan film Battle of Surabaya? Film karya anak bangsa yang berlatarkan kisah perjuangan bangsa Indonesia dalam meraih kemerdekaan ini sempat tayang serentak di seluruh jaringan bioskop di Indonesia pada tanggal 20 Agustus 2015 dan meraih 12 penghargaan internasional.

Nah, pada tahun ini, Battle of Surabaya kembali hadir di layar lebar IMAX Keong Emas TMII (Taman Mini Indonesia Indah), Jakarta Timur. Film ini telah tayang kembali sejak 20 April 2019 dan akan tayang selama satu tahun penuh di teater IMAX Keong Emas TMII. Film ini tayang pada pukul 12.00, 13.30, 15.00, dan 16.00 WIB untuk hari Senin-Jumat, sedangkan pada hari Sabtu dan Minggu tayang mulai pukul 10.00 hingga jam 17.00 WIB.

Kalian bisa kembali menikmati film Battle of Surabaya dengan membeli harga tiket mulai dari Rp30.000 hingga Rp50.000, serta jangan lupa untuk mengajak kerabat atau grup kalian supaya bisa mendapatkan harga tiket yang lebih murah! Kalian bisa dilihat info lengkapnya di pranala berikut ini.

Selain film Battle of Surabaya, kalian juga bisa menonton beberapa film menarik lainnya di teater IMAX Keong Mas seperti Dongeng Musikal Keong Mas, Rocky Mountain Express, dan Indonesia Indah.

Penulisan oleh Aisyah M.