[Wawancara] Yogyakarta Punya YosakoiDibutuhkan waktu 3 menit untuk membaca artikel ini

Tsukuyomi, komunitas tari tradisional Jepang di Yogyakarta.

Hai-hai Riscomrades! Sebuah kabar gembira di hari ini, Risa Media telah secara resmi melebarkan sayapnya di Jawa Tengah dan Yogyakarta. Kami hadir untuk menyajikan hal-hal unik seputar kegiatan jejepangan dan industri kreatif di Jawa Tengah dan Yogyakarta.

Di liputan perdana ini, kami akan membahas komunitas tari yosakoi yang berada di Yogyakarta melalui kelompoknya, Tsukiyomi.

Yosakoi, tari jepang dengan ciri khas gerakan tangan dan kaki yang dinamis, tak hanya eksis di tempat kelahirannya, Jepang, melainkan juga di kancah internasional—juga Indonesia. Salah satunya berada di Yogyakarta, melalui komunitas Tsukiyomi.

Tari ini biasa dilakukan saat musim panas Awa Odori, dan festival Yosakoi diselenggarakan secara tahunan di Kochi. Penari dalam satu kelompok mengenakan kostum berupa happi dan yukata. Kostum dan musik dipilih sesuai selera masing-masing kelompok yang berusaha tampil seunik mungkin. Musik pengiring tari dapat merupakan campuran musik daerah dicampur dengan musik samba, rock, disko, atau enka. Bisa juga dengan genre musik lain yang sesuai dengan irama, namun tetap harus memasukkan melodi “Yosakoi Naruko Odori”.

Yosakoi sendiri berarti ‘datanglah kau malam ini’, sedangkan menurut kisah lain, kata yosakoi berasal dari seruan para pekerja bangunan ketika membangun Istana Kochi pada masa pemerintahan Yamauchi Katsutoyo. Mereka menyerukan “Yoisho koi, yoisho koi!” agar bersemangat ketika mengangkat bahan bangunan.

Tari Yosakoi sendiri akhir-akhir ini muncul di Kota Yogyakarta dengan semangat yang sama. Saat acara Gambarimasu! diselenggarakan di Jogja Expo Center pada tanggal 28-30 September 2018 lalu, tari Yosakoi yang dipersembahkan grup Tsukiyomi ikut memeriahkan acara. Pada pelaksanaan tariannya, Tsukiyomi melibatkan duabelas anggotanya, dengan kostum dominan merah dipadu dengan warna hitam, ditambah beberapa aksesoris dengan berbagai macam warna yang unik.

Tidak hanya gerakan tarinya yang eksentrik, kostum-kostum para penarinya juga terlihat menarik, dimana mereka mengenakan yukata yang didesain secara modern. Hal ini tentunya menciptakan perpaduan unsur tradisional dan modern. Tidak hanya itu, karena Tsukiyomi berasal dari Indonesia, boleh jadi kostum dipadu dengan unsur budaya Jawa, maupun budaya daerah lainnya. Bukan hanya kostum saja, melainkan gerakan tari pun boleh dipadu. Tari yosakoi milik Tsukiyomi tampil pada hari ketiga, dan berhasil menarik perhatian para pengunjung Ganbarimasu secara meriah.

Tradisi Jepang di Kota Yogya

Yosakoi Tsukiyomi sendiri adalah satu-satunya grup tari yang aktif dengan konsep  tari tradisional Jepang yosakoi di kota Yogyakarta. Grup tari ini didirikan di Universitas Teknologi Yogyakarta, dengan anggotanya yang aktif di jurusan D3 Bahasa Jepang. Sebagai entertainer tentu tidak semudah itu untuk dapat menguasai tari ini. Berikut wawancara kami dengan Ketua Tsukiyomi, Natasia Meidhiningtyas:

Penampilan Tsukiyomi saat Ganbarimasu! September silam.

Apa motivasi pertama untuk berdirinya Grup Yosakoi Tsukiyomi?

Karena angkatan atas kami (di perkuliahan) memang suka menari. Dari situ, kami tahu bahwa di sini belum ada komunitas tari tradisional Jepang yosakoi. Oleh karena itu, kami mengumpulkan orang untuk mendirikan Tsukiyomi.

Apa yang membuat para anggota tetap berkreasi?

Karena kami menyukainya. Ini wadah untuk menyumbangkan segala bakat yang kami punya, dan oleh karena ini kami menuangkan kreasi dalam bentuk seni tari.

Mengapa kalian mengambil konsep tari tradisional?

Karena pada dasarnya, pengertian yosakoi adalah tari tradisional Jepang. Kami tidak mau mengubah filosofinya.

Di mana kalian melakukan latihan rutin?

Latihan rutin (dilakukan) di kampus 3 Universitas Teknologi Yogyakarta, di Jl. Prof. Dr. Soepomo.

Kapan dan seintens apakah kalian mempelajari tarian yang ada?

Dalam seminggu, kami melakukan tiga kali latihan pada hari Selasa, Rabu, dan Kamis.

Apa kunci kalian untuk menjadi kompak?

Kami adalah entertainer. Kami harus menanamkan mindset bahwa kami harus memberikan penampilan yang terbaik untuk semuanya.

Berhubung Tsukiyomi merupakan grup satu-satunya dalam hal ini di Yogyakarta, adakah rencana untuk membuat komunitas serupa di daerah lain di Jawa?

Kalau ada kesempatan, ya boleh.


Begitulah wawancara kami dengan komunitas Yosakoi, Tsukiyomi, yang baru saja menunjukkan kemampuannya di Gamabunta Hikari Matsuri beberapa waktu yang lalu. Jika Tsukiyomi memperluas jangkauan keanggotaannya, apakah anda berminat untuk ikut?

Wawancara oleh Tim Risa Media Jawa Tengah – Yogyakarta

Risa Media Divisi Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta

Risa Media Divisi Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta

Tinggalkan Balasan