[Wawancara] Larissa Rochefort: Mangafest, Tokyo, dan Optimisme

Kami berbincang-bincang setelah Mangafest silam bersama Larissa soal Mangafest.

Kamar redaksi agaknya bahagia bercampur bingung ketika beberapa minggu sebelum Mangafest, kami diberitahu: izin wawancara Guest Star sudah didapatkan. Guest star kali ini bukan main-main, tak lain dan tak bukan adalah Larissa Rochefort itu sendiri. Seorang cosplayer panutan yang, selain berprestasi, selalu menebarkan aura positif dan mengingatkan para pengikutnya untuk optimis dan semangat menjalankan hari.

Ketika hari kedua Mangafest sudah mulai menjelang malam, setelah sesi meet and greet yang panjang dan berkesan, kami berkesempatan untuk berbincang sebentar dengan Larissa, soal Mangafest, Ikebukuro, dan masih banyak lainnya.

Sesi meet and greet Larissa Rochefort.

Wawancara dengan Larissa Rochefort

Bagaimana Yogyakarta dan Mangafest bagi Larissa?

Asik sekali. Makannya enak, macetnya tidak seperti di Jakarta. (Mangafest) ini acara yang punya potensi di Jogja. Dengan sound system terbaik, suara bukan masalah, bahkan mengalahkan yang ada di Jakarta. Orang-orangnya juga antusias, Yogya banget.

Larissa terhitung sangat sering mengikuti berbagai event baik sebagai Guest Star maupun sebagai pengunjung. Menurut Larissa, apa perbedaan euforia dari masing-masing yang diikuti?

Dari segi bisnis, beda target pasar. Ada event kecil tapi tepat sasaran, (lebih baik) daripada event besar tapi tidak tepat sasaran. Acara-acara kecil enak buat kumpul dengan teman, tergantung tujuannya.

Untuk orang Yogya, Mangafest wajib dihadiri. Ia seperti CF (Comic Frontier, red.) –nya Jogja.

Bagaimana sejauh ini pengalaman menjadi cosplayer di Indonesia–salah satu yang paling sukses di dalam dan luar negeri?

Cosplay di TGS adalah sebuah kehormatan. Tanpa dukungan Tuhan dan orang-orang, hal-hal ini tidak akan bisa terlaksana.

Rasanya senang di Tokyo, bertemu cosplayer dari berbagai negara. Orang-orangnya pun lebih berpikiran terbuka dan mengapresiasi. Saat di Akihabara dan Ikebukuro bisa khilaf sepuasnya. Barang yang selama ini harus titip, sekarang di depan mata.

Sesi wawancara dengan Larissa Rochefort.

Kalau untuk Larissa sendiri, cosplay ini hanya sebatas hobi atau sudah menjadi bagian dari pekerjaan?

Sekarang sudah menjadi pekerjaan, tapi berasa seperti hobi. Hobi yang sehat, terlaksana dari hati.

Larissa juga mengajak para follower untuk berpikiran positif dan optimis. Bagaimana bisa dilakukan di tengah suasana komunitas yang panas?

Kita tidak bisa selamanya positif, tetapi yang keluar dari media sosial saya juga bukan kemunafikan. (Hal tersebut) bagian dari kepercayaan diri. Kalau hanya mengeluh, masalah tidak akan selesai. (Oleh karena itu) lebih baik optimis. Kalau gagal, mungkin bukan jalan kamu.

Hidup harus saling peduli dan saling mendukung, tak ada salahnya inisiatif. Kalau ada yang jahat ke kamu, jangan balik balas jahat.

Adakah pesan untuk para penggemar jejepangan di Indonesia dan penggemar/pelaku cosplay pada khususnya?

Budaya di sini belum seketat di Jepang, tetapi jika ingin cosplay, saran saya mulailah dengan hal-hal positif. Jangan buat hal-hal yang kontroversial. Kadang-kadang, beberapa etika itu common sense, tetapi belum umum dilaksanakan. Untuk penggemar baru, ikuti aturan yang ada atau dari yang lebih berpengalaman.

Jangan malu bertanya. Saya pun masih berbuat salah, yang penting punya kemauan untuk berubah menjadi lebih baik.

Terima kasih atas waktunya, sang panutan! Semoga ekosistem cosplay di Indonesia menjadi semakin terbawa ke arah positif ke depannya.

Wawancara oleh Aditya Putera Tanriawan dan Excel Coananda.

Awkarin dan Carut Marut Eksploitasi Pekerja Kreatif

Karin Novilda tak kunjung mengerti bahwa tak semua hal, tak terkecuali urusan pekerja kreatif, bisa diselesaikan dengan uang dan maaf.

Karin Novilda berulah lagi, sebab itulah bagian dari media sosial tempat kita berada sekarang. Sejak ia ikutan gelombang-gelombang aktivisme beberapa minggu silam, ia mengalami fase-fase ‘pencucian nama’. Sebgaiamana kita mudah untuk mengutuk, kita juga mudah untuk memaafkan. Ia dianggap telah memperbaiki diri, dan kita memberikannya jalan.

Suatu perkara membuat kita paham bahwa ia sama sekali tak pernah berubah.

Nadiyah Rizki adalah seorang mahasiswi, mungkin seperti saya dan Anda. Dan mungkin seperti saya dan Anda juga, ia senang untuk menunjukkan kreasinya, melalui gambaran-gambarannya, komik-komiknya yang ia gambarkan dengan hati-hati untuk mengungkapkan apa yang ia rasakan. Sebagaimana para penulis dengan tulisannya, atau cosplayer dengan cosplay-nya.

Maka apa yang menjadi pelanggaran terhadap hak kreator lain bukan hanya urusan orang itu, tapi juga bisa menjadi urusah Nadiyah dan kita semua.

Babak I: Pembersihan Nama yang Terhambat

Karin sedang membangun diri sebagai mereka yang sadar diri atas isu-isu nasional, melakukan gerakan-gerakan sosial sampai-sampai melabeli diri sendiri sebagai ‘aktivis’. Dalam usahanya membentuk persona baru itu, kita yang sangat mudah memaafkan tentu saja membuka jalan untuk Karin Novilda yang baru, bukan Karin yang penuh drama, intrik, dan kasus-kasus tidak penting.

Dalam usaha yang berat itu, Nadiyah merasa ada urusan yang belum selesai. Ada kasus serius yang belum diperbaiki. Ketika Karin, beberapa tahun yang lalu, tidak mengakui pemilik karya resmi dari apa yang ia unggah di akun sosial medianya. Tuntutannya sederhana: tolong akui kesalahan anda.

Tetapi masalah ini tidak berakhir dengan sederhana

Babak II: Pengacara, Pengadilan, dan Privilese Lainnya

Dalam pesan tertutup, Karin melakukan rentetan ancaman: bahwa ia familiar dengan proses pengadilan dan segala biayanya. Dengan kesadaran bahwa Nadiyah, seorang mahasiswa tahun ketiga, tak akan punya waktu dan sumber daya untuk menghadapi pengadilan. Suatu ancaman diajukan: hapus segala twit-twit yang menyertakan namanya, maka ia tak akan membawa perkara ini ke pengadilan.

Karin sepenuhnya sadar kekuatan yang ia miliki dan tak dimiliki oleh Nadiyah. Ia mempunyai dana yang cukup, waktu yang berlimpah, dan mampu memakai pengacara-pengacara mumpuni. Ia juga bisa mengendalikan suara dan sentimen massa. Oleh sebab ini juga maka kita selalu memaafkannya.

Pada akhirnya seorang mahasiswi yang hanya bermodal niat baik tak mampu melawan seorang yang mampu menggerakkan massa dan aliran uang. Nadiyah menyerah: dalam kepanikannya yang dituntut pengacara dan pengadilan, ia menghapus seluruh cuitannya.

Tetapi kali ini, Karin tak sadar bahwa ia tak seharusnya berusaha untuk mengeksploitasi sekaligus mendapuk diri sebagai aktivis. Mereka yang benar-benar aktivis angkat suara. Segala macam bantuan hukum, waktu, dan sumber daya, segala macam pengacara bisa dan akan dikerahkan untuk Nadiyah. Pesannya jelas: Karin harus sadar bahwa ia tak bisa menggunakan privilesenya untuk mengancam orang lain, apalagi menggunakan hukum sebagai alat.

Pada akhirnya, kita sama-sama tahu bahwa apa yang dilakukan Karin bukanlah satu kesalahan masa lalu yang diungkit-ungkit kembali, melainkan ia memang mempunyai tendensi untuk mengambil hasil karya orang lain tanpa menyertakan sumber–praktik yang terus ia lakukan sampai beberapa bulan yang lalu (kronologi lengkap dapat anda lihat di utasan ini).

Maka, keliru jika menganggap Nadiyah hanya mencari-cari kesalahan masa lalu atau cari sensasi. Ia, sebagaimana ilustrator lainnya, tak menyukai keributan. Ia langsung dengan cepat menjelaskan perkara, sekaligus mengajak kita semua untuk tidak merundung Karin. Ia juga menggunakan kesempatan ini untuk mempromosikan para ilustrator lokal, mereka yang lebih butuh didengar daripada Karin.

Babak III: Minta Maaf dan Bahasan yang Terlalu Cepat Berakhir

Masalah memang sudah berakhir, tetapi ada pelajaran penting yang patut dipahami agar masalah yang sama tak terulang. Ada permasalahan struktural di sini. Karin tidak memahami bahwa apa yang ia lakukan adalah eksploitasi terhadap mereka yang lebih lemah daripada ia. Dalam permintaan maafnya–yang kemudian diakhiri dengan victim blaming paling busuk: membawa kesehatan mental–ia mengatakan bahwa ia ‘sudah meminta mediasi’ dan ‘berbicara baik-baik’.

Klarifikasi Awkarin terkait kasus ini.

Ada dua kemungkinan: pertama, ia tak paham bahwa meminta mediasi dengan membawa-bawa pengacara menimbulkan perbandingan kuasa yang jomplang, kedua, dia sedang melakukan gaslighting.

Gaslighting itu sederhana. Anda mungkin pernah menjadi korbannya. Ketika anda menjadi suatu korban (seperti Nadiyah), maka pelaku (seperti Karin) akan membentuk narasi sedemikian rupa sehingga kesalahan-kesalahan anda ditonjolkan dan posisi anda bisa menjadi pelaku, sedangkan sang pelaku sebenarnya mem-framing diri sebagai korban.

Hal ini, kemudian kita lihat terus-menerus: Nadiyah dianggap cari sensasi, terlalu cepat marah, memperkeruh suasana, memperburuk nama orang, menjelek-jelekkan tindakan baik orang lain, dan masih sebanyaknya. Padahal ada masalah yang lebih serius di sini: persoalan mengenai bagaimana kreator dihargai dan dimuliakan.

Konklusi: Hak Milik Bukan Urusan Sepele!

Maka menjadi wajar ketika tak satu dua yang ikutan angkat suara mendukung Nadiyah. Manajer Visual dan Grafis tirto.id, Sabda Armandio, dengan tegas menyatakan: urusan kreator bukan cuma urusan uang, dan “Anda, para desainer, punya nilai tawar lebih tinggi daripada para pemodal”.

Ini juga urusan Anda. Meskipun Anda cuma penggemar yang senang menonton anime atau membaca manga, atau melihat cosplayer dan fanart kesukaan anda, semua orang-orang itu adalah pekerja kreatif yang berhak mendapatkan ganjaran dari apa yang mereka berikan ke kita, dan persoalan tersebut tak melulu soal uang.

Hal ini semakin penting melihat bahwa jika salah satu influencer (saya benci sekali mengatakan kata itu) terbesar negeri ini saja tidak paham bahwa urusan desain grafis bukan urusan sepele, maka bagaimana para ilustrator dapat hidup dengan gambarannya? Bagaimana para desainer dapat tercukupi dengan desain-desain grafisnya?

Ini urusan kita yang senang meinkmati maupun menciptakan karya-karya kreasi dari subkultur Jejepangan maupun subkultur-subkultur lain. Tanpa adanya rasa hormat, empati, dan pemahaman mendasar, sulit untuk para cosplayer untuk nyaman ber-cosplay, untuk para lingkarya mendaftarkan diri di Comic Frontier, dan untuk kita semua yang ingin menikmati karya-karya mereka.

Problem yang dihadapi Nadiyah, pada akhirnya, dialami oleh pekerja kreatif lainnya. Mengutip Serikat Pekerja SINDIKASI, setiap problem yang menyangkut hak pekerja kreatif merupakan problem pekerja kreatif lainnya, dan “sesama pekerja kreatif tentu harus saling mendukung dan bersolidaritas atas hak-hak pekerja”

(Ilustrasi Thumbnail milik Nadiyah sendiri. Jika anda ingin mengenal lebih lanjut karya-karya Nadiyah dan bagaimana ia menyampaikan narasi dengan ilustrasi, silakan kunjungi situsnya di sini)

Imbauan: Kurangi Drama, Utamakan Diskusi

Segala macam kasus dan skandal bisa dibahas dengan diskusi yang lebih bermanfaat.

Komunitas Jejepangan di Indonesia bukan merupakan satu organisasi yang tersusun rapi dengan strukturnya, ia terbagi ke dalam ratusan bahkan ribuan kelompok-kelompok spesifik. Dengan pemecahan yang spesifik tersebut, semuanya memiliki kesamaan yang mengkhawatirkan: kesibukan menanggapi drama dan skandal mingguan yang muncul di lini masa. Mulai dari komunitas cosplay yang mempermasalahkan uang atau mengkritik berlebihan cosplay orang lain sampai kasus tracing atau plagiat karya seni.

Namun, perlu diperhatikan bahwa kesibukan-kesibukan ini tak membuat suatu perkumpulan menjadi berkembang. Tendensi untuk menghabiskan waktu dan pikiran kepada suatu skandal hanya akan menghabiskan waktu dan pikiran kita. Jauh lebih merugikan dibanding kesenangan yang kita dapatkan.

Terdapat juga kecenderungan bagi drama untuk menarik lebih banyak–jauh dari yang diperlukan–orang daripada pembahasan-pembahasan lain, topik-topik lain. Akibatnya jelas: yang muncul adalah keributan yang melelahkan yang pada umumnya sama sekali tak menyelesaikan masalah utama.

Pembahasan akan bertele-tele tanpa contoh kasus. Mungkin apa yang akan saya tuliskan ini familiar untuk anda, dan saya akan mencoba meyakinkan anda bahwa hal-hal seperti ini tak perlu disebarluaskan dan diramaikan lagi.

Cosplay, Cosplay, Bagaimana Cosplay yang Benar?

Setiap ada drama baru di lini masa, saya berani taruhan bahwa kemungkinan besar drama tersebut datang dari komunitas cosplay. Namun, sub-bagian ini tak untuk menjelek-jelekkan mereka. Justru sebaliknya, bagaimana sebenarnya apa yang dibicarakan bisa dibahas dengan konstruktif tanpa menjadi snob yang pretensius.

Kemarin baru ramai: sejumlah cosplayer muncul di kanal televisi nasional untuk acara dangdut. Responnya beragam–sebagian di antaranya beracun. Mulai dari respon biasa (“Kenapa harus dangdut?” dengan “Lucu ya, kreatif”), yang keras (“Kamu tahu esensi cosplay nggak?” dengan “Ya biarin aja, yang protes iri ya?”), sampai yang beracun (“Nyari duit gitu amat mas?”)

Drama cosplay, ataupun drama-drama lainnya, selalu diulang tanpa ada penyelesaian pasti.

Apakah ini soal argumentasi? Ya, setengahnya. Namun, sisanya adalah soal menjadi pretensius. Mengapa kita, dalam menanggapi drama-drama di komunitas cosplay, tak mampu membangun diskusi yang menambah pengetahuan semua orang alih alih bikin emosi semua orang?

Ditarik lagi ke belakang, kita melihat bahwa pembahasan yang tidak bermanfaat ini selalu berulang dan tidak menyelesaikan masalah.

Ketika suatu event menghasilkan skandal seks, misalnya, tentu saja pembahasan di sekelilingnya penuh dengan argumentasi kosong, sentimen yang tidak membantu (yang minta link), dan seringkali seksis (“ya memang cosplayer biasanya lonte, bro”). Akhirnya keributan yang berlangsung sama sekali tak membantu isi masalah, dan semua orang dirugikan: pihak pria mungkin masih menyesal sampai sekarang, pihak wanita masih buronan, serta semua orang jelas tak terbantu dengan skandal seks murahan yang tak menghasilkan pembicaraan konstruktif.

Selanjutnya adalah pelecehan seksual. Hal ini akan saya bahas di kemudian hari, tetapi singkatnya tak ada niatan kita untuk secara serius melindungi cosplayer Indonesia dari bahaya, alih-alih hanya menjadikannya obyek atau malah menganggapnya bahan lelucon.

Padahal di belahan dunia lain dan di komunitas hobi lain, pelecehan adalah hal serius. Ia harus dibahas, dan suatu kampanye harus dijalankan untuk mencegahnya–suatu perubahan mendasar harus didiskusikan dan didebatkan. Kita, tentu saja, tak mendapatkan itu. Kita lagi-lagi mendapatkan lelucon yang tidak berguna, merusak, atau sentimen-sentimen misoginis yang paling brutal (‘pakaiannya kayak lonte sih, bro’; ‘ya kayak gitu mengundang orang dong’; ‘emang minta dipegang itu mah, gausah protes deh’; dan masih banyak lainnya).

Pembahasan-pembahasan seperti ini adalah argumentasi pendukung pertama saya bahwa kita harus menghindari drama dan menyuburkan diskusi. Keadaan komunitas lain tak lebih baik.

Dosa-Dosa Illustrator dan Hakimnya yang Paling Kejam

Ada banyak dosa yang dihitung “dosa kardinal” (cardinal sin) bagi para ilustratorTracing, plagiat, tidak mencantumkan sumber, minta commish gratis, dan dosa-dosa di bawahnya yang masih banyak. Proporsi tubuh tak sesuai, overseksualisasi, commish tidak dikerjakan, proyek yang tidak jadi, konten dewasa di pasar komik, dan lain sebagainya.

Sejak grup Facebook tracing mewabah (saya tak akan menyebutkan nama grupnya), hal-hal seperti ini sudah berkali-kali serta berhari-hari diributkan. Mengapa tak ada suatu diskusi komprehensif mengenai konsep intellectual property? Mengenai sifat dari fanart, yang misal, berbeda antara Amerika dan Jepang? Mengapa tidak ada bahasan tentang kasus-kasus populer seperti bagaimana Love Live! pernah menyatakan bahwa fan art tanpa lisensi adalah bentuk plagiat?

Para kaum “beradab”, hakim massa yang sudah pasti benar, cepat untuk datang ke lokasi dengan membawa palu gada mereka masing-masing, memukuli para terdakwa dosa-dosa ilustrator tadi. Kalaupun ada yang mencoba untuk mengedukasi, seringkali dengan nada pretensius dan tak sensitif terhadap konteks sosio-ekonomi orang lain. Mengapa Anda mengharapkan orang akan mengapresiasi industri baru yang perlu dibayar dengan mengata-ngatai mereka miskin dan kampungan karena tak paham konsep seni berbayar?

Drama seputar ilustrator bisa mengarah ke debat dan diskusi yang bisa menjadi sangat panas, tapi hal itu bisa dikendalkan agar jadi lebih bermanfaat. Saya kira hal itu lebih dibutuhkan daripada pembahasan yang tak jelas arahnya, diiringi misinformasi dan tidak ada niatan untuk menyelesaikan masalah.

Para Pembajak Proletariat vs. Para Pembayar Borjuis

Di ranah internet ini ada sub-sub lokal melawan usaha P***** yang berbayar. Sub-sub internasional melawan Netflix, torrent melawan Crunchyroll. Mangarock melawan komik fisik, di toko buku atau di tempat lain.

Di sini argumen tidak berguna makin jelas lagi. Di kolom komentar mereka yang mengkampanyekan konten berbayar, sentimen yang muncul adalah “emangnya semua orang punya uang kayak kamu” atau “kalau ada yang gratis kenapa bayar”. Di kolom komentar mereka yang mengampanyekan sumber gratis, sentimen yang muncul adalah “kalau miskin nggak usah nonton” atau “hargai usaha kreator lah”.

Drama pembajakan. Sudah berlangsung sejak lama, tapi tak kunjung terselesaikan.

Kalimat-kalimat di atas menjadi tidak berguna karena semuanya benar. Banyak hal lain yang harus dibahas seperti: apakah fansub secara etis dapat dibenarkan? Bagaimana dengan fansub yang komersial? Apakah ada alternatif yang bisa diandalkan untuk konten-konten legal berbayar? Mengapa Jepang begitu tidak mau meraih pasar internasional dan digitalisasi, dan oleh karena itu apakah ada bagian kesalahan di mereka juga?

Lagi-lagi, seperti halnya contoh-contoh di atas, hal-hal ini harus dibahas secara luas dan intensif–kalau bisa seramai kasus F***d*****–tanpa pretensi. Fokus harus berada tak pada siapa yang punya uang, tetapi bagaimana kita bisa dan harus membantu para kreator Jepang sekaligus mengukur kemampuan finansial kita sendiri.

Event Jejepangan Seharusnya Bahagia

Tak jarang kenyataannya event Jejepangan akan menghasilkan lebih banyak drama dan omongan dibandingkan kebahagiaan yang dihasilkan. Ini, tentu saja, merupakan sifat dari program kerja itu sendiri, apalagi event mahasiswa. Hal-hal pasti akan diurus sampai tingkat teknis dan akhirnya menimbulkan perpecahan-perpecahan yang didebatkan secara intens.

Namun, sungguh banyak di antara kita harus setidaknya menahan diri atau berpikir ulang sebelum mengeluarkan pernyataan.

Dalam kasus acara di Yogyakarta beberapa tahun silam, banyak sekali pihak yang antusias untuk mengeluarkan unek-uneknya tanpa sekalipun memikirkan latar belakang masalah dan mengapa sumbangan suara mereka mungkin tak berguna (seperti mengajak boikot). Dalam kasus lain, seperti event SMA yang gagal karena oknum yang terlalu percaya diri, mengingatkan kita bahwa urusan event organizing tak hanya membutuhkan passion, tapi juga kompetensi.

Banyak hal yang telah dibahas dan unek-unek yang telah dikeluarkan. Saatnya membangun argumentasi yang lebih konstruktif dan berempati jika hal drama-drama lain seputar event naik kembali.

Kurangi Drama, Utamakan Diskusi

Dengan lini masa yang semakin melelahkan, tulisan ini adalah imbauan bagi semua penggemar subkultur Jepang untuk menahan diri sekaligus mengajak untuk melakukan pembahasan yang santai namun bermanfaat. Baik itu drama cosplayer, illustrator, dan masih banyak lainnya, ada banyak kesempatan agar setiap drama atau skandal tak berakhir begitu saja dan hanya membuang waktu, pikiran, hingga tenaga.

Tak semua drama harus dibahas. Saya juga tak menuntut komunitas Jejepangan di Indonesia tiba-tiba menjadi pusat studi dan forum diskusi yang serius. Setidaknya pada beberapa kasus, apalagi skandal seks, harus dihindari dan tak usah kita bahas dan kasus-kasus lain perlu diramaikan dengan hati-hati.

Sebab suatu basis penggemar dengan suasana yang buruk akan berdampak ke semua orang. Ada hal-hal yang perlu kita pikirkan ulang dan perbaiki, minimal dari diri sendiri, agar ke depannya hal-hal seperti ilustrator dalam mata pencahariaannya dapat lebih dipahami, cosplayer dapat menjalankan hobinya dengan aman, para kepanitiaan melancarkan event dengan bahagia, dan mengundang orang lain untuk turut serta mengekspresikan diri dalam lingkungan penggemar yang kondusif.

Bukankah kita semua pada awalnya pemula yang tak tahu apa-apa dalam hal Jejepangan ini?

Sebab Hidup Tak Seindah Kimetsu no Yaiba

nezuko

Dengan setan-setan dan perjuangannya yang keras, Tanjirou dibantu logika hidup yang sederhana: batasan 'baik' dan 'buruk' yang jelas. Begitulah kira-kira Kimetsu no Yaiba.

Semua orang bekerja keras di Kimetsu no Yaiba. Berjuang menghadapi musuh-musuh yang seakan-akan tak mampu dikalahkan. Semua orang berlatih dan bertarung, lagi dan lagi, dalam perjalanan hidup yang hampir-hampir linear. Semacam protagonis gim: dimulai dari level 1, seorang warrior terus mengalahkan musuh mulai dari level kecil sampai besar. Ia lakukan itu terus menerus sampai ia sendiri mencapai level tertentu untuk melawan boss yang sebelumnya tak terkalahkan. Setelah itu ia menemukan musuh yang lebih hebat lagi, lalu ia berlatih lagi untuk bisa melawannya, diulang-ulang ad nauseam. 

Oleh karena itu, meskipun saya tak bisa berlatih naik turun gunung dan menghindari jebakan mematikan setiap hari seperti Tanjirou, tapi saya mengira hidup dalam dunia Tanjiro jauh lebih mudah.

Sebab logika perjalanan hidup Tanjiro dan kawan-kawannnya begitu sederhana. Tanjiro orang baik, berusaha keras untuk berlatih teknik napas dan teknik pedangnya untuk melawan makhluk-makhluk jahat, para iblis (demons).

Adalah tanggung jawab moral bagi Tanjiro dan Korps Pembasmi Iblis untuk menghabisi setan-setan tersebut. Mereka, ras iblis, adalah ancaman eksistensial, bukan perilakunya. Dengan mereka ada di dunia ini saja sudah membahayakan bagi keselamatan kita dan orang yang kita sayangi, maka membunuh mereka adalah suatu kewajiban.

Kondisi hidup tersebut selain ideal dan jauh lebih mudah daripada dunia tempat kita berada saat ini, juga sangat berbahaya jika kita terapkan ke dalam dunia yang lebih kompleks ini.

Kimetsu no Yaiba dan Oposisi Biner Iblis/Pahlawan

Masalah pertama ada di hampir seluruh karya shonen: sebuah klise mengenai siapa penjahat dan siapa pahlawan.

Pertama: Tanjiro jelas pahlawan. Korps Pembasmi Iblis, organisasi ekstrapemerintahan tempat Tanjiro bernaung, mempunyai kekuasaan yang berpusat pada segelintir orang dan tak bisa ditantang. Meskipun mereka berada di luar negara, fungsi mereka adalah fungsi sentral negara: membasmi musuh masyarakat dengan cara membunuhnya.Ya, membunuh, bukan persuasi, arbitrasi, atau diplomasi. Tugas korps pembasmi adalah membasmi, justifikasi sudah tak dibutuhkan lagi. Dilema moral tak menjadi perhitungan kelompok ini, sebab ‘iblis’ dan ‘manusia’ adalah dua kelompok eksklusif. Moral dan hak tak berlaku untuk iblis-iblis tersebut, sekalipun mereka pernah jadi manusia.

Maka iblis dimunculkan sebagai makhluk-makhluk tanpa harapan sejak awal. Perhatikan bagaimana para iblis digambarkan, mulai dari Nezuko (awalnya) yang membantai keluarga sendiri, iblis-iblis hutan yang berebut manusia seperti hewan berburu mangsa, lalu iblis-iblis yang memangsa gadis-gadis desa tempat Tanjiro melakukan misi pertamanya. Iblis ditunjukkan sebagai orang yang sudah bukan manusia lagi, sudah murni jahat luar dalam. Konsekuensinya, serial tersebut jelas tidak sedang meminta kita berempati kepada apa yang sudah digambarkan sebagai musuh.

Perkembangan berikutnya mulai menjauh dari oposisi Iblis/Pahlawan dengan memunculkan masa lalu dari iblis-iblis kuat yang dibunuh Tanjiro, baik itu sang penulis gagal maupun keluarga disfungsional laba-laba yang dikepalai Rui. Meskipun demikian, masalah tetap ada. Orang-orang tersebut mungkin mempunyai masa lalu yang kelam, tetapi apa yang sudah terjadi tak mengubah apa yang terjadi hari ini. Ia sekarang bukan manusia, maka harus dibunuh juga.

Bahaya Otoritarianisme para Hashira

Rui, salah satu karakter Kimetsu no Yaiba.

Padahal, penggambaran latar belakang dari Rui dan keluarganya merupakan salah satu ilustrasi paling kuat untuk memahami konteks. Tak seperti iblis-iblis rendahan sebelumnya, Rui bukan kriminal kelas kere yang secara barbar membunuh hanya untuk memenuhi kebutuhannya. Ada bagian dari dirinya yang hilang: rasa kekeluargaan. Inilah yang membuat Rui menjadi manusia yang gagal, fakta bahwa ia kemudian menjadi iblis adalah apa yang terjadi setelahnya.

 

Tetapi, sepertinya, hanya Tanjiro yang mencoba menjauh dari dikotomi manusia/iblis ini. Para Hashira memperburuk keadaan–sebagai pentolan ‘pahlawan’, mereka, terutama salah satu di antara mereka, benar-benar mempunyai pandangan hitam/putih. Celakanya lagi, mereka memposisikan diri sebagai ‘pahlawan’ dan pihak lawan sebagai ‘penjahat’–mengabaikan konteks dari apa yang mereka anggap musuh.

Puncaknya adalah episode ketika Nezuko sekalipun dicurigai karena afiliasinya. Hasilnya pun tidak memuaskan. Nezuko yang sudah sejak awal dicap buruk harus membuktikan diri bahwa ia bukanlah penjahat. Lebih jauh lagi disuruh melakukan langkah-langkah ekstra untuk ‘membersihkan diri’. Padahal, Nezuko tak pernah mendaftarkan diri menjadi satu kelompok dengan para ‘penjahat’.

Jika ditarik lebih jauh, dapat diketahui bahwa para Hashira, termasuk Sanemi, melakukan semua ini karena latar belakang mereka masing-masing dan rasa ketidakpercayaan yang tinggi terhadap musuh-musuhnya. Namun, kehadiran Nezuko seharusnya jadi katalis: ketika ditemukan suatu anomali dari kerangka berpikir mereka, harusnya kerangka tersebut dirombak lagi.

Kalau tidak, para Hashira yang sudah memiliki kekuatan adikuasa dalam fungsinya di masyarakat akan dengan mudah jatuh ke pada otoritarianisme. Dengan kerangka moralitas yang tak bisa diubah, kekuasaan yang tinggi, dan tidak adanya organ pengendali, mereka punya instrumen yang cukup untuk menjadi sewenang-wenang.

Tak Selamanya Hitam-Putih

Oleh karena itu mungkin hanya Tanjiro dan teman-temannya yang bisa ditempatkan di antara kita. Selain pekerja keras, ia juga mampu memahami sisi kemanusiaan dari iblis yang paling buruk rupa dan kejam. Sesuatu yang sepertinya sangat sulit dipahami oleh atasan-atasannya.

Kemampuan itu sangat berguna di tengah tak adanya kepastian mengenai kawan dan lawan di dunia kita. Siapa yang dapat kita beri label ‘musuh’ selamanya? Tidak ada iblis di dunia ini–celakanya, semuanya manusia. Kita juga tak bisa mengukur bahwa seseorang baik hati diukur dari kemanusiaannya. Jika mengikuti Hobbes bahwa manusia pada dasarnya egois dan licik, maka justru ia yang paling manusia merupakan yang paling jahat di antara semuanya.

Beberapa anggota Korps Pembasmi Iblis, misalnya, akan sangat kebingungan dengan adagium ‘saint has a past, sinner has a future’. Bagi mereka, masa lalu saint tidak bisa dihitung karena ia merupakan orang baik hari ini, dan masa depan sinner tak usah dipahami juga sebab iya merupakan sang penjahat hari ini.

Bagaimana sang Hashira yang pemarah itu dapat memahami para pahlawan yang kemudian mendapuk kekuasaan lalu mengkhianati rakyatnya sendiri? Bagaimana ia mampu mengerti seorang pentolan kriminal yang, meskipun orang-orang sudah menyerah memperbaikinya, ternyata bisa menjadi manusia berhati mulia di masa-masa akhir hidupnya?

Logika shonen menjadi sangat bermasalah bukan hanya dengan fakta sederhana bahwa tak ada moralitas hitam/putih di antara kita, tapi juga kita tak bisa mendapuk diri sebagai ‘pahlawan pembasmi kejahatan’. Pertama, sebab anda akan gagal, kedua, seperti yang ditunjukkan oleh sejarah: anda berbahaya.

Dunia Kita Telah Membuktikannya

Dunia ini memang tak selamanya hitam-putih. Kimetsu no Yaiba membuktikan itu.

Mereka yang membagi keras batas antara ‘kita’ dan ‘mereka’ adalah para tirani.

Hitler mengunggulkan ras Arya sekaligus menganggap mereka di luarnya sebagai setidak-tidaknya kasta lebih rendah, dan menganggap Yahudi sebagai akar dari segala permasalahan. Di belahan dunia lain, didasarkan pemikiran bahwa semua kaum Tsar adalah penjahat, para kaum revolusioner Soviet bisa membunuh si kecil Anastasia Nikolaevna Romanova. Di Amerika dan negara sekutunya saat perang dingin, untuk melawan komunis yang dianggap sebagai ancaman, rezim-rezim (termasuk rezim Orde Baru) akan melakukan apapun untuk ‘membasmi’ komunisme. Pengecapan, pembantaian, pembunuhan, penganiayaan, dan lain sebagainya: bahkan untuk mendapatkan identitas kenegaraan saja bisa sulit!

 

Contoh terakhir adalah apa yang membuat skenario ‘pengujian’ Nezuko menjadi sangat mengkhawatirkan. Tak seperti ideologi komunis, Nezuko tak meminta untuk dimangsa Muzan, untuk kemudian dirinya sendiri menjadi iblis. Justru ia telah berusaha keras agar tak kehilangan kemanusiaannya–mengapa perlu diadakan ujicoba-ujicoba lagi? Mengapa pula ia, setelah terbukti bersih, masih harus ‘membuktikan diri’ untuk ke depannya?

Ras iblis tak berbahaya. Yang berbahaya adalah ideologi spesifik bawaan Muzan Kibutsuji, musuh utama, tetapi ini tak bisa dijadikan justifikasi bahwa segala iblis harus dibabat tanpa mengajukan pertanyaan terlebih dahulu.

Dalam hal ini, logika shonen tak lagi realistis, ia menjadi berbahaya.

Kompleksitas yang Dilawan dan Dipertahankan

Memang tak sekali dua kali orang-orang berusaha untuk menegakkan dikotomi untuk membuat kehidupan yang absurd ini menjadi lebih dapat dicerna dan dijelaskan.

Hal yang menjadi pertanyaan selanjutnya adalah, haruskah kita iri terhadap Tanjiro dan teman-temannya? Hidup di dunia yang tak mengenal musuh abadi, seperti Muzan Kibutsuji, dan setiap hari harus selalu mengkontekstualisasikan diri dan orang-orang di sekitar kita? Bagaimanapun juga, dunia tersebut serasa melelahkan dan seringkali tiada harapan, menjatuhkan kita ke keputusasaan.

muzan kibutsuji

Tetapi di sisi lain, ada yang menyegarkan ketika kita mengetahui bahwa dalam sejarah, mereka yang berpikir dalam kerangka moralitas pahlawan melawan penjahat hampir pasti adalah penjahat itu sendiri. Sebab tak ada mekanisme yang dapat menyebabkan manusia menjadi iblis tanpa adanya harapan kembali–selalu ada waktu untuk memikirkan ulang nilai-nilai yang dipegang, selalu ada waktu untuk merubah diri. Kita selalu mempunyai kesempatan ulang untuk memikirkan siapa yang kita anggap musuh dan siapa yang kita anggap kawan. Maka, agaknya, Sanemi dan para Hashira perlu mengikuti Tanjiro dalam hal ini.

Dunia Kimetsu no Yaiba mungkin lebih sederhana, tapi dunia kita lebih manusiawi.

Toko Fisik Kyoto Animation Tutup Sampai Maret 2020

Situs fisik dari Kyoani & Do Shop! akan tetap tutup sampai akhir Maret 2020.

Pada situs resminya, Kyoto Animation telah mengumumkan bahwa toko fisik yang terletak di Kyoto, Kyoani & Do Shop! akan tetap ditutup pasca-tragedi kebakaran beberapa bulan silam sampai dengan bulan Maret 2020. Para staf dan karyawan sedang menimbang-nimbang cara untuk membuka kembali toko tersebut seperti biasanya.

Namun, toko daring (online) telah dan akan terus terbuka. Pesanan yang sudah masuk akan membutuhkan waktu sampai dengan satu bulan untuk pemrosesan dan pengiriman, dan pada tanggal 14 sampai 25 Agustus 2019 tidak menerima pesanan dikarenakan perbaikan situs.

Selain itu, acara KyoAni and Do Fan Days 2019: This Is What We Are Now!! It’s A Festival After 2 Years! secara parsial dibatalkan.

Rangkaian acara pertama, Enjoy! The World of Kyoani and Do. dijadwalkan pada tanggal 3 sampai 4 November di aula Miyako Messe, Kyoto. Acara ini dibatalkan dan diganti dengan acara lain di dalam kota Kyoto. Di sini, para penggemar bisa ‘mengucapkan selamat tinggal kepada kreator-kreator dimana mereka memiliki ikatan kuatan melalui karya-karya mereka’.

Sedangkan rangkaian acara kedua, Sound! From Kyoto to the World dijadwalkan pada tanggal 9 sampai 10 November akan tetap dilaksanakan di Rohm Theater. KyoAni telah mengumumkan pada 14 Agustus silam bahwa seluruh acara panggung bagi kedua rangkaian acara tersebut telah dibatalkan.

Selain itu, KyoAni juga mengumumkan bahwa acara tahunannya, 11th Kyoto Animation Awards, telah ditunda. Studio animasi tersebut tidak lagi menerima karya yang masuk untuk penghargaan tersebut.

Penundaan dan pembatalan ini dilatarbelakangi oleh tragedi kebakaran pada Studio 1 Kyoto Animation pada beberapa bulan silam, dimana lebih dari 30 orang meninggal dunia dan puluhan lainnya luka-luka dikarenakan aksi pembakaran oleh seorang pria paruh baya. Aksi ini merupakan pembunuhan terbesar di Jepang setelah Perang Dunia II, dengan jumlah korban jauh melampaui serangan sarin di jaringan kereta Tokyo pada tahun 1995.

Sumber: ANN

 

Miku Melepaskan Diri Dari VOCALOID Milik Yamaha

Crypton Future Media

Karakter-karakter Crypton akan memiliki sistem sendiri, terlepas dari VOCALOID milik Yamaha.

Pada Magical Mirai 2019 di Tokyo beberapa saat yang lalu, Wataru Sasaki dari Crypton Future Media mengumumkan hal-hal penting mengenai Hatsune Miku dan karakter-karakter vocal synth software lain dari Piapro, serta perkembangannya ke depan terkait hubungannya dengan sistem VOCALOID milik Yamaha.

 

Perubahan besar yang mengejutkan ini adalah: Hatsune Miku dan karakter-karakter Crypton lain akan memisahkan diri dari mesin VOCALOID milik Yamaha. Ini berarti, bank suara (voicebank) Miku beserta karakter lain akan dilepaskan ikatannya dari mesin VOCALOID, dan produk/mesin baru untuk karakter-karakter ini akan menggunakan algoritma dari Crypton sendiri, yang telah mengembangkannya selama dua tahun.

Meskipun begitu, ‘identitas’ dari Miku dan teman-temannya akan tetap sama.

Produk milik Crypton ini belum memiliki nama, dan 11 effector VST baru akan disertakan pada produk baru ini, termasuk Cherry Pie, HS Booster, dan Vocal Drive. Produk ini akan dirilis sebagai serial baru bersama generasi selanjutnya dari Studio Piapro pada tahun 2020.

Hubungan Crypton dengan Yamaha akan terus berjalan, namun tidak akan ada update baru terkait Miku dan teman-temannya terkait dengan mesin VOCALOID 5 milik Yamaha.

Dengan pembaharuan ini, Crypton digadang-gadang akan lebih memiliki fleksibilitas dan tambahan-tambahan baru pada perangkat lunak mereka, suatu hal yang akan diapresiasi oleh pelaku sekaligus penikmat pasar Vocaloid. Mengutip mikufan.com, bahkan mungkin akan terdapat penurunan harga, sebab tidak ada biaya royalti yang harus dibayarkan ke Yamaha setelah ini.

Informasi lebih lanjut akan diumumkan oleh Crypton Future Media dan Yamaha pada akhir tahun ini.

Sumber: Mikufan.com

Tate no Yuusha Dapatkan Season 2 dan 3!

tate no yuusha season 2 season 3

Naofumi kembali lagi tidak hanya dengan satu, tapi dua season tambahan.

Pada minggu (1/9) silam, Crunchyroll Expo mengumumkan bahwa Tate no Yuusha no Nariagari (The Rise of The Shield Hero) akan mendapatkan tidak hanya satu, melainkan dua season baru. Meskipun tanggal rilis belum diumumkan, namun visual baru telah diberikan oleh Crunchyroll.

Dalam Crunchyroll Expo tersebut, panel Tate no Yuusha diisi oleh pengisi lagu tema MADKID, pengisi suara Myne, Sarah Emi, desainer karakter Masahiro Suwa, komposer musik Kevin Penkin, dan produser itu sendiri, Jun’ichiro Tamura.

Tate no Yuusha sebelumnya telah ditayangkan sejak Januari 2019 dan baru saja berakhir. Anime tersebut telah tayang sebanyak 25 episode dan secara langsung disiarkan oleh Crunchyroll. Serial bertema isekai ini diadaptasi dari light novel dan manga dengan judul yang sama. Volume pertama novel tersebut dideskripsikan sebagaimana berikut:

“Naofumi Iwatani, seorang otaku yang tak berkarisma menghabiskan kesehariannya dalam gim dan manga, sebelum tiba-tiba muncul di dunia lain! Ia menemukan bahwa ia adalah satu dari empat pahlawan yang menggunakan senjata legendaris, serta ditugasi untuk menyelamatkan dunia dari takdir kiamatnya. Sebagai Shield Hero, yang paling lemah di antara empat itu, semua tak terlihat baik-baik saja. Naofumi segera ditinggalkan sendiri, tanpa uang, dan dikhianati. Dengan tanpa seseorang untuk dimintai bantuan dan tak ada tempat untuk melarikan diri, ia tertinggal hanya dengan tamengnya. Sekarang, Naofumi harus bangkit dan menjadi Shield Hero yang legendaris dan menyelamatkan dunia!

Sumber: ANN

Anime Singkat Yuru Camp Tampilkan Teaser Baru

heya camp yuru camp

Rin dan kawan-kawan kembali berkemah dalam musim baru anime singkat Heya Camp.

Situs resmi Yuru Camp telah mengeluarkan trailer teaser dari Heya Kyan (Room Camp) pada Minggu (1/9) silam. Anime pendek tersebut akan mulai tayang pada Januari 2020.

Selain Heya Kyan△, Yuru Camp akan mendapatkan musim kedua dan filmnya sendiri. Musim pertama sendiri telah tayang pada Januari 2018 silam sebanyak 12 episode, dengan tambahan Episode 0 dalam home video yang dirilis di Jepang.

Masato Jinbo akan menjadi direktur Heya Kyan kembali di C-Station , dengan Mutsumi Ito sebagai penulis dan supervisornya. Mutsumi Sasaki kembali sebagai desainer karakter dan kepala direktur animasi dan Yoshiaki Kyougoku sebagai supervisor.

Serial bergenre slice of life, atau lebih spesifiknya cgdct (cute girls doing cute things) menceritakan Rin, Nadeshiko, dan teman-temannya yang sama-sama mempunyai hobi mengunjungi tempat-tempat berkemah. Rin selalu berkemah sendirian, sedangkan Nadeshiko, tak pernah kemah sebelumnya, bergabung dengan klub cinta alam SMA-nya bersama Aoi dan Chiaki.

Anime yang dianggap santai, tenang, dan damai itu berisi kegiatan Rin, Nadeshiko dan kawan-kawan mengunjungi pinggir danau, pegunungan, dan tempat-tempat betulan di Jepang dengan bersepeda atau naik motor, untuk kemudian berkemah dan menikmati pemandangan alam di tempat tersebut.

Sumber: ANN

Hokago Tea-Time Datang Kembali dengan Penampilan Kejutan!

Hokago Tea Time Animelo

Hokago-Tea Time kembali lagi setelah 10 tahun K-On di Animelo Summer Live 2019.

Yui dan kawan-kawan dari Hokago Tea Time secara mengejutkan kembali lagi pada Minggu (1/9) dalam konser Animelo Summer Live 2019. Terakhir kali HTT tampil di panggung adalah delapan tahun lalu pada tahun 2011.

Hokago Tea Time terdiri dari Yui Hirasawa (Aki Toyosaki, Vokal), Mio Akiyama (Yoko Hikasa Gitar), Ritsu Tainaka (Satomi Satou, Drum), Tsugumi Kotobuki (Minako Kotobuki, Piano), dan Azusa Nakano (Ayana Taketatsu, Bass). Masing-masing juga menjadi pengisi suara untuk karakter terkait dalam serial animenya, K-On!, sepuluh tahun silam.

hokago tea time animelo

Kelima anggota band tersebut masuk panggung dan berkata “Ini adalah Hokago Tea Time!”, Toyosaki mengatakan “Maaf telah membuatmu menunggu!”, Hikasa dengan “Moe Moe Kyun!”, dan Satou dengan “Aku adalah presiden klubnya!’ Mereka juga membicarakan seberapa tersentuhnya mereka atas audiens yang masih mendukung mereka bahkan 10 tahun setelah K-On! dirilis. Setelah mereka selesai, Satou berkata pada Hikasa, “Mio, jangan menangis” sebari turun dari panggung.

HTT sendiri muncul dari manga komedi empat-panel (4koma) berjudul K-On! dari kakifly mengenai sekumpulan anak SMA yang membentuk band rock, dengan jadwal latihan setiap pulang sekolah. Manga tersebut mendapatkan dua adaptasi anime pada 2009 dan 2010 dan adaptasi layar lebar pada 2011. K-On! sendiri menjadi sangat populer dan, bagi beberapa orang, menjadi penanda kemunculan gaya anime ‘moe’ serta mulai menjamurnya genre slice of life maupun cute girls doing cute things, membawa Kyoto Animation menjadi nama sehari-hari dalam dunia produksi anime, setelah kesuksesannya dalam Lucky Star! dan Haruhi Suzumiya.

Animelo Summer Live tahun ini diadakan pada 30 Agustus sampai 1 September pada Saitama Super Anime, dengan Dwango dan Nippon Cultural Broadcasting yang telah menyelenggarakannya secara tahunan sejak 2005.

Sumber: ANN, Crunchyroll