[Review Corner] Dari Kisah Dongeng Sapu Ajaib, Inilah Ulasan Mary and The Witch’s Flower

Bagaimana rasanya menjadi penyihir hebat hanya dengan setangkai bunga?

Pada acara Pekan Sinema Jepang 2018 yang telah menayangkan lebih dari 30 film populer Jepang pada 7-16 Desember 2018), Tim Risa Media berkesempatan untuk menonton salah satu film animasi produksi Studio Ponoc yang telah ditayangkan dua kali di CGV Grand Indonesia. Diadaptasi dari sebuah buku dongeng anak-anak “The Little Broomstick” karya Mary Stewart, Studio Ponoc mempersembahkan karya pertamanya berjudul Mary & The Witch’s Flower. Disutradarai oleh Hiromasa Yonebayashi, film ini memberikan pengalaman serupa dengan film-film Ghibli namun dari studio ‘berbeda’. Kira-kira apa saja yang membuatnya menarik untuk ditonton? Yuk, kita simak ulasannya berikut ini.

Sinopsis

Film ini menceritakan tentang si gadis ceria berambut merah bernama Mary Smith. Seperti anak-anak pada umumnya, dia ingin menghabiskan waktunya dengan kegiatan menyenangkan. Mary yang sedang kebosanan di rumah bibinya juga ingin melakukan banyak hal, tetapi karena sifatnya yang ceroboh membuat dirinya frustrasi lantaran dirinya seperti pembawa sial karena tidak bisa melakukan apapun dengan benar.

Bermula ketika Mary bertemu dengan dua ekor kucing yang menuntunnya ke dalam hutan, ia menemukan sebuah bunga langka dan konon dicari oleh para penyihir sehingga dijuluki sebagai “Bunga Penyihir”. Berlanjut hingga ke penemuan sapu tua yang secara tidak sengaja dengan keajaiban bunga tersebut membawanya ke atas permukaan awan dan terbang menuju Endor College, dari sini petualangan Mary sebagai penyihir pun dimulai.

Film yang 11/12 dengan Studio Ghibli

Dari segi animasi, Mary berhasil membawa kita ke dunia fantasi layaknya sebuah negeri dalam dongeng. Visual yang ditampilkan tentu saja menarik, bertemakan tentang sekolah penyihir ala Hogwarts lalu dikombinasikan dengan beberapa elemen yang terinspirasi dari film produksi Studio Ghibli seperti Ponyo, Howl’s Moving Castle, dan Laputa: Castle In The Sky. Film yang satu ini membuat kita bernostalgia dengan gaya animasi garapan studio tersebut. Tidak hanya itu, pengisi suara pun diisi oleh jajaran pemain film ternama seperti Hana Sugisaki, Ryunosuke Kamiki, Jiro Sato, serta musik pengiring yang menawan membuat film ini dibungkus dengan sangat menakjubkan.

Alur cerita yang sederhana layaknya sebuah dongeng

Mengikuti cerita aslinya, film ini dibawakan dengan alur cerita yang sangat klasik dan mudah ditebak. Di awal cerita, kita disuguhkan dengan flashback yang menjadi kunci utama dari film ini lalu pengenalan karakter hingga menjadi penyihir hebat cukup memberikan ekspetasi tinggi terhadap perjalanan cerita Mary. Dibalut dengan konflik anak-anak ala Petualangan Sherina serta gampang dicerna setiap kalangan juga menjadi poin plus film ini. Namun, dari aspek penokohan film ini masih kurang kuat dalam menarik minat penonton serta pengembangan cerita yang terkesan minimalis untuk skala film layar lebar.

Kesimpulan

Secara keseluruhan, film ini mengingatkan kita kepada petualangan masa kecil yang menyenangkan. Meliputi pencarian jati diri di mana karakter Mary pun direfleksikan sebagai anak kecil berjiwa petualang yang menginginkan sebuah kesempurnaan terhadap dirinya.

Walaupun plot dinilai simple dan perlu dikembangkan lagi, melihat dari sinematografinya kita dapat menaruh harapan kepada Studio Ponoc bahwa film ini adalah sebuah langkah awal yang tepat untuk menjadi penerus Studio Ghibli lewat karya-karya berikutnya.

Ulasan oleh Rinaldi

[Ulasan] One Week Friends: Tentang Gelora Romansa SMA dan Kehilangan Kenangan

Kisah kasih masa SMA yang dibalut dengan drama penuh haru dan perjuangan untuk meraih satu hal berharga: pertemanan.

Hai Hai Riscomrades! Kali ini kami akan mengulas salah satu film yang turut serta ditampilkan dalam gelaran Pekan Sinema Jepang 2018 di Jakarta pada pekan lalu, yaitu One Week Friends atau dalam bahasa Jepang memiliki judul Isshukan Friends. Film bertipe live-action ini diadaptasi dari manga empatpanel karya Matcha Hazuki dengan judul yang sama dan pertama kali diterbitkan pada tahun 2011.

Sebelumnya, One Week Friends juga telah mendapatkan adaptasi animenya sebanyak satu musim yang telah tayang empat tahun lalu dengan Brain’s Base sebagai studio animasinya. Anime One Week Friends sempat mencuri perhatian saat musim penayangannya karena begitu banyak penonton yang merasakan feels dari alur melankolis yang diperlihatkan di dalamnya. Lalu, bagaimana dengan filmnya? Apakah akan sama?

oneweekfriends

Jalan Cerita

Kisah bermula saat Yuki Hase (diperankan oleh Kento Yamazaki) secara tidak sengaja menemukan kartu anggota perpusatakaan milik Kaori Fujimiya (diperankan oleh Haruna Kawaguchi) yang tertinggal di dalam perpustakan dan langsung seketika diambil oleh Kaori. Tampaknya, itu hanya sekadar pertemuan yang kebetulan begitu saja, tetapi lagi-lagi Yuki bertemu dengan Kaori saat buku miliknya tertinggal di dalam kereta dan diselamatkan oleh Kaori.

Ketika memasuki tahun ajaran baru, tanpa disangka-sangka Yuki sekelas dengan Kaori! Rasa penasaran Yuki terhadap Kaori semakin bertambah dan dia pun memutuskan untuk berteman dengan Kaori. Namun, Kaori terus mengelak dan tak mengacuhkan ajakan Yuki. Meskipun demikian, Yuki terus berusaha tanpa menyerah agar Kaori mau berteman dengannya hingga suatu hari Yuki mendapati kenyataan pahit yang menimpa Kaori: dia hanya mampu mengingat kenangan tentang teman-temannya dalam waktu satu pekan saja.

Yuki tak habis akal. Dia akhirnya mencari solusi dari penderitaan Kaori dengan mengajak Kaori untuk bertukar catatan harian setiap pekannya dengan harapan agar dia mampu mengingat kembali apa saja yang telah terjadi pada hari Senin pekan berikutnya. Segalanya pada akhirnya berjalan mulus. Mereka berdua menjadi dua sejoli yang akrab, dan perlahan-lahan jarak di antara Kaori dan Yuki mulai menghilang.

Akan tetapi, kisah kebahagiaan dari pertemanan Yuki dan Kaori ini tiba-tiba berubah drastis saat sebuah kejutan muncul ketika datangnya cinta pertama Kaori saat SMP dulu, Hajime Kujo (diperankan oleh Shuhei Uesugi). Dari sinilah, gejolak yang sesungguhnya mulai terjadi dan diperlihatkan bagaimana ketegangan romansa yang sesungguhnya di antara Yuki, Kujo, dan Kaori. Mampukah Yuki melawan kemunculan Kujo? Ataukah Kujo yang berhasil mendapatkan Kaori kembali?

Komentar

Dengan durasi selama 121 menit atau sama dengan 2 jam lebih 1 menit, para penonton akan dibawa ke dalam atmosfer cerita bertemakan kehidupan SMA dengan begitu indahnya. Pengambilan gambar di dalam kelas, perpustakaan, lorong, acara festival sekolah, hingga bagian terakhirnya yang menampilkan acara kelulusan terasa begitu spesial bagi penulis. Para aktor dan aktris dari film yang disutradai oleh Shousuke Murakami ini juga mampu membawakan perannya masing-masing dengan begitu ciamik dan tampak betapa ekspresifnya mereka untuk menyuguhkan kehidupan dari dunia muda-mudi di kelas dua SMA sebagai pusat perhatian dalam ceritanya.

Bicara soal musik latar belakang, penulis pikir film ini sudah cukup baik untuk meletakkannya sesuai dengan porsinya dan begitu ngena karena terasa pas pada setiap adegan yang memang memerlukan suara pengiring. Penulis juga memberikan satu jempol ekstra untuk film ini yang telah membawakan versi aransemen ulang untuk lagu fenomenal “Kanade” yang dibawakan oleh Sukima Switch. Lagu yang akan Anda temui di akhir film ini, tepatnya dipergunakan untuk menyambut acara perpisahan ini sebelumnya juga dibawakan sebagai lagu penutup untuk adaptasi anime One Week Friends dengan Sora Amamiya selaku seiyuu untuk Kaori Fujimiya sebagai penyanyinya.

Masuk ke dalam pembawaan cerita. Pada tiga puluh menit awal, penulis merasakan bahwa film ini tampaknya akan berjalan dalam tempo yang agak lambat dan tidak langsung nge-gas untuk masuk ke dalam kehilangan ingatan yang dialami oleh Kaori, problem utama yang menjadi sorotan dalam One Week Friends. Namun, semuanya berubah saat masalah ini menjadi titik fokus pada bagian pertengahan dari film ini dan kembali membuat penulis menikmati jalan cerita yang tersaji di dalamnya. Setiap karakter, termasuk yang minor sekali pun, sangat berpengaruh dalam menentukan intensitas ketegangan yang terdapat mulai dari bagian pertengahan hingga menjelang akhir untuk menolong Kaori agar bisa kembali mengingat kenangannya yang telah menghilang.

Meskipun demikian, penulis merasakan banyak bagian penting dalam film ini yang malah tidak begitu dibahas dan hanya ditampilkan secara singkat saja, padahal bagian ini seharusnya menjadi bagian yang sangat dapat ditonjolkan untuk menciptakan alur cerita yang hebat dalam One Week Friends. Misalnya, saat Kaori dan Hase “berkencan” di festival musim panas, atau saat Kaori mendadak pingsan dan Hajime tiba-tiba hanya datang sekilas saja. Akan tetapi, hal tersebut langsung dibalas dengan pengakhiran film ini yang sangat memukau dan mengharukan.

Sebuah adegan animasi gambar manga “bagaimana Yuki bertemu Kaori” karya Yuki yang dikerjakannya dalam sebuah buku tebal yang dipinjamnya dari perpustakaan menjadi hal terbaik yang penulis dapatkan dalam film ini, tampil saat perayaan kelulusan SMA mereka berdua. Diawali dengan cukup mulus, sedikit tersendat saat memasuki pertengahan, berakhir dengan menakjubkan.

Kesimpulan

One Week Friends sangat dapat dinikmati oleh Anda yang memang menyukai genre romansa, kehidupan sekolah, terlebih bila Anda menginginkan kombinasi genre di atas dibaluti dengan drama yang membawa hawa nge-feels saat menyaksikannya. Sementara itu, bagi kalian yang sudah membaca dan menonton One Week Friends, tidak ada salahnya mencicipi versi filmnya karena Anda akan mendapati akhir kisah yang berbeda daripada apa yang sudah ada di dalam anime dan manganya.

Bagi penulis, film ini tidak sekadar memperlihatkan doki-doki ala anak SMA zaman kiwari di Jepang dengan pusaran drama penyakitan yang menjadi perhatian utama dari seluruh masalah yang ada di dalamnya, tetapi penulis merasakan betul makna mengenai pentingnya orang-orang di sekitar kita, orang terdekat kita, dan keluarga kita untuk menemani kita di saat kita kesepian dan membutuhkan teman untuk berbagi cerita bersama.

Sekian dulu ulasan film One Week Friends yang kami saksikan dalam rangka Pekan Sinema Jepang 2018. Nantikan pembahasan film lainnya yang akan datang hanya di Risa Media!

Diulas dan ditulis oleh Rahmat

Mari Mengunjungi Situs Web Penyedia Komik Digital Resmi Terbesar di Indonesia, “MangaMon”!

Seperti apa ya isi dari situs web MangaMon?

Hai Hai Riscomrades! Apakah ada di antara kalian yang suka membaca komik? Kalau jawabannya adalah iya, lanjut ke pertanyaan kedua. Apakah kalian merasa bahwa membeli komik fisik akan membuat kalian kewalahan menatanya dan lebih memilih untuk membaca komik digital? Jika sekali lagi jawabannya adalah iya, inilah saat yang tepat untuk memperkenalkan kepada kalian situs web penyedia komik digital resmi terbesar di Indonesia, MangaMon!

Nah, pada kesempatan kali ini, Risa Media akan mengulas situs web MangaMon. Apa saja ya yang bakal kita temukan di dalam situsnya? Langsung saja, tanpa ragu-ragu, mari kita memulainya! Untuk memasuki situs web MangaMon, caranya sangat mudah. Cukup dengan mengetik https://www.mangamon.id/ di kolom pencarian peramban kalian dan dengan seketika, kita sudah sampai di halaman utama dari situs web MangaMon!

 

Menu Utama Situs Web MangaMon

 

Halaman utama dari situs ini berada dalam menu “Home”. Selain “Home”, ada tiga menu lainnya yang dapat kita temui, yaitu “Komik”, “Articles”, dan “Promo”. Pada bagian “Home”, kita dapat menjumpai gambar carousel yang memperlihatkan informasi mengenai promo dan lomba yang sedang diadakan oleh MangaMon. Selain itu, kita juga akan menemukan berbagai pilihan akses cepat (Quick Access) yang memuat beberapa pilihan menuju halaman lainnya yang direkomendasikan kepada pengunjung situs web MangaMon.

Tidak hanya sampai di situ saja, menu “Home” juga memuat tampilan berbagai komik beserta sampul dan harganya dalam koin yang terbagi dalam bagian “Buku Baru” dan “Komik Gratis”. Ada juga bagian “Testimoni” yang memperlihatkan testimoni para pembaca setia MangaMon tentang kesan dan pesan mereka terhadap MangaMon.

Menu “Home” ditutup dengan bagian “Alliance” yang memperlihatkan logo-logo dari para mitra MangaMon serta footer situs web pada umumnya yang dilengkapi dengan daftar metode pembayaran yang dapat digunakan untuk membeli berbagai karya di MangaMon.

Sekarang, mari kita beralih menuju menu selanjutnya. Menu “Komik” memiliki beberapa opsi yang dapat langsung dipilih seperti Buku Baru, Best Seller, Komik Gratis, Rekomendasi, Review, dan Index.

“Buku Baru” menampilkan judul-judul terbaru yang masuk ke dalam pustaka MangaMon serta telah disertai dengan sampul dan jumlah kredit yang harus dikeluarkan untuk dapat membaca komik tersebut. Kita bisa juga melakukan penyortiran dalam pencarian komik berdasarkan penerbit, alfabet, terbaru, terlaris, waktu rilis, genre, serta dilengkapi juga dengan jumlah judul yang ingin ditampilkan dalam satu halaman setelah pencarian dilakukan. Ada juga opsi “Preview” dan “Beli” untuk komik yang berbayar sehingga pembaca bisa melihat sekilas dulu pratinjau dari komik yang dikehendakinya sebelum memutuskan untuk benar-benar membelinya.

Sementara itu, “Best Seller” menampilkan komik-komik terhangat dan “Komik Gratis” memuat berbagai judul yang dapat dilihat oleh pembaca MangaMon secara cuma-cuma. Berikutnya ada “Rekomendasi” yang menampilkan rekomendasi komik dari para tokoh terkemuka di bidang industri kreatif, “Review” menampilkan ulasan dari para pembaca MangaMon, dan ditutup dengan “Index” yang memperlihatkan judul-judul yang ada di dalam pustaka MangaMon.

Menu “Articles” menampilkan berbagai berita dan artikel mengenai anime, manga, dan acara kebudayaan Jepang yang diterbitkan oleh para mitra MangaMon dan juga tim MangaMon. Sementara itu, menu “Promo” menampilkan informasi-informasi mengenai promo, lomba, dan survei yang diadakan oleh MangaMon.

 

Kesan dan Pesan

 

Menurut kami, tampilan antarmuka pengguna dari situs web MangaMon secara keseluruhan sudah sangat membuat pengunjungnya merasa nyaman di dalamnya. Pemilihan warna merah gelap dan hitam sebagai dwiwarna yang mendominasi situs ini menjadi salah satu nilai plus untuk membuat situs web ini terasa elegan dan tidak tampil mencolok dengan banyak warna. Pada menu “Articles” dan “Promo”, posisi antarjudul artikel juga memiliki jarak yang pas dan posisi teksnya yang rata tengah membuat penampilan pada dua menu utama ini menjadi rapi, seimbang, dan mudah untuk dibaca.

Akan tetapi, sepertinya ada beberapa hal yang perlu untuk diperhatikan kembali. Pada bagian Quick Access, ada pilihan-pilihan yang masih terhubung dengan situs web MangaMon tampilan lama, seperti “Indonesia Dream Project” dan “Tukar Hadiah”. Selain itu, kami merasa bahwa penempatan Payment Method pada bagian terbawah dari menu “Home” sepertinya akan banyak tidak disadari oleh para pengunjung situs web MangaMon karena letaknya cukup jauh berada di bawah dan mungkin hal ini bisa diperbarui dengan memuat informasi terkait di dalam “Quick Access” karena sangat terjangkau untuk mereka yang pertama kali membuka situs web MangaMon.

 

Tunggu Apa Lagi, Yuk Segera Mengunjungi MangaMon!

 

Sekian dulu ulasan dari Risa Media dan tanpa perlu berlama-lama, sekarang adalah saatnya kalian untuk langsung mencicipi situs web MangaMon melalui tautan yang satu ini! Semoga MangaMon semakin sukses dan lebih baik lagi ke depannya untuk dapat memikat para pembaca komik di tanah air yang ingin mengisi hari-hari mereka dengan membaca manga secara praktis dan pastinya mendukung gebrakan toko komik resmi di Indonesia.

[Liputan] Mari Mengenal Karuta Bersama di Karuta Nation!

Seberapa serunya sih bermain karuta?

Hai Hai Riscomrades! Pada kesempatan kali ini, Tim Risa Media berkesempatan untuk hadir dalam acara Karuta Nation yang diselenggarakan oleh Ogura Karuta Club di Japan Foundation pada hari Sabtu (3/11). Acara ini dimulai pada pukul 13.00. Para peserta yang ingin mengenal lebih jauh mengenai permainan karuta tampak antusias mengikuti Karuta Nation.

Karuta Nation dibuka oleh kata sambutan dari Ibu Diana selaku Chief Officer Japan Foundation. Dalam kata sambutannya, beliau memberikan apresiasi kepada Ogura Karuta Club yang telah berhasil menyelenggarakan Karuta Nation pada kesempatan ini. Sesi dilanjutkan dengan kata sambutan dari Ali Chaidar selaku Ketua Ogura Karuta Club (Okakura). Dia menjelaskan bahwa acara ini bertepatan dengan hari ulang tahun pertama dari klub ini yang didirikan pada 3 November 2017.

Sesi berikutnya adalah penjelasan materi mengenai karuta yang dibawakan oleh Wakil Ketua Okakura Bimo Ardev. Pada kesempatan ini, jenis karuta yang dimainkan adalah kyogi karuta (karuta kompetitif) dengan puisi yang diambil dari Hyakunin Isshu. Sebelum Okakura didirikan, hanya Bimo dan Ali yang menggeluti permainan karuta di Okakura. Awalnya, mereka berdua tertarik untuk bermain karuta setelah menonton anime Chihayafuru yang menceritakan tentang kisah para pemain karuta.

Permainan karuta membutuhkan setidaknya tiga pemain dan harus dimainkan dalam jumlah ganjil. Ada dua jenis kartu dalam karuta, yaitu yomifuda (kartu yang dibaca) dan torifuda (kartu yang diambil). Objektif dari permainan karuta adalah menang ketika kartu habis. Keunikan dari permainan karuta adalah adanya satu pemain yang disebut sebagai dokusha, pemain yang membacakan kartu kepada setiap pemain karuta yang “bertarung” di atas tatami tempat permainan karuta dilangsungkan. Ketika dokusha membaca puisi, pemain akan menepuk kartu dari pihak musuh atau kartu sendiri yang dianggap sesuai sebagai kelanjutan dari baris puisi yang dibacakan oleh sang dokusha. Siapa yang paling cepat menghabiskan kartunya, dialah yang keluar sebagai sang pemenang.

Salah satu kesulitan yang dihadapi saat  bermain karuta adalah harus menghafal puisi karena untuk yomifuda yang dibacakan adalah baris pertama puisi dan yang harus direbut oleh para pemain adalah torifuda yang ada di atas tatami. Sungguh seru sekali, bukan?

Ada dua sesi utama dalam acara ini, yaitu Workshop dan Live Performance. Berikut adalah suasana saat Karuta Nation berlangsung!

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Liputan oleh Rahmat & Bonaventura

Serial Anime “Carole & Tuesday” Siap Dirilis untuk Penonton Internasional

kelukuCNT

Didekasikan bagi penggemar musik di seluruh dunia. Inilah kisah penuh keajaiban tentang dua gadis remaja yang bertualang dalam perjalanan musik mereka.

Serial anime bertema musik Carole & Tuesday diumumkan akan dirilis ke mancanegara melalui Netflix. Karya orisinal yang disutradai oleh Shinichiro Watanabe itu akan dapat disaksikan oleh para penonton internasional setelah penayangan perdananya di televisi pada saluran Fuji TV dalam waktu tayang +Ultra mulai dari bulan April 2019 sebagai serial anime dalam rangka menyambut peringatan 20 tahun Studio Bones dan 10 tahun FlyingDog.

Sinopsis

Lima puluh tahun telah berlalu sejak umat manusia pindah menuju tanah yang baru, Mars. Inilah sebuah masa ketika kebudayaan dikembangkan oleh para kecerdasan buatan dan orang-orang lebih cenderung menjadi konsumer yang pasif.

Tersebutlah seorang gadis, hidup dengan penuh kesulitan di jantung kota Alba City. Dia bekerja sebagai pekerja paruh waktu dengan mimpinya sebagai seorang musisi. Dia selalu merasa ada sesuatu yang hampa dari dirinya, Carole.

Tersebutlah seorang gadis, hidup dengan penuh kekayaan di kota Herschel City. Dia juga bermimpi untuk menjadi seorang musisi, tetapi tidak ada seorang pun yang mengerti tentang dirinya, membuat dia merasa bahwa dia adalah orang yang paling kesepian di dunia ini, Tuesday.

Datanglah sebuah waktu yang membawa mereka berdua bersua. Mereka ingin bernyanyi, menciptakan musik, dan dengan kebersamaan ini mereka merasakan bahwa mereka memiliki kesempatan itu. Mungkin apa yang mereka telah lakukan baru sekadar gelombang kecil, tetapi gelombang itu perlahan-lahan makin membesar dan mulai menebarkan sinar…

Karakter Utama

Carole

Tempat lahir: Bumi
Tanggal lahir: 25 Desember 32 Tahun Mars (17 tahun)
Tempat tinggal: Alba City, Mars
Hobi: Bermain papan seluncur, makan dalam perjalanan
Makanan/minuman kesukaan: Pangsit Mars, ramen
Pekerjaan: Pekerja paruh waktu
Cita-cita: Menjadi musisi
Moto: “Untuk hari ini, jangan khawatir dengan badai pada esok hari!”
Genre musik kesukaan: R&B, folk, jazz, dsb.
Instrumen: Piano, keyboard
Inspirasi: Beyoncé, Adele, Aretha Franklin, dll.

Tuesday

Tempat lahir: Herschel City, Mars
Tanggal lahir: 10 Juni 32 Tahun Mars (17 tahun)
Tempat tinggal: Alba City, Mars
Hobi: Membaca, tidur
Makanan/minuman kesukaan: Teh susu mutiara, anmitsu
Pekerjaan: Pekerja paruh waktu
Cita-cita: Menjadi musisi
Moto: “Setiap orang pasti punya waktu terbaik dalam hidupnya!”
Genre musik kesukaan: Folk, pop, klasik, dsb.
Instrumen: Gitar (akustik)
Inspirasi: Cyndi Lauper, Stevie Nicks, Ed Sheeran, dll.

Menggabungkan Anime dan Musik

Para staf utama Carole & Tuesday terdiri dari Shinichiro Watanabe (sutradara pengawas), Motonobu Hori (sutradara), Eisaku Kubonouchi (perancang karakter orisinal), Tsunenori Saito (perancang karakter), dan Mocky (musik). Produksi musik dilakukan oleh FlyingDog dan anime ini akan diproduksi di studio animasi Bones.

Mocky adalah salah satu staf utama yang bertanggung jawab untuk pembuatan musik dari Carole & Tuesday. Musisi asal Kanada yang bernama asli Dominic Giancarlo Salole ini adalah seorang komposer, pengaransemen, produser, rapper, bahkan penguasa berbagai instrumen musik dengan kemampuan khususnya dalam bermain bass dan drum. Dia telah berkolaborasi dengan musisi-musisi kenamaan lainnya seperti Joey Dosik, Miguel Atwood-Ferguson, Kelela, Moses Sumney, Pegasus Warning, dan Nia Andrews yang telah mewarnai khazanah musik di Los Angeles, AS.

Shinichiro Watanabe mengungkapkan bahwa proyek anime orisinal ini ingin dibuatnya sebagai sebuah anime yang mengangkat musik sebagai pusat temanya. Dia berpikir bahwa jalan terbaik untuk mewujudkannya adalah dengan menampilkan seorang gadis berusia 17 tahun yang masih belum berpengalaman, tetapi berani dan tidak takut dalam menghadapi segala tantangan sebagai tokoh utamanya.

Salah satu hal yang menjadi fokus utama Shinichiro Watanabe dalam penggarapan Carole & Tuesday adalah bagaimana tim staf menggabungkan musik dan animasi dengan sebaik mungkin pada setiap adegan yang akan ditampilkan. Tentu saja, adegan yang diharapkan akan memuaskan mata penonton bukan hanya pada saat bagian penampilan musiknya saja, tetapi juga adegan-adegan lainnya. Mereka berharap hasil kerja keras mereka dapat membuat animasi yang mampu tampil gemilang bersama dengan musik yang ada di dalamnya.

Anda dapat mengakses situs web resmi Carole & Tuesday melalui tautan ini.

Artikel ini merupakan rilis pers resmi dari FlyingDog, Inc.

Tsuburaya Persilakan Penggemar untuk Membuat Dojinshi Serial “SSSS.Gridman”

Kabar gembirakah?

Tsuburaya dikenal sangat ketat dalam menjaga produksi mereka dan melarang adanya dojinshi dan segala bentuk karya derivatif dari karya-karya mereka. Salah satu serial anime yang sedang hangat pada saat ini diproduksi oleh Tsuburaya, yaitu SSSS.Gridman. Mengingat tentang poin tersebut, para penggemar SSSS.Gridman mulai khawatir lantaran mereka tidak bisa untuk menikmati karya dojinshi karangan penggemar dari serial itu. Benar saja, Tsuburaya melarang pembuatan dojinshi untuk serial SSSS.Gridman. Ketakutan para penggemar menjadi kenyataan.

Eits, ternyata aturan yang dikeluarkan oleh Tsuburaya ini hanya berlangsung sementara. Tsuburaya akhirnya memperbarui pedoman yang telah mereka buat dan kini memperbolehkan para penggemar untuk membuat dojinshi SSSS.Gridman.

Hal yang perlu diperhatikan oleh para penggemar adalah mengenai penggunaan materi. Tsuburaya melarang tegas penyalinan dan penyiplakan materi langsung dari serial SSSS.Gridman, termasuk di dalamnya adalah gambar, video, logo, dsb. Akan tetapi, aturan ini tidak berlaku untuk karya derivatif seperti ilustrasi, manga, dan novel.

Bagi mereka yang ingin membuat dan mendistribusikan karya derivatif dari serial ini, mereka harus membuatnya sesuai dengan pedoman yang telah dikeluarkan oleh Tsuburaya dan karya-karya ini tidak boleh melanggar ketertiban umum dan hak-hak individu lainnya. Poin terpenting dari pembaruan ini adalah mengenai pembuatan dojinshi. Berdasarkan pedoman yang telah diperbarui, dojinshi yang diperbolehkan hanya berupa sebatas “aktivitas penggamar” dan bagi mereka yang tetap melakukan produksi dan distribusi untuk kepentingan komersial bisa saja bakal mendapatkan sanksi oleh Tsuburaya.

Pada akhirnya, pedoman tersebut memang mengakui bahwa mereka tidak bisa memberikan respons terhadap pertanyaan mengenai karya penggemar yang dibuat secara individual.

Sumber: WOW Japan

Mantap! Ponimu Menayangkan Animasi Lokal “Lukisan Nafas” dan “WachtenStaad”!

kelukuPonimu

Dua animasi buatan Dawn Animation menjadi debut animasi lokal di Ponimu!

Situs Ponimu ternyata tidak hanya menyediakan animasi dari Jepang saja, loh! Mulai bulan November ini, Ponimu mulai menayangkan animasi buatan dalam negeri di situsnya! Dua judul yang menjadi pelopor animasi Indonesia di Ponimu adalah Lukisan Nafas dan WachtenStaad yang dibuat oleh Dawn Animation.

Lukisan Nafas merupakan animasi pendek buatan Dawn Animation yang berhasil memenangkan Piala Citra dalam Festival Film Indonesia 2017 (FFI) untuk kategori Film Animasi Pendek Terbaik. Film ini bercerita tentang seorang pria yang berprofesi sebagai ornitolog (ilmuwan yang meneliti tentang burung). Dia memiliki sebuah ambisi untuk bisa memfoto seluruh spesies burung yang asli berasal dari Indonesia, hingga tinggal elang jawa (Nisaetus bartelsi) saja yang belum berhasil difotonya.

Sementara itu, film kedua berjudul WachtenStaad. Film ini memiliki tema yang berbeda dengan Lukisan Nafas karena ceritanya yang lebih gelap. Film ini bercerita tentang kota bernama WachtenStaad tempat matahari tidak terlihat karena adanya awan tebal yang menutupi kota itu. Dikisahkan, ada tiga orang anak yang ingin mengungkap kebenaran dibalik masalah tersebut di luar WachtenStaad.

Film WachtenStaad juga berhasil mendapatkan berbagai penghargaan, mulai dari menjadi pemenang kategori Cerita Animasi Terbaik dari Inamafest 2016 hingga menjadi juara ketiga dalam acara Increfest 2014. Film ini juga ditayangkan dalam berbagai festival film baik di Indonesia maupun dalam maupun di luar negeri.

Nah, kedua film di atas saat ini telah tersedia dalam situs Ponimu bagi semua anggota yang sudah mendaftarkan diri mereka di Ponimu! Bila kamu ingin menonton kedua film ini, langsung saja klik tautan ini untuk film WachtenStaad dan tautan ini untuk Lukisan Nafas.

Artikel ini merupakan rilis pers resmi dari Ponimu Indonesia

Apa Itu Simulcast dan Apa Bedanya dengan Streaming? Ponimu Menjawab!

Bukannya sama-sama tayang di internet ya? Bedanya apa?

Dewasa ini, istilah simulcast semakin banyak dikumandangkan di internet, layanan-layanan seperti Netflix, Amazon Prime, dan Crunchyroll sering memasarkan konten mereka dengan istilah tersebut. Begitu juga dengan Ponimu, pemain baru di dunia streaming anime legal di Indonesia yang membawakan anime-anime berlisensi langsung dari Jepang. Mereka juga menyuguhkan simulcast sebagai salah satu senjata utama mereka.

Akan tetapi, apa sih sebenarnya yang disebut dengan simulcast? Memang apo bedanya dengan streaming yang sudah ada di internet selama ini? Bukankah selama medianya sama, artinya tidak peduli sebutannya apa maka namanya bakal disebut sebagai streaming juga?

Jawabannya tentu saja tidak, karena sebenarnya streaming dan simulcast adalah istilah yang berbeda. Untuk mempelajarinya lebih lanjut, mari kita bahas bersama!

Streaming

Streaming adalah sebuah proses pengiriman data multimedia (video, lagu, dsb.) kepada pengguna (end user) sembari melihat data multimedia tersebut. Mudahnya, streaming adalah proses mendengarkan lagu atau menonton video lewat internet tanpa mengunduh failnya ke komputer masing-masing. Contoh termudah untuk menggambarkan layanan streaming adalah seperti menonton video lewat YouTube atau mendengarkan lagu lewat Spotify.
Menonton televisi dan mendengarkan radio juga merupakan sebuah proses streaming yang dilakukan tanpa menggunakan internet namun menggunakan jaringan mereka masing-masing. Istilah ini dalam bahasa Indonesia disebut sebagai pengaliran.

Simulcast

Sementara itu, simulcast merupakan sebuah proses penayangan di radio, televisi, dan internet melalui beberapa media sekaligus dalam waktu yang relatif sama. Artinya, pengguna (end user) bisa menikmati tayangan yang disiarkan oleh seorang pemilik acara dalam waktu yang relatif sama dengan saat acara tersebut pertama kali tayang. Bila diumpamakan, streaming merupakan tayangan TV yang sudah direkam sebelumnya dan ditayangkan di kemudian waktu, sedangkan simulcast merupakan sebuah acara yang ditayangkan secara berbarengan di beberapa tempat sekaligus. Simulcast bisa menggunakan streaming sebagai media penayangannya, tetapi tidak semua streaming bisa disebut dengan simulcast. Istilah ini dalam bahasa Indonesia disebut sebagai siar serentak.

Perbedaan

Lalu, apa perbedaan antara kedua istilah di atas? Sekilas sepertinya sama, tetapi ada perbedaan antara live streaming dengan simulcast. Sesuai dengan namanya, live streaming harus bersifat live, ditayangkan langsung kepada para penonton dan bukan rekaman yang ditayangkan di kemudian hari. Namun, tayangan simulcast tidak harus live, tetapi yang paling penting penayangannya harus di lingkup waktu yang relatif sama di berbagai saluran yang memiliki izin untuk menayangkan konten tersebut.

Bagaimana dengan simulcast dari Ponimu?

Sebagai sebuah situs streaming dan simulcast anime, Ponimu juga mengandalkan simulcast sebagai salah satu produk mereka. Pada bulan Oktober ini Ponimu membawakan 2 buah judul yang menarik bagi para penggunanya, yakni Ms. Vampire who lives in my Neighborhood (Tonari no Kyuuketsuki-san) yang sudah tayang mulai tanggal 5 Oktober lalu. Anime ini adalah sebuah serial slice of life tentang seorang siswi SMA yang hidup bersama vampir modern imut. Sedangkan simulcast keduanya adalah Merc StoriA, sebuah serial yang diangkat dari sebuah mobile game yang terkenal di Jepang. Merc Storia memiliki latar adventure fantasy yang mungkin bisa menarik perhatian para penikmat genre adventure.

Sebagai acara simulcast, Tonakyuu dan Merc StoriA juga bisa ditonton setiap minggunya dengan jeda selama 1 jam dari penayangan perdananya di Jepang. Berikut ini adalah jadwal penayangannya.
– Tonari no Kyuuketsuki-san: Setiap hari Jumat pukul 21:00 WIB
– Merc Storia: Setiap hari Kamis pukul 22:30 WIB

Nah, bisa disimpulkan bahwa streaming dan simulcast adalah 2 istilah yang berbeda. Streaming adalah sebuah proses pengiriman data lewat sebuah medium, sedangkan simulcast adalah sebuah metode penayangan yang menekankan waktu penayangan yang relatif bersamaan dengan penayangan perdananya.

Artikel ini merupakan rilis pers dari Ponimu Indonesia

Studio Animasi Production IMS Memulai Proses Kebangkrutannya di Pengadilan

Bagaimana nasib serial "Haifuri"?

Studio animasi Production IMS yang berpusat di Tokyo mengajukan proses kebangkrutannya dengan Pengadilan Tinggi Tokyo pada 21 September. Setelah itu, pihak pengadilan memutuskan untuk memulai proses kebangkrutan pada 3 Oktober seperti yang disampaikan oleh Tokyo Shoko Research pada Kamis ini (11/10). Jumlah utang yang dimiliki oleh Production IMS saat ini dilaporkan mencapai 250 juta yen (sekitar 33,7 miliar rupiah).

Production IMS didirikan oleh eks produser dari AIC, Yoshiyuki Matsuzuki, pada bulan Februari 2013. Ketika Production IMS dilaporkan permintaan untuk biaya produksi dan pembayaran untuk para subkontraktor meningkat pada Juni lalu, penjualan tetap berlangsung stagnan dan arus kas mereka merosot. Sebagai bagian dari upaya rekonstruksi perusahaan, Production IMS menutup Studio Hikarigaoka yang berlokasi di Tokyo pada Desember tahun lalu. Sayangnya, upaya ini malah tidak berjalan baik. Pihak manajemen pada akhirnya tidak dapat berbuat banyak lagi untuk menanggulangi krisis keuangan di dalam perusahaan dan menyebabkan hal terkait pascapengerjaan yang ada diserahkan sepenuhnya kepada pengacara per 7 Juni 2018.

Beberapa anime utama yang dikerjakan oleh Production IMS adalah Date A Live II (2014), Ore, Twintail ni Narimasu. (2014), Shinmai Maou no Testament (2015), Joukamachi no Dandelion (2015), Hundred (2016), High School Fleeti (2016), dan Takunomi (2018).

Situs web Production IMS telah resmi ditutup. Akan tetapi, hal ini belum berpengaruh untuk serial anime High School Fleet atau yang dikenal juga dengan Haifuri, termasuk pengumuman proyek film animenya yang telah dibeberkan pada April 2018 yang tetap masih terus berjalan sejauh ini dan tidak ada kabar terkait penghentian atau kabar lainnya terkait film anime ini. Sementara itu, gim smartphone dari serial ini yang berjudul High School Fleet: Kantai Battle de Dai Pinch! masih terus menerima praregistrasi pengguna untuk peluncurannya pada tahun ini.

Sumber: Crunchyroll