Tidak sempat mengunjungi Comifuro atau ingin mengingat-ingat apa yang terjadi di dua hari yang absurd dan penuh momen-momen bahagia nan kacau itu? Artikel ini akan mengantar anda secara kronologis perjalanan penulis selama masa akhir pekan tersebut, sesuai dengan sudut pandang dari apa yang saya rasakan.

Pada umumnya, prinsipnya, Comifuro 15 menjadi sarana yang membahagiakan bagi para pengunjung dan tenant. Tentu saja masalah besar ada dan perlu diperbaiki, dan beberapa problem serius memang dapat dihindari. Namun, pembahasan terus-terusan tentang 'drama' tidak bisa dan tidak boleh menutupi antusiasme dari mereka yang bertemu teman lama atau mendapatkan merch kesukaan mereka.

Perjalanan Comifuro saya hari ini dimulai dari:

Jumat, 23 September

18.00

Saya kelelahan. Setelah hujan menghantam kawasan BSD dengan kerasnya, awan berpindah ke daerah Bintaro dan menghentikan perjalanan saya ke tempat akomodasi dari Lebak Bulus.

Para circle telah berkumpul di venue sejak beberapa jam sebelumnya. Teman saya menemukan ikan lele yang tergeletak mati di dalam venue, entah dari mana.

Sabtu, 24 September

06.00

Kabar masuk bahwa sudah ada antrian yang mengular, padahal gerbang dibuka pukul 09.30. Saya, kelelahan, masih tertidur di kamar kos teman saya.

11.00

Saya telah datang di area ICE BSD. Risyad, penulis Risa Media yang lain, mencari sinyal untuk menghubungi kawan kami, yang berada di dalam venue, untuk memberikan pass. Tidak ada sinyal.

Ya, panitia benar-benar lalai memecah antrian di sini. Tidak ada komunikasi yang jelas.

Antrian mengular parah, dan semua yang anda lihat di media sosial pada umumnya benar: tidak ada alur pengunjung yang jelas dan tidak diketahui di mana antrian dimulai dan di mana berakhir. Mereka yang sudah mendapatkan tiket (dan bahkan sudah masuk) kesulitan memasuki venue. Jumlah pengunjung membludak. Kapasitas venue sebesar kurang lebih 20.000 orang, dan mereka yang ingin masuk pada saat itu jauh melebihi kapasitas. Dengan rasio pengunjung-ke-venue yang jomplang, tidak ada sistem ticketing yang dapat membantu situasi di hari pertama.

Beberapa 'kasus' terjadi, mulai dari kekesalan pengunjung maupun panitia keamanan yang kehilangan kesabaran.

13.00

Pada titik ini, saya sudah berada di dalam lokasi untuk beberapa waktu. Antrian masih mengular panjang di luar dan post facebook berisi log masalah Comifuro semakin berkembang. Saya melihat beberapa dari yang memang tidak berniat datang ataupun memutuskan tidak jadi datang kemudian mencibir. Untuk apa katanya repot-repot masuk ke acara seperti ini, dengan susah payah? Bukankah lebih enak berleha-leha di rumah dengan segala kenyamanannya?

Antrian tiket CF15 day 1 yang membludak.

Jawabannya saya lihat waktu itu di dalam venue. Orang-orang berbahagia—beberapa di antaranya dengan muka kesal dan lelah—mendapati teman lama, teman yang selama ini hanya mereka kenal melalui media sosial. Ada juga pertemanan yang terpisah akibat pandemi COVID-19. Belum lagi interaksi antara kreator dan fans yang secara antusias mendapati bahwa ada orang yang menyukai hal yang sama dengannya, atau terpesona dengan begitu bagusnya fanart yang ia lihat dari karakter atau seri kesukaannya (saya termasuk).

Saya mencoba mencari kawan-kawan saya. Mustahil, sebab sinyal internet di dalam venue tidak hanya buruk, tetapi benar-benar mati total. Emergency calls only tertera di bagian atas layar ponsel saya. Saya hanya menemukan teman-teman yang kebetulan papasan dengan saya—dan ini adalah fenomena tersendiri di CF kemarin. Saya bertemu teman kuliah, sedangkan teman saya bertemu kawan SMP-nya. Di acara ini, kita baru tahu siapa saja yang tidak kita kenal sebagai otaku, ternyata juga berada dalam lingkup penggemar popkultur Jepang ini.

14.00

Bingung, saya memutuskan untuk mengelilingi stand yang ada saja. Di titik ini saya sudah membeli beberapa print dari karakter kesukaan saya, Venti. Beberapa booth menampilkan karya yang unik dan sungguh niat, seperti bagaimana Estavia dari Regnbue meracik campuran tehnya sendiri yang cocok dengan empat Archon dari Genshin Impact yang telah rilis. Ketika di hari kedua saya mengecek tester yang ada, memang cocok: Venti memiliki rasa mint, Nahida dengan ramuan herbal seperti chamomile, dan teh bertema Zhongli betul-betul 'bau tanah', seperti teh-teh yang sering disajikan di Jawa Tengah dan Yogyakarta.

Suasana di dalam venue CF day 1.

Variasi merchandise yang ditawarkan cukup menarik. Jika sebelumnya comiket lokal di Indonesia identik dengan gantungan kunci, poster, dan stiker, kini para circle merambah ke barang-barang lainnya seperti racikan teh, gelas, parfum, aroma diffuser, atau biskuit. Fandom yang ada pun beragam mulai dari yang ekstra-populer seperti Genshin Impact dan Hololive sampai NijisanjiID, Touhou, dan Identity V, untuk menyebutkan beberapa. Terdapat juga beberapa booth original characters yang cukup ramai dan diminati oleh penggemar.

Saya akhirnya membeli gelas besar dengan art Zhongli di luarnya, dengan biskuit bertema karakter Mondstadt, standee Venti, dan kaos Mostima, untuk menyebutkan beberapa. Meskipun barang yang dijual memiliki range menengah sampai menengah-ke-atas (mulai dari 10 ribu untuk print kecil sampai ratusan ribu untuk photobook cosplayer), barang ludes dibeli. Beberapa kali saya menemukan kaos atau totebag yang saya inginkan, dan ternyata sudah harus open PO akibat barang sudah habis. Untuk beberapa merchandise lain pun ketersediaannya sudah terbatas—saya tadinya ingin membeli gelas bergambar Venti. Di titik ini, Comifuro baru berjalan seperempatnya.

16.00

Saya kelelahan. Setelah membeli minuman dari kawasan F&B Hall 9 dengan antrian yang cukup lumayan, saya tergeletak di depan antrian yang masih tetap mengular. Di titik ini, hanya tersisa satu jam sebelum gerbang dtutup dan banyak pengunjung yang tidak sempat memasuki venue kecewa. Kesalahan terbesar tidak datang dari pengunjung ataupun pihak keamanan: secara fundamental, kesalahan yang ada di hari pertama adalah memang venue berukuran kurang besar. Namun tentu saja, dengan membludaknya pengunjung di acara ini, kita bisa berharap bahwa pihak panitia akan mengantisipasi hal-hal seperti ini di kemudian hari.

Ada satu keluhan saya yang belum banyak dibahas, dan memang murni bukan kesaalahan panitia: mengapa akomodasi tempat duduk begitu sedikit? Saya berakhir hampir berdiri selama lebih dari setengah hari. Tentu saja saya kuat, dan menguatkan diri, tapi saya membayangkan tentu saja tidak semua orang memiliki ketahanan fisik seperti saya. Ini bukanlah kesulitan spesifik saya di Comifuro: mulai dari pengalaman saya menghadiri acara otomotif terbesar di Indonesia, sebuah konser di Bandung, ataupun acara Jejepangan outdoor beberapa tahun silam, saya selalu bingung dengan tidak adanya sarana duduk ataupun istirahat yang memadai.

Suasana di area corporate booth CF day 1.

Dalam kelelahan, kekacauan, dan kebahagiaan yang saya alami, saya baru sadar saya belum makan seharian.

17.00

Di titik ini gerbang ditutup, dan banyak pengunjung gagal untuk masuk venue setelah antri seharian.

Saya berjalan ke tempat parkir, mendengarkan beberapa mas-mas ojek online yang bertanya-tanya apa yang kita lakukan dengan poster kartun dan kostum aneh. Lalu saya melipir ke AEON Mall BSD. Limpahan pengunjung dari Comifuro mewarnai mall milik perusahaan raksasa Jepang itu. Di masa-masa selama beberapa jam itu, saya melihat sekian banyak cosplayer berbaur dengan keluarga yang sedang berlibur dan sekumpulan anak muda 'normies'. Fenomena ini akan saya bahas di lain hari, namun, untuk sekarang, dapat disebutkan bahwa Comifuro menjadi penanda bagi lebih 'terlihat' nya otaku di Indonesia.

Highlight saya hari itu adalah melihat beberapa cosplayer Genshin seperti Hu Tao, Ayaka, dan Childe berpose ala kantor dengan para pegawai Mitsubishi yang menjual Xpander Series di tengah mall.

18.00

Partisi hall 9 dan 10 runtuh.

Partisi di antara Hall 9 dan 10 jatuh, dan untungnya situasi dapat dikendalikan oleh kawan saya yang berada di circle dekat lokasi.

18.30

Saya kembali melihat area venue. Wajah-wajah para cosplayer yang kelelahan terlihat di pinggiran ICE BSD. Meskipun lebih sulit masuk ke dalam venue, kembali ke tempat akomodasi masing-masing juga menjadi tantangan bagi beberapa orang, seperti teman saya yang tidak bisa memberikan ancang-ancang arahan posisi dengan jelas.

(Teman saya berkata, "Aku di dekat ojek online". Teman saya yang menjemput menjawab, "Semua tempat di sini ada ojek online".)

21.00

Saya diajak teman saya untuk berkumpul di akomodasi yang berada di kawasan Serpong. Dari sini saya tahu: jangankan akomodasi di daerah BSD, mereka yang ada di Bintaro dan sekitarnya pun dipenuhi oleh para otaku yang menghadiri Comifuro tahun ini.

Excel Coananda (Haluminium) secara simbolis menyerahkan stok terakhir merchandise Suisei kepada Nadel (Naderu).

Di waktu yang sama, seorang pengunjung mengaku menangkap basah seorang cosplayer yang kelewat nafsu dengan pacarnya di area parkir AEON BSD. Beberapa kawan kehilangan barang. Seorang cosplayer menuai hujatan karena dianggap berpakaian terlalu terbuka, begitu juga seorang laki-laki berjaket ahegao. Sementara semua ini terjadi, pemilik situs ini, Excel, sedang memikirkan tentang pasar baru otaku yang berasal dari Netflix dan TikTok dan bagaimana cara memasarkan barang ke generasi baru ini.

Kesimpulan hari pertama: bahagia, dan cukup absurd.

Minggu, 24 September 2022

01.00

Setelah hari yang cukup absurd namun membahagiakan, saya istirahat.

03.30

Saya terbangun. Teman-teman saya, para punggawa circle, terlihat masih sangat amat kelelahan. Kabar masuk bahwa sudah ada pengunjung di sekitar venue.

05.30

Kabar antrian Comifuro yang sudah dimulai sampai ke saya. Padahal, sekali lagi, gerbang baru dibuka pada pukul 09.00.

10.00

Saya terbangun. Beda dengan hari pertama, tidak ada hiruk pikuk tentang masalah di dalam event. Tentu saja beberapa problem tidak terhindari, namun pada umumnya situasi cukup terendali.

11.00

Suasana di depan day 2. Masih banyak pengunjung, hanya saja lebih lenggang.

Karena merasa bersalah mendapatkan pass di hari pertama, saya membeli tiket melalui jalur biasa di hari kedua. Saya dan teman saya, lelaki keren yang mirip dengan aktor Hong Kong, Stephen Chow, berhasil masuk ke venue dalam waktu kurang dari lima menit.

Akhirnya masuk, gak pake lama.

Banyak barang sudah ludes habis, meskipun masih banyak kesempatan untuk menghabiskan uang. (Saya dan teman saya menarik nafas lega setiap ada barang yang ingin kami beli, ternyata harus PO. Uang terselamatkan). Namun antusiasme tidak surut. Teman saya membeli gelas yang sama yang saya beli sehari sebelumnya, dan saya membeli beberapa merchandise bertema Venti.

Para cosplayer masih ramai datang dan berfoto baik dengan satu sama lain maupun dengan para penggemar. Cosplayer adalah highlight lain dari Comifuro: banyaknya orang dengan usaha yang lumayan, mulai dari versi casual ditambah wig yang tetap dinamis sampai mereka yang mela

Partisi antar hall ditiadakan, membuat alur pengunjung jauh, jauh lebih lancar dibandingkan hari pertama. Situasi cukup kondusif dan tidak ada masalah yang cukup serius. Saya melihat Tighnari yang lengkap dengan semua atributnya—suatu dedikasi yang patut diacungkan jempol. Uniknya, banyak karakter laki-laki yang memiliki fanbase perempuan signifikan, di-cosplay-kan oleh perempuan, seperti VTuber laki-laki populer macam Luxiem dari NijisanjiEN dan Shoto.

Saya tidak meminta foto dengan cosplayer—kecuali seorang, itupun ia tidak sedang cosplay. Saya cukup bahagia melihat orang-orang yang menampilkan versi 3d dari karakter 2d favorit mereka. Bohong jika saya tidak mengatakan bahwa orang-orang ini benar-benar cakep dan rupawan.

15.45

Circle Cozy Production melelang poster berukuran A3 berupa foto kloset bocor dari entah kamar mandi siapa. Lelang ditutup dengan angka menembus Rp300.000.

16:00

Saya beristirahat di area taman depan Hall. Di titik ini saya sudah puas mengelilingi area comiket (dan uang saya sudah ludes), begitu pula banyak stand sudah mulai bersih-bersih dan bersiap angkat kaki. Kali ini saya berkesempatan untuk bertemu, pertama kalinya, secara tatap muka, teman yang selama ini hanya saya kenal lewat media sosial.

19.00

Saya dan teman saya sudah kembali, bersama uang kami yang telah bertransformasi menjadi merchandise.

Saya kelelahan total. Kaki kram, punggung sakit, seluruh badan ajur. Namun tidak dapat dipungkiri: pengalaman Comifuro adalah pengalaman yang akan saya ulang kembali. Tidak ada yang bisa menggantikan perasaan bertemu dengan kreator langsung, bertemu dengan kawan-kawan sehobi, langsung dan melihat cosplayer di depan mata, untuk menyebutkan beberapa.

Senin, 25 September

09.00

Badan saya masih nyeri-nyeri. Membawa poster Venti dan gelas berukiran Zhongli, saya menguatkan diri untuk pulang ke kota Jakarta. Hari sudah Senin, dan kerjaan sudah datang kembali—bagi saya, cosplayer yang saya lihat kemarin, dan para penjual di booth.


Tentu saja saya tidak bisa merangkum pengalaman banyak orang di akhir pekan silam. Pasti banyak pengunjung yang jauh lebih kecewa dan jauh lebih marah dari saya, maupun mereka yang lebih bahagia dan lebih terharu. Apa yang saya tulis di sini merupakan pengalaman salah satu pengunjung di Comic Frontier 15, dengan pesan akhir yang sederhana: di tengah-tengah semua masalah yang ada, sebagian besar pengunjung bersenang-senang dan merajut kenangan baru untuk diingat-ingat di kemudian hari.

Saya tidak terlalu senang dengan kondisi media sosial ketika acara ini berlangsung. Terdapat perbedaan signifikan antara mereka yang frustrasi harus mengalami masalah di tengah momen menyenangkan mereka, dan mereka yang bersenang-senang akibat masalah dan rasa frustrasi yang dialami orang lain. Namun masalah-masalah yang terjadi di Comic Frontier lain adalah hal yang perlu diselesaikan, bukan 'konten' untuk dinikmati (Saya akan membahas ini lebih lanjut di lain hari).

Kita tidak boleh menutup-nutupi masalah yang terjadi di dua hari Comic Frontier. Adanya copet atau alur pengunjung atau ukuran venue memang perlu dikabarkan dan menjadi bahan evaluasi oleh panitia. Namun CF15 tidak murni berisi masalah. Sungguh bohong dan menyesatkan orang-orang yang memberikan impresi bahwa acara ini hanyalah setumpukan problematika tiada akhir dari awal sampai akhir.

Bagaimana dengan kawan yang datang dari Banjarmasin untuk bertemu dengan kawan lama? Atau sekumpulan cosplayer One Piece yang berkeliling venue untuk bercengkerama dan berfoto? Atau para fans seorang cosplayer yang berkumpul di area selasar, beberapa di antara mereka mengantarkan merch ke sang cosplayer yang tidak bisa masuk? Bagaimana dengan orang-orang yang kagum dengan racikan teh bertema Archon? Juga para fans yang akhirnya bertemu langsung dengan Punipun, Nekonoi Katsu, dan Ola Aphrodite di booth Lichstein? Belum lagi fans yang akhirnya bertemu dengan member Hololive kesukaan mereka, atau mengikuti topik panelis yang memberikan insight mendalam. Apakah semua ini tidak ada?

Sekali lagi, saya tidak punya niatan untuk menutupi masalah yang terjadi di CF15. Pun saya tidak punya keinginan untuk mengecilkan kebahagiaan yang ada selama masa saya dua hari di daerah Tangerang itu.

Sampai bertemu kembali di Comic Frontier 16!