Tepat tahun ini, Institut Teknologi Bandung merayakan hari jadinya yang ke-100, yang mana berarti mahasiswa yang diterima pada tahun ini merupakan angkatan ke-100 juga.

Walaupun telah berusia seratus tahun dan menjadi perguruan tinggi teknik tertua di Indonesia, ITB tidak terlepas dari isu miring. Mulai dari gelombang mahasiswa yang di-DO sampai beberapa mahasiswa yang bunuh diri di kampus karena tekanan akademis yang hebat.

Namun, ada satu isu yang tidak akan pernah pudar, yaitu ITB merupakan kampus wibu.

Lalu apa hubungannya wibu dengan kampus ini?

Untuk membuktikannya, penulis telah mewawancarai beberapa mahasiswa yang aktivitasnya terkait dengan perwibuan (ehem, mahasiswa wibu) demi mendapatkan data yang akurat dan sesuai dengan kenyataan yang ada.

Langsung saja, mari kita bahas!

Dua UKM Budaya Jepang

Bisa dibilang, sebutan kampus wibu sudah terlihat dari adanya dua UKM atau Unit Kegiatan Mahasiswa yaitu Unit Kebudayaan Jepang dan Genshiken yang merupakan singkatan dari Gendai Shikaku Bunka Kenkyuukai. Adanya dua UKM yang mendalami budaya Jepang bukan berarti adanya dualisme kubu wibu di ITB.

Lah terus kenapa ada dua?

UKJ sendiri saat ini memfokuskan pada budaya tradisional Jepang, seperti tarian tradisional, bahasa Jepang, tradisi, dan makanan Jepang. Mereka juga sempat membuka kelas bahasa Jepang bagi siapa pun tidak terbatas bagi mahasiswa ITB saja pada tahun 2014.

Kegiatan dari UKJ sering terlihat di tempat-tempat strategis di ITB bahkan saat kuliah sedang libur, yang paling sering terlihat mereka berlatih odori di pelataran Labtek.

Diagram pembeda UKJ dan Genshiken, serta UKM sejenis lainnya

Sementara Genshiken dibentuk pada tahun 2005 namanya sendiri terinspirasi dari salah satu manga populer dengan judul yang sama dengan nama UKM ini. Genshiken sendiri mengklaim lebih berfokus pada pop kultur secara umum, tanpa memihak pada budaya tertentu termasuk Jepang.

Namun, dengan nama dan sumber nama, serta produk mereka yang condong ke arah Jejepangan, orang sering salah kaprah dan menganggap UKM ini menempati rumpun yang sama dengan UKJ. Sebenarnya mereka pun tidak salah karena, beberapa rumpun Jejepangan, serta pop kultur bisa digeneralisasi sebagai budaya modern Jepang.

Sebagai referensi, kita bisa lihat Comifuro atau Comiket yang didominasi pop kultur Jepang. Oh iya, bagi kalian yang bukan mahasiswa ITB, kalian tetap bisa ikut dalam UKM ini! (Hmm... cukup aneh.)

Punya Festival Masing Masing

Sebagai sebuah organisasi kebudayaan Jepang, sudah seperti kewajiban di Indonesia untuk mereka membuat suatu festival atau acara yang bertemakan kebudayaan jepang.

Begitu juga untuk kedua UKM ini, alih-alih bekerja sama dalam membuat satu event jejepangan ITB, mereka malah membuatnya masing masing. UKJ dengan Bunka no Hi dan Genshiken dengan Genfest. Kami juga pernah meliput Genfest pada tahun 2019.

Potret Genfest 2019

Walaupun ketika kita lihat secara konsep kedua event ini berbeda, Bunka no Hi menargetkan pengunjungnya bagi massa ITB saja. Bunka no Hi bisa dibilang, momen unjuk diri seluruh divisi yang ada di UKJ, mulai dari masak hingga odori. Benar, kalian bisa lihat penampilan tarian soran bushi yang terkenal itu disini. sebenarnya orang luar pun boleh ikut memeriahkan event ini. Namun demikian, publikasinya terbatas di lingkungan kampus saja.

Sementara Genfest yang lebih mirip pergelaran comic market yang menjajakan banyak stand karya serta merchandise dari circle kecil hingga korporasi, Oh iya, di sini juga ada konser yang menampilkan hologram vocaloid.

Pengaruh Wibu di Kampus

Stigma yang melekat pada wibu, tentang anti-sosial, apatis, tidak memiliki teman, itu semua memang sulit dihilangkan dari pemikiran banyak orang. Namun, ketika kita melihat dinamika yang lebih dalam dari kampus ini, kita dapat menyadari wibu di sini itu berbeda.

Ya itu benar, walaupun sampai saat ini penulis belum bisa untuk mengamati langsung dinamika perwibuan di kampus dikarenakan wabah Covid-19 yang belum usai di Indonesia, tetapi dari penuturan narasumber serta forum yang diikuti oleh penulis, dapat membuktikan hal demikian.

Ambis

Definisi ambis disini, lebih dekat kearah rajin belajar, tetapi rajin belajarnya punya pangkat yang sebanding dengan tingkatan belajar orangnya. Fenomena ini bukan hal langka di ITB, dan bagi wibu yang menjadi mahasiswa ITB.

Yang menjadi aneh, jikalau kita sejajarkan dengan kebiasaan wibu pada umumnya yang mengesampingkan urusan pelajaran. Fenomena ini tidak berhenti sampai disitu, fakultas dengan passing grade SBMPTN tertinggi ke-2 di ITB yaitu STEI didominasi oleh kaum penyuka Jejepangan.

Saking ambis-nya bahkan ada yang membuat suatu analisis tinggi karakter Bang Dream menggunakan pemodelan matriks (penulis juga bingung ini bagaimana).

Tidak jarang beberapa dari mereka mengadakan kelas diskusi Kalkulus, Fisika, atau Kimia yang terbuka untuk umum pada saat mendekati periode ujian, dan jujur mereka itu IMBA.

Politis

Bahasan ini sebenarnya agak intim dan sedikit diketahui orang luar ITB. Perpolitikan biasanya dipegang oleh orang yang berpengaruh di seantero kampus, lalu bagaimana jika kampus ini didominasi oleh ras terkuat yaitu wibu? Hmm...

Sayangnya tidak, kaum penyuka Jejepangan belum pernah menduduki kasta tertinggi ataupun jabatan strategis dalam perpolitikan kampus gajah. Adapun ada pula ketua dari salah satu himpunan ternama yang masihlah seorang wibu, menurut salah satu narasumber kami.

Namun, masalah ini tidak bisa ditinjau dari jabatan dan tahta semata. Jika kita menyimak lebih dalam apa sih diskusi yang ada di forum perwibuan kampus ini, diskusinya bukan sekadar berdebat soal waifu musiman atau simping Vtuber semata. Mengkaji sistem pemerintahan sampai cara membangkitkan Asia Timur Raya pun ada.

Kesimpulan

"Wibu ras terkuat di ITB"

ITB bukanlah kampus wibu, sekalipun diperkuat alasan alasan di atas. Stigma kampus ini sebagai kampus yang dominan akan wibu dan pengaruh orang wibu dari segi kuantitas. padahal tidak.

Institut ini tetaplah sama seperti perguruan tinggi lain yang heterogen yang terdiri dari banyak golongan manusia. Lebih tepatnya, jikalau kalian merasa dikucilkan sebagai seorang wibu di kampus lain, berbeda dengan di sini. Kalian bisa menemukan teman segolongan dalam jarak beberapa meter kedepan.

Tren banyaknya wibu mungkin belum akan menurun dalam beberapa tahun yang akan datang, mengingat terjadi kenaikkan menurut narasumber kami pada tahun 2019-2020.

Jadi, Apakah ITB masih menjadi kampus wibu?