Kita biasanya sepakat bahwa pelecehan seksual terhadap cosplayer merupakan keliru, tidak boleh dibenarkan, dan harus dihindari. Kita tidak sepakat dengan berapa 'tapi' yang muncul setelah kalimat tersebut.

Ketika Clarissa Punipun, cosplayer dengan talenta dan jumlah penggemar yang tidak main-main itu, menyebarkan daftar orang yang berkomentar tidak senonoh baginya, tentu respon rata-rata penggemarnya adalah mengutuk. Para penggemar ini menganggap, dan seharusnya menganggap, bahwa pelecehan seksual terhadap cosplayer di lingkungan kita — penggemar pop kultur Jepang di Indonesia —merupakan masalah besar. Sederhananya, mereka yang waras dan mau berempati dengan perasaan korban setidaknya sepakat dalam satu hal: bahwa komentar tidak senonoh dan pelecehan daring bukan sikap yang baik.

Tetapi komunitas ini tentu masih jauh dari membangun kondisi yang setara dan aman bagi perempuan. Kita tidak bisa mengatakan bahwa komunitas yang menolak keras usaha diskusi aspek-aspek anime dari perspektif feminisme telah menerima sepenuhnya konsep kesetaraan gender. Kita tidak bisa mengatakan bahwa komunitas yang membela total usaha-usaha untuk menseksualisasi anak di bawah umur telah sepenuhnya memahami consent. Kita tidak bisa mengatakan bahwa komunitas yang terus menerus memberlakukan cosplayer perempuan sebagai objek seksual telah memahami bagaimana caranya memperlakukan perempuan secara manusiawi.

Contoh-contoh ini, dan daftar panjang kasus di dalamnya, setidaknya menimbulkan kontradiksi: di dalam komunitas yang mengaku diri menolak pelecehan seksual, kritik gender seakan seperti anathema, seperti mengatakan bahwa Azur Lane punya rekam jejak buruk dalam menggambarkan karakter perempuan, atau perlakuan penggemar terhadap VTuber perempuan sebenarnya tidak pada tempatnya.

Artikel ini akan sebisa mungkin tidak memakai jargon. Sesungguhnya, sebaiknya, dan tolong artikel ini tidak dilihat sebagai 'memajukan agenda SJW feminis barat untuk merusak anime'. Artikel ini, dalam segala batasannya, hanya ingin mengajukan dua poin penting: bahwa permasalahan pelecehan seksual di kalangan komunitas otaku Indonesia bersifat sistemik dan bahwa di balik retorika, seringkali banyak di antara kita yang enggan atau tidak mau menganggap keberadaan dan kesulitan permasalahan ini.

Cosplay dan Manusia sebagai Objek Seksual

Cosplay bisa dan telah digunakan sebagai sarana mengekspresikan seksualitas dan sensualitas seseorang. Tidak ada yang membantah hal ini. Tetapi ketika sang penggemar mengubah idolanya dari objek seksual, sikap ini salah fatal atas dasar yang sederhana: manusia bukan objek, dan bukan objek seksual, terlepas dari apa yang ia lakukan.

Punipun tidak sedang membuat gravure ketika seorang laki-laki sinting mengirimkan foto alat kelaminnya melalui DM instagram, atau ketika beberapa orang lemah iman secara eksplisit membuatnya tidak nyaman dengan membuat komentar melecehkan dan berisi niatan kekerasan seksual. Tidak ada garis yang membatasi bahwa mereka yang membuat konten R-18 menerima semua pelecehan seksual sedangkan mereka yang membuat konten biasa-biasa saja, tidak.

Sebab memang serangan seperti ini tidak datang dari sang cosplayer sendiri, tetapi dari kepala si penggemar. Bagaimana foto-foto perempuan, apapun gaya berbusananya, dapat diseksualisasi, merupakan hasil dari konstruksi kepala si penggemar yang memang tidak melihat idolanya lebih dari sekadar objek seksual. Saya ingat pertama kali Punipun memprotes perilaku yang kelewatan ini —setahun lalu, ketika seorang menganggap foto di tautan bawah ini menandakan ia sudah 'berlebihan' dan 'jadi murahan', maka 'tidak sesuai dengan ekspektasi'.

'Tidak sesuai dengan ekspektasi', alias selama ini para penggemar seringkali berkhayal. Seksualisasi atau tidak, menjadikan cosplayer (atau siapapun, jujur saja) sebagai suatu objek yang kita bentuk sendiri berdampak buruk bagi penggemar maupun idolanya. Bahwa sebagai penggemar kita membayangkan bahwa seseorang harus suci, murni, dan tidak 'ternoda', atau bahwa seseorang pasti nyaman buka-bukaan, pasti nyaman dengan komentar kita, sama-sama menandakan bahwa 'cosplayer' dengan 'cosplayer di kepala penggemar' adalah dua hal berbeda.

Kita mungkin sepakat (mudah-mudahan) bahwa komentar tidak senonoh yang dilontarkan ke Punipun tidak boleh dilakukan, tapi apakah kita mengenal asal mula dari perilaku seperti itu? Bahwa sebenarnya cosplayer seringkali tidak diberlakukan sebagai manusia seutuhnya, tetapi hanya sebagai proyeksi karakter 2D ke dalam bentuk darah dan daging?

Sebab perilaku seperti itu jangankan ditolak, dikenali saja belum tentu. Tidak perlu waktu lama sebelum kita melihat bahwa komentar ini tidak dilontarkan oleh satu dua individu, tetapi banyak orang di kolom komentar banyak cosplayer. Ini bukan permasalahan individu. Ini permasalahan kelompok, bagian dari norma yang melanggengkan kekerasan terhadap perempuan dalam skala yang lebih besar.

Objektifikasi dan topik-topik spesifik tidak akan cukup dibahas di sini. Secara singkat, dapat diterangkan bahwa dampaknya adalah bahwa penggemar tidak memperlakukan cosplayer sebagai manusia, tetapi seringkali hanya perpanjangan dari karakter 2D-nya. Alhasil, bagaimana ia memberlakukan cosplayer sama dengan bagaimana ia memperlakukan karakter fiksi: dengan ngawur dan tidak senonoh.

Apa yang dialami Punipun merupakan contoh dari fenomena ini. Namun, apa yang lebih mengkhawatirkan lagi adalah jelas terdapat underreporting terhadap kasus pelecehan seksual di ranah komunitas penggemar pop kultur Jepang ini, mengakibatkan sulitnya kita memandang masalah ini sebagai masalah serius.

Pertanyaan-pertanyaan mendesak ini perlu dijawab: Mengapa sedikit sekali cosplayer yang menceritakan apa yang mereka alami, daring maupun luring? Jika tidak cerita, apa penyebabnya? Apa yang menyebabkan para penggemar bersikap demikian, dan mengapa masalah ini tidak pernah selesai-selesai?

Kita bisa mengatakan bahwa para cosplayer memilih untuk tidak bercerita dan masalah ini lebih besar daripada yang diketahui komunitas penggemar pada umumnya. Tetapi bahwa kita pada umumnya tidak mengetahui hal tersebut justru malah lebih berbahaya: kita tidak tahu bagaimana untuk bersikap, membantu, dan pada akhirnya, membuat keadaan yang aman bagi setiap otaku dari berbagai gender untuk mengekspresikan diri. Kita akan kembali lagi ke sini nanti.

Keengganan Membahas dan Menyelesaikan Fenomena Sekuhara

Mari beralih ke sejumlah 'tapi' yang muncul dari "Pelecehan seksual terhadap cosplayer merupakan keliru, tidak boleh dibenarkan, dan harus dihindari, tapi...". Kualifikasi ini bentuknya banyak, dan meskipun diterima oleh banyak orang, faktanya keliru atau misleading.

Misal, bahwa cosplayer punya kewajiban untuk tidak dilecehkan. Cara berpakaian, gestur, dan sikap terhadap penggemar akan berbanding lurus dengan apa yang dilakukan penggemar terhadap cosplayer. Tetapi prinsip aksi-reaksi ini keliru, karena ia mengimplikasikan unsur timbal-balik yang sebenarnya tidak terlalu jelas. Maksudnya, apa yang dilakukan oleh cosplayer mungkin akan menimbulkan reaksi tertentu, tetapi tidak perlu menimbulkan reaksi tertentu, dan jangan-jangan tidak boleh menimbulkan reaksi tertentu.

Olly Thorn, di dalam kanal Youtube-nya PhilosophyTube, beberapa kali mengatakan bahwa ia menseksualisasikan dirinya sendiri untuk bersenang-senang, karena ia juga senang 'diinginkan' (desired) oleh penggemarnya. Tetapi ia juga mencatat bahwa ia tidak nyaman atas sikap beberapa penggemar yang kelewatan mendekatinya, para penguntit, mereka yang berdelusi dan berhalusinasi terlalu jauh, dan lain sebagainya. Kesimpulan pertama yang bisa ditarik adalah apapun yang dilakukan oleh seorang entertainer, pada umumnya mereka tidak ingin mengalami kekerasan dan pelecehan.

Banyak alegori yang digunakan untuk kasus ini, masing-masing dapat dipertanyakan dengan cukup mudah. 'Tidak ada asap jika tidak ada api' dapat dibalas dengan 'manusia sebaiknya tidak mudah terbakar', misal. Atau, segala perumpamaan dengan harta benda dan maling dapat dibalas dengan bahwa cosplayer bukan serupa barang berharga yang dapat dimiliki seseorang, tetapi seorang manusia berdaulat. Dan, kalaupun memakai perumpamaan harta dan maling, seringkali kita lupa bahwa menjadi maling bagaimanapun juga bukan perbuatan yang baik.

Mungkin kita perlu mengunci rumah jika tidak ingin disusupi perampok. Tetapi tujuan akhirnya bukanlah rumah dengan kunci yang tak dapat dibobol, tetapi suatu komunitas yang cukup aman sampai-sampai kita tidak perlu mengunci rumah. Lagipula, tidak ada gembok dan selot yang tidak dapat dibongkar orang lain.

Sama halnya tidak ada hal yang bisa dilakukan cosplayer untuk memastikan dirinya aman jika kita, sebagai suatu kolektif, tidak menciptakan suasana yang aman. Kita perlu mengarah ke sana, agar para cosplayer lebih terbuka menceritakan apa yang ia alami, agar kita dapat menyelesaikan dan meminimalisir perilaku-perilaku yang tidak mengenakkan, agar kita memiliki kontrol sosial bagi mereka yang tetap melakukan pelecehan.

Semua Orang Berhak Melarikan Diri

Saya enggan memasukkan unsur 'feminis' apapun ke sini, sebab konotasinya negatif sekali di antara kita, begitu buruk, jahat, keji, dan tanggapan kepadanya hanya seputar 'saya menolak' atau 'saya mendukung, tapi...'. Tetapi saya tidak tahu bagaimana caranya kita menolak unsur studi gender jika kita ingin menyelesaikan kasus kekerasan berbasis gender.

Saya sebisa mungkin menghindari unsur 'feminis' secara eksplisit karena dua hal: pertama, saya seorang laki-laki, mayoritas bertumpuk, tidak pernah mengalami pelecehan, dan tidak pernah menjadi pelaku (yang ternyata, sebenarnya mudah sekali!), serta tidak memiliki pemahaman mendalam terhadap studi gender. Saya yakin ada banyak orang yang memiliki kualifikasi jauh, jauh lebih banyak dibandingkan saya tentang hal ini. Sialnya, wibu-wibu Indonesia ini sudah alergi dengan 'feminisme' dan 'feminis'. Jika misal dipertanyakan kontradiksi antara 'tidak ingin adanya pelecehan' dan 'menolak feminisme', biasanya dalih yang disampaikan bermacam-macam dan belum tentu koheren. Kedua, bahkan tanpa teori dan tanpa konsep sedikitpun, saya yakin masalah ini tetap merupakan sebuah masalah yang perlu dibahas, bahkan jika anda tak sedikit pun ingin memikirkan hal yang sulit-sulit.

Selain itu, saya tidak bisa — dan tidak boleh — bersuara mewakilkan para cosplayer, mewakilkan perempuan, mewakilkan korban. Saya juga tidak bermaksud untuk melakukan hal tersebut. Artikel ini, dan mudah-mudahan artikel-artikel lanjutan, hanyalah sekadar observasi, suatu usaha saya agar mudah-mudahan kita pada akhirnya dapat mendengarkan perspektif korban, kita dapat mendengarkan cerita-ceritanya, dan bahwa kita bisa membicarakan masalah-masalah ini secara terbuka, bebas, mengharukan, juga siapa tahu menegangkan dan mencengangkan.

Karena pada akhirnya, mereka yang berkarya memang patut diapresiasi. (Sumber foto)

Sebab pada akhirnya artikel ini ditulis karena saya kagum dengan apa yang dilakukan oleh para cosplayer. Saya tidak bisa melakukan apa yang mereka lakukan — kemampuan untuk bermain peran, fotografi, memilih dan membuat kostum, mendalami karakter, menyiapkan set, dan masih banyak lainnya. Saya tahu bahwa secara pribadi, seringkali saya terkagum-kagum dan bahagia melihat karya-karya cosplayer kita, termasuk di antaranya Punipun, awal dari artikel ini.

Maka bagi saya melihat cosplayer merasa tidak aman dan tidak nyaman, bahkan terganggu secara serius, sama halnya dengan melihat fanartist dan illustrator untuk dirundung atau animator yang diperlakukan semena-mena. Saya selalu memiliki pertanyaan besar: para cosplayer menyumbangkan banyak hal bagi kita, para penggemar, tapi apakah kita telah memperlakukan mereka secara semestinya?

Dalam serangkaian percakapan dengan banyak orang yang memiliki kesamaan hobi, topik 'melarikan diri' sering kali muncul. Bahwa kita terbuai dengan produk pop kultur Jepang sampai-sampai kita bisa melupakan sejenak apa yang terjadi di dunia nyata. Jangan sampai ternyata mereka yang berkontribusi banyak terhadap rasa senang tersebut justru merasa tidak aman di dalamnya, sebab kita tidak berusaha secara serius untuk menciptakan ruang yang nyaman bagi semuanya.


Catatan:

[1] 'Komunitas' di sini bersifat shorthand (perpendekan) dari 'para penggemar subkultur Jepang di Indonesia pada umumnya'. Istilah 'otaku'/'wibu' tidak digunakan untuk menarik kesan majemuk, bukan individu.

[2] Jika masih belum jelas, akan ditegaskan kembali bahwa tidak ada satupun aspek artikel ini mengimplikasikan bahwa saya memahami apa yang dialami oleh para cosplayer, bahwa mereka begitu kasihan dan perlu kita tolong. Saya tahu sedikit sekali tentang apa yang dialami para cosplayer kita, begitu pula banyak di antara kita. Ketidaktahuan massal ini berbahaya mengingat kita bukanlah tempat yang paling ramah bagi penggemar perempuan.

[3] Jika anda memahami studi gender dan memiliki concern terhadap isu seperti ini, input anda akan sangat berharga bagi kami.

[4] Segala hormat dan dukungan bagi Clarissa Widjaja a.n Punipun dan setiap cosplayer lain yang masih memberikan hasil karya luar biasa sementara mengalami kekerasan berbasis gender, online maupun offline.

Sumber keluku: Clarissa Punipun