Restorasi Meiji merupakan zaman saat terjadinya perubahan secara besar-besaran di Jepang. Perubahan ini berlangsung di hampir semua sektor, mulai dari hierarki masyarakat hingga sistem pemerintahan negara ini.

Peristiwa ini terjadi dalam kurun waktu tiga tahun, sejak 1866 M hingga 1869 M atau lebih tepatnya di akhir masa Keshogunan Tokugawa dan awal dari proses metamorfosis menjadi Jepang modern.

Datangnya Amerika Serikat dan Runtuhnya Keshogunan

Pada tahun 1853, Komodor Matthew C. Perry dari Amerika Serikat datang ke Jepang. Kedatangannya dengan tujuan untuk mencari batu bara yang tersimpan dari deposit paus di Jepang karena pada saat itu Amerika Serikat sedang melakukan industrialisasi besar-besaran dan membutuhkan banyak sumber daya mineral.

Ketika rombongan itu datang, Jepang terkejut dengan kecanggihan teknologi yang dimiliki orang Amerika yang ternyata jauh melampaui teknologi yang dimiliki Jepang pada saat itu. Tokoh-tokoh seperti Daimyo Nariakira berkata “Sialan, kalau kita begini terus, mungkin kita yang akan dijajah oleh mereka!”

Sebelumnya, jepang merupakan negara yang tertutup oleh pengaruh asing, kebijakan ini dibuat pada awal Keshogunan Tokugawa untuk menciptakan kedamaian di masyarakat Jepang.

Ilustrasi Perjanjian Kanagawa (Gasshukoku suishi teitoku kōjōgaki)

Kedatangan bangsa Amerika menjadi awal mula keterlibatan Jepang pada komunitas dunia pada saat itu dengan  ditandatanganinya Perjanjian Kanagawa.

Keterbukaan ini bukan tanpa alasan, jikalau Jepang memilih untuk tertutup oleh dunia luar, 300 ton meriam dengan senang hati akan membombardir Teluk Edo, dan kemungkinan Jepang akan dijajah oleh bangsa barat. Hal ini juga yang melatarbelakangi ditandatanganinya Perjanjian Kanagawa antara Jepang dengan Amerika Serikat, Perancis, Kerajaan Inggris, dan Rusia.

Samurai dari Klan Satsuma, Anggota aliansi Satchou

Hal ini memicu kemarahan berbagai golongan, terutama dari golongan samurai dari selatan Jepang dan munculnya Aliansi Satchou yang terdiri dari Saigo Takamori dari Satsuma, Kido Takayoshi dari Chosu, dan Kaisar Meiji yang baru saja dilantik serta didukung kekuatan persenjataan dari Kerajaan Inggris.

Tujuannya ialah satu yaitu menggulingkan Keshogunan Tokugawa dan mengembalikan kekuasaan tertinggi pada Kaisar. Peristiwa ini disebut Restorasi Meiji.

Tokugawa yang dibekingi oleh Perancis kalah jumlah dan teknologi dibandingkan dengan Aliansi Satchou. Perang dimulai ketika Aliansi Satchou mulai merebut Edo dan dapat Aliansi Satchou memenangkannya dan memindahkan pusat pemerintahan kaisar ke Edo lalu mengubah namanya menjadi Tokyo.

Peta pertempuran pada Perang Boshin (1868-1869)

Pasukan shogun pun terpukul ke utara sampai akhirnya tahun 1869 pasukan shogun menyerah dan membentuk negara Republik Ezo, namun bisa dikalahkan lagi oleh kekaisaran dalam waktu 5 bulan. Peristiwa ini disebut Perang Boshin.

Dan perang ini dimenangkan oleh Aliansi Satchou dan mengembalikan kekuasaan tertinggi pada Kaisar sekaligus menghapus sistem keshogunan pada Konstitusi Jepang. Selamat datang di era imperial Jepang.

Zaman Meiji dan Modernisasi Jepang

Pengembalian kekuasaan kepada kaisar berdampak baik. Di satu sisi memang karena Jepang sudah terbuka pada pengaruh negara asing.

Kaisar Meiji, penguasa baru Jepang.

Produksi padi meningkat, ekspor dan impor kebutuhan pokok juga meningkat yang mendorong perekonomian Jepang meningkat pesat. Pendidikan juga mengalami peningkatan, pemberlakuan kurikulum serta ilmu yang sama dengan negara barat memberikan ilmu serta peningkatan kualitas masyarakat terdidik di Jepang.

Domain Jepang pada masa Tokugawa

Lalu, ada sentralisasi Jepang, yang sebelumnya Jepang terbagi menjadi 280 domain yang dipimpin Daimyo di tiap daerahnya. Karena pada konstitusi yang baru sudah tidak ada lagi Daimyo, maka 280 domain ini dibagi menjadi 72 prefektur yang wilayahnya berada dalam naungan kaisar.

Terlepas dari kemajuan yang didapat. Ada pihak yang kurang setuju pada gebrakan yang dilakukan kaisar Meiji. Yaitu Saigo Takamori, merupakan orang yang berjasa dalam merebut tahta kaisar kembali. Ketidaksetujuan Takamori berasal dari reformasi di bidang militer.

Peran samurai yang mulai digantikan oleh peranti militer modern seperti prajurit yang condong ke arah kebarat-baratan tidak sesuai dengan prinsipnya, menurutnya kini Jepang tidak menjunjung prinsip “Jiwa Jepang, Teknologi Barat”, melainkan “Jiwa Barat, Teknologi Barat.”

Saigo Takamori

Merasa dikhianati, Takamori pun keluar dari Kabinet Meiji dan kembali ke Satsuma dan berpesan kepada seluruh warganya “Selamatkan Samurai!”

Hal ini memicu peristiwa Pemberontakan Satsuma, Takamori yang awalnya loyal pada kaisar sekarang memusuhi kaisar dan berencana untuk memberontak di Tokyo dengan pasukan samurainya dari Satsuma.

Awalnya mereka hendak melakukan long march dari Satsuma menuju Tokyo, tetapi pada Februari 1877 di Benteng Kumamoto mereka dipukul mundur oleh tentara kekaisaran jepang.

Mereka terus mengalami kekalahan setelah beberapa kali untuk mencoba melewati hadangan tentara Jepang. Sampai akhirnya pada September 1877 di Gunung Shiroyama, satu samurai yang harus melawan 60 tentara Jepang dengan persenjataan modern terjadi.

Lagu yang menceritakan pertempuran Shiroyama

Walaupun kalah jumlah, Takamori dan pasukannya tetap bertarung. Takamori pun kalah dan akhirnya melakukan seppuku.

Pertempuran ini juga diangkat menjadi sebuah lagu oleh Sabaton, grup musik asal Swedia yang kebanyakan dari lagunya membahas tentang sejarah dari seluruh dunia.

Pascakejadian

Kini era baru telah hadir dan tidak ada lagi pemberontakan besar yang menentang kekuasaan kaisar. Takamori dan pasukannya sudah dimaafkan secara mengejutkan pada tahun 1889.

Sebagai penghormatan padanya, prinsip bushido yang digunakan samurai diadaptasi juga pada doktrin tentara Kekaisaran Jepang hal ini bisa kita lihat pada Perang Dunia ke-2.

Sumber :

https://pseudoerasmus.com/2014/12/08/china-japan-divergence/

Nussbaum, Louis-Frédéric and Käthe Roth. (2005). Japan Encyclopedia. Cambridge: Harvard University Press.

https://aboutjapan.japansociety.org/content.cfm/the_meiji_restoration_era_1868-1889

"One can date the 'restoration' of imperial rule from the edict of 3 January 1868." Jansen (2000)