Violet Evergarden tidak tahu apa yang dikatakan Gilbert; Ia tak tahu apa arti kata-kata terakhir jenderalnya, ia tak tahu bagaimana berkata-kata dan berkomunikasi di luar susunan kalimat yang kaku dalam kerangka militeristik; Ia tak tahu bagaimana caranya berperilaku — hidup, pada akhirnya — di dalam masa damai, dengan tiada musuh yang harus dibunuh, tiada kawan yang harus dijaga.

Dalam tiga belas episode anime-nya, konflik-konflik yang kemudian muncul adalah konflik mengenai bagaimana menjadi masyarakat sipil, tanpa senjata, tanpa pertempuran. Menjadi penulis surat — di mana dalam Leidenschaftlich tak hanya pengetik surat, tapi juga penerjemah keinginan resipien — menyebabkan Violet harus memahami apa yang dipikirkan dan dirasakan rakyat sipil pada umumnya, sedangkan ia seorang prajurit, terlebih, prajurit anak-anak.

Violet harus memahami apa yang dirasakan seorang kakak pada adiknya, seorang ayah pada putrinya yang telah meninggal, seorang ibu yang akan segera meninggal pada putrinya yang masih hidup, percakapan antar-kekasih bangsawan, dan masih banyak lainnya. Dari ruang pembelajaran hingga observatorium, Violet sedikit demi sedikit belajar untuk beradaptasi dan membaur di antara orang-orang yang kini mempercayainya dan menyayanginya. Ditambah karya audiovisual Kyoto Animation yang luar biasa, ia menjadi salah satu anime paling mengagumkan di tahun 2018.

Violet Evergarden adalah sebuah kisah pembelajaran yang humanistik. Tetapi, alih-alih membahas satu per satu episode anime itu, atau filmnya yang baru saja rilis, artikel ini akan memfokuskan pada satu hal, latar belakang yang menjadi asal mula dari semua cerita ini: perang, dan dampaknya pada anak-anak dan perempuan.

Bagaimanapun juga, perang adalah akar konflik dari seluruh cabang jalan cerita. Violet yang terlunta-lunta, tak punya mata pencahariaan, Gilbert yang menghilang, Taylor-Amy yang terpisahkan, dan masih banyak lainnya berasal dari satu fenomena: perang.

Violet Evergarden, Sang Prajurit Anak

Perang tak pernah dan tak boleh dilaksanakan, sebagaimanapun heroik dan mengagumkan ia digambarkan pada lembar-lembar propaganda dan layar lebar. Ia menyebabkan penderitaan tiada akhir, tak hanya bagi mereka yang mengangkat senjata, tetapi juga mereka yang 'membantu dari rumah' (home front): industri dialokasikan untuk senjata dan amunisi, anggaran dihabiskan untuk keperluan militeristik, sektor kesejahteraan dan perlindungan sosial diabaikan, dan suara-suara sumbang ditumbangkan.

Ia lebih berbahaya utamanya bagi anak-anak. Ketika perang dimulai dan berlangsung, Violet jelas masih terhitung anak-anak. Problem dimulai ketika anak-anak kehilangan orang tua dan pelindung akibat perang (Santa Barbara, 2007) seperti Violet, yang bahkan tak mengenal namanya sendiri. Nama itu diberikan Gilbert, seorang prajurit berpangkat tinggi yang, untungnya, baik hati. Atasannya jelas tidak. Atasannya tak menganggap Violet sebagai manusia, tetapi serupa anak perempuan yang tersebar di mana-mana, dapat tergantikan kembali, bisa kapan pun meninggal dan hidup hanya untuk memenuhi kebutuhan para kombatan. Gilbert hanya bisa dengan pahit menjalankan perintah komandannya.

Violet Evergarden saat masih menjadi prajurit.

Di bagian pertempuran, Violet — kali ini seorang prajurit anak — membentuk pandangan dunianya sepenuhnya oleh pertarungan dan pembunuhan. Ia, seperti anak-anak di dunia nyata yang menjadi prajurit, cenderung tak menganggap musuh sebagai manusia, kehilangan nilai-nilai sosial dan hidup untuk membunuh lawannya (Goldson, 1996). Mengapa membunuh? Mengapa perang? Bagi Violet, pertanyaan ini ditembus, dan ia menjadi mesin pembunuh yang paling efisien, dengan titel Warrior Maiden of Leidenschaftlich.

Satu-satunya struktur yang ia pahami adalah garis komando. Satu-satunya norma yang ia pahami adalah norma militeristik. Satu-satunya orang yang ia percayai adalah seorang jenderal. Satu-satunya tujuan hidup yang ia ketahui adalah berperang. Maka, ketika perang hampir selesai, ia tak tahu apa yang akan terjadi setelahnya. Ia hanya bisa memegang senjata.

Amy dan Taylor Bartlett, Sipil Marjinal dalam Pusaran Perang

Taylor lebih beruntung, awalnya. Jelas tidak setelahnya. Ia diadopsi oleh seorang perempuan muda, Amy Bartlett. Di sini, dampak perang terhadap perempuan segera terlihat: dengan lahan yang dihancurkan menjadi zona perang dan mata pencaharian yang gender-spesifik membuat perempuan dikeluarkan dari lapangan kerja, Amy belum tentu mampu menghidupi dirinya sendiri, apalagi ditambah Taylor. Amy dan Taylor, kemudian, hidup dengan keterbatasan, mungkin dengan nutrisi yang tak cukup, rumah yang tak mumpuni, dan tiada perlindungan — persis seperti anak-anak Eropa setelah Perang Dunia II (Shields, 2002).

Amy kemudian harus setiap hari bekerja ekstra untuk mencari uang untuk membeli makanan — dan kisah ini tak berlatarbelakang di Jakarta 2020, di mana perempuan yang bekerja, juga kerja lapangan, adalah lumrah, wajar, dan relatif secara norma diperbolehkan dan bahkan mungkin dianjurkan (dengan catatan sangat tebal dan pahit bahwa bahkan di Jakarta 2020 sekalipun, kekerasan terhadap perempuan di lingkungan kerja sering terjadi dan dengan impunitas). Tak hanya bergantung pada tengkulak tempat ia menjual hasil temuannya, ia harus bekerja di bawah desing peluru dan suara mortir, setiap jam, setiap hari. Ia tak pasti mendapatkan uang, tapi ia pasti mendapatkan PTSD di kemudian hari —momen-momen traumatik yang tak seharusnya dirasakan anak-anak sepertinya.

Taylor lebih sial lagi. Ia ditinggalkan, dan satu-satunya hal yang menyelamatkan hidupnya adalah Amy yang entah kenapa merasa simpatik dan ingin menambah beban pribadinya untuk mengurus satu orang lagi. Orang lain jelas tak punya kapasitas simpati sebesar itu, seperti seseorang yang berkomentar bahwa "yatim piatu terlalu banyak, dan bahkan harganya pun tak mahal" pada Amy. Adalah sebuah niatan altruistik yang menyelamatkan Taylor: lebih dari itu, dan seringnya, menjadi anak-anak yang ditinggalkan dan diabaikan di masa perang adalah proses menunggu kematian.

Bagian yang paling menyetir emosi dalam film terbaru Violet Evergarden.

Amy dan Taylor kemudian diselamatkan. Amy melaju untuk 'dididik' sebagai 'bangsawan dengan sikap yang seharusnya' oleh keluarga bangsawan, dengan nama yang berganti menjadi Isabella York.

Amy Bartlett diselamatkan dengan diintegrasikan ke dalam struktur feodalistik-patriarkis yang menjanjikannya pemenuhan kebutuhan hidup yang tak akan ia dapatkan jika berkutat dalam kelas tak mampu. Ia diberikan privilese yang harusnya bukan privilese — seperti tempat berlindung, struktur sosial yang sehat, dan nutrisi.

Satu-satunya jalan keluar Amy, kini Isabella, dari perang adalah dengan dididik sebagai bangsawan yang, kemudian, dan saya tak sedikitpun kaget ketika film tersebut mengambil langkah ini, ia dinikahkan kepada bangsawan lain, disembunyikan dari muka publik sebab keluarga yang prestisius itu tak ingin masyarakat tahu bahwa salah seorang di antaranya menikahi mereka yang dulunya merupakan kelas pekerja, dalam kesulitan dan kesusahan, bertahan hidup dari hari ke hari.

Bagaimana Violet dan Isabella Kemudian Meninggalkan dan Membenci Perang

Perang telah usai. Violet tak lagi seorang prajurit kaku yang canggung secara sosial, dan Isabella kini berhadapan dengan permasalahan yang betul-betul lain. Premis dari film yang baru rilis itu, berjudul Eternity and the Automemories Doll, adalah bagaimana Violet dikirim untuk mendampingi Elizabeth di asrama keputrian mewah untuk membantunya melewati kelas-kelas edukasi bagi gadis kelas atas.

Hidup kaya dan terpandang tak selamanya bahagia. Mereka juga manusia yang punya perasaan.

Isabella kini khawatir tak dapat menjadi apa yang diinginkan keluarganya, keluarga York. Ia juga tak merasa nyaman dengan lingkungan barunya, gadis-gadis dengan lapisan strata sosial yang setara dengannya, dan setiap hari menginginkan untuk kembali ke adiknya, Taylor, di manapun ia berada.

Tetapi, Isabella membenci perang. Ia membenci fakta bahwa yang menghancurkan kehidupan Taylor adalah perang, bahwa ia kesulitan mencari pekerjaan (setidaknya di masa lalu) adalah karena perang, dan bagaimana kesengsaraan hidupnya disebabkan oleh perang.

Ia menceritakan itu di depan seorang veteran, Violet. Tetapi Isabella tak perlu khawatir: Violet memiliki pandangan yang sama. Bahkan, pada saat perang, Violet melihat seberapa besar kehancuran yang dilakukan perang pada orang yang paling ia sayangi, Gilbert. Ia membawa memori itu sampai ketika ia menjadi tukang pos dan ia bertemu dengan mereka yang ingin menyabotase proses perdamaian, ia tak sanggup lagi membunuhnya. Sedangkan ia bisa. Ia seorang mesin pembunuh yang efektif, dulu dan kini. Tapi ia tak ingin melakukannya lagi: kematian adalah suatu hal yang menyakitkan, dan ia tak ingin terkait di dalamnya lagi, apapun bentuknya.

Seperti biasa, Kyoto Animation memang ahlinya dalam interaksi romansa antar wanita.

Violet menjadi seorang pasifis. Tiada lagi perang untuknya: di masa damai ini, ia hanya ingin mengantarkan pesan, mengantarkan apa yang dirasakan oleh seseorang untuk diterjemahkan secara efektif dan kuat kepada orang lain. Dalam kata-kata Isabella: tukang pos mengantarkan kebahagiaan.

Violet Evergarden bukan sekadar kisah mereka yang ingin menyampaikan isi hatinya, baik itu bangsawan Drossel, seorang murid astronomi, seorang ibu yang menderita penyakit akut, atau seorang ayah terhadap putrinya. Ia adalah testamen kuat terhadap sentimen anti-perang: bahwa betapa maskulinnya, betapa heroiknya, betapa hebatnya kisah-kisah perang, kita harus pertama dan utama mengingat apa yang dihasilkannya: kehancuran, keputusasaan, dan kehilangan.

Gambar keluku dari Crunchyroll.